Siapa tidak mengenal Nabi Elisha?
Namanya selalu dihubungkan dengan mukjizat sebagaimana pendahulunya, Nabi Elia.
Nabi Elisa adalah anak dari Safat, seorang petani di Abel-Mehola, daerah lembah
Sungai Yordan. Hidupnya sederhana sebelum dipanggil Tuhan melalui Nabi Elia.
Saat Elia melemparkan jubahnya ke atas Elisa (1 Raja-raja 19:19), Elisa
meninggalkan ladang dan memilih mengikuti Elia. Nama Elisa sendiri berarti
“Tuhanku adalah keselamatan”, yang sesuai dengan panggilannya sebagai pembawa
kabar keselamatan dan mujizat Tuhan bagi umat Israel.
Setelah bertahun-tahun menjadi
murid Elia, tibalah saat Elia diangkat ke surga dengan kereta berapi. Elisa
yang setia memohon “dua bagian dari roh Elia” (2 Raja-raja 2:9). Permintaan ini
bukanlah ambisi pribadi, melainkan kerinduan untuk melanjutkan pelayanan dengan
kuasa yang lebih besar. Sejak saat itu, Nabi Elisa dipenuhi Roh Tuhan dan
melayani Israel selama puluhan tahun.
Mari kita perhatikan beberapa
perbuatan ajaib yang dipercayakan Tuhan YHWH kepada Elisha.
Pertama, Penduduk kota Yerikho mengeluh kepada Elisa: "Cobalah
lihat! Letaknya kota ini baik, seperti tuanku lihat, tetapi airnya tidak baik
dan di negeri ini sering ada keguguran bayi." Elisa melemparkan garam ke
dalam mata air serta berkata: "Beginilah firman YHWH: Telah Kusehatkan air
ini, maka tidak akan terjadi lagi olehnya kematian atau keguguran bayi."
Maka sehatlah air itu. (2 Raja–raja 2:19–22)
Kedua, anak-anak dari Betel mencemoohkan Elisa serta berseru
kepadanya: "Naiklah botak, naiklah botak!", lalu dikutuknyalah mereka
demi nama YHWH. Maka keluarlah 2 ekor beruang dari hutan, lalu mencabik-cabik
dari mereka 42 orang anak. (2 Raja–raja 2:23–25).
Ketiga, Raja Yoram anak Ahab, bersama raja Yosafat dari Kerajaan
Yehuda dan raja Edom, kekurangan air dalam perjalanan untuk berperang melawan
Moab. Yosafat meminta raja Israel untuk memanggil nabi Tuhan, maka Elisa
dipanggil. Karena memandang kehadiran Yosafat, raja yang takut akan Tuhan, maka
Tuhan dengan ajaib mengirimkan banyak air dari arah Edom untuk diminum. Air
itu, karena berasal dari Edom yang tanahnya merah membuat orang Moab mengira
pihak penyerang telah saling bunuh. Orang Moab mendatangi pasukan gabungan
Israel, Yehuda dan Edom, dan mendapati mereka dalam keadaan siaga. Akibatnya,
tentara Moab mengalami kekalahan besar. (2 Raja–raja 3:1–27).
Keempat, seorang janda nabi mengeluh karena tidak punya uang
membayar penagih hutang yang akan mengambil anak-anaknya menjadi budak. Elisa
memperbanyak minyak di rumah janda itu sehingga dapat dijual dan membayar
hutang. (2 Raja–raja 4:1–7). Kelima,
Elisa menghidupkan kembali putra perempuan Sunem yang telah berbaik hati
menyediakan kamar tidur berdinding batu di sebelah atas rumahnya, sebagai
kediaman setiap kali Elisa berkunjung ke kota itu. (2 Raja–raja 4:8–37)
Keenam, sewaktu di Gilgal, makanan yang disediakan untuk para nabi
mengandung racun. Elisa melemparkan tepung ke dalam kuali serta berkata:
"Cedoklah sekarang bagi orang-orang ini, supaya mereka makan!" Maka
tidak ada lagi sesuatu bahaya dalam kuali itu. (2 Raja–raja 4:38–41). Ketujuh, dari roti hulu hasil yang
dibawa seseorang dari Baal-Salisa untuk Elisa, yaitu 20 roti jelai serta gandum
baru dalam sebuah kantong, Elisa memperbanyak dan memberi makan 100 orang serta
ada sisanya (2 Raja–raja 4:42–44).
