Dalam sebuah film berjudul, Lord of Shanghai (2016) ada penggalan percakapan
menarik yang terjadi di meja makan antara Huang Peiyu (penguasa Shanghai
generasi kedua) kepada istrinya, Xiao Yuegei yang mempertanyakan tindakkan
pembunuhan yang dilakukan suaminya,“Kamu pikir apa mungkin menjadi berhasil di
Shanghai tanpa tangan berlumuran darah? Itu angan-angan khayalan belaka!”,
teriak Huang Peiyu. Sang istri bergumam di hati, “Haruskah ini menjadi
satu-satunya cara untuk menyelesaikan perbedaan? Membunuh tanpa belas kasihan.
Saling membunuh dan dibunuh. Apakah ini satu-satunya cara untuk mendapatkan
kekuatan?”.
Penggalan dialog di atas
mengungkapkan betapa dibalik kesuksesan seseorang ternyata dibangun di atas
kekerasan, kejahatan, persaingan tidak sehat, menghalalkan segala cara untuk
meraih kesuksesan material dan kekuasaan ekonomi. Namun apakah itu satu-satunya
pilihan atau hanya satu dari sekian pilihan yang dapat ditempuh oleh seseorang
untuk memperoleh kejayaan?
Pertanyaan Huang Peiyu mewakili
mereka yang berfikir dan bertindak pragmatis bahwa tidak ada nilai-nilai moral
yang ideal untuk memandu sebuah pendakian keberhasilan. Mereka yang kuat dan
mampu beradaptasi dengan lingkungan yang keraslah yang berhasil dan memperoleh
kekuasaan ekonomi. Sementara gumam Xiao
Yuegei mewakili mereka yang masih melihat sebuah jalan keluar untuk dapat
berhenti dari lingkaran setan kekerasan, persaingan yang tidak sehat bahkan
pembunuhan agar dapat meraih kejayaan dan kekuasaan.
Ketika kita mendengar sebuah
bisnis atau usaha yang menggiurkan serta menghasilkan uang dengan mudah dan
cepat, kita jarang bertanya: Apakah jenis usaha dan pekerjaan ini kosher atau halal (layak, tepat) dari
sudut pandang Tuhan dan Firman-Nya? Apakah pekerjaan dan usaha yang saya
kerjakan bersifat menyengsarakan orang lain atau memanipulasi orang lain?
Istilah halal dan haram atau kosher we lo kosher biasanya lebih
difokuskan pada apa yang boleh dan tidak boleh dimakan bukan? Di Indonesia,
persoalan ini terkadang begitu sensitif sehingga selalu saja ada berita
memprihatinkan perihal pedagang daging babi yang terkena protes penutupan
meskipun lapaknya memiliki ijin. Jika sudah berijin mengapa musti diributkan
dan dilarang? Jika memiliki pemahaman tidak memakan hewan tertentu, cukup tidak
mendatangi restoran atau rumah makan yang menyediakan saja bukan? Habis perkara!
Persoalan halal dan haram atau kosher we lo kosher sebenarnya bukan
sekedar apa yang dimakan melainkan pekerjaan apa yang kita lakukan untuk
mendapatkan uang, kedudukan, makanan, kenyamanan telah diperoleh dengan cara
yang halal atau kosher atau justru
tidak halal atau lo kosher.
Yeremia 17:11 mengatakan,
“Seperti ayam hutan yang mengerami yang tidak ditelurkannya, demikianlah orang
yang menggaruk kekayaan secara tidak halal, pada pertengahan usianya ia akan
kehilangan semuanya, dan pada kesudahan usianya ia terkenal sebagai seorang
bebal”. Banyak orang mengeluarkan alasan untuk “menggaruk kekayaan secara tidak
halal” antara lain ingin lekas kaya, ingin lekas memperoleh keuntungan besar,
memperoleh kejayaan dan kedudukan agar dihormati serta disegani orang.
Kalimat, “menggaruk kekayaan
secara tidak halal” dalam bahasa Ibraninya, osyeh
osyer lo bemitspat yang jika diterjemahkan secara hurufiah, “mendapatkan
kekayaan dengan cara yang melanggar hukum atau keadilan”. Kata mishpat bisa bermakna “hukum” dan
“keadilan”. Oleh karenanya dalam Imamat 19:36 dikatakan, “Neraca yang betul,
batu timbangan yang betul, efa yang betul dan hin yang betul haruslah kamu
pakai; Akulah YHWH, Tuhanmu yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir”.
Empat kali kata “betul”
dihubungkan dengan “neraca”, “timbangan”, “efa”, serta “hin”. Kata yang
diterjemahkan dengan “betul” dalam bahas Ibraninya tsedeq yang bermakna “tepat”, “akurat”, “benar”, “adil”.
