Friday, September 11, 2026

ROSH HA SHANAH DAN PANGGILAN MERAWAT KEHIDUPAN DAN KESEHATAN BUMI SERTA LINGKUNGAN

Sumber foto: fity.club

Disitir dari sebuah artikel berjudul, Laporan Perubahan Iklim Ungkap Kondisi Bumi Makin Mengkhawatirkan dari laman https://castfoundation.id/ diperoleh keterangan sbb, “Tim ilmuwan internasional merilis laporan terbaru mereka mengenai pemanasan global. Hasil dari laporan ini mengungkap kondisi bumi yang makin mengkhawatirkan. Bahkan, ilmuwan menyebutnya sebagai kode merah bagi umat manusia.   

Berdasarkan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), bumi saat ini mengalami suhu terpanas dalam sejarah dan gelombang panas yang lebih intens. Laporan itu disusun oleh 234 ilmuwan dari seluruh dunia setelah menganalisa lebih dari 14.000 studi iklim untuk memberikan gambaran yang paling jelas tentang kondisi planet saat ini.  

Emisi gas yang membuat suhu bumi menghangat saat ini kemungkinan akan melampaui batasan yang telah ditetapkan hanya dalam waktu 10 tahun. Para penulis laporan ini juga menunjukkan bahwa kenaikan permukaan laut mendekati dua meter di akhir abad ini, tidak dapat terhindarkan.

Proyeksi masa depan pemanasan global sangat jelas dalam laporan ini, dan banyak dampak yang tidak mungkin terhindarkan, seperti dituliskan oleh para peneliti berikut ini:  (1) Pada 2040, suhu global akan naik atau lebih panas 1,5 derajat Celcius di atas level suhu pada 1850-1900 dalam semua skenario emisi yang diperkirakan oleh para ilmuwan (2) Dalam semua skenario, Kutub Utara kemungkinan akan kehabisan es pada bulan September, setidaknya satu kali sebelum 2050 (3) Akan ada peningkatan kejadian ekstrem berkaitan dengan iklim dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan dengan kenaikan suhu sebesar 1,5 derajat Celcius (4) Peristiwa kenaikan permukaan laut ekstrem yang terjadi sekali dalam seabad di masa lalu diproyeksikan terjadi setidaknya setiap tahun, di lebih dari setengah lokasi pengukuran ombak pada tahun 2100 (5) Kemungkinan besar akan ada peningkatan peristiwa kebakaran di banyak wilayah.

Fakta dan data di atas mengingatkan saya pada Fred Magdof dan John Bellamy Foster dalam bukunya yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul, Lingkungan Hidup dan Kapitalisme: Sebuah Pengantar mengatakan, “Yang membuat era modern lebih menonjol dalam hal ini adalah bahwa kini penghuni bumi lebih banyak; kita memiliki teknologi sanggup menciptakan kerusakkan lebih besar dan lebih cepat; dan kita memiliki sistem ekonomi yang tak kenal batas. Kerusakkan yang ditimbulkan hari ini begitu luas sehingga bukan Cuma menyebabkan kemerosotan ekologi di tingkat lokal dan regional seperti pada peradaban-peradaban sebelumnya, tapi juga memengaruhi lingkungan pada skala planet, mengancam keberadaan sebagian besar spesies di dunia ini, termasuk spesies kita sendiri...” (2018:6).

Tanggal 11 September 2026 bertepatan dengan kalender Tahun Baru Ibrani yang disebut Rosh ha Shanah atau Yom Truah (Peniupan Shofar) yaitu 1 Tishri 5787. Rosh ha Shanah bukan sekedar tahun baru namun juga dihayati sebagai penyucian diri dan persiapan pengampunan dosa menjelang perayaan Yom Kippur (Hari Pendamaian). Rosh ha Shanah dipandang sebagai waktu untuk membuang dosa dan meminta pengampunan, yang disebut tashlich. Idenya diambil dari Mikha 7:19: “Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut”. Secara tradisional ditandai dengan mengosongkan isi kantong ke dalam air namun sekarang lebih umum untuk melemparkan remah roti atau melempar batu ke dalam sungai.

Yang menarik, secara tradisional dalam Yudaisme bahwa Rosh ha Shanah adalah hari penciptaan dunia dan manusi. Dalam Mishna Sanhedrin 38b, sebuah literatur Yudaisme yang berisikan tafsir dan aturan hukum menjelaskan asal-usul keyakinan bahwa bulan Tishri adalah hari lahir dunia karena kata Ibrani bereshit (pada mulanya) dalam Kitab Kejadian 1:1 jika dibalik akan berbunyi aleph be Tishri (pada 1 Tishri).

Sebagai orang Kristiani, kitapun melihat bayang-bayang karya Kristus (Mesias) perihal kedatangan-Nya yang kedua kali dengan ditandai peniupan shofar (1 Tes 4:16), oleh karenanya kitapun dapat merayakan dan menghayati Rosh ha Shanah sebagai perayaan perihal peristiwa yang akan datang di masa depan.

