Friday, September 18, 2026

MEMILIH MENJADI "ANDRI PRONIMO" ATAU "ANDRI MORO"

Sumber gambar: www.bible.art

Di era audio visual dan digital masa kini, kita terbiasa menikmati hiburan melalui berbagai macam media secara mudah, terutama secara audio dan visual. Kita bisa memilih menonton tayangan sebuah film selain layar lebar yaitu televisi, smartphone, you tube dan saluran elektronik sejenis. Namun, sebelum perangkat elektronik seperti televisi dan smartphone dimiliki oleh hampir setiap orang, radio menjadi salah satu hiburan andalan yang selalu ditunggu-tunggu oleh para penikmatnya.

Di periode tahun 1980-1990-an, masyarakat Indonesia begitu menikmati sebuah hiburan yang bersifat audio yaitu melalui drama radio. Sebutlah beberapa judul al.,Tutur Tinular dan Saur Sepuh serta Misteri Gunung Merapi. Masih ada beberapa serial drama radio lainnya. Nah, sepertinya Anda yang pernah mengalami masa-masa keemasan hiburan menggunakan sarana audio mulai bernostalgia ke masa lalu?

Bagaimana rasanya saat mendengar drama radio kala itu? Selain dinanti-nantikan alias dirindukan kehadirannya, tentu kita akan penasaran dengan kelanjutan kisah-kisahnya bukan? Bagi generasi muda saat ini, mungkin drama radio terdengar aneh dan membosankan, sebab hanya mengandalkan suara dari para aktor atau aktris saja. Padahal, saat mendengarkan drama radio, kita akan ikut terbawa suasana dari setiap adegan yang dikisahkan. Apalagi dengan tambahan efek suara seperti gesekan pedang atau langkah kaki kuda yang membuatnya semakin terasa hidup. Ya, mendengarkan sebuah kisah dramatik dan episodik terasa mengasyikkan serta serasa kita sedang berada dalam suasana yang dikisahkan.

Bagaimana dengan mendengarkan sabda-sabda Tuhan yang dibacakan dan dinarasikan dalam konteks kekinian? Tentu saja kitapun akan larut dengan kisah-kisah dramatik dan episodik tokoh-tokoh dalam Kitab Suci baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, dari Abraham, Musa, Yakub hingga Yesus Anak Tuhan, Juruslamat serta Penebus hingga perjalanan pekabaran Injil Paulus.

Namun persoalannya adalah, kita bukan hanya diminta menjadi pendengar yang baik namun pendengar sekaligus melakukan apa yang kita dengar. Penggemar drama radio hanya bertugas mendengar dan menikmati kisah-kisah yang diceritakan secara audio. Siswa sekolah mulai dari sekolah dasar, menengah hingga mahasiswa bertugas mendengar pengetahuan dan menerapkan alias mengaplikasikan dalam kenyataan.

Kita adalah murid-murid dari Sang Mesias, Sang Kristus yang juga di kala beliau hidup di Yerusalem disapa dengan rabi (guru). Beliau mengajarkan apa yang baik dan benar dan kita murid-muridnya mendengar dan melakukan.

Matius 7:24 menganalogikan orang yang mendengarkan dan melakukan sabda Yesus adalah orang bijaksana (andri pronimo, Yun) yang mendirikan rumah di atas batu (petran, Yun). Lebih tepatnya “batu karang” karena kata Yunani yang dipergunakan adalah petra bukan lithos. Mengapa? Karena saat hujan dan angin serta banjir melanda, rumah itu akan tetap berdiri kokoh. Jika kita melihat pembangunan jembatan khususnya di era Hindia Belanda, bukan hanya didasarkan struktur jembatan dan tiang pancang yang kuat namun didirikan di atas batuan asli yang kokoh berdiri di sekitar sungai.

Mengapa orang mendengar dan melakukan sabda Tuhan dianalogikan sebagai orang bijaksana yang mendirikan rumahnya di atas batu karang? Apa kaitannya dengan hujan dan banjir? Bukankah cukup hanya mendengar saja sudah baik adanya? Begini. Yesus mengajarkan untuk mengasihi (bahkan kepada orang yang berbuat jahat pada kita), mengampuni (bahkan di kayu salibpun Yesus mengeluarkan kata-kata pengampunan), tidak membedakkan etnis dalam bergaul (ingat percakapan dengan perempuan Samaria), menolong kepada siapapun yang membutuhkan, menjauhi perzinahan, jangan mudah menghakimi dan ajaran-ajaran lainnya.

