Sebagai orang Kristiani, kita
tentu meyakini bahwa kita telah ditebus dari kutuk dosa yaitu maut. Kematian
dan kebangkitan Yesus telah mengalahkan maut dan memberikan kehidupan kekal bagi
setiap orang yang beriman kepadanya sebagai Anak Tuhan dan Juruslamat serta Penebus
(Rm 6:23, Kol 2:14). Namun demikian, apakah kita sudah terbebas dari dosa-dosa
perbuatan baik yang disengaja atau tidak disengaja? Adakah dari kita yang tidak
pernah memarahi orang? Adakah dari kita yang tidak membicarakan orang lain
dengan negatif? Adakah dari kita yang tidak menyinggung perasaan orang lain?
Jika jawaban kita “ya”, maka kita
mengakui bahwa diri kita bukan orang sempurna dan penebusan dari kutuk dosa
bukan bermakna mengubah kita menjadi malaikat dan membuat kita tidak bisa
melakukan kesalahan dan kekeliruan atau dosa perbuatan. Kita telah diubah menjadi
manusia baru (Ef 4:24) dan kecenderungan atau kehendak untuk melakukan dosa
disalibkan (Rm 6:6). Namun bukan berarti kita tidak dapat berbuat dosa dan
kesalahan. Selama kita masih tinggal di dunia, kita semua yang telah ditebus
dari kutuk dosa yaitu maut masih berpotensi untuk melakukan kesalahan dan dosa
perbuatan.
Itulah sebabnya Doa Bapa Kami
mengajarkan, “Ampunilah kami sebagaimana kami mengampuni orang yang bersalah
kepada kami” (Mat 6:12). Apa artinya? Kita masih berpotensi melakukan kesalahan dan dosa
perbuatan. Kita harus meminta pengampunan Tuhan sebagaimana kitapun telah
diberi hati dan pikiran yang baru untuk mampu mengampuni orang yang bersalah
kepada kita. Dalam tradisi gereja mula-mula sebagaimana dituliskan dalam Kitab Didake, Doa Bapa Kami ini
diucapkan tiga kali sehari dan menjadi salah satu isi liturgi ibadah harian Kristiani
awal, sebagaimana orang Yahudi pun melaksanakan ibadah harian tiga kali sehari (Teguh
Hindarto, Ibadah Harian Gereja Perdana (2017) - https://bet-midrash.blogspot.com/2017/11/ibadah-harian-gereja-perdana.html).
Bangsa Israel kuno memiliki
mekanisme keagamaan untuk melakukan penebusan dosa-dosa dan pelanggaran selama
satu tahun yaitu dengan memberikan korban yang dilaksanakan pada tanggal dan
bulan yang telah ditetapkan Tuhan sendiri yaitu 10 Tishri yang dinamai Yom Kippur
(hari pendamaian). Mekanisme penebusan dosa bangsa setiap tahun sekali ini
diatur dalam Imamat 16:1-34 saat Bangsa Israel masih tinggal di Kemah Suci (mishkan)
yang nantinya diteruskan ketika Bait Suci (bet ha miqdash) dibangun di era Salomo.
Imamat 16:3, 6-11 menjelaskan ada
hewan yang dikorbankan yaitu lembu dan domba serta dua ekor kambing sbb:
“Beginilah caranya Harun masuk ke
dalam tempat kudus itu, yakni dengan
membawa seekor lembu jantan muda untuk korban penghapus dosa dan seekor domba
jantan untuk korban bakaran....
Dari umat Israel ia harus
mengambil dua ekor kambing jantan untuk korban penghapus dosa dan seekor domba
jantan untuk korban bakaran. Kemudian Harun harus mempersembahkan lembu jantan
yang akan menjadi korban penghapus dosa baginya sendiri dan dengan demikian
mengadakan pendamaian baginya dan bagi keluarganya. Ia harus mengambil kedua
ekor kambing jantan itu dan menempatkannya di hadapan YHWH di depan pintu Kemah
Pertemuan, dan harus membuang undi atas kedua kambing jantan itu, sebuah undi
bagi YHWH dan sebuah bagi Azazel.
