Saturday, September 26, 2026

PONDOK DAUN, MERENUNGKAN KESEMENTARAAN DAN MENYONGSONG KEABADIAN

Kemah dan Kesementaraan

Ketika mendengar kata “kemah”, apa yang Anda fikirkan? Baiklah, perjalanan, mendaki gunung, perlindungan dari panas dan hujan, tempat beristirahat dan tentunya kesementaraan. Adakah orang yang mendirikan kemah akan seterusnya tinggal dalam kemah? Bahkan orang-orang Monggolia yang nomaden dan memiliki kemah bernama yurts atau ger tetap berpindah-pindah meskipun bentuknya kokoh dan indah.

Berbicara perihal kemah, Bangsa Israel kuno tidak pernah dapat dilepaskan dari keberadaan kemah, khususnya setelah mereka mengambil keputusan berani di bawah pimpinan Musa. Mereka harus memasuki padang gurun dan berpuluh-puluh tahun sebelum memasuki Tanah Perjanjian yaitu Kanaan yang kelak menjadi ibu kota Bangsa Israel bernama Yerusalem di masa Raja Daud. Berpuluh-puluh tahun? Bukankah jika kita membuka google map yaitu teknologi pemetaan masa kini jarak Kairo Mesir sampai Yerusalem jika ditempuh dengan berjalan kaki hanya sekitar 7 hari? Bagaimana mungkin Kitab Suci menyebut Bangsa Israel berada di padang gurun selama 40 tahun?

Jika kita membaca Ulangan 32:13 dikatakan, “Sebab itu bangkitlah murka YHWH kepada orang Israel, sehingga Ia membuat mereka mengembara di padang gurun empat puluh tahun lamanya, sampai habis mati segenap angkatan yang telah berbuat jahat di mata YHWH”. Ya, frasa, wayi’nem bamidbar arbah shanah (Ia membuat mereka di padang gurun empat puluh tahun) itu karena sebuah sebab  yaitu af  YHWH be Yisrael (YHWH murka kepada Israel). Perilaku bangsa Israel yang kerap tawar menawar dan tidak taat menjadikan Tuhan murka dan menghukum mereka.

Dibalik hukuman ada pendidikan Tuhan. Itulah sebabnya dikatakan dalam Ulangan 8:3-4, “Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna,   yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan YHWH. Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun”

Ini bukan soal jarak tempuh tapi ini soal pendidikan iman yang Tuhan hendak berikan melalui berbagai kesukaran yang harus dialami bangsa Israel di padang gurun. Mereka harus tinggal di kemah-kemah dan pondok-pondok kayu dan hidup secara nomadik. Untuk keperluan menyembah Tuhan dan mempersambahkan korban Bangsa Israel diperintahkan membangun mishkan atau Kemah Suci (Kel 25,35-40). Di setiap perjalanan mereka di padang gurun selalu disertai dengan amud anan (tiang awan) di siang hari dan amud esh (tiap api) di malam hari (Kel 13:22).

Di padang gurun mereka harus mengalami banyak perjalanan dan peristiwa hingga pada akhirnya mereka berhasil memasuki Tanah Perjanjian. Bangsa Israel menglami kesementaraan dalam kemah namun keabadian kesetiaan dan penyertaan Tuhan melalui mukzizat-mukzizat yang diberikan

Sukot, Pondok Daun Sebagai Perayaan Penyertaan Tuhan di Padang Gurun

Itulah sebabnya Tuhan YHWH memerintahkan agar Bangsa Israel mengingat semua peristiwa penyertaan Tuhan di padang gurun dengan menjadikan seluruh perjalanan mulai dari Mesir dan di padang gurun agar menjadi sebuah perayaan saat mereka tiba di Tanah Perjanjian sebagaimana dikatakan dalam Imamat 23:39-43 sbb:

"Akan tetapi pada hari yang kelima belas bulan yang ketujuh itu pada waktu mengumpulkan hasil tanahmu, kamu harus mengadakan perayaan bagi YHWH tujuh hari lamanya; pada hari yang pertama haruslah ada perhentian penuh dan juga pada hari yang kedelapan harus ada perhentian penuh. Pada hari yang pertama kamu harus mengambil buah-buah dari pohon-pohon yang elok, pelepah-pelepah pohon-pohon korma, ranting-ranting dari pohon-pohon yang rimbun dan dari pohon-pohon gandarusa dan kamu harus bersukaria di hadapan YHWH Tuhanmu, tujuh hari lamanya. Kamu harus merayakannya sebagai perayaan bagi YHWH tujuh hari lamanya dalam setahun; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun. Dalam bulan yang ketujuh kamu harus merayakannya. Di dalam pondok-pondok daun (be sukkot) kamu harus tinggal tujuh hari lamanya, setiap orang asli di Israel haruslah tinggal di dalam pondok-pondok daun (be sukkot), supaya diketahui oleh keturunanmu, bahwa Aku telah menyuruh orang Israel tinggal di dalam pondok-pondok selama Aku menuntun mereka sesudah keluar dari tanah Mesir, Akulah YHWH Tuhanmu"

Sampai hari ini, orang-orang Yahudi penganut Yudaisme yang meneruskan iman dan tradisi serta budaya Bangsa Israel merayakan Sukot, Pondok Daun dengan membuat tenda-tenda di pelataran rumah dengan dihiasi serta melantunkan doa dan nyanyian selama tujuh hari. Untuk mengingat kesetiaan dan penyertaan Tuhan YHWH di padang gurun terhadap leluhur Israel.

