Menarik membaca pembukaan Surat Ibrani
3:1 dimana kita diminta untuk memandang Yesus Sang Mesias sebagai Rasul dan
Imam Besar (ton Apostolon kai Archierea, Yun) namun serentak menyisipkan nama
Musa di dalamnya sebagaimana dikatakan, “Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam
panggilan sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu
Yesus, yang setia kepada Dia yang telah menetapkan-Nya, sebagaimana Musapun
setia dalam segenap rumah-Nya”. Hal ini mendorong sebuah pertanyaan, mengapa
Musa harus disandingkan dengan Yesus?






