Thursday, December 18, 2025

MENGASIHI SESAMA DAN MENJADI SESAMA BAGI ORANG LAIN

Sumber foto: artpictures.club

Beberapa hari lalu kita dikejutkan dengan berita penembakkan di Pantai Bondi, Sydney oleh ayah dan anak. Kepolisian New South Wales (NSW) melaporkan korban tewas dalam serangan brutal tersebut bertambah menjadi 16 orang, sementara 40 orang lainnya masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Komisaris Kepolisian NSW, Mel Lanyon mengonfirmasi identitas para terduga pelaku penembakan adalah ayah dan anak. Perdana Menteri Negara Bagian NSW Chris Minns menyatakan insiden ini dirancang secara spesifik untuk menargetkan komunitas Yahudi. Pernyataan ini sejalan dengan laporan penyiar publik Israel, yang menyebut penembakan terjadi saat komunitas Yahudi setempat sedang mengadakan upacara penyalaan lilin Hanukkah di Pantai Bondi.

Dikutip dari laman investor.id, “Insiden penembakan massal di Pantai Bondi menandai lonjakan kekerasan ekstrem yang mengejutkan di Australia, negara yang relatif aman dari serangan teror skala besar. Penetapan insiden ini sebagai aksi terorisme, ditambah dengan fakta serangan tersebut menargetkan komunitas tertentu (Yahudi) pada momen perayaan keagamaan, menggarisbawahi peningkatan ancaman terhadap keragaman dan perdamaian di dalam negeri” (16 Tewas Penembakan Massal di Pantai Bondi Sydney, Ayah-Anak Pelakunya - https://investor.id/).

Selalu timbul pertanyaan epistemologis, benarkah agama berwajah ganda? Mengapa agama terkesan memiliki wajah ganda? Ataukah wajah ganda agama lebih disebabkan oleh penafsir dan perilaku umat penganut agama itu sendiri? Charles Kimball, seorang Guru Besar Studi Agama di Universitas Wake Forest, AS menuliskan dalam bukunya, Kala Agama Jadi Bencana perihal faktor-faktor yang dapat menyeret dan membawa agama sebagai sumber masalah. Sebelum membeberkan beberapa faktor tersebut, Kimball memberikan penjelasan bahwa pemahaman seseorang terhadap agama sangat mempengaruhi tindakan yang mereka kerjakan sebagaimana dikatakan, “Struktur dan doktrin keagamaan dapat digunakan nyaris seperti senjata. Kita akan melihat contoh-contoh orang yang diperbudak oleh gagasan atau begitu jauh berbuat untuk melindungi institusi agama dari ancaman yang mereka duga. Jika institusi dan ajaran agama tidak luwes dan tidak memiliki sistem check and balance, hal itu sungguh mempunyai kesempatan untuk tumbuh menjadi bagin terbesar dari masalah…Apakah agama seperti senjata? Di tangan Osama bin Laden, kita dapat mengatakan ya; di tangan Mahatma Gandhi, analogi ini menjadi sesuatu yang menjijikkan…Apakah agama itu suatu masalah? Ya dan Tidak. Jawaban atas pertanyaan itu terletak pada bagaimana orang memahami hakikat agama. Pada inti orientasi dan pencarian agama, manusia menemukan makna dan harapan. Dalam asal muasal dan ajaran inti mereka, agama-agama bisa jadi mulia, namun cara agama itu berkembang bisa saja jauh dari ideal” (Mizan 2003:73).

Dalam bukunya, secara panjang lebar Kimball mengulas bahwa agama akan menjadi kekuatan destruktif dan menimbulkan sejumlah masalah manakala kalangan penganut agama melakukan lima hal yaitu: Pertama, bila suatu agama mengklaim kebenaran agamannya sebagai kebenaran yang mutlak dan satu-satunya. Kedua, kepatuhan atau ketaatan buta kepada pemimpin agama. Ketiga, kegandrungan akan zaman ideal baik di masa silam maupun di masa yang akan datang dan direalisasikan dalam bentuk gerakan keagamaan. Kempat, tujuan yang membenarkan segala cara untuk meraihnya. Kelima, bilang perang suci dijadikan norma dan etika sehingga meniadakan komunitas beragama laiannya. Melihat penjelasan Kimball, maka faktor agensi atau aktor pelaku agama dan interpretasi seseorang terhadap agama yang bisa menjadikan agama memiliki wajah lain di samping kesalehan yaitu kekerasan dan konflik.