Kedelapan, Elisa juga menyembuhkan penyakit kusta Naaman, seorang
panglima raja Aram. Penyakit kusta itu pindah ke Gehazi, hamba Elisa, yang
serakah dan minta hadiah dari Naaman, tanpa seizin Elisa (2 Raja–raja 5:1–27). Kesembilan, Raja Aram, Benhadad,
menyerang Israel, tetapi Elisa selalu memberitahukan strategi raja Aram itu
kepada raja Israel, sehingga serangan-serangan dapat digagalkan. Setelah
Benhadad diberitahu mengenai kemampuan nabi Elisa untuk mengetahui rencana
rahasia raja itu atas kuasa Tuhan, Benhadad mengirim pasukan besar ke Dotan
untuk menangkap Elisa. Namun Tuhan membutakan mata orang-orang itu dan Elisa
menuntun mereka ke raja Israel. Elisa menyuruh raja Israel untuk menjamu mereka
dan membiarkan mereka pulang ke Aram. Sejak itu tidak ada lagi
gerombolan-gerombolan Aram memasuki negeri Israel. (2 Raja–raja 6:8–23).
Demikianlah beberapa dari
perbuatan ajaib yang berikan Tuhan untuk meneguhkan pelayanan Elisha. Bahkan
saat tubuhnya telah terurai di tanah pasca kewafatannya, tulang-tulangnyapun
menyimpan energi luar biasa. Dalam 2 Raja-raja 13:21 tertulis bahwa ketika
mayat seorang pria menyentuh tulang-tulang Elisa, orang itu hidup kembali.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa pengurapan Tuhan yang ada pada Elisa tidak
hilang, bahkan setelah ia meninggal.
Namun semua kehebatan tersebut
bukan menjadikan Elisha manusia yang tidak tersentuh apa yang harus dialami
semua manusia yaitu tua, sakit, kematian. Di zaman pemerintahan Raja Yoas
(dimulai tahun 836 sM di Yehuda), Elisha yang dipakai Tuhan secara luar biasa
disebutkan dalan 2 Raja 13:14 demikian, “Ketika Elisa menderita sakit yang
menyebabkan kematiannya, datanglah Yoas, raja Israel, kepadanya dan menangis
oleh karena dia, katanya: "Bapaku, bapaku! Kereta Israel dan
orang-orangnya yang berkuda”. Kenyataan ini menegaskan pada diri kita bahwa
sakt dan mati itu sebuah keniscayaan yang melekati hidup manusia, siapapun itu.
Sehat, membutuhkan pasangannya yaitu sakit dan hidup membutuhkan pasangannya
yaitu kematian.
Mungkin ada yang bertanya, jika
Tuhan YHWH bisa menyembuhkan penyakit Raja Hizkia dan memperpanjang umurnya
lima belas tahun (2 Raj 20:6), mengapa untuk seorang nabi yang luar biasa harus
sakit dan wafat? Kita harus memahami bahwa berbagai peristiwa ajaib yang Tuhan
perlihatkan melalui para nabi sebagai hamba-Nya mulai dari Musa sampai Elisha
untuk menegaskan kedaulatan dan kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas. Namun
demikian, kedaulatan dan kekuasaan Tuhan digerakkan oleh kehendak-Nya. Jika
Tuhan tidak berkehendak, tidak akan ada satupun perbuatan ajaib yang Dia akan
lakukan.
Raja Hizkia yang diperpanjang
usianya lima belas tahun atau anak perempuan Sunem yang mati dibangkitkan
kembali sebelum dikuburkan adalah kehendak Tuhan. Demikian pula dengan berbagai
mukjizat dan perbuatan ajaib yang dilakukan Yesus Anak Tuhan dan Juruslamat
serta Junjungan kita Yang Ilahi dalam Kitab Injil dilakukan karena Dia
berkehendak sebagaimana dikatakan dalam Markus 1:41 demikian, “Maka tergeraklah
hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu
dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir”.
Kembali kepada sakit dan wafatnya
Elisha, pelajaran apa yang bisa kita dapatkan dengan peristiwa ini? Pertama, sakit dan kematian adalah
keniscayaan sebagai buah dosa asal sebagaimana dikatakan, “dengan berpeluh
engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena
dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi
debu” (Kej 3:19).
Kedua, jangan terobsesi dengan mukjizat dan perbuatan ajaib Tuhan
dalam hal kesembuhan. Kita tetap berharap akan mukjizat Tuhan saat mengalami
sakit atau ada orang beriman yang sakit kronis karena mukjizat tidak hanya
berlaku di zaman para nabi melainkan di masa kini. Namun demikian keputusan ada
pada Dia yang memiliki kedaulatan, kuasa dan kehendak. Jika Dia berkehendak
menyembuhkan maka bersyukurlah namun jika tidak mengalami kesembuhan janganlah
menghakimi diri sendiri dan menghakimi orang lain bahwa ketidaksembuhannya
dikarenakan dosa.
Ketiga, janganlah menjadikan kesembuhan sebagai ukuran perkenan
Tuhan namun berfokus pada sikap iman kita kepada Tuhan disaat sakit.
Bersikaplah seperti Sadrakh, Mesakh, Abednego saat menghadapi anglo berapi, “Jika
Tuhan kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami
dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi
seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan
memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan
itu” (Dan 3:17).

No comments:
Post a Comment