Bayang-Bayang Kristus Dalam Tujuh Hari Raya

Bukankah kita orang Kristen? Apakah relevansi perayaan Pondok Daun (sukot) dengan kekristenan kita? Sebelum saya menjawabnya, marilah kita merenung sejenak, jika kita merayakan Paskah dan Pentakosta, hal mana perayaan-perayaan ini sebermula adalah perayaan yang dikaitkan dengan tindakan Tuhan YHWH terhadap bangsa Israel, lantas mengapa kita tidak merayakan lima perayaan lainnya yang diamarkan Tuhan dalam Imamat 23:1-44 tentang Tujuh Hari Raya?

Meskipun pendapat ini bukan pendapat arus utama (mainstream) dalam kekristenan, namun Tujuh Hari Raya yang ditetapkan Tuhan di Sinai yang dipelihara oleh Bangsa Israel dalam Kitab Suci dan Yudaisme modern masa kini, sebenarnya menggambarkan apa yang telah digenapi dan akan dilakukan oleh Mesias/Kristus. Dengan kata lain, Tujuh Hari Raya termasuk Sukot (Pondok Daun) merupakan bayang-bayang yang wujud sejatinya adalah Yesus Kristu (Kol 2:16). Yesus tentu saja melaksanakan Tujuh Hari Raya tersebut termasuk Sukot (Yoh 7:1-2, 37-38).

Merayakan Tujuh Hari YHWH bukan hanya merayakan peristiwa historis untuk memperingati tindakan YHWH terhadap umat Israel kuno yang tergambar dalam perayaan-perayaan tersebut (Im 23:1-44) namun sekaligus merayakan peristiwa Kristologis dan Soteriologis yang dikerjakan oleh Yesus Sang Mesias yang terdesain/terpola dalam perayaan-perayaan tersebut. Tidak mengherankan apabila Yesus dan rasul-rasul Yesus menghubungkan seluruh peristiwa Kristologis dan Soteriologis tersebut dengan tipologis dalam Tujuh Hari Raya sehingga muncul ayat-ayat sbb:

Yesus memerintahkan memecah roti dan meminum anggur saat Paskah bukan sekedar untuk mengingat pembebasan Bangsa Israel dari perbudakan Mesir namun memperingati kewafatan diri-Nya untuk memerdekakan kita dari kuasa dosa yaitu maut dengan berkata, “Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku." Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu” (Luk 22:19-20)

Demikianlah Rasul Paulus pun memghubungkan Paskah dengan karya kewafatan Kristus sebagaimana dikatakan, “Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Mesias” (2 Kor 5:17)

Buah Sulung (ha bikurim) bukan sekedar perayaan mengumpulkan berkas gandum selama 49 hari namun merujuk kepada kebangkitan Yesus sebagai yang sulung sebagaimana dikatakan, “Tetapi yang benar ialah, bahwa Mesias telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1 Kor 15:20)

Rosh ha Shanah bukan sekedar penanda pergantian Tahun Baru Ibrani yang ditandai dengan peniupan shofar (terompet dari tanduk domba) namun merujuk pada kedatangan Kristus dengan tanda peniupan shofar sebagaimana dikatakan, “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Tuhan berbunyi, maka Junjungan Agung sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Mesias akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Junjungan Agung di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Junjungan Agung. Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini”(1 Tes 4:16-18)

Yom Kippur bukan sekedar penebusan dosa nasional Israel selama satu tahun namun merujuk pada karya kematian Kristus yang bukan hanya menjadi Anak Domba Paskah namun korban Pendamaian sebagaimana dikatakan, "Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia" (1 Yoh 2:2).

Kristus Yang Berkemah di Antara Kita dan Kemah Abadi Yang Akan Datang

Jika demikian, apaah relevansi Perayaan Pondok Daun dengan kekristenan kita? Sebagai orang Kristen, kita merayakan Sukot, Pondok Daun untuk mengenang dan mensyukuri hal-hal berikut yang berkaitan dengan Sang Mesias/Sang Kristus yaitu kedatangan-Nya yang pertama ke dunia. Sang Firman yang berkemah di antara manusia (Yoh 1:14).

