Friday, July 24, 2026

HALAL HARAM BUKAN SEKEDAR MAKANAN NAMUN JUGA PEKERJAAN

Sumber foto:recordsfinders.com

Dalam sebuah film berjudul, Lord of Shanghai (2016) ada penggalan percakapan menarik yang terjadi di meja makan antara Huang Peiyu (penguasa Shanghai generasi kedua) kepada istrinya, Xiao Yuegei yang mempertanyakan tindakkan pembunuhan yang dilakukan suaminya,“Kamu pikir apa mungkin menjadi berhasil di Shanghai tanpa tangan berlumuran darah? Itu angan-angan khayalan belaka!”, teriak Huang Peiyu. Sang istri bergumam di hati, “Haruskah ini menjadi satu-satunya cara untuk menyelesaikan perbedaan? Membunuh tanpa belas kasihan. Saling membunuh dan dibunuh. Apakah ini satu-satunya cara untuk mendapatkan kekuatan?”.

Penggalan dialog di atas mengungkapkan betapa dibalik kesuksesan seseorang ternyata dibangun di atas kekerasan, kejahatan, persaingan tidak sehat, menghalalkan segala cara untuk meraih kesuksesan material dan kekuasaan ekonomi. Namun apakah itu satu-satunya pilihan atau hanya satu dari sekian pilihan yang dapat ditempuh oleh seseorang untuk memperoleh kejayaan?

Pertanyaan Huang Peiyu mewakili mereka yang berfikir dan bertindak pragmatis bahwa tidak ada nilai-nilai moral yang ideal untuk memandu sebuah pendakian keberhasilan. Mereka yang kuat dan mampu beradaptasi dengan lingkungan yang keraslah yang berhasil dan memperoleh kekuasaan ekonomi.  Sementara gumam Xiao Yuegei mewakili mereka yang masih melihat sebuah jalan keluar untuk dapat berhenti dari lingkaran setan kekerasan, persaingan yang tidak sehat bahkan pembunuhan agar dapat meraih kejayaan dan kekuasaan.

Ketika kita mendengar sebuah bisnis atau usaha yang menggiurkan serta menghasilkan uang dengan mudah dan cepat, kita jarang bertanya: Apakah jenis usaha dan pekerjaan ini kosher atau halal (layak, tepat) dari sudut pandang Tuhan dan Firman-Nya? Apakah pekerjaan dan usaha yang saya kerjakan bersifat menyengsarakan orang lain atau memanipulasi orang lain?

Istilah halal dan haram atau kosher we lo kosher biasanya lebih difokuskan pada apa yang boleh dan tidak boleh dimakan bukan? Di Indonesia, persoalan ini terkadang begitu sensitif sehingga selalu saja ada berita memprihatinkan perihal pedagang daging babi yang terkena protes penutupan meskipun lapaknya memiliki ijin. Jika sudah berijin mengapa musti diributkan dan dilarang? Jika memiliki pemahaman tidak memakan hewan tertentu, cukup tidak mendatangi restoran atau rumah makan yang menyediakan saja bukan? Habis perkara!

Persoalan halal dan haram atau kosher we lo kosher sebenarnya bukan sekedar apa yang dimakan melainkan pekerjaan apa yang kita lakukan untuk mendapatkan uang, kedudukan, makanan, kenyamanan telah diperoleh dengan cara yang halal atau kosher atau justru tidak halal atau lo kosher.

Yeremia 17:11 mengatakan, “Seperti ayam hutan yang mengerami yang tidak ditelurkannya, demikianlah orang yang menggaruk kekayaan secara tidak halal, pada pertengahan usianya ia akan kehilangan semuanya, dan pada kesudahan usianya ia terkenal sebagai seorang bebal”. Banyak orang mengeluarkan alasan untuk “menggaruk kekayaan secara tidak halal” antara lain ingin lekas kaya, ingin lekas memperoleh keuntungan besar, memperoleh kejayaan dan kedudukan agar dihormati serta disegani orang.

Kalimat, “menggaruk kekayaan secara tidak halal” dalam bahasa Ibraninya, osyeh osyer lo bemitspat yang jika diterjemahkan secara hurufiah, “mendapatkan kekayaan dengan cara yang melanggar hukum atau keadilan”. Kata mishpat bisa bermakna “hukum” dan “keadilan”. Oleh karenanya dalam Imamat 19:36 dikatakan, “Neraca yang betul, batu timbangan yang betul, efa yang betul dan hin yang betul haruslah kamu pakai; Akulah YHWH, Tuhanmu yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir”.

