Apa yang kita alami dan
rasakan saat kehidupan kita dihujani sejumlah persoalan yang tidak berhenti dan
bertubi-tubi mendatangi silih berganti? Tentu sebuah kesedihan dan kekecewaan
bukan? Sebagaimana sebuah pepatah, “sudah jatu tertimpa tangga pula” untuk
menggambarkan keadaan yang menyakitkan yang melipatgandakan kesedihan dan
kekecewaan.
Gambaran itupun dapat kita
lihatt dalam Kitab Ratapan 3:1-20. Membaca ayat demi ayat, kita akan merasakan
sebuah perasaan dan pikiran yang dipenuhi dengan ungkapan kekecewaan,
kesedihan, rasa sakit, keluh kesah, kepedihan sebagaimana tergambar dalam
kalimat, “Ia menyusutkan dagingku dan kulitku, tulang-tulangku
dipatahkan-Nya. Ia mendirikan tembok sekelilingku, mengelilingi aku dengan
kesedihan dan kesusahan. Ia menempatkan aku di dalam gelap seperti orang yang
sudah lama mati. Ia menutup segala jalan ke luar bagiku, Ia mengikat aku dengan
rantai yang berat” (Rat 3:4-7). Demikian pula pada ayat
selanjutnya kita mendapatkan gambaran keluhan yang sama, “Ia
mengenyangkan aku dengan kepahitan, memberi aku minum ipuh. Ia meremukkan
gigi-gigiku dengan memberi aku makan kerikil; Ia menekan aku ke dalam debu” (Rat
3:15-16).
Namun keluhan dan ratapan
ini berhenti hanya sampai ayat 20 karena pada ayat berikutnya menjadi sebuah
titik balik yang mengubah keadaan sebagaimana dikatakan, zot ashiv el
libi ‘al ken okhil yang artinya “Tetapi hal-hal inilah yang
kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap”. Sementara Young’s
Literal Translation menerjemahkan, “This I turn to my heart --
therefore I hope” (Oleh karenanya aku berpaling ke dalam hatiku, maka
aku berharap).
Penulis Kitab Ratapan tidak
terus menerus berkeluh kesah dan membiarkan kesedihan menguasai dirinya
melainkan mengambil keputusan untuk berpaling kepada hal yang mendatangkan
pengharapan. Apakah itu? Ratapan 3:22-24 berkata:
Khasdey YHWH ki lo tamnu,
ki lo kalu rakhameka
(Tak berkesudahan kasih
setia YHWH, tak habis-habisnya rahmat-Nya)
Khadashim labeqarim rabah
emunateka
(Selalu
baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu)
Khelqiy YHWH amrah nafshi
al ken okhil lo
(YHWH adalah bagianku, kata
jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya)
Penulis Kitab Ratapan
memutuskan untuk memperhatikan hal-hal yang menimbulkan harapan (okhil) yaitu,
Kasih setia YHWH (khasdey YHWH) yang tidak berkesudahan dan rahmat YHWH
(rakhamey YHWH) yang tidak habis-habisnya. Bahkan selalu baru setiap pagi
(khadashim labeqarim).
Jika kita hanya memfokuskan
kepada persoalan yang saat ini bertubi-tubi menghabisi keyakinan kita kepada
kuasa Tuhan. Jika kita hanya berkeluh kesah dengan semua tekanan yang saat ini
bertubi-tubi melumpuhkan semangat untuk menemukan jalan keluar. Jika kita saat
ini hanya berfokus pada kesulitan ekonomi yang tiba-tiba membuat kita pailit.
Jika kita hanya meratapi rasa sakit yang kita derita hingga menurunkan gairah
hidup kita. Jika kita hanya berhenti pada keluh kesah meratapi semua keadaan
negatif tersebut maka habislah hidup kita.
Jika kita ingin mengubah
keadaan, maka dibutuhkan sebuah kekuatan ekstra. Apakah itu? Pengharapan kepada
Tuhan yang hidup dan benar! Mengapa pengharapan? Karena saat kita masih
memiliki pengharapan maka kita dapat berfikir jernih dan menemukan jalan
keluar.
Bagaimana agar kita tetap
dapat berpengharapan kepada Tuhan yang hidup dan benar? Sebagaimana yang
dilakukan penulis Kitab Ratapan yaitu memperhatikan ke dalam hatinya untuk
menemukan kebenaran bahwa kasih setia dan rahmat YHWH itu tidak berkesudahan,
tidak habis bahkan selalu baru setiap pagi. Bahkan di saat kita mengalami semua
keadaan negatif dan buruk sekalipun.
Itulah sebabnya saat kita
berpaling kepada Tuhan dan berfokus pada kasih setia-Nya, rahmat-Nya,
kebaikan-Nya, anugrah-Nya, kekuatan-Nya maka akan timbul pengharapan dan
stamina spiritual yang membuat kita tetap tegar berdiri di saat badai
mengantam.
Dengan perspektif Ilahi
tersebut, di mana kita menaruh pengharapan pada Tuhan maka kita akan dapat
melihat bahwa semua yang terjadi dalam kehidupan kita bukan tanpa sebuah
tujuan.
Dengan perspektif Ilahi
tersebut kita dapat mengerti bahwa, “YHWH adalah baik bagi orang yang
berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. Adalah baik menanti dengan
diam pertolongan YHWH” (Rat 3:25-26).
Dengan perspektif Ilahi
tersebut kita dapat mengerti bahwa, “Adalah baik bagi seorang pria
memikul kuk pada masa mudanya. Biarlah ia duduk sendirian dan berdiam
diri kalau YHWH membebankannya. Biarlah ia merebahkan diri dengan
mukanya dalam debu, mungkin ada harapan. Biarlah ia memberikan pipi
kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan” (Rat
3:27-30)
Dengan perspektif Ilahi
tersebut kita dapat mengerti bahwa, “Karena tidak untuk selama-lamanya
Tuhan mengucilkan. Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga
menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya” (Rat 3:31-32)
Jika saat ini Anda
dikelilingi oleh berbagai persoalan yang menekan dan menghimpit keyakinan kita
pada Tuhan, maka jangan hanya berfokus pada persoalan dan mengulang-ulang
berkeluh kesah. Sebaliknya, kita berpaling pada sumber kekuatan abadi yang
tidak pernah habis yaitu kasih setia dan rahmat Tuhan YHWH Sang Bapa Surgawi di
dalam Yesus Sang Putra.
Saat kita berpaling
pada-Nya maka kita akan mendapatkan sebuah pengharapan dan pengharapan itu akan
menjadi sebuah stamina spiritual yang memampukan kita melewati setiap persoalan
yang kita hadapi.
Kemampuan kita
menyelesaikan setiap persoalan semakin menyempurnakan kedewasaan dan keutuhan
diri kita sebagai manusia ciptaan Tuhan. Kita masih harus menyelesaikan
eksistensi diri kita dengan mengambil pilihan dan melakukan apa yang benar
dalam situasi kehidupan yang diperhadapkan pada diri kita

No comments:
Post a Comment