Menarik membaca pembukaan Surat Ibrani
3:1 dimana kita diminta untuk memandang Yesus Sang Mesias sebagai Rasul dan
Imam Besar (ton Apostolon kai Archierea, Yun) namun serentak menyisipkan nama
Musa di dalamnya sebagaimana dikatakan, “Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam
panggilan sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu
Yesus, yang setia kepada Dia yang telah menetapkan-Nya, sebagaimana Musapun
setia dalam segenap rumah-Nya”. Hal ini mendorong sebuah pertanyaan, mengapa
Musa harus disandingkan dengan Yesus?
Dalam Yudaisme, Musa dianggap
sebagai nabi terbesar yang pernah hidup. Status istimewanya ditegaskan Shloshah-Asar Ikkarim (13 Prinsip Iman)
yang disusun oleh Rabi Moshe ben Maimonides (Rambam) dalam komentarnya mengenai
Mishnah (Sanhedrin, Perek Chelek) pada abad ke-12 Ms. Prinsip-prinsip ini
menguraikan keyakinan-keyakinan pokok dalam Yudaisme, termasuk keberadaan dan
keesaan Tuhan, kenabian, asal-usul ilahi Torah pahala dan hukuman, kedatangan Mesias,
serta kebangkitan orang mati.
Prinsip-prinsip ini sering dilantunkan di sinagoge dalam bentuk puitis, yang diawali dengan kalimat Ani Ma’amin (Aku percaya). Pada bagian ketujuh dikatakan, Ani maamin beemunah shelemah, shenevuat Moshe rabeinu, alai hashalom hayetah amitit weshehu hayah av laneviim, laqodmim lepanaiw welabaim akharaiw (Saya meyakini dengan sepenuh hati bahwa nubuat Musa, guru kita—semoga damai besertanya—adalah benar; dan bahwa beliau adalah bapak bagi para nabi, baik mereka yang mendahului maupun yang datang setelahnya). Ajaran-ajarannya, khususnya hukum-hukum yang ia terima dari Tuhan, menjadi dasar bagi hukum Yahudi (halakha) yang memandu kehidupan sehari-hari umat Yahudi yang taat.
Peristiwa Keluaran dari tanah
perbudakan Mesir menuju tanah perjanjian, Kanaan yang dipimpin oleh Musa merupakan
peristiwa penting dalam sejarah Yahudi. Peristiwa ini diperingati setiap tahun
pada hari raya Paskah Yahudi, saat umat Yahudi di seluruh dunia menuturkan
kembali kisah pembebasan leluhur mereka dari perbudakan. Peran Musa sebagai
pembebas dan pemimpin menjadi inti dari perayaan ini.
Selain itu, pertemuan Musa dengan
Tuhan di Gunung Sinai—tempat ia menerima Sepuluh Perintah Tuhan—merupakan
peristiwa penting lainnya dalam Yudaisme. Perintah-perintah ini menjadi
landasan etika dan moral bagi hukum serta tradisi Yahudi. Penerimaan Sepuluh
Perintah Tuhan dirayakan pada hari raya Yahudi Shavuot yang semakin menegaskan betapa pentingnya sosok Musa dalam
kehidupan keagamaan Yahudi.
Kisah Musa bukan sekadar narasi
keagamaan, melainkan bagian krusial dari sejarah Yahudi. Peristiwa Keluaran
melambangkan kelahiran bangsa Yahudi, dengan Musa sebagai pemimpin pendirinya.
Kepemimpinannya di masa penuh ujian dan kesulitan ini sering kali dijadikan
teladan akan iman, keberanian, dan pengabdian terhadap kehendak Tuhan.
Hukum-hukum yang diterima Musa di
Gunung Sinai, Torah menjadi fondasi bagi masyarakat dan tata kelola Yahudi.
Ajaran-ajarannya telah membentuk komunitas Yahudi sepanjang sejarah serta
memengaruhi struktur sosial, hukum, dan etika mereka. Hingga saat ini,
hukum-hukum Musa terus memandu kehidupan Yahudi, mulai dari ritual keagamaan
hingga perilaku etis.
Yesus mirip dengan Musa dalam
beberapa hal. Baik Musa maupun Yesus
menjadi perantara perjanjian antara Tuhan dan manusia—Musa untuk Perjanjian
Lama (Kel 34:27; Kis 7:44), sedangkan Yesus Perjanjian Baru (Lu 22:20; Ibr
9:15). Baik Musa maupun Yesus lahir pada masa-masa yang berbahaya, dan keduanya
lolos dengan selamat dari seorang raja yang bertekad membunuh bayi-bayi (Kel
1:22 dan Mat 2:16–18).