Empat kali kata “betul” dihubungkan dengan “neraca”, “timbangan”, “efa”, serta “hin”. Kata yang diterjemahkan dengan “betul” dalam bahas Ibraninya tsedeq yang bermakna “tepat”, “akurat”, “benar”, “adil”.

Bukankah korupsi adalah salah satu cara “menggaruk kekayaan dengan tidak halal alias melanggar hukum?”, Bukankah berbuat curang dalam perdagangan dan bisnis adalah salah satu cara “menggaruk kekayaan dengan tidak halal alias melanggar hukum?” Bukankah mengirim santet dan guna-guna untuk membuat pesaing bisnis kita mengalami penyakit, kebangkrutan bahkan kematian adalah pekerjaan kotor dan tidak halal?

Bukan hanya orang-orang di luar hukum yang bisa melakukan pelanggaran hukum dan memperoleh harta benda dengan cara yang tidak halal, namun orang-orang yang menegakkan hukumpun berpotensi melakukan pelanggaran hukum sehingga Tuhan memperingatkan dalam Keluaran 23:8, “Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar”. Dan dikatakan pula dalam Imamat 19:15, “Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar,  tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran”.

Lantas, apakah upah mengambil atau memperoleh kekayaan dengan jalan melanggar hukum? Yeremia 17:10 berkata, Ani YHWH hoqer lev, bohen kelayot (Aku, YHWH, yang menyelidiki hati, yang menguji batin), welatet leish kedarko, kipri maalalaw (untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya). Dalam terjemahan bahasa Jawa oleh Lembaga Alkitab Indonesia (1981) diterjemahkan, “Ingsun, Yehuwah, kang niti-priksa ati,kang ndadar batining manungsa,lan banjur males marang saben wong,kang timbang karo polah-tingkahe, lan wohing panggawene”. Untuk setiap apa yang ditabur akan ada yang dituai. Untuk apa yang dikerjakan akan ada upah bukan? Ya, Tuhan akan memberikan balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.

Yeremia 17:11 melanjutkan, Qore dagar welo yalad, osyeh osher welo bemishpat (Seperti ayam hutan yang mengerami yang tidak ditelurkannya, demikianlah orang yang menggaruk kekayaan secara tidak halal),bakhatsi yomo ya’azvenu uveakharito yihye naval (pada pertengahan usianya ia akan kehilangan semuanya, dan pada kesudahan usianya ia terkenal sebagai seorang bebal). Dalam terjemahan bahasa Jawa oleh Lembaga Alkitab Indonesia (1981) diterjemahkan, “Kayadene ayam-alas kang ngengremi dudu endhoge,mangkono kaanane wong kang ngeruk bandha,kanthi patrap kang ora kalal; nalika nedheng-nedhenge umure,bakal koncatan sakabehe,temah ing wekasaning umure kesuwur dadi wong gemblung”.

Omong-omong kata Ibrani naval yang diterjemahkan gemblung dalam bahasa Jawa, saya teringat cerita istri saya mengenai seseorang yang menginginkan kekayaan dengan melalui jalan perdukunan. Singkatnya, orang tersebut diberi sebuah karung berisi daun. Oleh sang dukun diberi peringatan keras jika nanti dalam perjalanan pulan hujan deras dan ada petir menyambar-nyambar, janganlah sesekali menepi. Namun saat perjalanan pulang, hujan deras dan petir menyambar menyiutkan nyali sang pencari kekayaan tersebut. Akhirnya dirinya menepi ke tempat yang kering. Setelah hujan reda dia melanjutkan perjalanan pulang. Sesampai di rumah, dia membuka isi karungnya dan berteriak histeris sembari melempar daunan kering dan berkata, “saya sudah pulang membawa uang…uang…!”. Yang dia lihat hari itu karung berisi daun adalah benar-benar uang yang diimpikan namun orang lain melihatnya hanyalah daun kering. Orang tersebut menjadi gemblung alias gila.

Ada sebuah lagu Jawa mengatakan, Ee mesakkake, uripe wong dunyo. Entek bandhane mung dinggo nambakke (Aduh kasihan, kehidupan orang duniawi. Habis hartanya hanya untk berobat). Untuk apa kita mendapatkan rezeki dan kekayaan dari sesuatu yang tidak kosher (tepat, layak) jika itu hanya untuk biaya kita berobat? Bukankah kita telah menginvestasikan harta yang tidak benar untuk membiayai perawatan diri kita belaka?

Untuk itu, marilah kita memperoleh harta dengan benar dan mencari pekerjaan yang benar, agar kita mendapatkan berkat dan bukan kutuk dalam kehidupan ini sebagaimana dikatakan, “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu,  dengan mengasihi  YHWH Tuhanmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya…” (Ul 30:19-20)

No comments:

Post a Comment