Saturday, February 14, 2026

MOTIVASI MENGIKUT YESUS

Sumber gambar:shutterstock.com

Yohanes 6:22 menuliskan, “Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus”. Jika kita tidak membaca ayat ini sampai ke ayat berikutnya, seolah tindakkan mencari Yesus adalah sikap yang terpuji dan diperkenan Yesus. Namun jika kita membaca ayat berikutnya, kita akan melihat bagaimana sikap Yesus menilai tindakan orang banyak tersebut.

Sebelum kita membaca dan menjelaskan hal itu, marilah kita mundur ke belakang untuk mengetahui keseluruhan latar belakang peristiwa ini. Ada dua peristiwa penting yang terjadi dan dialami para murid Yesus yaitu mukjizat yang dilakukan Yesus berupa memberi makan lima ribu orang  dan peristiwa Yesus berjalan di atas air saat para murid berada di danua hendak menyebrang ke Kapernaum.

Peristiwa Yesus memberikan makan lima ribu orang hanya dengan lima roti dua ikan tentu membuat peristiwa ajaib tersebut menyebarluas kemana-mana. Jika satu dua orang bisa menghembuskan berita hingga jauh melintasi desa apalagi dengan lima ribu orang bukan? Pada masa itu belum ada smartphone namun peristiwa mukjizat lima roti dua ikan tentu menjadi topik hangat dan berita viral pada zamannya.

Bayangkan jika satu orang bisa mengerjakan perbuatan ajaib sedemikian dan diterapkan pada kekuasaan? Itulah sebabnya orang-orang yang menyaksikan mukjizat lima roti dua ikan menginginkan Yesus menjadi raja. Sesuatu yang nampak alamiah di tengah situasi zaman yang dikuasai oleh kekuatan asing, dalam hal ini Romawi. Namun Yesus segera menyingkir dan menyendiri serta menjauhi orang-orang banyak.

Apakah  orang-orang banyak (oxchlos) yang mencari Yesus dalam Yohanes 6:22 adalah orang banyak yang sama yang menghendaki diri-Nya menjadi raja? Tentu saja. Mereka inilah yang disebutkan dalam Yohanes 6:1, “Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit” Lho? Apa yang salah jika orang-orang banyak ini mengikuti Yesus karena berbagai perbuatan ajaib yang diperbuatnya? Bukankah itu sesuatu yang wajar dan konsekwensi logis ketika Yesus melakukan perbuatan yang menarik perhatian publik?

Sesungguhnya, Yesus menghendaki bahwa orang-orang banyak ini mencari yang utama dari sekedar makanan dan kesembuhan, sesuatu yang lebih pada urusan jasmani alias tubuh. Itulah sebabnya Yesus kemudian mencela tindakkan orang banyak yang mencarinya dengan berkata, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku,  bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.  Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan  sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Tuhan, dengan meterai-Nya” (Yoh 6:26).

Pernyataan Yesus ini mengingatkan kembali perihal motivasi mengikut Yesus. Kita semua tidak menyangkal bahwa sandang, pangan, papan adalah hal-hal yang harus kita kejar agar kita dapat mengalami kenyamanan dan keamanan dalam hidup. Namun bukan berarti motivasi kita mengiring Yesus adalah kita mengalami perlakuan khusus dan selalu mendapatkan mukjizat yang memuaskan hasrat jasmani dan kedagingang kita belaka

Bayangkan kita tidak perlu bekerja karena selalu ada tersedia makanan di meja rumah kita. Bayangkan kita tidak perlu bersusah payah menjaga makanan dan kesehatan karena toch Yesus sanggup dan mampu membuat keajaiban.

Namun Yesus menghendaki kita melampaui semua hal yang bersifat material dan jasmaniah. Yesus menghendaki bahwa setiap orang yang mencarinya agar menikmati “makanan yang bertahan  sampai kepada hidup yang kekal”. Makanan yang dimaksudkan adalah “roti hidup” (artos tes zoes) yaitu Yesus sendiri.

Siapapun yang mencari dan memakan “roti hidup” melalui percaya dan melakukan apa yang disabdakan Yesus, maka mereka akan memperoleh kekekalan. Itulah sebanya Yesus berkata, "Akulah roti hidup, barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya” (Yoh 6:35-36) Apa arti “tidak lapar dan tidak haus lagi?” Kita mengalami kesempurnaan hidup di dalam Yesus dan memperoleh kehidupan kekal saat kita berpulang nanti.

Motivasi mengikut Yesus yang keliru bisa datang dari pengajaran yang keliru. Ketika seorang pengajar atau pengkotbah mengutip sabda Yesus, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10) lantas diberi interpretasi material, maka bisa membuat petobat baru yang mengikut Yesus beranggapan menjadi orang Kristen pasti kaya dan kelimpahan material.Kata “kelimpahan” (perisson) harus dibaca keterkaitannya dengan kata “hidup” (zoen).

Kata Yunani yang dipergunakan untuk “hidup” tidak dipergunakan kata “bios” (kehidupan jasmani di sini) melainkan “zoe” (kehidupan kekal, kehidupan yang berkualitas dan bermakna). Yesus sedang berbicara kualitas hidup yang bermakna saat seseorang memutuskan percaya pada diri-Nya sebagai Mesias dan Anak Tuhan (Mat 16:16-17). Yesus tidak sedang menjanjikan kekayaan material, sekalipun hal-hal ini pasti akan menyertai orang yang beriman namun bukan yang utama dan menjadi ukuran iman.

Kegagalan memahami sabda Yesus dan kekeliruan motivasi mengikut Yesus akan membuat kita mudah tercerabut dari pokok anggur yang benar dan kita akan mudah terjatuh ke dalam penggodaan hingga berujung kekecewaan dan meninggalkan Yesus sebagaimana dituliskan, “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya  mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia” (Yoh 6:66). Atau sebagaimana benih yang jatuh di atas bebatuan, “Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad” (Mat 13:21)

Kembali kepada Yohanes 6:26, marilah kita menjadi orang-orang mengikut Yesus karena kita mendamba kelepasan dan kebebasan dari kuasa dosa yaitu maut. Kita mengikut Yesus karena menghendaki kehidupan yang berkualitas, bermakna, dilimpahi damai dan kebahagiaan meskipun di tengah kesesakkan dunia dan berbagai masalahnya.

Kita mengikut Yesus karena kita mengasihi dan menjawab kasih-Nya yang telah membebaskan kita dari kuasa dosa dan ingin menceritakan kasih dan perbuatan serta ajaran Yesus kepada setiap orang melalui berbagai tindakkan kasih yang kita kerjakan di berbagai situasi kehidupan yang kita jalani sebagaimana disabdakan Yesus, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mat 5:16)

 

No comments:

Post a Comment