Bukankah korupsi adalah salah
satu cara “menggaruk kekayaan dengan tidak halal alias melanggar hukum?”,
Bukankah berbuat curang dalam perdagangan dan bisnis adalah salah satu cara
“menggaruk kekayaan dengan tidak halal alias melanggar hukum?” Bukankah
mengirim santet dan guna-guna untuk membuat pesaing bisnis kita mengalami
penyakit, kebangkrutan bahkan kematian adalah pekerjaan kotor dan tidak halal?
Bukan hanya orang-orang di luar
hukum yang bisa melakukan pelanggaran hukum dan memperoleh harta benda dengan
cara yang tidak halal, namun orang-orang yang menegakkan hukumpun berpotensi
melakukan pelanggaran hukum sehingga Tuhan memperingatkan dalam Keluaran 23:8, “Suap
janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan
memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar”. Dan dikatakan pula dalam Imamat
19:15, “Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela
orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh
orang-orang besar, tetapi engkau harus
mengadili orang sesamamu dengan kebenaran”.
Lantas, apakah upah mengambil
atau memperoleh kekayaan dengan jalan melanggar hukum? Yeremia 17:10 berkata, Ani YHWH hoqer lev, bohen kelayot (Aku, YHWH,
yang menyelidiki hati, yang menguji batin), welatet
leish kedarko, kipri maalalaw (untuk memberi balasan kepada setiap orang
setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya). Dalam
terjemahan bahasa Jawa oleh Lembaga Alkitab Indonesia (1981) diterjemahkan, “Ingsun,
Yehuwah, kang niti-priksa ati,kang ndadar batining manungsa,lan banjur males
marang saben wong,kang timbang karo polah-tingkahe, lan wohing panggawene”. Untuk
setiap apa yang ditabur akan ada yang dituai. Untuk apa yang dikerjakan akan
ada upah bukan? Ya, Tuhan akan memberikan balasan kepada setiap orang setimpal
dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.
Yeremia 17:11 melanjutkan, Qore dagar welo yalad, osyeh osher welo
bemishpat (Seperti ayam hutan yang mengerami yang tidak ditelurkannya,
demikianlah orang yang menggaruk kekayaan secara tidak halal),bakhatsi yomo ya’azvenu uveakharito yihye
naval (pada pertengahan usianya ia akan kehilangan semuanya, dan pada
kesudahan usianya ia terkenal sebagai seorang bebal). Dalam terjemahan bahasa Jawa
oleh Lembaga Alkitab Indonesia (1981) diterjemahkan, “Kayadene ayam-alas kang
ngengremi dudu endhoge,mangkono kaanane wong kang ngeruk bandha,kanthi patrap
kang ora kalal; nalika nedheng-nedhenge umure,bakal koncatan sakabehe,temah ing
wekasaning umure kesuwur dadi wong gemblung”.
Omong-omong kata Ibrani naval
yang diterjemahkan gemblung dalam bahasa Jawa, saya teringat cerita istri saya
mengenai seseorang yang menginginkan kekayaan dengan melalui jalan perdukunan. Singkatnya,
orang tersebut diberi sebuah karung berisi daun. Oleh sang dukun diberi
peringatan keras jika nanti dalam perjalanan pulan hujan deras dan ada petir
menyambar-nyambar, janganlah sesekali menepi. Namun saat perjalanan pulang,
hujan deras dan petir menyambar menyiutkan nyali sang pencari kekayaan
tersebut. Akhirnya dirinya menepi ke tempat yang kering. Setelah hujan reda dia
melanjutkan perjalanan pulang. Sesampai di rumah, dia membuka isi karungnya dan
berteriak histeris sembari melempar daunan kering dan berkata, “saya sudah
pulang membawa uang…uang…!”. Yang dia lihat hari itu karung berisi daun adalah
benar-benar uang yang diimpikan namun orang lain melihatnya hanyalah daun kering.
Orang tersebut menjadi gemblung alias
gila.
Ada sebuah lagu Jawa mengatakan, Ee mesakkake, uripe wong dunyo. Entek
bandhane mung dinggo nambakke (Aduh kasihan, kehidupan orang duniawi. Habis
hartanya hanya untk berobat). Untuk apa kita mendapatkan rezeki dan kekayaan
dari sesuatu yang tidak kosher
(tepat, layak) jika itu hanya untuk biaya kita berobat? Bukankah kita telah
menginvestasikan harta yang tidak benar untuk membiayai perawatan diri kita
belaka?
Untuk itu, marilah kita
memperoleh harta dengan benar dan mencari pekerjaan yang benar, agar kita
mendapatkan berkat dan bukan kutuk dalam kehidupan ini sebagaimana dikatakan, “Aku
memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu
kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan,
supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi YHWH Tuhanmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut
pada-Nya…” (Ul 30:19-20)

No comments:
Post a Comment