Beberapa
hari lalu kita dikejutkan dengan berita penembakkan di Pantai Bondi, Sydney
oleh ayah dan anak. Kepolisian New South
Wales (NSW) melaporkan korban tewas dalam serangan brutal tersebut
bertambah menjadi 16 orang, sementara 40 orang lainnya masih menjalani
perawatan di rumah sakit.
Komisaris
Kepolisian NSW, Mel Lanyon mengonfirmasi identitas para terduga pelaku
penembakan adalah ayah dan anak. Perdana Menteri Negara Bagian NSW Chris Minns
menyatakan insiden ini dirancang secara spesifik untuk menargetkan komunitas
Yahudi. Pernyataan ini sejalan dengan laporan penyiar publik Israel, yang
menyebut penembakan terjadi saat komunitas Yahudi setempat sedang mengadakan
upacara penyalaan lilin Hanukkah di Pantai Bondi.
Dikutip
dari laman investor.id, “Insiden penembakan massal di Pantai Bondi menandai
lonjakan kekerasan ekstrem yang mengejutkan di Australia, negara yang relatif
aman dari serangan teror skala besar. Penetapan insiden ini sebagai aksi
terorisme, ditambah dengan fakta serangan tersebut menargetkan komunitas
tertentu (Yahudi) pada momen perayaan keagamaan, menggarisbawahi peningkatan
ancaman terhadap keragaman dan perdamaian di dalam negeri” (16 Tewas Penembakan Massal di Pantai Bondi
Sydney, Ayah-Anak Pelakunya - https://investor.id/).
Selalu
timbul pertanyaan epistemologis, benarkah agama berwajah ganda? Mengapa agama
terkesan memiliki wajah ganda? Ataukah wajah ganda agama lebih disebabkan oleh
penafsir dan perilaku umat penganut agama itu sendiri? Charles Kimball, seorang
Guru Besar Studi Agama di Universitas Wake Forest, AS menuliskan dalam bukunya,
Kala
Agama Jadi Bencana perihal faktor-faktor yang dapat menyeret dan
membawa agama sebagai sumber masalah. Sebelum membeberkan beberapa faktor
tersebut, Kimball memberikan penjelasan bahwa pemahaman seseorang terhadap
agama sangat mempengaruhi tindakan yang mereka kerjakan sebagaimana dikatakan,
“Struktur dan doktrin keagamaan dapat digunakan nyaris seperti senjata. Kita
akan melihat contoh-contoh orang yang diperbudak oleh gagasan atau begitu jauh
berbuat untuk melindungi institusi agama dari ancaman yang mereka duga. Jika institusi
dan ajaran agama tidak luwes dan tidak memiliki sistem check and balance, hal
itu sungguh mempunyai kesempatan untuk tumbuh menjadi bagin terbesar dari
masalah…Apakah agama seperti senjata? Di tangan Osama bin Laden, kita dapat
mengatakan ya; di tangan Mahatma Gandhi, analogi ini menjadi sesuatu yang
menjijikkan…Apakah agama itu suatu masalah? Ya dan Tidak. Jawaban atas
pertanyaan itu terletak pada bagaimana orang memahami hakikat agama. Pada inti
orientasi dan pencarian agama, manusia menemukan makna dan harapan. Dalam asal muasal dan ajaran inti mereka,
agama-agama bisa jadi mulia, namun cara agama itu berkembang bisa saja jauh
dari ideal” (Mizan 2003:73).
Dalam
bukunya, secara panjang lebar Kimball mengulas bahwa agama akan menjadi
kekuatan destruktif dan menimbulkan sejumlah masalah manakala kalangan penganut
agama melakukan lima hal yaitu: Pertama,
bila suatu agama mengklaim kebenaran agamannya sebagai kebenaran yang mutlak
dan satu-satunya. Kedua, kepatuhan
atau ketaatan buta kepada pemimpin agama. Ketiga,
kegandrungan akan zaman ideal baik di masa silam maupun di masa yang akan
datang dan direalisasikan dalam bentuk gerakan keagamaan. Kempat, tujuan yang membenarkan segala cara untuk meraihnya. Kelima, bilang perang suci dijadikan
norma dan etika sehingga meniadakan komunitas beragama laiannya. Melihat
penjelasan Kimball, maka faktor agensi atau aktor pelaku agama dan interpretasi
seseorang terhadap agama yang bisa menjadikan agama memiliki wajah lain di
samping kesalehan yaitu kekerasan dan konflik.
