Dalam keseharian dan diwaktu yang
normal, kita tidak pernah bisa lepas dari garam dan terang atau cahaya baik
berasal dari lilin maupun lampu tradisional (senthir, obor, teplok) maupun
lampu modern (petromaks sampai lampu pijar). Jika Anda lahir di tahun 1960 atau
1970-an tentu mengakrabi apa yang disebut lampu petromax. Media penerangan yang
lebih baik dari lampu teplok yang remang-remang. Entahkah petromak ataupun
lampu teplok saat digunakan tidak ada yang ditaruh di bawah tempat tidur atau
di lantai bukan? Benda penerang ini akan digantung atau diletakkan di tempat
tinggi untuk menerangi sekelilingnya yang gelap.
Masing-masing diantara kita tentu
memiliki pengalaman unik dan menarik berkaitan dengan lampu petromak maupun
teplok. Nah, saya bisa merasakan Anda mulai tersenyum karena mulai teringat
kenangan-kenangan manis, pahit, menggelikan di masa lalu.
Demikian pula garam. Setiap
masakan rasanya tidak sempurna tanpa garam. Menjadi hambar dan tawar. Meskipun
di akhir-akhir ini dipromosikan gaya hidup sehat dengan mengurangi garam namun
tetap saja ada sejumlah rempah yang harus dipergunakan untuk menciptakan rasa
pengganti garam. Tujuannya tentu saja bukan sekedar memberikan rasa gurih namun
penyeimbang rasa suatu masakan
Demikian pula dalam Kitab Suci
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, garam juga berulang kali disebutkan: Garam
dalam Persembahan (Im 2:13). Garam melambangkan kemurnian, ketekunan, dan
perjanjian kekal antara Tuhan dan umat-Nya. Dalam konteks persembahan, garam
mencegah kebusukan, melambangkan ketekunan iman dan kesetiaan dalam relasi
dengan Tuhan.
Kota Ditaburi Garam (Hak 9:45).
Menaburkan garam ke atas kota yang telah dihancurkan adalah simbol kutuk
kehancuran total dan tanda bahwa kota itu tidak akan dibangun kembali atau
subur lagi. Ini tindakan simbolis untuk mensterilkan tanah secara rohani dan
jasmani serta melambangkan penghakiman Tuhan
Air Disehatkan oleh Elisa (2 Raj
2:19–22). Penggunaan garam secara ajaib oleh Elisa menunjukkan kuasa Tuhan yang
memulihkan. Meskipun garam biasanya mengeringkan, Tuhan menggunakannya secara
paradoks untuk menyembuhkan air yang pahit dan mematikan. Ini melambangkan
transformasi ilahi—dari kematian menjadi kehidupan.
Bayi Baru Lahir Diolesi Garam
(Yeh 16:4). Dalam budaya Timur Tengah kuno, bayi yang baru lahir biasa digosok
dengan garam untuk membersihkan, mensterilkan, dan memperkuat kulitnya, simbol
perawatan yang layak. Yehezkiel menggunakan ini untuk menggambarkan bahwa
Yerusalem ditinggalkan dan tidak diperhatikan sejak lahir, sebagai simbol
penolakan dan kelalaian spiritual.
Melihat konteks penggunaan garam
yang bukan hanya sekedar media dalam masakan, Yesus Sang Juruslamat dan
Junjungan Yang Ilahi menjadikan garam sebagai medium pengajaran. Sesuatu yang
selalu ada disekitar kita, maka akan mudah untuk diingat.
Namun ada yang menarik dalam
kitab Matius 5:13, ungkapan “Jika garam itu menjadi tawar” menimbulkan
pertanyaan bagi pembaca Alkitab yang kritis. Apakah ada garam yang tawar?
Bagaimana mungkin garam menjadi tawar? Apakah ini hanya kiasan? Sifat asin pada
garam dapur muncul karena ikatan antara Natrium dan Klorida (NaCl). Hilangnya
rasa asin (menjadi tawar) dari garam berarti terputusnya ikatan NaCl. Padahal,
ikatan antara Na dan Cl adalah ikatan yang sangat stabil, dengan demikian
tidaklah mungkin terjadi.
Melansir sebuah penjelasan dari
website pastordepan.com ada penjelasan yang cukup menarik, “Sulit untuk
menerangkan ini, karena garam tidak pernah kehilangan rasa asinnya. E.F.F.
Bishop dalam bukunya Jesus of Palestine
mengutip penjelasan yang sangat mungkin diberikan oleh Miss F. E. Newton. Di
Palestina kompor biasa berada di luar pintu dan dibangun dari batu di atas
dasar ubin. kemudian ‘untuk menahan panas, lapisan garam yang tebal diletakkan
di bawah lantai keramik. Setelah jangka waktu tertentu garam itu musnah. Ubin
diangkat, garam dikeluarkan dan dibuang ke jalan di luar pintu kompor…Ia
kehilangan kekuatannya untuk memanaskan ubin dan dibuang’ Itu mungkin
gambarannya di sini”.
