Kisah Rasul 27:1-2 membuka kisah sbb, “Setelah diputuskan, bahwa kami akan berlayar ke Italia, maka Paulus dan beberapa orang tahanan lain diserahkan kepada seorang perwira yang bernama Yulius dari pasukan Kaisar. Kami naik ke sebuah kapal dari Adramitium yang akan berangkat ke pelabuhan-pelabuhan di sepanjang pantai Asia, lalu kami bertolak. Aristarkhus, seorang Makedonia dari Tesalonika, menyertai kami”. Kalimat ini mengingatkan saya pada sebuah adegan dalam sebuah film layar lebar yang belum lama ini saya tonton.
Beberapa waktu lalu saya menyempatkan
diri menonton film layar lebar karya Christopher Nolan yang terbaru. Ya, The Odyssey adalah judul film yang
menjadi viral dan ramai dibicarakan selama bulan Juli 2026 karena sukses meraup
pendapatan global hingga USD 1,008 miliar atau setara Rp16,13 triliun hanya
dalam waktu tiga minggu penayangan.
Berangkat dari puisi epik Yunani kuno
karya Homer pada Abad 8 sM, The Odyssey
menjelma menjadi film panjang berdurasi 2 jam 52 menit atau 172 menit yang
berhasil memukau penonton tanpa harus merasakan kelelahan apalagi bosan.
Ceritanya sendiri sederhana, yaitu keinginan salah satu raja Yunani Odysseus
untuk pulang dan perjalanannya pulang setelah berhasil memenangkan Perang Troya.
Perang Troya sendiri dikisahkan oleh Homer dalam bukunya Illiad.
Perjalanan yang seharusnya memakan
waktu singkat ini berubah menjadi pengembaraan maut selama sepuluh tahun.
Odysseus harus menghadapi murka para dewa, monster mengerikan, dan godaan yang
nyaris membuatnya melupakan jati dirinya sebagai seorang raja, suami, dan ayah.
Ada adegan dimana Odysseus dan anak
buahnya tiba di pulau di mana penduduknya memakan bunga lotus. Bunga ini
memiliki efek narkotik yang membuat siapa pun yang memakannya kehilangan ingatan
dan keinginan untuk pulang. Ada adegan dimana Odysseus terjebak di gua milik
Polyphemus, raksasa bermata satu putra Poseidon. Dengan kecerdikannya, Odysseus
membutakan mata raksasa itu dan melarikan diri.
Yang tidak kalah mengerikan ketika
menyaksikan adegan kapal yang dikendarai Odyseus dan anak buahnya dihantam
badai dan petir serta terombang-ambing di lautan. Bencana ini gegara anak buah
Odysseus memakan ternak suci milik dewa matahari, Helios. Sebagai hukuman, Zeus
menghancurkan kapal Odysseus dengan petir. Hanya Odysseus yang selamat,
terombang-ambing di laut hingga terdampar di pulau Ogygia, tempat tinggal nimfa
Calypso.
Jika menyaksikan sendiri adegan badai
yang menghancurkan kapal Odyseus kita akan mengalami kengerian yang sama dan
merasa seolah-olah hadir dalam situasi yang mencekam dimana hidup dan mati
sangat ditentukan oleh kemampuan mengendalikan kapal ditengah-tengah amukan
angin badai dan petir.
Demikianlah suasana jika kapal yang
diombang-ambingkan badai. Bacaan kita hari ini menampilkan adegan bagaimana Rasul
Paulus harus menghadapi angin badai yang mengombang-ambingkan kapal yang
ditumpanginya. Kisah Rasul 27:14-17 memberikan deskripsi kengerian tersebut
sbb, “Tetapi tidak berapa lama kemudian turunlah dari arah pulau itu angin
badai, yang disebut angin "Timur Laut". Kapal itu dilandanya dan tidak tahan
menghadapi angin haluan. Karena itu kami menyerah saja dan membiarkan kapal
kami terombang-ambing. Kemudian kami
hanyut sampai ke pantai sebuah pulau kecil bernama Kauda, dan di situ dengan
susah payah kami dapat menguasai sekoci kapal itu. Dan setelah sekoci itu
dinaikkan ke atas kapal, mereka memasang alat-alat penolong dengan meliliti
kapal itu dengan tali. Dan karena takut terdampar di beting Sirtis, mereka
menurunkan layar dan membiarkan kapal itu terapung-apung saja”
Selalu ada kisah ketidakberdayaan disamping
segala bentuk daya upaya pengalaman dan kemampuan manusia mengatasi kekuatan
alam yang tiba-tiba mengamuk.