Mitch dan Zhava Glaser dalam bukunya yang berjudul, The Fall Feast of Israel, memberikan interpretasi terhadap kata Yunani eskenosen (εσκηνωσεν) dari kata kerja skenoo (σκηνω) yang artinya “membentangkan kemah” dalam  Yohanes 1:14 sbb: “Jesus is God tabernacling among men. The word ‘dwelt’ in Greek implies a temporary dwelling, a sukkah booth. Jesus is God’s ultimate sukkah booth. For God, in Jesus Christ, tabernacle among men. As the Temple was a temporary dwelling for the Shekinah, so Jesus tabernacling among us manifested the glory of God. He is the source of light and life to all who believe” (Yesus adalah tabernakel Tuhan di antara kita. Kata Inggris ‘dwelt’ dalam bahasa Yunani bermakna tempat tinggal sementara, kemah sukah. Yesus adalah kemah sukah sejati. Karena Tuhan di dalam Yesus Sang Mesias, berkemah di antara manusia. Sebagaimana Bait Suci merupakan tempat tinggal sementara bagi Shekinah, maka Yesus yang berkemah di antara ita memantulkan kemuliaan Tuhan. Yesus adalah sumber terang dan kehidupan bagi siapapun yang percaya –1987:185).

Namun benarkah Yesus lahir bulan September/Oktober bersamaan dengan Sukot sebagaimana diisyaratkan dalam Yohanes 1:4 atau Desember sebagaimana dirayakan berabad-abad? Jawabannya bisa panjang dan menimbulkan perdebatan teologis yang sengit. Saya fikir, keduanya layak dirayakan sebagai bagian dari perziarahan iman dan perjalanan gereja memahami Sabda Tuhan. Merayakan kelahiran Yesus di bulan Desember menghubungkan gereja dengan warisan dan kekayaan iman di masa lalu. Merayakan kelahiran Yesus di bulan September/Oktober memposisikan gereja sebagai peziarah rohani menuju kesempurnaan.

Selain berkaitan dengan kedatangan Yesus yang pertama, Sukot pun mengandung makna eskatologis atau berhubungan dengan suatu zaman yang akan berakhir dimana kelak hanya Tuhan YHWH yang bertahta dan berkuasa. Diatakan dalam Zakharia 14:7-9 dan 16 sbb: “tetapi akan ada satu hari -- hari itu diketahui oleh YHWH -- dengan tidak ada pergantian siang dan malam, dan malampun menjadi siang. Pada waktu itu akan mengalir air kehidupan dari Yerusalem; setengahnya mengalir ke laut timur, dan setengah lagi mengalir ke laut barat; hal itu akan terus berlangsung dalam musim panas dan dalam musim dingin. Maka YHWH akan menjadi Raja atas seluruh bumi; pada waktu itu YHWH adalah satu-satunya dan nama-Nya satu-satunya…Maka semua orang yang tinggal dari segala bangsa yang telah menyerang Yerusalem, akan datang tahun demi tahun untuk sujud menyembah kepada Raja, YHWH semesta alam, dan untuk merayakan hari raya Pondok Daun”.

Senada dengan teks apokaliptik (penyingkapan akhir zaman) dari Zakharia 14:7-9, 16, Yohanes menuliskan perihal Langit dan Bumi Baru yaitu Yerusalem Baru yang turun dari surga di mana Kemah Tuhan akan didirikan sebagaimana dikatakan: “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Tuhan, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Tuhan  ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Tuhan mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu” (Why 21:-4). Mitch dan Zhava Glaser memberikan komentar terhadap teks Wahyu 21:1-4 sbb: “Ultimately, the whole earth become the sukkah booth of God and He will reign in the presence of His Son for all eternity” (Akhirnya, seluruh bumi menjadi kemah Tuhan dan Dia akan memerintah melalui kehadiran Putra-Nya untuk selamanya – The Fall Feast of Israel, 1987:213).

Muara Perayaan Adalah Kesalehan Sosial dan Menubuhkan Keilahian Dalam Kehidupan

Marilah setiap kali kita berkumpul untuk beribadah dan memuliakan Tuhan dalam setiap perayaan, baik perayaan-perayaan Ibrani dalam Tujuh Hari Raya maupun perayaan-perayaan gerejawi umum (Natal, Paskah, Pentakosta, Kenaikan Yesus ke Sorga) untuk mengingat satu hal bahwa muara ibadah bukan untuk ibadah itu sendiri.

Muara ibadah adalah berbuat kebaikan dan kebajikan, mengejawantahkan nilai-nilai dalam sabda Tuhan dalam pekerjaan, kebijakkan, pergaulan. Amos 5:21-24 menuliskan peringatan Tuhan sbb,  "Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu.  Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang.  Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar.  Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir”

Perhatikan frasa, wayigal kamayim mishpat utsedaqah kenahal etan (Biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir). Tuhan menghendaki kita mengejawantahkan sabda dalam kehidupan keseharian, salah satunya keadilan. Adillah sebagai orang tua. Adillah sebagai pendidik. Adillah sebagai pemimpin perusahaan dst.

Yesaya 58:6 berkata, “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk”. Ingatlah pula sabda Yesus yang berkata, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan j  dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan” (Mat 23:23).

Selamat merayakan Pondok Daun 5787/2026. Kiranya pesan perayaan Pondok Daun mendorong kita untuk semakin mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama serta kehidupan dengan menubuhkan nilai-nilai ketuhanan dalam pekerjaan, pergaulan, kebijakan.

No comments:

Post a Comment