Disitir dari sebuah artikel
berjudul, Laporan Perubahan Iklim Ungkap
Kondisi Bumi Makin Mengkhawatirkan dari laman https://castfoundation.id/ diperoleh
keterangan sbb, “Tim ilmuwan internasional merilis laporan terbaru mereka
mengenai pemanasan global. Hasil dari laporan ini mengungkap kondisi bumi yang
makin mengkhawatirkan. Bahkan, ilmuwan menyebutnya sebagai kode merah bagi umat
manusia.
Berdasarkan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change
(IPCC), bumi saat ini mengalami suhu terpanas dalam sejarah dan gelombang panas
yang lebih intens. Laporan itu disusun oleh 234 ilmuwan dari seluruh dunia
setelah menganalisa lebih dari 14.000 studi iklim untuk memberikan gambaran
yang paling jelas tentang kondisi planet saat ini.
Emisi gas yang membuat suhu bumi
menghangat saat ini kemungkinan akan melampaui batasan yang telah ditetapkan
hanya dalam waktu 10 tahun. Para penulis laporan ini juga menunjukkan bahwa
kenaikan permukaan laut mendekati dua meter di akhir abad ini, tidak dapat
terhindarkan.
Proyeksi masa depan pemanasan
global sangat jelas dalam laporan ini, dan banyak dampak yang tidak mungkin
terhindarkan, seperti dituliskan oleh para peneliti berikut ini: (1) Pada 2040, suhu global akan naik atau
lebih panas 1,5 derajat Celcius di atas level suhu pada 1850-1900 dalam semua
skenario emisi yang diperkirakan oleh para ilmuwan (2) Dalam semua skenario,
Kutub Utara kemungkinan akan kehabisan es pada bulan September, setidaknya satu
kali sebelum 2050 (3) Akan ada peningkatan kejadian ekstrem berkaitan dengan
iklim dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan dengan kenaikan
suhu sebesar 1,5 derajat Celcius (4) Peristiwa kenaikan permukaan laut ekstrem
yang terjadi sekali dalam seabad di masa lalu diproyeksikan terjadi setidaknya
setiap tahun, di lebih dari setengah lokasi pengukuran ombak pada tahun 2100
(5) Kemungkinan besar akan ada peningkatan peristiwa kebakaran di banyak
wilayah.
Fakta dan data di atas
mengingatkan saya pada Fred Magdof dan John Bellamy Foster dalam bukunya yang
sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul, Lingkungan Hidup dan Kapitalisme: Sebuah Pengantar mengatakan,
“Yang membuat era modern lebih menonjol dalam hal ini adalah bahwa kini
penghuni bumi lebih banyak; kita memiliki teknologi sanggup menciptakan
kerusakkan lebih besar dan lebih cepat; dan kita memiliki sistem ekonomi yang
tak kenal batas. Kerusakkan yang ditimbulkan hari ini begitu luas sehingga
bukan Cuma menyebabkan kemerosotan ekologi di tingkat lokal dan regional
seperti pada peradaban-peradaban sebelumnya, tapi juga memengaruhi lingkungan
pada skala planet, mengancam keberadaan sebagian besar spesies di dunia ini,
termasuk spesies kita sendiri...” (2018:6).
Tanggal 11 September 2026
bertepatan dengan kalender Tahun Baru Ibrani yang disebut Rosh ha Shanah atau Yom Truah
(Peniupan Shofar) yaitu 1 Tishri 5787. Rosh
ha Shanah bukan sekedar tahun baru namun juga dihayati sebagai penyucian
diri dan persiapan pengampunan dosa menjelang perayaan Yom Kippur (Hari Pendamaian). Rosh
ha Shanah dipandang sebagai waktu untuk membuang dosa dan meminta pengampunan,
yang disebut tashlich. Idenya diambil
dari Mikha 7:19: “Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan
kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir
laut”. Secara tradisional ditandai dengan mengosongkan isi kantong ke dalam air
namun sekarang lebih umum untuk melemparkan remah roti atau melempar batu ke
dalam sungai.
Yang menarik, secara tradisional
dalam Yudaisme bahwa Rosh ha Shanah
adalah hari penciptaan dunia dan manusi. Dalam Mishna Sanhedrin 38b, sebuah
literatur Yudaisme yang berisikan tafsir dan aturan hukum menjelaskan asal-usul
keyakinan bahwa bulan Tishri adalah hari lahir dunia karena kata Ibrani bereshit (pada mulanya) dalam Kitab
Kejadian 1:1 jika dibalik akan berbunyi aleph
be Tishri (pada 1 Tishri).
Sebagai orang Kristiani, kitapun
melihat bayang-bayang karya Kristus (Mesias) perihal kedatangan-Nya yang kedua
kali dengan ditandai peniupan shofar (1 Tes 4:16), oleh karenanya kitapun dapat
merayakan dan menghayati Rosh ha Shanah sebagai perayaan perihal peristiwa yang
akan datang di masa depan.
