Kemah dan Kesementaraan
Ketika mendengar kata “kemah”,
apa yang Anda fikirkan? Baiklah, perjalanan, mendaki gunung, perlindungan dari
panas dan hujan, tempat beristirahat dan tentunya kesementaraan. Adakah orang
yang mendirikan kemah akan seterusnya tinggal dalam kemah? Bahkan orang-orang
Monggolia yang nomaden dan memiliki kemah bernama yurts atau ger tetap
berpindah-pindah meskipun bentuknya kokoh dan indah.
Berbicara perihal kemah, Bangsa Israel kuno tidak pernah dapat dilepaskan dari keberadaan kemah, khususnya setelah mereka mengambil keputusan berani di bawah pimpinan Musa. Mereka harus memasuki padang gurun dan berpuluh-puluh tahun sebelum memasuki Tanah Perjanjian yaitu Kanaan yang kelak menjadi ibu kota Bangsa Israel bernama Yerusalem di masa Raja Daud. Berpuluh-puluh tahun? Bukankah jika kita membuka google map yaitu teknologi pemetaan masa kini jarak Kairo Mesir sampai Yerusalem jika ditempuh dengan berjalan kaki hanya sekitar 7 hari? Bagaimana mungkin Kitab Suci menyebut Bangsa Israel berada di padang gurun selama 40 tahun?
Jika kita membaca Ulangan 32:13
dikatakan, “Sebab itu bangkitlah murka YHWH kepada orang Israel, sehingga Ia
membuat mereka mengembara di padang gurun empat puluh tahun lamanya, sampai
habis mati segenap angkatan yang telah berbuat jahat di mata YHWH”. Ya, frasa, wayi’nem bamidbar arbah shanah (Ia
membuat mereka di padang gurun empat puluh tahun) itu karena sebuah sebab yaitu af YHWH be Yisrael (YHWH murka kepada
Israel). Perilaku bangsa Israel yang kerap tawar menawar dan tidak taat
menjadikan Tuhan murka dan menghukum mereka.
Dibalik hukuman ada pendidikan
Tuhan. Itulah sebabnya dikatakan dalam Ulangan 8:3-4, “Jadi Ia merendahkan
hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak
dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup
bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan YHWH.
Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak
selama empat puluh tahun”
Ini bukan soal jarak tempuh tapi
ini soal pendidikan iman yang Tuhan hendak berikan melalui berbagai kesukaran
yang harus dialami bangsa Israel di padang gurun. Mereka harus tinggal di
kemah-kemah dan pondok-pondok kayu dan hidup secara nomadik. Untuk keperluan
menyembah Tuhan dan mempersambahkan korban Bangsa Israel diperintahkan
membangun mishkan atau Kemah Suci
(Kel 25,35-40). Di setiap perjalanan mereka di padang gurun selalu disertai
dengan amud anan (tiang awan) di
siang hari dan amud esh (tiap api) di
malam hari (Kel 13:22).