Saat midrash ini disampaikan, satu hari lalu saya diminta untuk menjadi salah satu narasumber di salah satu sekolah menengah atas di kota saya. Kegiatannya bernama Talkshow Dialog Lintas Agama dengan tema, “Toleransi Dalam Keberagaman”. Ada pembicara dari Budha, Islam, Kristen, Katolik. Selain mengutip kembali tulisan Charles Kimbal di atas, saya pun mengekspolorasi teks-teks Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang berkontribusi bagi tumbuh kembangnya toleransi, kemanusiaan, keadilan sosial.

Salah satu teks yang saya kutip adalah mengenai perumpamaan Yesus mengenai orang Samaria yang baik hati.Ketika ada seorang yang tiba di Yerikho dan dibegal serta dianiaya, beberapa orang yang melewatinya yaitu orang Lewi dan seorang imam melewatinya tanpa menolong apapun. Namun saat seorang Samaria datang malah justru memberikan pertolongan bahkan mengantarkan ke sebuah penginapan dan memberikan sejumlah dinar untuk perawatan orang yang teraniaya tersebut. Dari perumpamaan tersebut Yesus mengajukan pertanyaan balik kepada mereka yang bertanya, “Siapakah sesamamu manusia dari ketiga orang tersebut?" dan orang yang bertanya saat ini harus menjawab, "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya" Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"(Luk 10:37).

Apa nilai moral perumpamaan tersebut? Yesus mengajarkan secara tidak langsung bahwa yang disebut sesama kita bukanlah orang yang sesama etnis dan keyakinannya serta status sosialnya.Yesus justru memakai tokoh orang Samaria yang sering disebut orang bodoh dari Sikhem dalam literatur rabinik dan orang-orang Yahudi tidak mau bergaul dengan mereka, sebagai figur sentral dalam perumpamaannya. Yang disebut sesama bukan orang yang sama-sama etnisnya Yahudi tapi siapapun yang mengerjakan kebaikan terhadap orang lain, dialah sesama kita.

Melalui perumpamaan ini juga kita bisa belajar bahwa perbedaan dan keragaman agama, keyakinan, etnis, golongan, kebangsaan bukan menjadi titik berangkat pergaulan dan menjadi tembok pemisah satu sama lain. Jika semua perbedaan tersebut diibaratkan pakaian yang kita pergunakan sehari-hari, ketika kita lepaskan toch kita memiliki kesamaan satu sama lain yaitu kemanusiaan, humanity.

Jika perbedaan menjadi titik berangkat pergaulan maka kita akan melihat orang lain sebagai ancaman dan sasaran kebencian (sebagaimana kasus-kasus radikalisme, persekusi, terorisme termasuk peristiwa penembakkan di pantai Bondy terhadap etnis Yahudi). Sebaliknya jika titik berangkat penerimaan kita terhadap orang lain yang berbeda (agama, etnis, ideologi dsj) adalah kesamaan dalam kemanusiaan yang diciptakan Tuhan, maka kita bisa menerima orang lain dan keragaman akan menjadi kekayaan dan memperkaya pemahaman diri kita terhadap diri sendiri.

Sebagai orang Kristen, kita telah diajarkan bukan hanya untuk mengasihi Tuhan namun mengasihi sesama manusia dan sesama manusia adalah semua orang yang mengerjakan kebaikkan bagi orang lain. Jika cinta kasih menjadi landasan dalam pergaulan maka perbedaan dan keragaman agama dan etnis bukan menjadi penghalang namun memperkaya kehidupan dan keyakinan yang kita jalani.

Di hari perayaan Khanukah (14-22 Khanukah) dan menjelang Natal 2025 serta Tahun Baru dimana elemen cahaya, terang (lilin) menjadi tema utama yang mendominasi, kiranya terang Tuhan menerangi hati, pikiran, hidup kita agar menjadi orang mencintai kehidupan, mencintai sesama dan  setiap orang menerima cahaya hidayah, anugrah Tuhan mendapatkan kedamaian dan kesukacitaan.

No comments:

Post a Comment