Kembali pada penjelasan di awal
mengenai kondisi bumi yang semakin tidak baik-baik saja, apa kaitan perayaan Rosh ha Shanah dengan penjelasan di awal?
Baiklah, sebagaimana telah dikatakan bahwa Rosh
ha Shanah bukan sekedar perayaan keagamaan Yahudi dan Yudaisme serta
beberapa orang Kristen yang melihat korelasi perayaan ini dengan karya Kristus.
Rosh ha Shanah adalah perayaan hari lahirnya bumi dan manusia serta isinya.
Betapa saat ini kita semakin
menjauhi Taman Eden. Usia manusia pertama hingga hari ini semakin mengalami
kesenjangan dan penurunan batas usia. Alam yang menjadi tempat manusia hidup
dan mendapatkan makanan darinya mulai mengalami kerusakkan demi kerusakkan yang
mengkhawatirkan, sebagaimana telah dipaparkan di awal.
Dibalik bencana alam yang
menghabisi manusia, desa, kota, lingkungan, ada tata kelola yang keliru dan
mengabaikan prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan yang benar.
Tuhan YHWH memerintahkan kepada
manusia untuk “menaklukkan” (kabash, Kej 1:28) bumi bukan bermakna melakukan
eksploitasi masif yang merusak lingkungan melainkan dalam kerangka pemenuhan
kebutuhan manusia bukan pemenuhan hasrat penumpukkan keuntungan belaka karena
kata “taklukanlah” (kivshuha) berkaitan dengan kata imperatif sebelumnya yaitu
“beranakcuculah” (pru) dan "bertambah banyaklah" (revu) serta
“penuhilah bumi” (milu et haarets) dan kalimat imperatif sesudahnya yaitu
“berkuasalah” (redu).
Setelah kejatuhan manusia dalam
dosa (Kej 3) maka hubungan manusia dengan alam dan hewan bahkan dengan
sesamanya semakin eksploitatif. Manusia yang diciptakan Tuhan bertugas
menaklukan alam yang keras agar mendatangkan manfaat bagi kehidupan manusia dan
bukan melakukan eksploitasi masif yang berdampak pada kerusakan ekosistem masa
depan.
Prinsip penataan bumi ini
seharusnya menjadi prinsip pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan dan bukan
sebaliknya. Orang Kristen memiliki tanggung jawab menjaga kelestarian ekologis
dalam menata bumi karena saat Tuhan YHWH menciptakan manusia dan tinggal di Taman
Eden, mereka diperintahkan, “mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kej 2:15).
Dua kata Ibrani yang perlu
digarisbawahi adalah leavdah dari
kata dasar avad (bekerja) dan leshamrah dari kata dasar shamar (memelihara, merawat, menjaga). King James Version (KJV) menerjemahkan dengan, "to dress it
and to keep it" (menghiasi dan memelihara taman itu). Sementara Young's Literal Translation (YLT)
menerjemahkan, "to serve it and to keep it" (melayani dan menjaga
taman itu).
Dari analisis teks ini kita dapat
menyimpulkan bahwa sejak awal penciptaan Tuhan memerintahkan manusia berkuasa
atas alam bukan untuk melakukan eksploitasi belaka sehingga menghabiskan untuk
kepentingan nafsu ketamakan. Sebaliknya, kita diberi kuasa untuk menaklukan dan
sekaligus memelihara atau menjaga kelestarian alam agar tetap dapat memberikan
kehidupan kepada manusia.
Perayaan Rosh ha Shanah tahun 5787 atau 2026 mengingatkan kita bukan sekedar
menaikan doa syukur dan permohonan dan permohonan untuk tahun baru yang baik. Bukan
sekedar meluapkan emosi keagamaan dalam nyanyian dan tarian. Sebaliknya, Perayaan
Rosh ha Shanah kali ini memanggil
kita untuk melakukan pertobatan dari kejahatan lingkungan sehingga merusak
ekosistem melalui ekspansi bisnis kita atau kebijakkan pemerintahan dan
berkomitmen untuk melakukan kesalehan sosial dengan melakukan pemulihan
tanggung jawab untuk memelihara ciptaan dan mendukung ekosistem yang lebih
baik.
Rohaniawan Kristen, jangan hanya
mengajak umat melihat ke langit dan terus menerus menaikkan doa-doa puitis tapi
egois yang memuaskan hasrat hedonis. Umat, jangan hanya meluapkan emosi
keagamaan dalam tangis saat beribadah sehingga terlihat dramatis. Sebaliknya,
marilah kita semua baik rohaniawan, pengkotbah serta umat bersama-sama
berkomitmen dan mulai peduli terhadap lingkungan hidup dan menjadikan ayat-ayat
Tuhan sebagai motivasi dasar melakukan tiqun
olam (memperbaiki dunia) baik seara spiritual maupun material

No comments:
Post a Comment