Di padang gurun mereka harus
mengalami banyak perjalanan dan peristiwa hingga pada akhirnya mereka berhasil
memasuki Tanah Perjanjian. Bangsa Israel menglami kesementaraan dalam kemah
namun keabadian kesetiaan dan penyertaan Tuhan melalui mukzizat-mukzizat yang
diberikan
Sukot, Pondok Daun Sebagai Perayaan Penyertaan Tuhan di Padang Gurun
Itulah sebabnya Tuhan YHWH
memerintahkan agar Bangsa Israel mengingat semua peristiwa penyertaan Tuhan di
padang gurun dengan menjadikan seluruh perjalanan mulai dari Mesir dan di
padang gurun agar menjadi sebuah perayaan saat mereka tiba di Tanah Perjanjian
sebagaimana dikatakan dalam Imamat 23:39-43 sbb:
"Akan tetapi pada hari yang
kelima belas bulan yang ketujuh itu pada waktu mengumpulkan hasil tanahmu, kamu
harus mengadakan perayaan bagi YHWH tujuh hari lamanya; pada hari yang pertama
haruslah ada perhentian penuh dan juga pada hari yang kedelapan harus ada
perhentian penuh. Pada hari yang pertama kamu harus mengambil buah-buah dari
pohon-pohon yang elok, pelepah-pelepah pohon-pohon korma, ranting-ranting dari
pohon-pohon yang rimbun dan dari pohon-pohon gandarusa dan kamu harus
bersukaria di hadapan YHWH Tuhanmu, tujuh hari lamanya. Kamu harus merayakannya
sebagai perayaan bagi YHWH tujuh hari lamanya dalam setahun; itulah suatu
ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun. Dalam bulan yang ketujuh
kamu harus merayakannya. Di dalam pondok-pondok daun (be sukkot) kamu harus
tinggal tujuh hari lamanya, setiap orang asli di Israel haruslah tinggal di
dalam pondok-pondok daun (be sukkot), supaya diketahui oleh keturunanmu, bahwa
Aku telah menyuruh orang Israel tinggal di dalam pondok-pondok selama Aku
menuntun mereka sesudah keluar dari tanah Mesir, Akulah YHWH Tuhanmu"
Sampai hari ini, orang-orang
Yahudi penganut Yudaisme yang meneruskan iman dan tradisi serta budaya Bangsa
Israel merayakan Sukot, Pondok Daun dengan membuat tenda-tenda di pelataran
rumah dengan dihiasi serta melantunkan doa dan nyanyian selama tujuh hari.
Untuk mengingat kesetiaan dan penyertaan Tuhan YHWH di padang gurun terhadap
leluhur Israel.
Bayang-Bayang Kristus Dalam Tujuh Hari Raya
Bukankah kita orang Kristen?
Apakah relevansi perayaan Pondok Daun (sukot) dengan kekristenan kita? Sebelum
saya menjawabnya, marilah kita merenung sejenak, jika kita merayakan Paskah dan
Pentakosta, hal mana perayaan-perayaan ini sebermula adalah perayaan yang
dikaitkan dengan tindakan Tuhan YHWH terhadap bangsa Israel, lantas mengapa
kita tidak merayakan lima perayaan lainnya yang diamarkan Tuhan dalam Imamat
23:1-44 tentang Tujuh Hari Raya?
Meskipun pendapat ini bukan
pendapat arus utama (mainstream) dalam kekristenan, namun Tujuh Hari Raya yang
ditetapkan Tuhan di Sinai yang dipelihara oleh Bangsa Israel dalam Kitab Suci
dan Yudaisme modern masa kini, sebenarnya menggambarkan apa yang telah digenapi
dan akan dilakukan oleh Mesias/Kristus. Dengan kata lain, Tujuh Hari Raya
termasuk Sukot (Pondok Daun)
merupakan bayang-bayang yang wujud sejatinya adalah Yesus Kristu (Kol 2:16). Yesus
tentu saja melaksanakan Tujuh Hari Raya tersebut termasuk Sukot (Yoh 7:1-2,
37-38).
