Yohanes
6:22 menuliskan, “Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ
dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat
ke Kapernaum untuk mencari Yesus”. Jika kita tidak membaca ayat ini sampai ke
ayat berikutnya, seolah tindakkan mencari Yesus adalah sikap yang terpuji dan
diperkenan Yesus. Namun jika kita membaca ayat berikutnya, kita akan melihat
bagaimana sikap Yesus menilai tindakan orang banyak tersebut.
Sebelum
kita membaca dan menjelaskan hal itu, marilah kita mundur ke belakang untuk
mengetahui keseluruhan latar belakang peristiwa ini. Ada dua peristiwa penting
yang terjadi dan dialami para murid Yesus yaitu mukjizat yang dilakukan Yesus
berupa memberi makan lima ribu orang dan
peristiwa Yesus berjalan di atas air saat para murid berada di danua hendak
menyebrang ke Kapernaum.
Peristiwa
Yesus memberikan makan lima ribu orang hanya dengan lima roti dua ikan tentu
membuat peristiwa ajaib tersebut menyebarluas kemana-mana. Jika satu dua orang
bisa menghembuskan berita hingga jauh melintasi desa apalagi dengan lima ribu
orang bukan? Pada masa itu belum ada smartphone
namun peristiwa mukjizat lima roti dua ikan tentu menjadi topik hangat dan
berita viral pada zamannya.
Bayangkan
jika satu orang bisa mengerjakan perbuatan ajaib sedemikian dan diterapkan pada
kekuasaan? Itulah sebabnya orang-orang yang menyaksikan mukjizat lima roti dua
ikan menginginkan Yesus menjadi raja. Sesuatu yang nampak alamiah di tengah
situasi zaman yang dikuasai oleh kekuatan asing, dalam hal ini Romawi. Namun
Yesus segera menyingkir dan menyendiri serta menjauhi orang-orang banyak.
Apakah orang-orang banyak (oxchlos) yang mencari
Yesus dalam Yohanes 6:22 adalah orang banyak yang sama yang menghendaki
diri-Nya menjadi raja? Tentu saja. Mereka inilah yang disebutkan dalam Yohanes
6:1, “Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat
mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit” Lho?
Apa yang salah jika orang-orang banyak ini mengikuti Yesus karena berbagai
perbuatan ajaib yang diperbuatnya? Bukankah itu sesuatu yang wajar dan
konsekwensi logis ketika Yesus melakukan perbuatan yang menarik perhatian publik?
Sesungguhnya,
Yesus menghendaki bahwa orang-orang banyak ini mencari yang utama dari sekedar
makanan dan kesembuhan, sesuatu yang lebih pada urusan jasmani alias tubuh.
Itulah sebabnya Yesus kemudian mencela tindakkan orang banyak yang mencarinya
dengan berkata, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda,
melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan
dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan
diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Tuhan,
dengan meterai-Nya” (Yoh 6:26).
Pernyataan
Yesus ini mengingatkan kembali perihal motivasi mengikut Yesus. Kita semua
tidak menyangkal bahwa sandang, pangan, papan adalah hal-hal yang harus kita
kejar agar kita dapat mengalami kenyamanan dan keamanan dalam hidup. Namun
bukan berarti motivasi kita mengiring Yesus adalah kita mengalami perlakuan
khusus dan selalu mendapatkan mukjizat yang memuaskan hasrat jasmani dan
kedagingang kita belaka
Bayangkan
kita tidak perlu bekerja karena selalu ada tersedia makanan di meja rumah kita.
Bayangkan kita tidak perlu bersusah payah menjaga makanan dan kesehatan karena
toch Yesus sanggup dan mampu membuat keajaiban.
Namun
Yesus menghendaki kita melampaui semua hal yang bersifat material dan
jasmaniah. Yesus menghendaki bahwa setiap orang yang mencarinya agar menikmati
“makanan yang bertahan sampai kepada
hidup yang kekal”. Makanan yang dimaksudkan adalah “roti hidup” (artos tes
zoes) yaitu Yesus sendiri.
Siapapun
yang mencari dan memakan “roti hidup” melalui percaya dan melakukan apa yang
disabdakan Yesus, maka mereka akan memperoleh kekekalan. Itulah sebanya Yesus
berkata, "Akulah roti hidup, barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan
lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. Tetapi
Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak
percaya” (Yoh 6:35-36) Apa arti “tidak lapar dan tidak haus lagi?” Kita
mengalami kesempurnaan hidup di dalam Yesus dan memperoleh kehidupan kekal saat
kita berpulang nanti.
Motivasi
mengikut Yesus yang keliru bisa datang dari pengajaran yang keliru. Ketika
seorang pengajar atau pengkotbah mengutip sabda Yesus, “Aku datang, supaya
mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10)
lantas diberi interpretasi material, maka bisa membuat petobat baru yang
mengikut Yesus beranggapan menjadi orang Kristen pasti kaya dan kelimpahan
material.Kata “kelimpahan” (perisson) harus dibaca keterkaitannya dengan kata
“hidup” (zoen).
Kata
Yunani yang dipergunakan untuk “hidup” tidak dipergunakan kata “bios”
(kehidupan jasmani di sini) melainkan “zoe” (kehidupan kekal, kehidupan yang
berkualitas dan bermakna). Yesus sedang berbicara kualitas hidup yang bermakna
saat seseorang memutuskan percaya pada diri-Nya sebagai Mesias dan Anak Tuhan (Mat 16:16-17).
Yesus tidak sedang menjanjikan kekayaan material, sekalipun hal-hal ini pasti
akan menyertai orang yang beriman namun bukan yang utama dan menjadi ukuran
iman.
Kegagalan
memahami sabda Yesus dan kekeliruan motivasi mengikut Yesus akan membuat kita
mudah tercerabut dari pokok anggur yang benar dan kita akan mudah terjatuh ke
dalam penggodaan hingga berujung kekecewaan dan meninggalkan Yesus sebagaimana
dituliskan, “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut
Dia” (Yoh 6:66). Atau sebagaimana benih yang jatuh di atas bebatuan, “Tetapi ia
tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau
penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad” (Mat 13:21)
Kembali
kepada Yohanes 6:26, marilah kita menjadi orang-orang mengikut Yesus karena
kita mendamba kelepasan dan kebebasan dari kuasa dosa yaitu maut. Kita mengikut
Yesus karena menghendaki kehidupan yang berkualitas, bermakna, dilimpahi damai
dan kebahagiaan meskipun di tengah kesesakkan dunia dan berbagai masalahnya.
Kita
mengikut Yesus karena kita mengasihi dan menjawab kasih-Nya yang telah
membebaskan kita dari kuasa dosa dan ingin menceritakan kasih dan perbuatan
serta ajaran Yesus kepada setiap orang melalui berbagai tindakkan kasih yang
kita kerjakan di berbagai situasi kehidupan yang kita jalani sebagaimana
disabdakan Yesus, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang,
supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di
sorga” (Mat 5:16)

No comments:
Post a Comment