Thursday, November 14, 2019

MATI SEBELUM MATI


Pernahkah kita mendengar kisah-kisah dan testimoni mengenai orang-orang yang mengalami perjumpaan dengan seseorang yang belum menyadari kematian dirinya? Percaya atau tidak, itu urusan masing-masing pribadi. Faktanya, kisah-kisah sedemikian bisa kita temukan dengan berselancar di dunia maya dan menonton sejumlah tayangan di Youtube. Omong-omong soal kematian dan ketidaksadaran orang-orang tertentu tentang kematian dirinya, saya teringat sebuah film pendek berjudul Dreams karya Akira Kurosawa tahun 1990. Dari delapan antologi film pendek ada salah satu yang menarik dengan judul, The Tunnel.

Film ini tidak memiliki satu alur cerita tunggal, melainkan bersifat episodik; film ini mengikuti petualangan sosok yang menjadi "wakil Kurosawa" dalam delapan segmen atau "mimpi" yang masing-masing memiliki judul tersendiri.

The Tunnel menceritakan mengenai kesedihan seorang prajurit yang keluar dari terowongan menjumpai komandannya yang masih hidup dan belum menyadari kalau dirinya sudah mengalami kematian.

Diceritakan sang komandan berjalan melewati terowongan gelap itu dan keluar di sisi seberangnya. Ia dibuntuti oleh arwah salah satu prajuritnya yaitu Prajurit Noguchi, yang sebelumnya tewas akibat luka parah dalam pelukan sang komandan. Wajah Noguchi tampak membiru dengan area di sekitar matanya yang menghitam.

Noguchi tampaknya tidak percaya bahwa dirinya sudah meninggal. Ia menunjuk ke arah cahaya yang berasal dari sebuah rumah di lereng gunung tak jauh dari situ, yang ia kenali sebagai rumah orang tuanya. Hatinya hancur karena menyadari ia tak bisa lagi menemui mereka, meskipun ia tetap menunjukkan sikap hormat kepada sang komandan. Setelah mendengar permintaan komandannya agar ia menerima takdirnya, Noguchi kembali masuk ke dalam terowongan.

Seluruh anggota peleton ketiga sang komandan—yang dipimpin oleh seorang letnan muda yang mengacungkan pedang perwira—kemudian berbaris keluar dari terowongan. Trap...trap...trap...mereka berbaris dan berjalan dengan berwibawa dengan membawa senjata. Mereka berhenti dan melakukan penghormatan militer kepada sang komandan. Wajah mereka pun tampak membiru.

Sang komandan berusaha keras menyampaikan bahwa mereka semua telah tewas dalam pertempuran, dan bahwa dirinyalah yang patut disalahkan karena telah mengirim mereka ke medan laga yang sia-sia. Mereka hanya berdiri diam tanpa sepatah kata pun sebagai tanggapan. Sang komandan memerintahkan mereka untuk berbalik arah, lalu memberikan penghormatan perpisahan saat mereka berbaris kembali masuk ke dalam terowongan. Saat ia jatuh terduduk karena duka yang mendalam, sang komandan segera bangkit kembali ketika anjing anti-tank itu muncul lagi (Simak petikan filmnya di sini: https://youtu.be/L9syrsjcwyk?si=p8xYA6Nn-syaIpss).

Darimanakah sebenarnya asal muasal kematian? Dalam perspektif Kristiani, kematian (lebih tepatnya asal usul kematian yang melekati kehidupan manusia) bukan sekedar takdir namun akibat dari sebuah sebab. Ketika manusia pertama (Adam dan Hawa) diciptakan, Tuhan tidak menjadikan kematian sebagai bagian dari takdirnya. 

Ketika manusia pertama telah menerima mandat untuk mengelola bumi, Tuhan memberikan satu larangan yang apabila dilanggar akan menimbulkan kematian (Kej 3:16-17). Berdasarkan pemahaman di atas, kita mendapatkan pengetahuan bahwa kematian adalah akibat dosa dan pelanggaran manusia. Benih maut itu diturunkan dari Adam dan Hawa sampai kepada kita (Rm 6:23). 

