Friday, October 23, 2026

APAKAH YESUS MENTOLERIR DOSA SAAT MENGAMPUNI WANITA PEZINAH?

Sumber gambar: jesus-christ-of-nazareth.com

Kisah Yesus dan perempuan yang kedapatan berzina atau dalam bahasa Latinnya, Pericope Adulterae adalah kisah yang banyak menginspirasi para seniman untuk menuangkannya dalam lukisan, mulai dari Pieter Bruegel (1565) serta Guercina (1621). Kisah yang dilaporkan Yohanes 7:53–8:1–11 ini telah menjadi perebatan panjang diantara para sarjana Perjanjian Baru

Para sarjana Perjanjian Baru terbagi pandangan antara yang meyakini bahwa perikop tersebut adalah sebuah interpolasi (sisipan) yang baru ditambahkan kemudian hari, yaitu sesudah penulisan naskah-naskah tertua Injil Yohanes yang diketahui sementara sebagian lainnya meyakini bahwa kisah ini sudah ada dan dikutip dalam naskah-naskah yang lebih tua. Beberapa terjemahan berbahasa asing biasanya menambahkan keterangan yang menyatakan statusnya sebagai interpolasi yang baru ditambahkan kemudian hari.

Teks ini memang tidak ditemukan pada Codex Sianiticus, Vaticanus, maupun versi Syriac demikian juga pada versi Armenian dan Old Georgian. Manuskrip pertama yang memuat perikop ini adalah Codex Bezae (sekitar akhir abad 4/ awal abad 5 Ms) yang ditulis dalam bahasa Latin dan Yunani. Bisa dimaklumi jika muncul kesimpulan bahwa perikop Yohanes 7:53- 8:11 ini bukanlah teks asli dari Injil Yohanes. Codex Bezae sendiri adalah manuskrip pertama yang memuat perikop ini (sekitar akhir abad 4 sampai awal abad 5 Ms) yang ditulis dalam bahasa Latin dan Yunani.

Namun demikian kitab bernama Didascalia Apostolorum (semacam edisi awal Kitab Didache), yaitu sebuah tulisan yang memuat ajaran- ajaran para rasul, memuat acuan kepada perikop ini, demikian juga tulisan dari Papias (125 Ms), yang adalah murid rasul Yohanes. Jika Papias menyebutkan kisah perempuan kedapatan berzinah ini pada Abad 2 Ms, tentu saja kisah ini tidak seharusnya dituduh baru muncul di Abad 4 Ms. Namun demikian perdebatan perihal ini masih terbuka sampai hari di antara kalangan peneliti Kitab Suci.

Kita tinggalkan sejenak persoalan pelik berkaitan dengan penelitian transmisi Kitab Perjanjian Baru dari abad ke abad. Kita fokuskan pada teks dan konteks perikop ini.

Di dalam perikop tersebut diriwayatkan bahwa, saat Yesus sedang mengajar di Bait Suci, setelah turun dari bukit Zaitun, di mana kemudian sekelompok ahli Torah dan orang Farisi datang menyela ceramahnya.

Mereka kemudian menghadapkan seorang perempuan yang tertangkap basah berbuat zinah, sembari menghasut bahwa hukuman bagi pezina yang tertangkap basah seperti perempuan itu adalah rajam, sesuai ketentuan syariat Musa (Ul 22:24)

Yesus hanya menulis-nulis sesuatu di tanah dengan jarinya, tetapi lantaran para pendakwa perempuan itu terus-menerus menuntut fatwa darinya, Yesus akhirnya menegaskan bahwa orang yang tidak berdosalah yang harus melemparkan batu pertama untuk merajam perempuan itu. Karena insaf bahwa tak seorang pun di antara mereka yang tidak berdosa, para pendakwa maupun kerumunan akhirnya membubarkan diri, tinggal Yesus sendiri bersama perempuan itu.

Yesus menanyai perempuan itu, adakah orang yang menghukumnya, dan perempuan itu menjawab, tidak. Yesus mengatakan bahwa ia pun tidak menghukumnya, lalu menyuruhnya pulang dan tidak lagi berbuat dosa.

