Kisah Yesus dan perempuan yang
kedapatan berzina atau dalam bahasa Latinnya, Pericope Adulterae adalah kisah yang banyak menginspirasi para
seniman untuk menuangkannya dalam lukisan, mulai dari Pieter Bruegel (1565) serta
Guercina (1621). Kisah yang dilaporkan Yohanes 7:53–8:1–11 ini telah menjadi
perebatan panjang diantara para sarjana Perjanjian Baru
Para sarjana Perjanjian Baru terbagi
pandangan antara yang meyakini bahwa perikop tersebut adalah sebuah interpolasi
(sisipan) yang baru ditambahkan kemudian hari, yaitu sesudah penulisan
naskah-naskah tertua Injil Yohanes yang diketahui sementara sebagian lainnya
meyakini bahwa kisah ini sudah ada dan dikutip dalam naskah-naskah yang lebih
tua. Beberapa terjemahan berbahasa asing biasanya menambahkan keterangan yang
menyatakan statusnya sebagai interpolasi yang baru ditambahkan kemudian hari.
Teks ini memang tidak ditemukan
pada Codex Sianiticus, Vaticanus, maupun versi Syriac demikian juga pada versi
Armenian dan Old Georgian. Manuskrip pertama yang memuat perikop ini adalah
Codex Bezae (sekitar akhir abad 4/ awal abad 5 Ms) yang ditulis dalam bahasa
Latin dan Yunani. Bisa dimaklumi jika muncul kesimpulan bahwa perikop Yohanes
7:53- 8:11 ini bukanlah teks asli dari Injil Yohanes. Codex Bezae sendiri adalah
manuskrip pertama yang memuat perikop ini (sekitar akhir abad 4 sampai awal
abad 5 Ms) yang ditulis dalam bahasa Latin dan Yunani.
Namun demikian kitab bernama Didascalia Apostolorum (semacam edisi
awal Kitab Didache), yaitu sebuah tulisan yang memuat ajaran- ajaran para
rasul, memuat acuan kepada perikop ini, demikian juga tulisan dari Papias (125
Ms), yang adalah murid rasul Yohanes. Jika Papias menyebutkan kisah perempuan
kedapatan berzinah ini pada Abad 2 Ms, tentu saja kisah ini tidak seharusnya
dituduh baru muncul di Abad 4 Ms. Namun demikian perdebatan perihal ini masih
terbuka sampai hari di antara kalangan peneliti Kitab Suci.
Kita tinggalkan sejenak persoalan
pelik berkaitan dengan penelitian transmisi Kitab Perjanjian Baru dari abad ke
abad. Kita fokuskan pada teks dan konteks perikop ini.
Di dalam perikop tersebut
diriwayatkan bahwa, saat Yesus sedang mengajar di Bait Suci, setelah turun dari
bukit Zaitun, di mana kemudian sekelompok ahli Torah dan orang Farisi datang
menyela ceramahnya.
Mereka kemudian menghadapkan
seorang perempuan yang tertangkap basah berbuat zinah, sembari menghasut bahwa
hukuman bagi pezina yang tertangkap basah seperti perempuan itu adalah rajam,
sesuai ketentuan syariat Musa (Ul 22:24)
Yesus hanya menulis-nulis sesuatu
di tanah dengan jarinya, tetapi lantaran para pendakwa perempuan itu terus-menerus
menuntut fatwa darinya, Yesus akhirnya menegaskan bahwa orang yang tidak
berdosalah yang harus melemparkan batu pertama untuk merajam perempuan itu.
Karena insaf bahwa tak seorang pun di antara mereka yang tidak berdosa, para
pendakwa maupun kerumunan akhirnya membubarkan diri, tinggal Yesus sendiri
bersama perempuan itu.
Yesus menanyai perempuan itu,
adakah orang yang menghukumnya, dan perempuan itu menjawab, tidak. Yesus
mengatakan bahwa ia pun tidak menghukumnya, lalu menyuruhnya pulang dan tidak
lagi berbuat dosa.
