Reaksi
apakah yang akan Anda lakukan ketika sedang berbicara dengan sesama orang
beriman lantas Yesus Sang Juruslamat dan Junjungan Yang Ilahi tiba-tiba hadir
di tengah-tengah kita dengan penampakkan wajah penuh kemuliaan? Takjub, kagum,
haru, hormat dan sujud menyembah tentu menjadi kosa kata tindakan yang akan
kita lakukan bukan?
Demikianlah
yang terjadi saat Petrus, Yakobus dan Yohanes diajak Yesus mendaki gunung yang
tinggi dan dalam keheningan tiba-tiba mereka mendapati tiga pemandangan yang
luar biasa. Pertama, mereka melihat sang guru tiba-tiba metemorphete (Yun) alias transfigure (Ing) alias “berubah rupa”.
Perubahan apa yang dilihat ketiga murid Yesus di pegunungan yang dingin dan
hening tersebut? Elampsen to prosopon
autou hos ho helios (wajah-Nya bercahaya seperti matahari) dan ta de himatia autou egeneto leuka hos to
phos (pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang).
Apa
yang disaksikan ketiga murid adalah penampakkan wajah dan diri Yesus dalam
kemuliaannya sebelum kewafatan dan kebangkitan-Nya dari kematian. Kelak Yesus
menampakkan diri kembali kepada Yohanes untuk menyingkapkan peristiwa di masa
depan dan saat itu Yohanes melihat rupa dan diri Yesus kembali dalam
kemuliaan-Nya sbb:
“Lalu
aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku
berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas. Dan di tengah-tengah
kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia berpakaian jubah yang panjangnya
sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas. Kepala dan
rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala
api. Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian;
suara-Nya bagaikan desau air bah. Dan di
tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah
pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang
terik” (Why 1:12-16).
Kedua, ketiga murid melihat Musa dan Elia sedang
berbicara dengan Yesus Sang Guru (Mat 17:3). Keduanya bukan nabi biasa
melainkan nabi terkemuka yang dihormati oleh bangsa Israel. Musa, adalah
pemimpin ulung, pemberi Torah, perantaraan siapa Tuhan membawa orang Israel
keluar dari Mesir. Ia membina bangsa Israel menjadi suatu umat untuk mengabdi
kepada Tuhan serta membawa mereka sampai ke perbatasan negeri yang dijanjikan Tuhan
kepada nenek-moyang mereka.
Demikian
pula Nabi Elia. Dia adalah salah satu tokoh dalam Perjanjian Lama yang sangat
unik dan menarik pada masa yang kritis dalam sejarah Israel, dimana Tuhan
menggunakan dia untuk menentang seorang raja yang jahat bernama Ahab dan
membangkitkan kerohanian bangsa itu. Meskipun dipakai secara luar biasa dengan
berbagai perbuatan ajaib, kehidupan Elia penuh dengan kekacauan. Ada kalanya ia
berani dalam mengambil keputusan namun kadang ia takut dan tak berani berkutik.
Hidupnya ditandai oleh kemenangan dan kekalahan, yang diikuti oleh pemulihan. Elia
mengenal kuasa Tuhan namun juga mengetahui rasanya depresi, sendirian di antara
kekuasaan yang menhendaki nyawanya.
Demi
melihat penampakkan nabi besar dalam kehidupan leluhur bangsa Israel, Petrus
berinisiatif membuat tenda katanya kepada Yesus, "Tu(h)an, betapa
bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di
sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."
Ketiga. Baru saja usai Petrus berkata demikian kepada
sang guru, “tiba-tiba sedang ia
berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu
terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah
Aku berkenan,dengarkanlah Dia” (Mat 17:4). Mungkin suara yang didengar Petrus,
Yakobus dan Yohanes menggelegar dari langit dan memenuhi seantero pegunungan
sehingga membuat mereka merasa kecil dan tidak ada apa-apanya. Itulah sebabnya
dikatakan, “Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat
ketakutan” (Mat 17:6)
Penampakkan
Elia di hadapan ketiga murid bukan tanpa tujuan melainkan hendak memberikan
pesan simbolik bahwa apa yang telah diajarkan turun temurun bahwa sebelum
kedatangan Mesias (Yang Dirurapi) akan datang terlebih dahulu Elia dan Yesus
menunjuk pada Yohanes yang memiliki roh Elia untuk mempersiapkan jalan bagi
karya Mesianisnya dijalankan di dunia sebagaimana dikatakan, “Memang Elia akan
datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah
datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak
mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka” (Mat 17:11-12)
Penampakkan
yang dialami Petrus, Yakobus, Yohanes bukan hanya menegaskan bahwa Elia sudah
datang melalui pelayanan Yohanes Pembaptis namun menegaskan bahwa Anak Tuhan
telah datang ke dunia dan siapapun yang percaya hendaklah mendengarkan apa yang
diajarkan-Nya sebagaimana dikatakan, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah
Aku berkenan,dengarkanlah Dia” (Mat 17:4).
Sebagai
murid dan pengikut Kristus/Mesias dan Anak Tuhan, kitapun harus memperlihatkan
bakti dan ketaatan kita dengan melakukan apa yang dikatakan-Nya. Yesus bersabda,
“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (Yoh 10:27).
Yesus
mengajarkan kita untuk mengasihi dan mengampuni, demikianlah kita harus mengasihi
dan mengampuni. Yesus mengajarkan kita untuk memperhatikan almanot (para janda), yatomim
(anak yatim) serta evyonim (orang-orang
miskin), demikianlah kita seharusnya melakukannya. Yesus mengajarkan untuk
menghakimi dengan adil demikianlah seharusnya kita melakukan. Yesus mengajarkan
dan memerintahkan kita menjadi terang dan garam dunia, demikianlah seharusnya
kita melakukannya. Yesus memerintahkan kita memberitakan Injil dan menjadi
saksinya, demikianlah kita mengerjakan seperti yang diperintahkan.
Jika
kita mengaku dengan hati, mulut, lidah bahwa Yesus adalah Kurios (Junjungan Yang Ilahi) dan Christos (Mesias) serta Huiou
tou Theou (Anak Tuhan), maka dengarkan dan lakukanlah apa yang diajarkan
dan diperintahkan-Nya untuk kita mengerjakannya di tengah dunia di mana kita
ada dan diutus menjadi saksi-Nya.

No comments:
Post a Comment