Di era audio visual dan digital
masa kini, kita terbiasa menikmati hiburan melalui berbagai macam media secara
mudah, terutama secara audio dan visual. Kita bisa memilih menonton tayangan
sebuah film selain layar lebar yaitu televisi, smartphone, you tube dan
saluran elektronik sejenis. Namun, sebelum perangkat elektronik seperti
televisi dan smartphone dimiliki oleh
hampir setiap orang, radio menjadi salah satu hiburan andalan yang selalu
ditunggu-tunggu oleh para penikmatnya.
Di periode tahun 1980-1990-an,
masyarakat Indonesia begitu menikmati sebuah hiburan yang bersifat audio yaitu
melalui drama radio. Sebutlah beberapa judul al.,Tutur Tinular dan Saur Sepuh
serta Misteri Gunung Merapi. Masih
ada beberapa serial drama radio lainnya. Nah, sepertinya Anda yang pernah
mengalami masa-masa keemasan hiburan menggunakan sarana audio mulai
bernostalgia ke masa lalu?
Bagaimana rasanya saat mendengar
drama radio kala itu? Selain dinanti-nantikan alias dirindukan kehadirannya,
tentu kita akan penasaran dengan kelanjutan kisah-kisahnya bukan? Bagi generasi
muda saat ini, mungkin drama radio terdengar aneh dan membosankan, sebab hanya
mengandalkan suara dari para aktor atau aktris saja. Padahal, saat mendengarkan
drama radio, kita akan ikut terbawa suasana dari setiap adegan yang dikisahkan.
Apalagi dengan tambahan efek suara seperti gesekan pedang atau langkah kaki
kuda yang membuatnya semakin terasa hidup. Ya, mendengarkan sebuah kisah
dramatik dan episodik terasa mengasyikkan serta serasa kita sedang berada dalam
suasana yang dikisahkan.
Bagaimana dengan mendengarkan
sabda-sabda Tuhan yang dibacakan dan dinarasikan dalam konteks kekinian? Tentu
saja kitapun akan larut dengan kisah-kisah dramatik dan episodik tokoh-tokoh
dalam Kitab Suci baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, dari Abraham,
Musa, Yakub hingga Yesus Anak Tuhan, Juruslamat serta Penebus hingga perjalanan
pekabaran Injil Paulus.
Namun persoalannya adalah, kita
bukan hanya diminta menjadi pendengar yang baik namun pendengar sekaligus
melakukan apa yang kita dengar. Penggemar drama radio hanya bertugas mendengar
dan menikmati kisah-kisah yang diceritakan secara audio. Siswa sekolah mulai
dari sekolah dasar, menengah hingga mahasiswa bertugas mendengar pengetahuan
dan menerapkan alias mengaplikasikan dalam kenyataan.
Kita adalah murid-murid dari Sang
Mesias, Sang Kristus yang juga di kala beliau hidup di Yerusalem disapa dengan
rabi (guru). Beliau mengajarkan apa yang baik dan benar dan kita murid-muridnya
mendengar dan melakukan.
Matius 7:24 menganalogikan orang
yang mendengarkan dan melakukan sabda Yesus adalah orang bijaksana (andri
pronimo, Yun) yang mendirikan rumah di atas batu (petran, Yun). Lebih tepatnya
“batu karang” karena kata Yunani yang dipergunakan adalah petra bukan lithos.
Mengapa? Karena saat hujan dan angin serta banjir melanda, rumah itu akan tetap
berdiri kokoh. Jika kita melihat pembangunan jembatan khususnya di era Hindia Belanda,
bukan hanya didasarkan struktur jembatan dan tiang pancang yang kuat namun
didirikan di atas batuan asli yang kokoh berdiri di sekitar sungai.
Mengapa orang mendengar dan
melakukan sabda Tuhan dianalogikan sebagai orang bijaksana yang mendirikan rumahnya
di atas batu karang? Apa kaitannya dengan hujan dan banjir? Bukankah cukup
hanya mendengar saja sudah baik adanya? Begini. Yesus mengajarkan untuk
mengasihi (bahkan kepada orang yang berbuat jahat pada kita), mengampuni
(bahkan di kayu salibpun Yesus mengeluarkan kata-kata pengampunan), tidak
membedakkan etnis dalam bergaul (ingat percakapan dengan perempuan Samaria),
menolong kepada siapapun yang membutuhkan, menjauhi perzinahan, jangan mudah
menghakimi dan ajaran-ajaran lainnya.