Lalu Harun harus mempersembahkan
kambing jantan yang kena undi bagi YHWH itu dan mengolahnya sebagai korban
penghapus dosa. Tetapi kambing jantan yang kena undi bagi Azazel haruslah
ditempatkan hidup-hidup di hadapan YHWH untuk mengadakan pendamaian, lalu
dilepaskan bagi Azazel ke padang gurun. Harun harus mempersembahkan lembu
jantan yang akan menjadi korban
penghapus dosa baginya sendiri dan mengadakan pendamaian baginya dan bagi
keluarganya; ia harus menyembelih lembu jantan itu" (Im 16:3,6-11)
Dalam Paskah dan Yom Kippur kita
melihat bayang-bayang karya keselamatan oleh Yesus Sang Mesias dan Juruslamat
kita. Kewafatan dan kebangkitan Yesus menggenapkan perihal korban Paskah dan
korban Pendamaian yang setiap tahun dilakukan oleh imam di Bait Suci. Itulah
sebabnya Rasul Paulus menuliskan: “Sebab anak domba Paskah kita juga telah
disembelih, yaitu Mesias/Kristus” (1 Kor 5:7)
Demikian pula dikatakan dalam Ibrani
9:26-28, “Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada
zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya. Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk
mati hanya satu kali saja, dan sesudah
itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung
dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa
menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang
menantikan Dia”
Meskipun Yom Kippur lekat dengan
bangsa Yahudi dan penganut Yudaisme, namun sebagaimana Kekristenan awal bertumbuh
dari bingkai agama dan budaya Yahudi, maka semua perayaan Yahudi tentu saja
pada waktu itu dirayakan oleh Yesus dan para muridnya. Tentu saja dengan
kesadaran baru bahwa dibalik setiap tujuh hari raya (Im 23:1-44) termasuk Yom Kippur,
kematian Yesus menjadi penggenap.
Oleh karenanya saat Perayaan Yom
Kipur orang Kristen tetap melihat relevansinya bagi kehidupan iman. Saat Yom Kippur,
umat Kristiani merayakan karya penebusan dan pendamaian yang dilakukan oleh
Yesus Sang Mesias melalui kematian dan pengorbanan-Nya sekaligus menjadi hari
dimana kita mengakui segala dosa-dosa kita selama satu tahun dihapuskan di hari
yang mulia tersebut.
Sebagai penganut Kristiani kita
telah mendapatkan pengetahuan bahwa kematian Yesus merupakan Pendamaian sejati
antara manusia dan Tuhan sebagaimana dikatakan:
“Dan Ia adalah pendamaian untuk
segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa
seluruh dunia” (1 Yoh 2:2)
“Karena Tuhan itu esa dan esa
pula Dia yang menjadi pengantara antara Tuhan dan manusia, yaitu manusia Kristus/Mesias
Yesus” (1 Tim 2:5)
Kita tidak memerlukan darah
korban binatang ataupun korban bagi Azazel karena Mesias adalah korban sejati
kita sehingga kita telah dihapus dari kutuk dosa yaitu maut kekal. Namun
demikian, Kekristenan tetap melestarikan ibadah Yom Kippur (Pendamaian) sebagai
warisan dan tradisi iman dalam sudut pandang Kristologis dengan perayaan yang
berfokus pada karya Yesus Sang Mesias yang telah menjadi korban pendamaian bagi
kita.
Saat merayakan Hari Pendamaian
(Yom Kippur) kita menjadikan hari tersebut sebagai momentum untuk melakukan
hal-hal terpuji sbb: Pertama,
mengakui dosa dan kesalahan kita di hadapan YHWH akibat berbagai pelanggaran
kita dalam satu tahun. Kedua, bukan
hanya mengakui dosa melainkan mengampuni mereka yang berbuat salah dan
kejahatan terhadap kita. Ketiga,
saling bermaafan satu sama lain. Keempat,
merayakan dengan rasa syukur bahwa kita telah memiliki Pendamai yang sejati
yaitu Mesias yang mengantarai kita kepada Bapa melalui pengorbanan dirinya di
kayu salib.

No comments:
Post a Comment