Namun yang menarik untuk kita cermati
kisah angin badai (typhonixos) yang tiba-tiba datang ini tanpa tanda-tanda
sebelumnya dan muncul dalam rentetan ayat yang sebelumnya menyebut mengenai
angin sepoi-sepoi (hypopneusantos) sebagaimana dikatakan dalam Kisah Rasul 27:13,
“Pada waktu itu angin sepoi-sepoi bertiup dari selatan. Mereka menyangka, bahwa
maksud mereka sudah tentu akan tercapai. Mereka membongkar sauh, lalu berlayar
dekat sekali menyusur pantai Kreta.”
Kisah ini mengingatkan kita bahwa
jangan pernah terlena dengan situasi kehidupan sehingga kita mengendurkan
kewaspadaan. Angin badai, mewakili hal-hal buruk yang bisa saja tiba-tiba
datang tanpa kita duga sebelumnya yang bisa saja memporak-porandakkan semua
yang kita miliki.
Beberapa hari lalu, saya terkejut dan
sedih karena melihat sebuah postingan status di facebook mengenai adik kelas
saya semasa berkuliah di sekolah teologi di Yogyakarta yang dipanggil Tuhan
karena sebuah kecelakaan. Padahal beberapa hari lalu postingan di status
facebooknya sedang menerima kejutan mendapatkan kue ulang tahun. Inilah angin
sepoi-sepoi yang tiba-tiba berubah menjadi angin badai, bagi orang lain.
Ketika badai pandemi Covid 19 melanda Indonesia
di bulan Maret 2020, tidak ada yang menduga di akhir Desember 2019 bahwa
peristiwa itu akan terjadi. Angin bertiup sepoi-sepoi di bulan Desember hingga
angin badai tiba di bulan Maret.
Angin badai pandemi mulai merobohkan
sendi-sendi ekonomi masyarakat sehingga banyak toko, warung, rumah makan dan
bisnis pemula atau yang sudah lama bahkan pariwisata mengalami gulung tikar.
Kita berdoa agar dihindarkan dari
badai namun setiap orang tidak bisa menghindari dan menolak badainya sendiri. Cepat
atau lambat kita bakal menemui badai kita sendiri. Kita harus menanggulangi
badai dan mengatasi kapal yang kita tumpangi agar jangan sampai karam.
Sikap dalam menghadapi badai adalah
yang terpenting. Iman, ketabahan, keteguhan hati, kesabaran, ketenangan dan
semua hal baik yang dikombinasikan untuk mencapai kemenangan mengatasi badai. Rasul
Paulus berkata, “Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan
kamu, supaya kamu tetap bertabah hati, sebab tidak seorangpun di antara kamu
yang akan binasa, kecuali kapal ini.
Karena tadi malam seorang malaikat dari Tuhan, yaitu dari Tuhan yang aku
sembah sebagai milik-Nya, berdiri di sisiku,
dan ia berkata: Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar; dan
sesungguhnya oleh karunia Tuhan, maka semua orang yang ada bersama-sama dengan
engkau di kapal ini akan selamat karena engkau. Sebab itu tabahkanlah hatimu saudara-saudara!
Karena aku percaya kepada Tuhan, bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang
dinyatakan kepadaku” (Kis 27:22-25)
Rasul Paulus meminta orang-orang di
kapal untuk euthymein (bertabah hati).
Ya, seberat dan sesukar apapun, kita diminta untuk menenangkan diri dan
mengambil kendali terhadap pikiran dan perasaan kita agar jangan
diporak-porandakan oleh angin badai yang tiba-tiba mengamuk hebat. Kita
teringat nasihat Amsal 24:10, hitrapita
beyom tsara, tsar khokeka (Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan,
kecillah kekuatanmu)
Tenangkan pikiran kita, tabahkan hati
kita, jangan berfokus pada badai dan kerusakkan, mengambil alih kendali
terhadap seluruh kesadaran kita, kumpulkan kekuatan yang masih tersisa. Satu
persatu kita selesaikan masalah sehingga semua dapat terurai.
Ingatlah, tiada badai yang tiada
berakhir. Tiada badai yang tidak berlalu. Bertahanlah saat badai tiba dan
pergunakanlah seluruh potensi yang kita miliki dengan dilandasi iman,
pengharapan dan ketabahan untuk mengatasi badai.

No comments:
Post a Comment