Friday, April 17, 2026

SAKIT DAN KEMATIAN SEBAGAI KENISCAYAAN

Sumber Gambar: ifiwalkedwithjesus.com

Siapa tidak mengenal Nabi Elisha? Namanya selalu dihubungkan dengan mukjizat sebagaimana pendahulunya, Nabi Elia. Nabi Elisa adalah anak dari Safat, seorang petani di Abel-Mehola, daerah lembah Sungai Yordan. Hidupnya sederhana sebelum dipanggil Tuhan melalui Nabi Elia. Saat Elia melemparkan jubahnya ke atas Elisa (1 Raja-raja 19:19), Elisa meninggalkan ladang dan memilih mengikuti Elia. Nama Elisa sendiri berarti “Tuhanku adalah keselamatan”, yang sesuai dengan panggilannya sebagai pembawa kabar keselamatan dan mujizat Tuhan bagi umat Israel.

Setelah bertahun-tahun menjadi murid Elia, tibalah saat Elia diangkat ke surga dengan kereta berapi. Elisa yang setia memohon “dua bagian dari roh Elia” (2 Raja-raja 2:9). Permintaan ini bukanlah ambisi pribadi, melainkan kerinduan untuk melanjutkan pelayanan dengan kuasa yang lebih besar. Sejak saat itu, Nabi Elisa dipenuhi Roh Tuhan dan melayani Israel selama puluhan tahun.

Mari kita perhatikan beberapa perbuatan ajaib yang dipercayakan Tuhan YHWH kepada Elisha.

Pertama, Penduduk kota Yerikho mengeluh kepada Elisa: "Cobalah lihat! Letaknya kota ini baik, seperti tuanku lihat, tetapi airnya tidak baik dan di negeri ini sering ada keguguran bayi." Elisa melemparkan garam ke dalam mata air serta berkata: "Beginilah firman YHWH: Telah Kusehatkan air ini, maka tidak akan terjadi lagi olehnya kematian atau keguguran bayi." Maka sehatlah air itu. (2 Raja–raja 2:19–22)

Kedua, anak-anak dari Betel mencemoohkan Elisa serta berseru kepadanya: "Naiklah botak, naiklah botak!", lalu dikutuknyalah mereka demi nama YHWH. Maka keluarlah 2 ekor beruang dari hutan, lalu mencabik-cabik dari mereka 42 orang anak. (2 Raja–raja 2:23–25).

Ketiga, Raja Yoram anak Ahab, bersama raja Yosafat dari Kerajaan Yehuda dan raja Edom, kekurangan air dalam perjalanan untuk berperang melawan Moab. Yosafat meminta raja Israel untuk memanggil nabi Tuhan, maka Elisa dipanggil. Karena memandang kehadiran Yosafat, raja yang takut akan Tuhan, maka Tuhan dengan ajaib mengirimkan banyak air dari arah Edom untuk diminum. Air itu, karena berasal dari Edom yang tanahnya merah membuat orang Moab mengira pihak penyerang telah saling bunuh. Orang Moab mendatangi pasukan gabungan Israel, Yehuda dan Edom, dan mendapati mereka dalam keadaan siaga. Akibatnya, tentara Moab mengalami kekalahan besar. (2 Raja–raja 3:1–27).

Keempat, seorang janda nabi mengeluh karena tidak punya uang membayar penagih hutang yang akan mengambil anak-anaknya menjadi budak. Elisa memperbanyak minyak di rumah janda itu sehingga dapat dijual dan membayar hutang. (2 Raja–raja 4:1–7). Kelima, Elisa menghidupkan kembali putra perempuan Sunem yang telah berbaik hati menyediakan kamar tidur berdinding batu di sebelah atas rumahnya, sebagai kediaman setiap kali Elisa berkunjung ke kota itu. (2 Raja–raja 4:8–37)

Keenam, sewaktu di Gilgal, makanan yang disediakan untuk para nabi mengandung racun. Elisa melemparkan tepung ke dalam kuali serta berkata: "Cedoklah sekarang bagi orang-orang ini, supaya mereka makan!" Maka tidak ada lagi sesuatu bahaya dalam kuali itu. (2 Raja–raja 4:38–41). Ketujuh, dari roti hulu hasil yang dibawa seseorang dari Baal-Salisa untuk Elisa, yaitu 20 roti jelai serta gandum baru dalam sebuah kantong, Elisa memperbanyak dan memberi makan 100 orang serta ada sisanya (2 Raja–raja 4:42–44).