Apakah perkataan Yesus, "Akupun tidak menghukum engkau”(Yoh 8:11) adalah bentuk toleransi terhadap dosa dan dukungan kepAda perempuan pezinah tersebut? Apakah pernyataan Yesus hendak memposisikan dirinya di atas dan melampaui Torah yang memerintahkan hukuman rajam bagi pezinah? Tentu saja tidak demikian. Yesus tidak pernah mengatakan kedatangan-Nya untuk membatalkan Torah melainkan “menggenapinya” (Mat 5:17) dan berkata, “Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Torah sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:19)

Alih-alih mentolerir perbuatan berzinah perempuan tersebut, Yesus hendak menegakkan wibawa hukum di bawah belas kasih dan pengampunan. Yesus menekankan pengampunan dan kasih bukan hukuman. Namun demikian Yesus menegaskan agar perempuan tersebut jangan lagi berbuat dosa dengan berkata, “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang”

Beberapa alasan lain Yesus tidak memberikan hukuman kepada wanita yang kedapatan berzinah tersebut karena orang-orang Farisi dan ahli Taurat hanya menjadikannya alat jebakan untuk menyudutkan Yesus, bukan menegakkan keadilan.

Orang Farisi membawa wanita itu untuk mencobai Yesus apakah akan melanggar Hukum Musa (yang menyuruh rajam) atau melanggar hukum Romawi (yang tidak memberi hak kepada orang Yahudi menjalankan hukuman mati). Kasus ini sejenis dengan pertanyaan jebakan perihal membayar pajak kepada kaisar. Markus 12:15 mengatakan “Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!" Sisanya kita tahu kemana cerita ini berakhir bukan? Yesus bertanya kepada mereka, "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Dan Yesus memberikan jawaban cerdas, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Tuhan apa yang wajib kamu berikan kepada Tuhan!” (Mrk 12:17).

Berdasarkan Hukum Torah, kedua pelaku (pria dan wanita) harus dihukum sebagaimana dikatakan Ulangan 22:24, “maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu”, namun, mereka hanya membawa sang wanita, yang menunjukkan manipulasi dan ketidaksetaraan dalam penerapan hukum saat itu. Kemana pria pelaku perzinaan itu? Mengapa hanya wanita ini yang di bawa kepada Yesus untuk dihakimi?

Pemahaman dan perlakuan yang timpang terhadap perempuan masih kerap kita temui dalam kehidupan masa kini, khususnya saat terjadi perzinahan. Merekalah yang kerap menjadi korban dan sasaran caci maki dan tuduhan negatif sementara pria selalu lolos dari stigma. Jadi teringat percakapan antara Soraya dan Amir, suaminya dalam novel karya Khaleed Hosseini yang berjudul, Kite Runner. Soraya telah berkata jujur kepada Amir sebelum mereka hendak menikah mengenai masa lalunya yang kelam. Dan dalam sebuah percakapan, Soraya dalam kejengkelannya saat mendengar gosip orang terhadp dirinya lantas berkata kepada Amir, “Anak-anak lelaki mereka keluyuran di kelab malam, menggoda gadis-gadis dan menghamili kekasih mereka, mereka punya anak haram dan tak ada seorangpun membicarakannya. Oh, memang begitu cara pria bersenang-senang! Aku membuat satu kesalahan dan tiba-tiba semua orang bicara tentang naang dan namoos, (maksudnya kehormatan dan kebanggaan) seumur hidup aku harus menanggung malu gara-gara kejadian ini”(2026:244).

Melalui kisah Yesus yang mengampuni perempuan pezinah dan memintanya untuk pulang dan tidak berbuat dosa kembali mengajarkan kepada kita untuk mengutamakan belas kasih dan pengampunan serta pertobatan tinimbang hukuman. Bencilah dosa dan bukan membenci pendosa. Namun seiring dengan itu kitapun harus menegakkan hukum Tuhan bahwa dosa adalah dosa dan janganlah kembali melakukan dosa dengan sengaja setelah bertobat.

Tuhan itu kasih namun Tuhan itu juga adil. Karena kasih-Nya Dia mengampuni dan menerima pertobatan kita. Karena keadilan-Nya, Dia akan menghukum setiap orang yang mengeraskan hatinya dan tinggal dalam dosa

No comments:

Post a Comment