Saturday, September 19, 2026

YOM KIPPUR SEBAGAI MOMENTUM MEMOHON PENGAMPUNAN DAN MEMBERIKAN PENGAMPUNAN

Sumber gambar:https://www.cbynorthgeorgia.org/

Sebagai orang Kristiani, kita tentu meyakini bahwa kita telah ditebus dari kutuk dosa yaitu maut. Kematian dan kebangkitan Yesus telah mengalahkan maut dan memberikan kehidupan kekal bagi setiap orang yang beriman kepadanya sebagai Anak Tuhan dan Juruslamat serta Penebus (Rm 6:23, Kol 2:14). Namun demikian, apakah kita sudah terbebas dari dosa-dosa perbuatan baik yang disengaja atau tidak disengaja? Adakah dari kita yang tidak pernah memarahi orang? Adakah dari kita yang tidak membicarakan orang lain dengan negatif? Adakah dari kita yang tidak menyinggung perasaan orang lain? 

Jika jawaban kita “ya”, maka kita mengakui bahwa diri kita bukan orang sempurna dan penebusan dari kutuk dosa bukan bermakna mengubah kita menjadi malaikat dan membuat kita tidak bisa melakukan kesalahan dan kekeliruan atau dosa perbuatan. Kita telah diubah menjadi manusia baru (Ef 4:24) dan kecenderungan atau kehendak untuk melakukan dosa disalibkan (Rm 6:6). Namun bukan berarti kita tidak dapat berbuat dosa dan kesalahan. Selama kita masih tinggal di dunia, kita semua yang telah ditebus dari kutuk dosa yaitu maut masih berpotensi untuk melakukan kesalahan dan dosa perbuatan.

Itulah sebabnya Doa Bapa Kami mengajarkan, “Ampunilah kami sebagaimana kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat 6:12). Apa artinya? Kita masih berpotensi melakukan kesalahan dan dosa perbuatan. Kita harus meminta pengampunan Tuhan sebagaimana kitapun telah diberi hati dan pikiran yang baru untuk mampu mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Dalam tradisi gereja mula-mula sebagaimana dituliskan dalam Kitab Didake, Doa Bapa Kami ini diucapkan tiga kali sehari dan menjadi salah satu isi liturgi ibadah harian Kristiani awal, sebagaimana orang Yahudi pun melaksanakan ibadah harian tiga kali sehari (Teguh Hindarto, Ibadah Harian Gereja Perdana (2017) - https://bet-midrash.blogspot.com/2017/11/ibadah-harian-gereja-perdana.html).

Bangsa Israel kuno memiliki mekanisme keagamaan untuk melakukan penebusan dosa-dosa dan pelanggaran selama satu tahun yaitu dengan memberikan korban yang dilaksanakan pada tanggal dan bulan yang telah ditetapkan Tuhan sendiri yaitu 10 Tishri yang dinamai Yom Kippur (hari pendamaian). Mekanisme penebusan dosa bangsa setiap tahun sekali ini diatur dalam Imamat 16:1-34 saat Bangsa Israel masih tinggal di Kemah Suci (mishkan) yang nantinya diteruskan ketika Bait Suci (bet ha miqdash) dibangun di era Salomo.

Imamat 16:3, 6-11 menjelaskan ada hewan yang dikorbankan yaitu lembu dan domba serta dua ekor kambing sbb:

“Beginilah caranya Harun masuk ke dalam tempat kudus itu, yakni dengan membawa seekor lembu jantan muda untuk korban penghapus dosa dan seekor domba jantan untuk korban bakaran....

Dari umat Israel ia harus mengambil dua ekor kambing jantan untuk korban penghapus dosa dan seekor domba jantan untuk korban bakaran. Kemudian Harun harus mempersembahkan lembu jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa baginya sendiri dan dengan demikian mengadakan pendamaian baginya dan bagi keluarganya. Ia harus mengambil kedua ekor kambing jantan itu dan menempatkannya di hadapan YHWH di depan pintu Kemah Pertemuan, dan harus membuang undi atas kedua kambing jantan itu, sebuah undi bagi YHWH dan sebuah bagi Azazel. 