Apakah memang demikian
gambarannya maksud perkataan Yesus perihal “garam menjadi tawar?” Saya tidak
berani memastikan. Bagi saya pribadi bisa jadi ini hanya sebuah kiasan betapa
sia-sia jika garam telah kehilangan rasa – sekalipun itu tidak mungkin terjadi
– dan akhirnya dibuang. Yesus hanya mengandaikan betapa garam yang seharusnya
memiliki kegunaan menjadi media yang kehilangan kegunaan dan relevansi.
Pengandaian ini hendak dipakai untuk menjelaskan kehidupan keseharian
orang-orang beriman.
Apa yang hendak disampaikan Yesus
dengan analogi garam dan terang? Ya, Yesus mengingatkan murid-murid dan
pendengar ajarannya bahwa keberadaan kita harus membawa manfaat dan berguna
bagi kehidupan. Orientasi kehidupan kita bukan hanya ke dalam (mendapatkan
kedamaian, kebahagiaan, kehidupan ekonomi yang lebih baik) namun juga keluar
menjadi pembawa rasa bagi kehidupan yang pahit dan pemberi cahaya bagi dunia
yang gelap.
Mungkin ada yang bertanya,
“Bagaimana saya bisa menjadi garam dan terang sementara status sosial saya
bukan tergolong orang mampu?” Pertanyaan ini salah karena perintah dan ajaran
Yesus tidak ada kaitannya dengan status sosial dan tidak mensyaratkan status
sosial tertentu untuk bisa melakukan apa yang beliau perintahkan dan ajarkan.
Seorang Kristen yang bekerja sebagai pedagang keliling, penjual sayur mayur,
penjaja makanan kecil, buruh bangunan, pemilik toko, karyawan perusahaan, semua
harus mengamalkan ajaran Yesus untuk menjadi halas tes ges (Yun) atau nohara
d’alma (Arm) atau “garam dunia” dan phos
to kosmou (Yun) atau milha d’alma
(Arm) atau “terang dunia”.
Dengan cara apa? Menjadi pedagang
keliling yang ramah, menjadi buruh bangunan yang disiplin bekerja, menjadi karyawan
yang bekerja jujur dan berdedikasi, mejadi pemilik toko yang ramah dan membayar
upah karyawan tanpa menahan, menjadi seorang direktur yang adil dan mengasihi
karyawannya. Bagaimana? Sederhana bukan? Berbuat kebajikkan dan manfaat untuk
orang lain berdasarkan status sosial masing-masing.
Mungkin ada yang bertanya pula,
“Bagaimana saya bisa menjadi garam dunia dan terang dunia sementara saya
dikepung dan ditindih persoalan yang berat mulai dari kesehatan dan keuangan
dan hubungan sosial?” Perintah dan ajaran Yesus tidak ditujukan bagi
orang-orang yang tidak memiliki masalah dalam kehidupannya. Toch mustahil ada
orang yang steril dari problem atau masalah entahkah itu keuangan dan hal-hal
lain. Entahkah kita memiliki masalah atau tidak memiliki masalah, tetaplah kita
harus memperlihatkan kehidupan Kristiani yaitu sebagai garam dunia dan terang
dunia. Dengan Anda tidak melarikan diri dari masalah, tidak pergi mencari
pesugihan, tidak berniat mengakhiri hidup, Anda sudah memperlihatkan diri
sebagai garam dan terang dunia.
Muara akhir ajaran Yesus adalah,
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik
dan memuliakan Bapamu yang di sorga”(Mat 5:16). Sebagai orang Kristiani yang
hidup di bawah Anugrah Tuhan dan iman kita meyakini bahwa kita telah memperoleh
kehidupan kekal. Kita bukan hanya mensyukuri belaka namun diminta untuk menjadi
saksi karya Sang Juruslamat. Kita diminta menjadi orang-orang yang membawa
cahaya dan harapan. Tujuannya apa? Orang-orang melihat kala erga (perbuatan baik) dan doxasosin
ton patera humon ton en tois ouranois (memuliakan Bapa di Sorga).
Berhati-hatilah ketika ajaran
Kristiani hanya terus menerus menekankan Anugrah dan Iman sementara Yesus dan
rasul-rasul-Nya senantiasa berbuat kebaikan dan menganjurkan perbuatan baik
sebagai buah-buah pertobatan dan orang-orang yang telah diselamatkan. Tuhan
YHWH dalam Torah memerintahkan kita berbuat setelah mendengar (Ul 28:1),
demikianlah Yesus Sang Putra Tuhan dan Juruslamat dan Rabi Torah serta Junjungan Yang Ilahi mengajarkan
mendengar dan berbuat.
Dengan kita menjadi berguna dan
bermanfaat bagi dunia dan sesama melalui tindakan kebajikan maka nama Tuhan
Sang Bapa di Sorga yang dimuliakan. Dengan kita berbuat sebaliknya, nama Tuhan
dihujat dan dihinakan.

No comments:
Post a Comment