Merayakan Tujuh Hari YHWH bukan
hanya merayakan peristiwa historis untuk memperingati tindakan YHWH terhadap
umat Israel kuno yang tergambar dalam perayaan-perayaan tersebut (Im 23:1-44)
namun sekaligus merayakan peristiwa Kristologis dan Soteriologis yang
dikerjakan oleh Yesus Sang Mesias yang terdesain/terpola dalam
perayaan-perayaan tersebut. Tidak mengherankan apabila Yesus dan rasul-rasul
Yesus menghubungkan seluruh peristiwa Kristologis dan Soteriologis tersebut
dengan tipologis dalam Tujuh Hari Raya sehingga muncul ayat-ayat sbb:
Yesus memerintahkan memecah roti
dan meminum anggur saat Paskah bukan sekedar untuk mengingat pembebasan Bangsa
Israel dari perbudakan Mesir namun memperingati kewafatan diri-Nya untuk
memerdekakan kita dari kuasa dosa yaitu maut dengan berkata, “Lalu Ia mengambil
roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka,
kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini
menjadi peringatan akan Aku." Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan
sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh
darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu” (Luk 22:19-20)
Demikianlah Rasul Paulus pun
memghubungkan Paskah dengan karya kewafatan Kristus sebagaimana dikatakan, “Buanglah
ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang
tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Mesias”
(2 Kor 5:17)
Buah Sulung (ha bikurim) bukan
sekedar perayaan mengumpulkan berkas gandum selama 49 hari namun merujuk kepada
kebangkitan Yesus sebagai yang sulung sebagaimana dikatakan, “Tetapi yang benar
ialah, bahwa Mesias telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang
sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1 Kor 15:20)
Rosh ha Shanah bukan sekedar penanda pergantian Tahun Baru Ibrani
yang ditandai dengan peniupan shofar (terompet dari tanduk domba) namun merujuk
pada kedatangan Kristus dengan tanda peniupan shofar sebagaimana dikatakan, “Sebab
pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan
sangkakala Tuhan berbunyi, maka Junjungan Agung sendiri akan turun dari sorga
dan mereka yang mati dalam Mesias akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita
yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam
awan menyongsong Junjungan Agung di angkasa. Demikianlah kita akan
selama-lamanya bersama-sama dengan Junjungan Agung. Karena itu hiburkanlah
seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini”(1 Tes 4:16-18)
Yom Kippur bukan sekedar
penebusan dosa nasional Israel selama satu tahun namun merujuk pada karya
kematian Kristus yang bukan hanya menjadi Anak Domba Paskah namun korban
Pendamaian sebagaimana dikatakan, "Dan Ia adalah pendamaian untuk segala
dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh
dunia" (1 Yoh 2:2).
Kristus Yang Berkemah di Antara Kita dan Kemah Abadi Yang Akan Datang
Jika demikian, apaah relevansi
Perayaan Pondok Daun dengan kekristenan kita? Sebagai orang Kristen, kita
merayakan Sukot, Pondok Daun untuk mengenang dan mensyukuri hal-hal berikut
yang berkaitan dengan Sang Mesias/Sang Kristus yaitu kedatangan-Nya yang
pertama ke dunia. Sang Firman yang berkemah di antara manusia (Yoh 1:14).
Mitch dan Zhava Glaser dalam
bukunya yang berjudul, The Fall Feast of
Israel, memberikan interpretasi terhadap kata Yunani eskenosen (εσκηνωσεν) dari kata kerja skenoo (σκηνω) yang artinya “membentangkan kemah” dalam Yohanes 1:14 sbb: “Jesus is God tabernacling
among men. The word ‘dwelt’ in Greek implies a temporary dwelling, a sukkah
booth. Jesus is God’s ultimate sukkah booth. For God, in Jesus Christ,
tabernacle among men. As the Temple was a temporary dwelling for the Shekinah,
so Jesus tabernacling among us manifested the glory of God. He is the source of
light and life to all who believe” (Yesus adalah tabernakel Tuhan di antara
kita. Kata Inggris ‘dwelt’ dalam bahasa Yunani bermakna tempat tinggal
sementara, kemah sukah. Yesus adalah kemah sukah sejati. Karena Tuhan di dalam
Yesus Sang Mesias, berkemah di antara manusia. Sebagaimana Bait Suci merupakan
tempat tinggal sementara bagi Shekinah, maka Yesus yang berkemah di antara ita
memantulkan kemuliaan Tuhan. Yesus adalah sumber terang dan kehidupan bagi
siapapun yang percaya –1987:185).
Namun benarkah Yesus lahir bulan
September/Oktober bersamaan dengan Sukot sebagaimana diisyaratkan dalam Yohanes
1:4 atau Desember sebagaimana dirayakan berabad-abad? Jawabannya bisa panjang
dan menimbulkan perdebatan teologis yang sengit. Saya fikir, keduanya layak
dirayakan sebagai bagian dari perziarahan iman dan perjalanan gereja memahami
Sabda Tuhan. Merayakan kelahiran Yesus di bulan Desember menghubungkan gereja
dengan warisan dan kekayaan iman di masa lalu. Merayakan kelahiran Yesus di
bulan September/Oktober memposisikan gereja sebagai peziarah rohani menuju
kesempurnaan.