Apakah perkataan Yesus, "Akupun
tidak menghukum engkau”(Yoh 8:11) adalah bentuk toleransi terhadap dosa dan
dukungan kepAda perempuan pezinah tersebut? Apakah pernyataan Yesus hendak
memposisikan dirinya di atas dan melampaui Torah yang memerintahkan hukuman
rajam bagi pezinah? Tentu saja tidak demikian. Yesus tidak pernah mengatakan
kedatangan-Nya untuk membatalkan Torah melainkan “menggenapinya” (Mat 5:17) dan
berkata, “Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Torah
sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia
akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:19)
Alih-alih mentolerir perbuatan
berzinah perempuan tersebut, Yesus hendak menegakkan wibawa hukum di bawah
belas kasih dan pengampunan. Yesus menekankan pengampunan dan kasih bukan
hukuman. Namun demikian Yesus menegaskan agar perempuan tersebut jangan lagi
berbuat dosa dengan berkata, “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari
sekarang”
Beberapa alasan lain Yesus tidak
memberikan hukuman kepada wanita yang kedapatan berzinah tersebut karena
orang-orang Farisi dan ahli Taurat hanya menjadikannya alat jebakan untuk
menyudutkan Yesus, bukan menegakkan keadilan.
Orang Farisi membawa wanita itu
untuk mencobai Yesus apakah akan melanggar Hukum Musa (yang menyuruh rajam)
atau melanggar hukum Romawi (yang tidak memberi hak kepada orang Yahudi
menjalankan hukuman mati). Kasus ini sejenis dengan pertanyaan jebakan perihal
membayar pajak kepada kaisar. Markus 12:15 mengatakan “Tetapi Yesus mengetahui
kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mencobai
Aku? Bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!" Sisanya kita tahu kemana
cerita ini berakhir bukan? Yesus bertanya kepada mereka, "Gambar dan
tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan
Kaisar." Dan Yesus memberikan jawaban cerdas, "Berikanlah kepada
Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Tuhan apa yang
wajib kamu berikan kepada Tuhan!” (Mrk 12:17).
Berdasarkan Hukum Torah, kedua
pelaku (pria dan wanita) harus dihukum sebagaimana dikatakan Ulangan 22:24, “maka
haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu
lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia
tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri
sesamanya manusia. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu”, namun, mereka
hanya membawa sang wanita, yang menunjukkan manipulasi dan ketidaksetaraan
dalam penerapan hukum saat itu. Kemana pria pelaku perzinaan itu? Mengapa hanya
wanita ini yang di bawa kepada Yesus untuk dihakimi?
Pemahaman dan perlakuan yang
timpang terhadap perempuan masih kerap kita temui dalam kehidupan masa kini,
khususnya saat terjadi perzinahan. Merekalah yang kerap menjadi korban dan
sasaran caci maki dan tuduhan negatif sementara pria selalu lolos dari stigma. Jadi
teringat percakapan antara Soraya dan Amir, suaminya dalam novel karya Khaleed Hosseini
yang berjudul, Kite Runner. Soraya
telah berkata jujur kepada Amir sebelum mereka hendak menikah mengenai masa
lalunya yang kelam. Dan dalam sebuah percakapan, Soraya dalam kejengkelannya
saat mendengar gosip orang terhadp dirinya lantas berkata kepada Amir, “Anak-anak
lelaki mereka keluyuran di kelab malam, menggoda gadis-gadis dan menghamili
kekasih mereka, mereka punya anak haram dan tak ada seorangpun membicarakannya.
Oh, memang begitu cara pria bersenang-senang! Aku membuat satu kesalahan dan
tiba-tiba semua orang bicara tentang naang dan namoos, (maksudnya kehormatan
dan kebanggaan) seumur hidup aku harus menanggung malu gara-gara kejadian ini”(2026:244).
Melalui kisah Yesus yang
mengampuni perempuan pezinah dan memintanya untuk pulang dan tidak berbuat dosa
kembali mengajarkan kepada kita untuk mengutamakan belas kasih dan pengampunan
serta pertobatan tinimbang hukuman. Bencilah dosa dan bukan membenci pendosa. Namun
seiring dengan itu kitapun harus menegakkan hukum Tuhan bahwa dosa adalah dosa
dan janganlah kembali melakukan dosa dengan sengaja setelah bertobat.
Tuhan itu kasih namun Tuhan itu
juga adil. Karena kasih-Nya Dia mengampuni dan menerima pertobatan kita. Karena
keadilan-Nya, Dia akan menghukum setiap orang yang mengeraskan hatinya dan
tinggal dalam dosa

No comments:
Post a Comment