Musa dan Yesus serupa dalam hal
keduanya memimpin umat Tuhan keluar dari perbudakan. Dengan kuasa yang besar,
Musa memimpin orang Israel keluar dari perbudakan fisik dan perhambaan di
Mesir, dan Yesus, dengan kuasa yang lebih besar lagi, memimpin umat pilihan
Tuhan keluar dari perbudakan rohani dan perhambaan terhadap dosa.
Musa juga mirip dengan Yesus
dalam hal ia melakukan mujizat—tidak semua nabi melakukannya. Beberapa mujizat
Musa mirip dengan mujizat Yesus, terutama penyediaan roti di padang gurun (Kel
16:35), yang sebanding dengan Yesus memberi makan 5.000 orang (Yoh 6:1–13).
Bahkan, setelah Yesus melipatgandakan roti dan ikan, pikiran orang-orang langsung
tertuju pada nubuat Musa (Yoh 6:14).
Dengan semua kesamaan itu,
penulis Ibrani tetap menempatkan sosok Yesus sebagai figur yang lebih mulia
sebagaimana dikatakan, “Sebab Ia dipandang layak mendapat kemuliaan lebih besar
dari pada Musa, sama seperti ahli bangunan lebih dihormati dari pada rumah yang
dibangunnya” (Ibr 3:3). Mengapa demikian? Tentu saja karena Yesus bukan nabi
biasa, bukan manusia biasa. Yesus pernah bersabda dalam Yohanes 5:46, “Sebab
jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab
ia telah menulis tentang Aku”. Bahkan dalam Yohanes 8:58 dikatakan, "Aku
berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada (ego eimi,
Yun)”. Dua pernyataan ini saja sudah mendudukkan status istimewa Yesus. Siapa
Yesus dibandingkan Musa jika beliau saja bersabda, “Aku sudah ada sebelum Musa
ada?” Berada sebagai apa Yesus sebelum Musa?
Kita tahu bahwa Yesus adalah
perwujudan Firman Tuhan yang setara, sehakikat dengan Tuhan (Yoh 1:1) yang mana
Firman yang setara dengan Tuhan itu telah menjadi manusia (Yoh 1:14). Itulah sebabnya
Yesus pleionos (lebih besar)
kemuliaannya dibandingkan Musa. Namun peninggian figur Yesus dalam Ibrani 3
tidak dimaksudkan untuk merendahkan Musa namun meletakkan kedudukan Yesus dan
Musa dalam hakikat dan tugas di dunia. Itulah sebabnya dikatakan dalam Ibrani
3:5, “Dan Musa memang setia (pistos, Yun) dalam segenap rumah Tuhan sebagai
pelayan untuk memberi kesaksian tentang apa yang akan diberitakan kemudian,
tetapi Kristus setia (pistos, Yun) sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan
rumah-Nya ialah kita”. Kata “kesetiaan” (pistos) yang satu kaitkan sebagai
“pelayan” (therapon, Yun) sementara yang satu dikaitkan sebagai “Anak” (huios,
Yun).
Dari penjelasan ini kita bisa
memahami mengapa figur Yesus disandingkan dengan Musa karena pembaca surat Ibrani
yang berbicara perihal korban tentu dimaksudkan untuk kalangan Yahudi yang
telah bercaya dan mengokohkan iman mereka bahwa Yesus adalah Imam Besar dan
Rasul sekaligus tetap menghormati Musa.
Yang menarik adalah bagian akhir
ayat yang mengatakan, “…dan rumah-Nya
ialah kita, jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada
kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan” (Ibr 3:6). Pernyataan Yesus ini
terang benderang bagi kita bahwa status sebagai Anak Tuhan dan kehidupan kekal
yang dianugrahkan kepada kita adalah anugrah yang harus dipertahankan. Yesus
bersabda dalam Wahyu 3:5, “Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih
yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan
Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya”.
Terkait apakah keselamatan bisa hilang atau tidak dari kehidupan orang Kristen,
telah menjadi bahan perdebatan berabad sebelumnya antara golongan Calvinis dan
Arminian. Bagi saya sederhana saja. Jika ada yang “tidak dihapus” maka ada “yang dihapus”. Ibrani 3:6 pun menegaskan
hal yang sama. Kita akan tetap menjadi “rumah-Nya”, “bait-Nya”, “tempat
kemuliaan-Nya bersemayam” sejauh kita tetap berpegang teguh pada Kristus
sebagai Anak Tuhan.
Menutup midrash kali ini, marilah
kita jangan terlena dengan keselamatan dan anugrah hidup kekal, melainkan
menjaganya agar menjadi milik bagian kita sebagaimana dikatakan dalam Filipi
2:12, “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu
tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar bukan saja seperti waktu aku masih hadir,
tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir”. Sebagaimana dikatakan
Ibrani 3:1, “…pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu
Yesus,..” agar kita tetap berada dalam kehidupan dan keselamatan

No comments:
Post a Comment