Friday, February 20, 2026

BERCAHAYALAH AGAR NAMA TUHAN DIMULIAKAN

Sumber foto: themighty.com

Dalam keseharian dan diwaktu yang normal, kita tidak pernah bisa lepas dari garam dan terang atau cahaya baik berasal dari lilin maupun lampu tradisional (senthir, obor, teplok) maupun lampu modern (petromaks sampai lampu pijar). Jika Anda lahir di tahun 1960 atau 1970-an tentu mengakrabi apa yang disebut lampu petromax. Media penerangan yang lebih baik dari lampu teplok yang remang-remang. Entahkah petromak ataupun lampu teplok saat digunakan tidak ada yang ditaruh di bawah tempat tidur atau di lantai bukan? Benda penerang ini akan digantung atau diletakkan di tempat tinggi untuk menerangi sekelilingnya yang gelap.

Masing-masing diantara kita tentu memiliki pengalaman unik dan menarik berkaitan dengan lampu petromak maupun teplok. Nah, saya bisa merasakan Anda mulai tersenyum karena mulai teringat kenangan-kenangan manis, pahit, menggelikan di masa lalu.

Demikian pula garam. Setiap masakan rasanya tidak sempurna tanpa garam. Menjadi hambar dan tawar. Meskipun di akhir-akhir ini dipromosikan gaya hidup sehat dengan mengurangi garam namun tetap saja ada sejumlah rempah yang harus dipergunakan untuk menciptakan rasa pengganti garam. Tujuannya tentu saja bukan sekedar memberikan rasa gurih namun penyeimbang rasa suatu masakan

Demikian pula dalam Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, garam juga berulang kali disebutkan: Garam dalam Persembahan (Im 2:13). Garam melambangkan kemurnian, ketekunan, dan perjanjian kekal antara Tuhan dan umat-Nya. Dalam konteks persembahan, garam mencegah kebusukan, melambangkan ketekunan iman dan kesetiaan dalam relasi dengan Tuhan.

Kota Ditaburi Garam (Hak 9:45). Menaburkan garam ke atas kota yang telah dihancurkan adalah simbol kutuk kehancuran total dan tanda bahwa kota itu tidak akan dibangun kembali atau subur lagi. Ini tindakan simbolis untuk mensterilkan tanah secara rohani dan jasmani serta melambangkan penghakiman Tuhan

Air Disehatkan oleh Elisa (2 Raj 2:19–22). Penggunaan garam secara ajaib oleh Elisa menunjukkan kuasa Tuhan yang memulihkan. Meskipun garam biasanya mengeringkan, Tuhan menggunakannya secara paradoks untuk menyembuhkan air yang pahit dan mematikan. Ini melambangkan transformasi ilahi—dari kematian menjadi kehidupan.

Bayi Baru Lahir Diolesi Garam (Yeh 16:4). Dalam budaya Timur Tengah kuno, bayi yang baru lahir biasa digosok dengan garam untuk membersihkan, mensterilkan, dan memperkuat kulitnya, simbol perawatan yang layak. Yehezkiel menggunakan ini untuk menggambarkan bahwa Yerusalem ditinggalkan dan tidak diperhatikan sejak lahir, sebagai simbol penolakan dan kelalaian spiritual.

Melihat konteks penggunaan garam yang bukan hanya sekedar media dalam masakan, Yesus Sang Juruslamat dan Junjungan Yang Ilahi menjadikan garam sebagai medium pengajaran. Sesuatu yang selalu ada disekitar kita, maka akan mudah untuk diingat.

Namun ada yang menarik dalam kitab Matius 5:13, ungkapan “Jika garam itu menjadi tawar” menimbulkan pertanyaan bagi pembaca Alkitab yang kritis. Apakah ada garam yang tawar? Bagaimana mungkin garam menjadi tawar? Apakah ini hanya kiasan? Sifat asin pada garam dapur muncul karena ikatan antara Natrium dan Klorida (NaCl). Hilangnya rasa asin (menjadi tawar) dari garam berarti terputusnya ikatan NaCl. Padahal, ikatan antara Na dan Cl adalah ikatan yang sangat stabil, dengan demikian tidaklah mungkin terjadi.

Melansir sebuah penjelasan dari website pastordepan.com ada penjelasan yang cukup menarik, “Sulit untuk menerangkan ini, karena garam tidak pernah kehilangan rasa asinnya. E.F.F. Bishop dalam bukunya Jesus of Palestine mengutip penjelasan yang sangat mungkin diberikan oleh Miss F. E. Newton. Di Palestina kompor biasa berada di luar pintu dan dibangun dari batu di atas dasar ubin. kemudian ‘untuk menahan panas, lapisan garam yang tebal diletakkan di bawah lantai keramik. Setelah jangka waktu tertentu garam itu musnah. Ubin diangkat, garam dikeluarkan dan dibuang ke jalan di luar pintu kompor…Ia kehilangan kekuatannya untuk memanaskan ubin dan dibuang’ Itu mungkin gambarannya di sini”.