Jika kita melakukan semua itu,
maka kita telah mendirikan rumah di atas batu karang yang kokoh sehingga ketika
angin dan banjir tiba rumah kita tidak akan roboh. Rumah apa? Rumah kehidupan
kita tentu saja. Ketika kita mengamalkan apa itu mengasihi, mengampuni,
menguasai diri, melakukan kebajikkan maka ketika angin pencobaan tiba-tiba
datang tidak akan menghancurkan rumah kehidupan kita.
Covid-19 yang menghancurkan
ekonomi, kebijakkan negara yang merugikan masyarakat (bukan berarti semua
kebijakkan negara merugikan namun dalam derajat tertentu di masa rezim tertentu
bisa terjadi kekeliruan dalam kebijakkan), penipuan yang dilakukan rekan
bisnis, kuasa kegelapan yang dikirimkan untuk menghancurkan bisnis kita adalah
hujan dan angin serta banjir yang bisa melanda tiba-tiba. Covid menimbulkan
ketakutan dan keputusasaan. Penipuan dan kebangkrutan menimbulkan kemarahan dan
kekecewaan. Jika kita tidak bisa melepaskan pengampunan dan mengasihi
lawan-lawan kita, maka jiwa dan hati serta pikiran kita akan dirasuki
kekecewaan, kemarahan dan dendam yang ujungnya merusak serta menggerogoti tubuh
dan kesehatan kita.
Jika kita adalah orang-orang yang
mampu mengasihi dan mengampuni serta melihat segala perkara dengan ketenangan
hati maka kita diberikan kekuatan dan kemampuan melewati hujan dan banjir yang
melanda rumah kehidupan kita. Itulah sebabnya kita disebiut andri pronimo, orang bijaksana.
Matius 7:26 menganalogikan orang
yang mendengarkan dan tidak melakukan sabda Yesus adalah orang bodoh (andri
moro, Yun) yang mendirikan rumah di atas pasir (ammon, Yun). Tentu saja
kebalikkan dari apa yang dijelaskan sebelumnya. Jika kita tidak bisa mengasihi
dan mengampuni, jika kita tidak suka menolong orang, jika kita lebih mencintai
uang dan harta material tinimbang kehidupan sejati, maka ketika hujan dan angin
serta banjir yaitu hal-hal yang tidak terduga datang dan menyerbu rumah
kehidupan kita, maka kita akan berakhir sebagai orang yang dipenuhi kepahitan
dan dendam serta keputusasaan yang berujung pada mengakhiri kehidupan karena
menganggap semuanya sudah runtuh.
Analoginya, jika kita di sekolah
pertukangan diajari mengukur dan membuat furniture yang bagus dari bahan kayu
namun kita tidak menerapkan apa yang diajarkan, bisakah kita membuat furniture
secara benar? Jika kita sekolah di penerbangan dan diajari teori dan praktik
cara menerbangkan pesawat namun kita hanya mendengar dan memperhatikan tanpa
mempraktikkan, apakah kita bisa menerbangkan pesawat dengan benar? Jika kita
sekolah di bidang arsitektur dan diajari bagaimana cara membuat gedung dan
jembatan dengan ukuran yang benar, namun kita tidak pernah mempraktikkan
pengetahuan tersebut, apakah kita bisa membuat bangunan dan jembatan yang
kokoh?
Kita pernah mendengar dari media
sosial runtuhnya jembatan, ambruknya bagunan yang bukan karena pengaruh bencana
alam bukan? Penyebabnya jika tidak berkaitan dengan material berkualitas rendah
tentu saja berkaitan dengan kesalahan desain atau kontruksi bukan? Hasilnya?
Tentu saja bencana yang merugikan banyak orang dan menghilangkan nyawa akibat
ketidakkompetenan dalam menerapkan pengetahuan.
Analogi-analogi di atas kiranya
menolong kita memahami hubung kait atau sebab akibat antara mendengar dan
melakukan sabda Tuhan dan sabda Sang Juruslamat dalam kehidupan keseharian
kita.
Kitapun diingatkan dalam Ulangan
28:1 bahwa berkat dan kehidupa akan kita terima bukan dari sekedar mendengar
suara Tuhan. Dikatakan demikian, “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara YHWH
Tuhanmu dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka
YHWH Tuhanmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi”. Ya, bukan
hanya shamoa (mendengar) melainkan laashot (melakukan) yang menyebabkan
berkat dan kebaikan serta kehidupan Tuhan diterima. Dengan demikian, sabda Yesus
dalam Matius 7:24-26 mendapatkan pijakannya dalam Torah yaitu Ulangan 28:1
Kita bisa memilih menjadi andri pronimo (orang bijaksana) yang
mendirikan rumahnya di atas batu petra
(batu karang) atau memilih menjadi andri
moro (orang bodoh) yang mendirikan rumahnya di atas ammon (pasir).

No comments:
Post a Comment