Lalu Harun harus mempersembahkan kambing jantan yang kena undi bagi YHWH itu dan mengolahnya sebagai korban penghapus dosa. Tetapi kambing jantan yang kena undi bagi Azazel haruslah ditempatkan hidup-hidup di hadapan YHWH untuk mengadakan pendamaian, lalu dilepaskan bagi Azazel ke padang gurun. Harun harus mempersembahkan lembu jantan  yang akan menjadi korban penghapus dosa baginya sendiri dan mengadakan pendamaian baginya dan bagi keluarganya; ia harus menyembelih lembu jantan itu" (Im 16:3,6-11)

Dalam Paskah dan Yom Kippur kita melihat bayang-bayang karya keselamatan oleh Yesus Sang Mesias dan Juruslamat kita. Kewafatan dan kebangkitan Yesus menggenapkan perihal korban Paskah dan korban Pendamaian yang setiap tahun dilakukan oleh imam di Bait Suci. Itulah sebabnya Rasul Paulus menuliskan: “Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Mesias/Kristus” (1 Kor 5:7)

Demikian pula dikatakan dalam Ibrani 9:26-28, “Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya.  Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali  saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia”

Meskipun Yom Kippur lekat dengan bangsa Yahudi dan penganut Yudaisme, namun sebagaimana Kekristenan awal bertumbuh dari bingkai agama dan budaya Yahudi, maka semua perayaan Yahudi tentu saja pada waktu itu dirayakan oleh Yesus dan para muridnya. Tentu saja dengan kesadaran baru bahwa dibalik setiap tujuh hari raya (Im 23:1-44) termasuk Yom Kippur, kematian Yesus menjadi penggenap.

Oleh karenanya saat Perayaan Yom Kipur orang Kristen tetap melihat relevansinya bagi kehidupan iman. Saat Yom Kippur, umat Kristiani merayakan karya penebusan dan pendamaian yang dilakukan oleh Yesus Sang Mesias melalui kematian dan pengorbanan-Nya sekaligus menjadi hari dimana kita mengakui segala dosa-dosa kita selama satu tahun dihapuskan di hari yang mulia tersebut.

Sebagai penganut Kristiani kita telah mendapatkan pengetahuan bahwa kematian Yesus merupakan Pendamaian sejati antara manusia dan Tuhan sebagaimana dikatakan:

“Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (1 Yoh 2:2)

“Karena Tuhan itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Tuhan dan manusia, yaitu manusia Kristus/Mesias Yesus”  (1 Tim 2:5)

Kita tidak memerlukan darah korban binatang ataupun korban bagi Azazel karena Mesias adalah korban sejati kita sehingga kita telah dihapus dari kutuk dosa yaitu maut kekal. Namun demikian, Kekristenan tetap melestarikan ibadah Yom Kippur (Pendamaian) sebagai warisan dan tradisi iman dalam sudut pandang Kristologis dengan perayaan yang berfokus pada karya Yesus Sang Mesias yang telah menjadi korban pendamaian bagi kita.

Saat merayakan Hari Pendamaian (Yom Kippur) kita menjadikan hari tersebut sebagai momentum untuk melakukan hal-hal terpuji sbb: Pertama, mengakui dosa dan kesalahan kita di hadapan YHWH akibat berbagai pelanggaran kita dalam satu tahun. Kedua, bukan hanya mengakui dosa melainkan mengampuni mereka yang berbuat salah dan kejahatan terhadap kita. Ketiga, saling bermaafan satu sama lain. Keempat, merayakan dengan rasa syukur bahwa kita telah memiliki Pendamai yang sejati yaitu Mesias yang mengantarai kita kepada Bapa melalui pengorbanan dirinya di kayu salib.

 

 

No comments:

Post a Comment