Jika kita melakukan semua itu, maka kita telah mendirikan rumah di atas batu karang yang kokoh sehingga ketika angin dan banjir tiba rumah kita tidak akan roboh. Rumah apa? Rumah kehidupan kita tentu saja. Ketika kita mengamalkan apa itu mengasihi, mengampuni, menguasai diri, melakukan kebajikkan maka ketika angin pencobaan tiba-tiba datang tidak akan menghancurkan rumah kehidupan kita.

Covid-19 yang menghancurkan ekonomi, kebijakkan negara yang merugikan masyarakat (bukan berarti semua kebijakkan negara merugikan namun dalam derajat tertentu di masa rezim tertentu bisa terjadi kekeliruan dalam kebijakkan), penipuan yang dilakukan rekan bisnis, kuasa kegelapan yang dikirimkan untuk menghancurkan bisnis kita adalah hujan dan angin serta banjir yang bisa melanda tiba-tiba. Covid menimbulkan ketakutan dan keputusasaan. Penipuan dan kebangkrutan menimbulkan kemarahan dan kekecewaan. Jika kita tidak bisa melepaskan pengampunan dan mengasihi lawan-lawan kita, maka jiwa dan hati serta pikiran kita akan dirasuki kekecewaan, kemarahan dan dendam yang ujungnya merusak serta menggerogoti tubuh dan kesehatan kita.

Jika kita adalah orang-orang yang mampu mengasihi dan mengampuni serta melihat segala perkara dengan ketenangan hati maka kita diberikan kekuatan dan kemampuan melewati hujan dan banjir yang melanda rumah kehidupan kita. Itulah sebabnya kita disebiut andri pronimo, orang bijaksana.

Matius 7:26 menganalogikan orang yang mendengarkan dan tidak melakukan sabda Yesus adalah orang bodoh (andri moro, Yun) yang mendirikan rumah di atas pasir (ammon, Yun). Tentu saja kebalikkan dari apa yang dijelaskan sebelumnya. Jika kita tidak bisa mengasihi dan mengampuni, jika kita tidak suka menolong orang, jika kita lebih mencintai uang dan harta material tinimbang kehidupan sejati, maka ketika hujan dan angin serta banjir yaitu hal-hal yang tidak terduga datang dan menyerbu rumah kehidupan kita, maka kita akan berakhir sebagai orang yang dipenuhi kepahitan dan dendam serta keputusasaan yang berujung pada mengakhiri kehidupan karena menganggap semuanya sudah runtuh.

Analoginya, jika kita di sekolah pertukangan diajari mengukur dan membuat furniture yang bagus dari bahan kayu namun kita tidak menerapkan apa yang diajarkan, bisakah kita membuat furniture secara benar? Jika kita sekolah di penerbangan dan diajari teori dan praktik cara menerbangkan pesawat namun kita hanya mendengar dan memperhatikan tanpa mempraktikkan, apakah kita bisa menerbangkan pesawat dengan benar? Jika kita sekolah di bidang arsitektur dan diajari bagaimana cara membuat gedung dan jembatan dengan ukuran yang benar, namun kita tidak pernah mempraktikkan pengetahuan tersebut, apakah kita bisa membuat bangunan dan jembatan yang kokoh?

Kita pernah mendengar dari media sosial runtuhnya jembatan, ambruknya bagunan yang bukan karena pengaruh bencana alam bukan? Penyebabnya jika tidak berkaitan dengan material berkualitas rendah tentu saja berkaitan dengan kesalahan desain atau kontruksi bukan? Hasilnya? Tentu saja bencana yang merugikan banyak orang dan menghilangkan nyawa akibat ketidakkompetenan dalam menerapkan pengetahuan.

Analogi-analogi di atas kiranya menolong kita memahami hubung kait atau sebab akibat antara mendengar dan melakukan sabda Tuhan dan sabda Sang Juruslamat dalam kehidupan keseharian kita.

Kitapun diingatkan dalam Ulangan 28:1 bahwa berkat dan kehidupa akan kita terima bukan dari sekedar mendengar suara Tuhan. Dikatakan demikian, “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara YHWH Tuhanmu dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya  yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka YHWH Tuhanmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi”. Ya, bukan hanya shamoa (mendengar) melainkan laashot (melakukan) yang menyebabkan berkat dan kebaikan serta kehidupan Tuhan diterima. Dengan demikian, sabda Yesus dalam Matius 7:24-26 mendapatkan pijakannya dalam Torah yaitu Ulangan 28:1

Kita bisa memilih menjadi andri pronimo (orang bijaksana) yang mendirikan rumahnya di atas batu petra (batu karang) atau memilih menjadi andri moro (orang bodoh) yang mendirikan rumahnya di atas ammon (pasir).

No comments:

Post a Comment