Thursday, August 20, 2026

DIMERDEKAKAN BUKAN UNTUK MELAKUKAN NILAI-NILAI PERBUDAKAN

Sumber gambar: Study-bible.org

Pembuka

Sebagai bangsa, kita baru saja merayakan hari kemerdekaan yang jatuh pada tiap tanggal 17 Agustus. Menjelang dan sesudah momentum perayaan 17 Agustus tentu keramaian warga masyarakat di setiap daerah sangat beragam. Antusiasme menjalar dimana-mana. Mulai dari aneka lomba dan kegiatan kreatif yang menyemarakkan perayaan kemerdekaan. Belum lagi animo masyarakat dengan memasang berbagai lampu hias dan aneka hiasa lainnya yang menarik dilihat.

Pertanyaan reflektifnya adalah, apakah kita telah hidup sebagai bangsa yang merdeka? Apakah nilai-nilai kemerdekaan benar-benar telah menubuh dalam jiwa dan tindakan sehingga menjadi budaya yang memerdekan di tiap-tiap warga masyarakat? Sampai hari ini kita masih menemukan sejumlah praktik-praktik yang tidak memberi ruang kemerdekaan hidup. Ruang kebebasan beragama masih menjadi problem dan ancaman. Ada tayangan bagaimana sekelompok masyarakat menolak praktik ibadah tertentu (di rumah dan di tempat ibadah resmi) dengan dalih undang-undang bahkan mengatasnamakan mayoritas. Ada keluhan dari beberapa warga masyarakat yang mengeluh karena terintimidasi dan terampas kemerdekaannya gegara tidak menggunakan pakaian yang disarankan kelompok agamanya.

Kemerdekaan yang telah diraih, sejatinya bukan sekedar memproklamasikan bahwa kita sebagai bangsa dan warga masyarakat telah terbebas dari belenggu kolonialisme dan penjajahan secara politik, ekonomi dan sosial namun menjalani kehidupan sebagai bangsa dan warga masyarakat yang merdeka dan menjadikan kemerdekaan sebagai nilai-nilai budaya. Membuat kehidupan orang lain tidak merdeka, baik secara agama, ekonomi, sosial, budaya tentu saja merupakan penodaan dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemerdekaan. Kita menjadi para penindas baru bagi sesama kita dan merampas kemerdekaan orang lain.

Itulah sebabnya saya mengatakan bahwa kemerdekaan adalah proyek kebudayaan tanpa henti. Kita harus terus menerus memperbaiki kehidupan masyarakat yang masih belum beres untuk semakin baik sehingga nilai-nilai kemerdekaan menjadi budaya bangsa sesungguhnya.

Terlepas dari persoalan-persoalan yang masih menghinggapi kehidupan sosial masyarakat kita, marilah kita merenungkan sabda Tuhan melalui surat Rasul Paulus khususnya Galatia 5:13 yang berkata, “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih”.

Sebelum kita merenungkan teks Galatia 5:13, marilah kita telaah secara ringkas keseluruhan perikop agar kita tidak kehilangan konteks ayat yang kita garis bawahi beserta aktualisasinya dalam kehidupan keseharian.

Kristus Telah Memerdekakan Kita, Dari Apa?

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat” (Gal 5:1-3)

Pertama, Kristus memerdekakan dari kuasa dosa sebagaimana dikatakan, “Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (Rom 8:2). Kedua, Kristus memerdekakan kita dari legalisme alias ketaatan terhadap hukum yang ditambahkan oleh manusia sebagaimana dikatakan, Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya” (Mat 23:1-4).

Masih banyak misinterpretasi terhadap surat-surat Rasul Paulus dan menyimpulkan bahwa Yesus Sang Mesias dan Rasul Paulus meniadakan Torah. Dengan jelas Yesus bersabda, “Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya….Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:17,19). Demikian pula Rasul paulus menuliskan, “Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat oleh iman? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya” (Rm 3:31).

Dasar Pembenaran Adalah Iman Bukan Melakukan Torah

“Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia. Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan” (Rm 5:4-5)

Torah diberikan supaya bangsa Israel memiliki pedoman, arah, ketertiban dalam menyembah Tuhan dan bagaimana menerapkan hukum Tuhan untuk kehidupan keseharian serta berinteraksi dengan bangsa-bangsa non Israel. Untuk mendapatkan perkenan di hadapan Tuhan dan kehidupan kekal tentu saja dilandaskan pada iman dan mengasihi Tuhan yang ditunjukkan dalam hal ketaatan melakukan hukum dan perintah dalam Torah (Hab 2:4, Ul 28:1)

Sunat Bukan Prsyarat Keselamatan Namun Tanda Perjanjian Tuhan

“Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih. Dahulu kamu berlomba dengan baik. Siapakah yang menghalang-halangi kamu, sehingga kamu tidak menuruti kebenaran lagi? Ajakan untuk tidak menurutinya lagi bukan datang dari Dia, yang memanggil kamu” (Gal 5:4-8)

Sunat (mul, Ibr atau brit millah dalam tradisi Ibrani) adalah tanda perjanjian Tuhan dengan Abraham dan bangsa Israel (Kej 17:2-12). Sunat pun dijadikan tanda konversi ketika gerim (orang asing) mengikuti kepecayaan Israel/Yahudi. Sekalipun Rasul Paulus mengijinkan sunat terhadap Timotius (Kis 16:3) namun Paulus mengingatkan bahwa sunat bukan prasyarat keselamatan, hidup kekal dan menjadi murid Yesus Kristus. Yang bersunat tetaplah bersunat yang tidak bersunat dan mengikut Kristus dipersilahkan. Yang penting melakukan hukum Kristus (1 Kor 7:17-19)