Kedelapan, Elisa juga menyembuhkan penyakit kusta Naaman, seorang panglima raja Aram. Penyakit kusta itu pindah ke Gehazi, hamba Elisa, yang serakah dan minta hadiah dari Naaman, tanpa seizin Elisa (2 Raja–raja 5:1–27). Kesembilan, Raja Aram, Benhadad, menyerang Israel, tetapi Elisa selalu memberitahukan strategi raja Aram itu kepada raja Israel, sehingga serangan-serangan dapat digagalkan. Setelah Benhadad diberitahu mengenai kemampuan nabi Elisa untuk mengetahui rencana rahasia raja itu atas kuasa Tuhan, Benhadad mengirim pasukan besar ke Dotan untuk menangkap Elisa. Namun Tuhan membutakan mata orang-orang itu dan Elisa menuntun mereka ke raja Israel. Elisa menyuruh raja Israel untuk menjamu mereka dan membiarkan mereka pulang ke Aram. Sejak itu tidak ada lagi gerombolan-gerombolan Aram memasuki negeri Israel. (2 Raja–raja 6:8–23).

Demikianlah beberapa dari perbuatan ajaib yang berikan Tuhan untuk meneguhkan pelayanan Elisha. Bahkan saat tubuhnya telah terurai di tanah pasca kewafatannya, tulang-tulangnyapun menyimpan energi luar biasa. Dalam 2 Raja-raja 13:21 tertulis bahwa ketika mayat seorang pria menyentuh tulang-tulang Elisa, orang itu hidup kembali. Peristiwa ini menunjukkan bahwa pengurapan Tuhan yang ada pada Elisa tidak hilang, bahkan setelah ia meninggal.

Namun semua kehebatan tersebut bukan menjadikan Elisha manusia yang tidak tersentuh apa yang harus dialami semua manusia yaitu tua, sakit, kematian. Di zaman pemerintahan Raja Yoas (dimulai tahun 836 sM di Yehuda), Elisha yang dipakai Tuhan secara luar biasa disebutkan dalan 2 Raja 13:14 demikian, “Ketika Elisa menderita sakit yang menyebabkan kematiannya, datanglah Yoas, raja Israel, kepadanya dan menangis oleh karena dia, katanya: "Bapaku, bapaku! Kereta Israel dan orang-orangnya yang berkuda”. Kenyataan ini menegaskan pada diri kita bahwa sakt dan mati itu sebuah keniscayaan yang melekati hidup manusia, siapapun itu. Sehat, membutuhkan pasangannya yaitu sakit dan hidup membutuhkan pasangannya yaitu kematian.

Mungkin ada yang bertanya, jika Tuhan YHWH bisa menyembuhkan penyakit Raja Hizkia dan memperpanjang umurnya lima belas tahun (2 Raj 20:6), mengapa untuk seorang nabi yang luar biasa harus sakit dan wafat? Kita harus memahami bahwa berbagai peristiwa ajaib yang Tuhan perlihatkan melalui para nabi sebagai hamba-Nya mulai dari Musa sampai Elisha untuk menegaskan kedaulatan dan kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas. Namun demikian, kedaulatan dan kekuasaan Tuhan digerakkan oleh kehendak-Nya. Jika Tuhan tidak berkehendak, tidak akan ada satupun perbuatan ajaib yang Dia akan lakukan.

Raja Hizkia yang diperpanjang usianya lima belas tahun atau anak perempuan Sunem yang mati dibangkitkan kembali sebelum dikuburkan adalah kehendak Tuhan. Demikian pula dengan berbagai mukjizat dan perbuatan ajaib yang dilakukan Yesus Anak Tuhan dan Juruslamat serta Junjungan kita Yang Ilahi dalam Kitab Injil dilakukan karena Dia berkehendak sebagaimana dikatakan dalam Markus 1:41 demikian, “Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir”.

Kembali kepada sakit dan wafatnya Elisha, pelajaran apa yang bisa kita dapatkan dengan peristiwa ini? Pertama, sakit dan kematian adalah keniscayaan sebagai buah dosa asal sebagaimana dikatakan, “dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu” (Kej 3:19).

Kedua, jangan terobsesi dengan mukjizat dan perbuatan ajaib Tuhan dalam hal kesembuhan. Kita tetap berharap akan mukjizat Tuhan saat mengalami sakit atau ada orang beriman yang sakit kronis karena mukjizat tidak hanya berlaku di zaman para nabi melainkan di masa kini. Namun demikian keputusan ada pada Dia yang memiliki kedaulatan, kuasa dan kehendak. Jika Dia berkehendak menyembuhkan maka bersyukurlah namun jika tidak mengalami kesembuhan janganlah menghakimi diri sendiri dan menghakimi orang lain bahwa ketidaksembuhannya dikarenakan dosa.

Ketiga, janganlah menjadikan kesembuhan sebagai ukuran perkenan Tuhan namun berfokus pada sikap iman kita kepada Tuhan disaat sakit. Bersikaplah seperti Sadrakh, Mesakh, Abednego saat menghadapi anglo berapi, “Jika Tuhan kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu” (Dan 3:17).

No comments:

Post a Comment