Selain berkaitan dengan
kedatangan Yesus yang pertama, Sukot pun mengandung makna eskatologis atau
berhubungan dengan suatu zaman yang akan berakhir dimana kelak hanya Tuhan YHWH
yang bertahta dan berkuasa. Diatakan dalam Zakharia 14:7-9 dan 16 sbb: “tetapi
akan ada satu hari -- hari itu diketahui oleh YHWH -- dengan tidak ada pergantian
siang dan malam, dan malampun menjadi siang. Pada waktu itu akan mengalir air
kehidupan dari Yerusalem; setengahnya mengalir ke laut timur, dan setengah lagi
mengalir ke laut barat; hal itu akan terus berlangsung dalam musim panas dan
dalam musim dingin. Maka YHWH akan menjadi Raja atas seluruh bumi; pada waktu
itu YHWH adalah satu-satunya dan nama-Nya satu-satunya…Maka semua orang yang
tinggal dari segala bangsa yang telah menyerang Yerusalem, akan datang tahun
demi tahun untuk sujud menyembah kepada Raja, YHWH semesta alam, dan untuk
merayakan hari raya Pondok Daun”.
Senada dengan teks apokaliptik
(penyingkapan akhir zaman) dari Zakharia 14:7-9, 16, Yohanes menuliskan perihal
Langit dan Bumi Baru yaitu Yerusalem Baru yang turun dari surga di mana Kemah
Tuhan akan didirikan sebagaimana dikatakan: “Lalu aku melihat langit yang baru
dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah
berlalu, dan laut pun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus,
Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Tuhan, yang berhias bagaikan
pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara
yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Tuhan ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam
bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi
Tuhan mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut
tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau
dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu” (Why 21:-4). Mitch
dan Zhava Glaser memberikan komentar terhadap teks Wahyu 21:1-4 sbb:
“Ultimately, the whole earth become the sukkah booth of God and He will reign
in the presence of His Son for all eternity” (Akhirnya, seluruh bumi menjadi
kemah Tuhan dan Dia akan memerintah melalui kehadiran Putra-Nya untuk selamanya
– The Fall Feast of Israel, 1987:213).
Muara Perayaan Adalah Kesalehan Sosial dan Menubuhkan Keilahian Dalam
Kehidupan
Marilah setiap kali kita
berkumpul untuk beribadah dan memuliakan Tuhan dalam setiap perayaan, baik
perayaan-perayaan Ibrani dalam Tujuh Hari Raya maupun perayaan-perayaan
gerejawi umum (Natal, Paskah, Pentakosta, Kenaikan Yesus ke Sorga) untuk
mengingat satu hal bahwa muara ibadah bukan untuk ibadah itu sendiri.
Muara ibadah adalah berbuat
kebaikan dan kebajikan, mengejawantahkan nilai-nilai dalam sabda Tuhan dalam
pekerjaan, kebijakkan, pergaulan. Amos 5:21-24 menuliskan peringatan Tuhan sbb,
"Aku membenci, Aku menghinakan
perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan
kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan
korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang. Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian
nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar. Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung
seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir”
Perhatikan frasa, wayigal kamayim mishpat utsedaqah kenahal
etan (Biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti
sungai yang selalu mengalir). Tuhan menghendaki kita mengejawantahkan sabda
dalam kehidupan keseharian, salah satunya keadilan. Adillah sebagai orang tua.
Adillah sebagai pendidik. Adillah sebagai pemimpin perusahaan dst.
Yesaya 58:6 berkata, “Berpuasa
yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan
melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan
mematahkan setiap kuk”. Ingatlah pula sabda Yesus yang berkata, “Celakalah
kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang
munafik, sebab persepuluhan j dari
selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum
Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan” (Mat
23:23).
Selamat merayakan Pondok Daun
5787/2026. Kiranya pesan perayaan Pondok Daun mendorong kita untuk semakin
mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama serta kehidupan dengan menubuhkan
nilai-nilai ketuhanan dalam pekerjaan, pergaulan, kebijakan.


No comments:
Post a Comment