Menghadapi Kelompok Legalisme

“Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan. Dalam Tuhan aku yakin tentang kamu, bahwa kamu tidak mempunyai pendirian lain dari pada pendirian ini. Tetapi barangsiapa yang mengacaukan kamu, ia akan menanggung hukumannya, siapapun juga dia.  Dan lagi aku ini, saudara-saudara, jikalau aku masih memberitakan sunat, mengapakah aku masih dianiaya juga? Sebab kalau demikian, salib bukan batu sandungan lagi. Baiklah mereka yang menghasut kamu itu mengebirikan saja dirinya!” (Rm 5:9-11)

Dalam Titus 1:10 Rasul Paulus memberikan peringatan terhadap jemaat Kristiani awal non Yahudi yang kerap dibingungkan oleh golongan Yahudi yang menekankan soal sunat lahiriah. Rasul Paulus pun mengingatkan perihal arti bayangan dan kenyataan saat membahasa tentang sunat, hari raya, sabat dalam Kolose 2:16-17. Sunat,boleh dilakukan namun bukan prasyarat keselamatan dan kehidupan kekal.

Etika Kemerdekaan

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!" Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan” (Rm 5:13-15)

Penutup

Dari uraian Rasul Paulus yang kita kaji secara singkat, meskipun tanpa melakukan proses eksegesis secara ketat (untuk eksegesis beberapa teks yang dikutip dapat membaca beberapa artikel saya yang disematkan), kita sudah mengerti arti kata kemerdekaan (eleuthera, Yun) yang dimaksudkan yaitu kemerdekaan secara spiritual yaitu kemerdekaan dari kuasa dosa yaitu maut melalui iman kepada karya pengorbanan Mesias (Kristus) di atas kayu salib dan kebangkitan-Nya pada hari ketiga dari kematian dan kemerdekaan dari legalisme yaitu ajaran tambahan yang disetarakan dengan Torah sehingga menjadi kuk/beban bagi para penganutnya.

Lantas, bagaimana memaknai kemerdekaan Kristiani yang telah kita peroleh dalam Kristus (Mesias)? Pertama, “janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa”. Dalam teks Yunani dituliskan, eis aphormen te sarki. Young’s Literal Translation (YLT) menrjemahkan, “for an occasion to the flesh”. Indonesian Literal Translation (ILT)  menerjemahkan, “sebagai kesempatan untuk kedagingan”. Karena kata Yunani sark (daging) bisa menunjuk kepada “tubuh, badan” (Yoh 1:14, kai logos sark egeneto – Firman itu sudah menjadi manusia) namun juga bisa menunjuk pada hawa nafsu (epithymian sarkos – keinginan daging, Gal 5:16), maka Lembala Alkitab Indonesia (LAI) menerjemahkan secara dinamis menjadi “kehidupan dalam dosa”. Ya, sebagai orang Kristiani yang telah dimerdekakan kita harus menghasilkan buah-buah pertobatan dan kemerdekaan bukan buah-buah dosa dan perbudakan. Jika kita masih melakukan Ma Lima/Mo Limo (madat, main, medhok, minum, maling - mabuk, judi, zinah, mabuk, mencuri), maka kita hanya menyandang nama Kristiani namun belum hidup dalam Kristus.

Kedua, “layanilah seorang akan yang lain oleh kasih”. Kita diminta tanpa membedakan semua orang (Kristen atau non Kristen) diminta untuk, tes agaphes, douleuete alelois. Galatia 6:10 berkata, “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang (pantas, Yun), tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman (oikeous tes pisteos, Yun)”

Marilah kita hayati kemerdekaan bangsa dan kemerdekaan hidup Kristiani dengan menghentikan perbuatan fasik sebagai tanda perbudakan dosa dan menebar benih dan nilai-nilai kemerdekaan yang membawa kemerdekaan bagi orang lain.


Saran Bacaan:

1. Teguh Hindarto, Yesus dan Torah (Kajian Kitab Matius 5:17-48) - https://pijarpemikiran.blogspot.com/2011/05/yesus-torah-kajian-kitab-matius-517-48.html

2. Teguh Hindarto, Rasul Paulus dan Rumor Pembatalan Torah -https://pijarpemikiran.blogspot.com/2011/05/rasul-paul-dan-rumor-pembatalan-torah.html

3. Teguh Hindarto, Bolehkah Pengikut Mesias Disunat? - https://bet-midrash.blogspot.com/2011/11/bolehkah-pengikut-mesias-disunat.html

4. Teguh Hindarto, Reformasi Yosia dan Makna Penemuan Torah -

https://pijarpemikiran.blogspot.com/2011/02/reformasi-yosia-makna-penemuan-torah.html

5. Teguh Hindarto, Apakah Torah Hanya Berlaku Sampai Zaman Yohanes Pembaptis?  - https://bet-midrash.blogspot.com/2018/06/apakah-torah-hanya-berlaku-sampai.html

6. Teguh Hindarto, Membebaskan Dari Torah Atau Dari Dosa? https://bet-midrash.blogspot.com/2016/12/membebaskan-dari-torah-atau-membebaskan.html

7. Teguh Hindarto, Kematian Yesus Dikayu Salib Membatalkan Torah? - https://bet-midrash.blogspot.com/2019/11/kematian-yesus-di-kayu-salib.html#:~:text=Konteks%20Efesus%202%3A15%20bukan%20berbicara%20perihal%20pembatalan%20Torah..,orang%20kudus%20yang%20tinggal%20di%20Efesus%20%28Ef%201%3A1%29.


No comments:

Post a Comment