Terlepas cara kita mengalami kematian berbeda-beda (ada yang karena sakit, mengalami kecelakaan, pembunuhan), namun sebab musabab bisa muncul kematian yang melekati kehidupan manusia, bahkan bayi yang belum berbuat dosa sekalipun, karena pelanggaran, dosa Adam dan Hawa. Kefanaan, kematian akibat buah dosa itulah yang diwariskan dan menjalari semua mahluk bernama manusia.

Berbicara mengenai kematian, Kitab Suci memberikan keterangan bahwa ada dua fase kematian. Kematian pertama (thanatos ho protos, Yun) adalah terpisahnya roh/nyawa dari tubuh dan kematian kedua (thanatos ho deuteros, Yun) adalah penghukuman  di neraka sebagaimana dikatakan dalam Wahyu 21:8 sbb, “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua." 

Jika ada kematian pertama dan kematian kedua, lalu apa yang dimaksudkan dengan “mati sebelum mengalami kematian?” Wahyu 3:1 mengatakan sbb, "..Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!” Wahyu 3:1 menggambarkan jemaat di Sardis dengan frasa Yunani, zes kai nekros ei (hidup namun mati) dengan kata lain, “mati sebelum mati”. Mereka adalah orang-orang yang mati imannya, mati perbuatan baiknya, mati pengharapannya, mati hasrat dan kerinduannya pada Tuhan, mati persekutuannya, mati ibadahnya. Banyak orang yang mengaku Kristen secara formal namun dikategorikan “mati sebelum mengalami kematian”. 

Dari penjelasan ini kita mendapatkan tiga bentuk kematian yaitu kematian jasadi atau ragawi, kematian rohani alias mati sebelum mati serta kematian kekal yaitu penghukuman di neraka yang disebut kematian kedua oleh Kitab Wahyu.

Sebelum kematian fisik mendatangi dan kematian kedua menghabisi masa depan seseorang, bertobat adalah jalan kembali menuju kehidupan sejati (Why 3:2-3). Bertobat dalam bahasa Ibrani adalah shuv yang artinya “berbalik arah”. Berbalik arah dari jalan yang salah menuju jalan yang benar. Berbalik arah dari pemikiran yang jahat menjadi pemikiran yang baik (metanoia, Yun). Berbalik arah dari perilaku yang jahat menjadi perilaku yang baik (epistrophe, Yun). 

Di mana posisi kehidupan yang Anda jalani saat ini? Hidup dalam kehidupan atau mati sebelum kematian? Jika Anda hidup dalam kehidupan Mesias (Kristus), maka teruslah berada dalam diri-Nya. Terkoneksi dengan Yang Maha Tinggi, Sang Bapa Surgawi melalui Sang Putra melalui permenungan sabda Tuhan dan ibadah baik personal maupun komunal. Bagi yang berada dalam situasi "mati sebelum mati", inilah saatnya berpaling dan berbalik arah. Kembali kepada sang pemilik hidup yaitu Sang Bapa di dalam Sang Putra. Tidak ada waktu terlambat. Selama ada hari ini, pintu senantiasa terbuka untuk kembali kepada Tuhan dan mengalami kehidupan sejati di dalam Yesus Sang Mesias, Juruslamat dan Jungan Yang Ilahi (Yoh 10:10)

KEMATIAN YESUS DI KAYU SALIB MEMBATALKAN TORAH?



“...sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya,…”, demikianlah penggalan kalimat dalam Efesus 2:15 terjemahan LAI. Konsekwensi logis teks terjemahan tersebut bahwasanya kematian Yesus di kayu salib bermakna Torah tidak memiliki relevansi dalam kehidupan umat Kristiani. 

MEMIKUL KUK DAN KEDEWASAAN ROHANI



Saat pertama kali meninggalkan Bandung untuk studi Teologi di Yogyakarta. Banyak pengalaman baru yanag tidak didapat di kota sebelumnya. Salah satunya adalah saat tinggal di kost.