Apakah memang demikian gambarannya maksud perkataan Yesus perihal “garam menjadi tawar?” Saya tidak berani memastikan. Bagi saya pribadi bisa jadi ini hanya sebuah kiasan betapa sia-sia jika garam telah kehilangan rasa – sekalipun itu tidak mungkin terjadi – dan akhirnya dibuang. Yesus hanya mengandaikan betapa garam yang seharusnya memiliki kegunaan menjadi media yang kehilangan kegunaan dan relevansi. Pengandaian ini hendak dipakai untuk menjelaskan kehidupan keseharian orang-orang beriman.

Apa yang hendak disampaikan Yesus dengan analogi garam dan terang? Ya, Yesus mengingatkan murid-murid dan pendengar ajarannya bahwa keberadaan kita harus membawa manfaat dan berguna bagi kehidupan. Orientasi kehidupan kita bukan hanya ke dalam (mendapatkan kedamaian, kebahagiaan, kehidupan ekonomi yang lebih baik) namun juga keluar menjadi pembawa rasa bagi kehidupan yang pahit dan pemberi cahaya bagi dunia yang gelap.

Mungkin ada yang bertanya, “Bagaimana saya bisa menjadi garam dan terang sementara status sosial saya bukan tergolong orang mampu?” Pertanyaan ini salah karena perintah dan ajaran Yesus tidak ada kaitannya dengan status sosial dan tidak mensyaratkan status sosial tertentu untuk bisa melakukan apa yang beliau perintahkan dan ajarkan. Seorang Kristen yang bekerja sebagai pedagang keliling, penjual sayur mayur, penjaja makanan kecil, buruh bangunan, pemilik toko, karyawan perusahaan, semua harus mengamalkan ajaran Yesus untuk menjadi halas tes ges (Yun) atau nohara d’alma (Arm) atau “garam dunia” dan phos to kosmou (Yun) atau milha d’alma (Arm) atau “terang dunia”.

Dengan cara apa? Menjadi pedagang keliling yang ramah, menjadi buruh bangunan yang disiplin bekerja, menjadi karyawan yang bekerja jujur dan berdedikasi, mejadi pemilik toko yang ramah dan membayar upah karyawan tanpa menahan, menjadi seorang direktur yang adil dan mengasihi karyawannya. Bagaimana? Sederhana bukan? Berbuat kebajikkan dan manfaat untuk orang lain berdasarkan status sosial masing-masing.

Mungkin ada yang bertanya pula, “Bagaimana saya bisa menjadi garam dunia dan terang dunia sementara saya dikepung dan ditindih persoalan yang berat mulai dari kesehatan dan keuangan dan hubungan sosial?” Perintah dan ajaran Yesus tidak ditujukan bagi orang-orang yang tidak memiliki masalah dalam kehidupannya. Toch mustahil ada orang yang steril dari problem atau masalah entahkah itu keuangan dan hal-hal lain. Entahkah kita memiliki masalah atau tidak memiliki masalah, tetaplah kita harus memperlihatkan kehidupan Kristiani yaitu sebagai garam dunia dan terang dunia. Dengan Anda tidak melarikan diri dari masalah, tidak pergi mencari pesugihan, tidak berniat mengakhiri hidup, Anda sudah memperlihatkan diri sebagai garam dan terang dunia.

Muara akhir ajaran Yesus adalah, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang,  supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga”(Mat 5:16). Sebagai orang Kristiani yang hidup di bawah Anugrah Tuhan dan iman kita meyakini bahwa kita telah memperoleh kehidupan kekal. Kita bukan hanya mensyukuri belaka namun diminta untuk menjadi saksi karya Sang Juruslamat. Kita diminta menjadi orang-orang yang membawa cahaya dan harapan. Tujuannya apa? Orang-orang melihat kala erga (perbuatan baik) dan doxasosin ton patera humon ton en tois ouranois (memuliakan Bapa di Sorga).

Berhati-hatilah ketika ajaran Kristiani hanya terus menerus menekankan Anugrah dan Iman sementara Yesus dan rasul-rasul-Nya senantiasa berbuat kebaikan dan menganjurkan perbuatan baik sebagai buah-buah pertobatan dan orang-orang yang telah diselamatkan. Tuhan YHWH dalam Torah memerintahkan kita berbuat setelah mendengar (Ul 28:1), demikianlah Yesus Sang Putra Tuhan dan Juruslamat dan Rabi Torah serta Junjungan Yang Ilahi  mengajarkan mendengar dan berbuat.

Dengan kita menjadi berguna dan bermanfaat bagi dunia dan sesama melalui tindakan kebajikan maka nama Tuhan Sang Bapa di Sorga yang dimuliakan. Dengan kita berbuat sebaliknya, nama Tuhan dihujat dan dihinakan.

No comments:

Post a Comment