Saat
midrash ini disampaikan, satu hari lalu saya diminta untuk menjadi salah satu
narasumber di salah satu sekolah menengah atas di kota saya. Kegiatannya
bernama Talkshow Dialog Lintas Agama dengan tema, “Toleransi Dalam Keberagaman”.
Ada pembicara dari Budha, Islam, Kristen, Katolik. Selain mengutip kembali
tulisan Charles Kimbal di atas, saya pun mengekspolorasi teks-teks Kitab
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang berkontribusi bagi tumbuh kembangnya
toleransi, kemanusiaan, keadilan sosial.
Salah
satu teks yang saya kutip adalah mengenai perumpamaan Yesus mengenai orang
Samaria yang baik hati.Ketika ada seorang yang tiba di Yerikho dan dibegal
serta dianiaya, beberapa orang yang melewatinya yaitu orang Lewi dan seorang
imam melewatinya tanpa menolong apapun. Namun saat seorang Samaria datang malah
justru memberikan pertolongan bahkan mengantarkan ke sebuah penginapan dan
memberikan sejumlah dinar untuk perawatan orang yang teraniaya tersebut. Dari
perumpamaan tersebut Yesus mengajukan pertanyaan balik kepada mereka yang
bertanya, “Siapakah sesamamu manusia dari ketiga orang tersebut?" dan
orang yang bertanya saat ini harus menjawab, "Orang yang telah menunjukkan
belas kasihan kepadanya" Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan
perbuatlah demikian!"(Luk 10:37).
Apa
nilai moral perumpamaan tersebut? Yesus mengajarkan secara tidak langsung bahwa
yang disebut sesama kita bukanlah orang yang sesama etnis dan keyakinannya
serta status sosialnya.Yesus justru memakai tokoh orang Samaria yang sering
disebut orang bodoh dari Sikhem dalam literatur rabinik dan orang-orang Yahudi
tidak mau bergaul dengan mereka, sebagai figur sentral dalam perumpamaannya.
Yang disebut sesama bukan orang yang sama-sama etnisnya Yahudi tapi siapapun
yang mengerjakan kebaikan terhadap orang lain, dialah sesama kita.
Melalui
perumpamaan ini juga kita bisa belajar bahwa perbedaan dan keragaman agama,
keyakinan, etnis, golongan, kebangsaan bukan menjadi titik berangkat pergaulan
dan menjadi tembok pemisah satu sama lain. Jika semua perbedaan tersebut
diibaratkan pakaian yang kita pergunakan sehari-hari, ketika kita lepaskan
toch kita memiliki kesamaan satu sama lain yaitu kemanusiaan, humanity.
Jika
perbedaan menjadi titik berangkat pergaulan maka kita akan melihat orang lain
sebagai ancaman dan sasaran kebencian (sebagaimana kasus-kasus radikalisme,
persekusi, terorisme termasuk peristiwa penembakkan di pantai Bondy terhadap
etnis Yahudi). Sebaliknya jika titik berangkat penerimaan kita terhadap orang
lain yang berbeda (agama, etnis, ideologi dsj) adalah kesamaan dalam
kemanusiaan yang diciptakan Tuhan, maka kita bisa menerima orang lain dan
keragaman akan menjadi kekayaan dan memperkaya pemahaman diri kita terhadap
diri sendiri.
Sebagai
orang Kristen, kita telah diajarkan bukan hanya untuk mengasihi Tuhan namun
mengasihi sesama manusia dan sesama manusia adalah semua orang yang mengerjakan
kebaikkan bagi orang lain. Jika cinta kasih menjadi landasan dalam pergaulan
maka perbedaan dan keragaman agama dan etnis bukan menjadi penghalang namun
memperkaya kehidupan dan keyakinan yang kita jalani.
Di hari perayaan Khanukah (14-22 Khanukah) dan menjelang Natal 2025 serta Tahun Baru dimana elemen cahaya, terang (lilin) menjadi tema utama yang mendominasi, kiranya terang Tuhan menerangi hati, pikiran, hidup kita agar menjadi orang mencintai kehidupan, mencintai sesama dan setiap orang menerima cahaya hidayah, anugrah Tuhan mendapatkan kedamaian dan kesukacitaan.

No comments:
Post a Comment