Kembali pada penjelasan di awal mengenai kondisi bumi yang semakin tidak baik-baik saja, apa kaitan perayaan Rosh ha Shanah dengan penjelasan di awal? Baiklah, sebagaimana telah dikatakan bahwa Rosh ha Shanah bukan sekedar perayaan keagamaan Yahudi dan Yudaisme serta beberapa orang Kristen yang melihat korelasi perayaan ini dengan karya Kristus. Rosh ha Shanah adalah perayaan hari lahirnya bumi dan manusia serta isinya.

Betapa saat ini kita semakin menjauhi Taman Eden. Usia manusia pertama hingga hari ini semakin mengalami kesenjangan dan penurunan batas usia. Alam yang menjadi tempat manusia hidup dan mendapatkan makanan darinya mulai mengalami kerusakkan demi kerusakkan yang mengkhawatirkan, sebagaimana telah dipaparkan di awal.

Dibalik bencana alam yang menghabisi manusia, desa, kota, lingkungan, ada tata kelola yang keliru dan mengabaikan prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan yang benar.

Tuhan YHWH memerintahkan kepada manusia untuk “menaklukkan” (kabash, Kej 1:28) bumi bukan bermakna melakukan eksploitasi masif yang merusak lingkungan melainkan dalam kerangka pemenuhan kebutuhan manusia bukan pemenuhan hasrat penumpukkan keuntungan belaka karena kata “taklukanlah” (kivshuha) berkaitan dengan kata imperatif sebelumnya yaitu “beranakcuculah” (pru) dan "bertambah banyaklah" (revu) serta “penuhilah bumi” (milu et haarets) dan kalimat imperatif sesudahnya yaitu “berkuasalah” (redu).

Setelah kejatuhan manusia dalam dosa (Kej 3) maka hubungan manusia dengan alam dan hewan bahkan dengan sesamanya semakin eksploitatif. Manusia yang diciptakan Tuhan bertugas menaklukan alam yang keras agar mendatangkan manfaat bagi kehidupan manusia dan bukan melakukan eksploitasi masif yang berdampak pada kerusakan ekosistem masa depan.

Prinsip penataan bumi ini seharusnya menjadi prinsip pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan dan bukan sebaliknya. Orang Kristen memiliki tanggung jawab menjaga kelestarian ekologis dalam menata bumi karena saat Tuhan YHWH menciptakan manusia dan tinggal di Taman Eden, mereka diperintahkan, “mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kej 2:15).

Dua kata Ibrani yang perlu digarisbawahi adalah leavdah dari kata dasar avad (bekerja) dan leshamrah dari kata dasar shamar (memelihara, merawat, menjaga). King James Version  (KJV) menerjemahkan dengan, "to dress it and to keep it" (menghiasi dan memelihara taman itu). Sementara Young's Literal Translation (YLT) menerjemahkan, "to serve it and to keep it" (melayani dan menjaga taman itu).

Dari analisis teks ini kita dapat menyimpulkan bahwa sejak awal penciptaan Tuhan memerintahkan manusia berkuasa atas alam bukan untuk melakukan eksploitasi belaka sehingga menghabiskan untuk kepentingan nafsu ketamakan. Sebaliknya, kita diberi kuasa untuk menaklukan dan sekaligus memelihara atau menjaga kelestarian alam agar tetap dapat memberikan kehidupan kepada manusia.

Perayaan Rosh ha Shanah tahun 5787 atau 2026 mengingatkan kita bukan sekedar menaikan doa syukur dan permohonan dan permohonan untuk tahun baru yang baik. Bukan sekedar meluapkan emosi keagamaan dalam nyanyian dan tarian. Sebaliknya, Perayaan Rosh ha Shanah kali ini memanggil kita untuk melakukan pertobatan dari kejahatan lingkungan sehingga merusak ekosistem melalui ekspansi bisnis kita atau kebijakkan pemerintahan dan berkomitmen untuk melakukan kesalehan sosial dengan melakukan pemulihan tanggung jawab untuk memelihara ciptaan dan mendukung ekosistem yang lebih baik.

Rohaniawan Kristen, jangan hanya mengajak umat melihat ke langit dan terus menerus menaikkan doa-doa puitis tapi egois yang memuaskan hasrat hedonis. Umat, jangan hanya meluapkan emosi keagamaan dalam tangis saat beribadah sehingga terlihat dramatis. Sebaliknya, marilah kita semua baik rohaniawan, pengkotbah serta umat bersama-sama berkomitmen dan mulai peduli terhadap lingkungan hidup dan menjadikan ayat-ayat Tuhan sebagai motivasi dasar melakukan tiqun olam (memperbaiki dunia) baik seara spiritual maupun material

No comments:

Post a Comment