Dalam dunia Teologi kita mengenal sejumlah istilah seperti bibliologi (pengetahuan mengenai Kitab Suci), soteriologi (pengetahuan mengenai keselamatan), kristologi (pengetahuan mengenai Kristus/Mesias) , anggelogi (pengetahuan mengenai malaikat) bahkan demonologi (pengetahuan mengenai roh jahat). Sayangnya tidak semua sekolah teologi memasukkan demonologi sebagai sebuah mata pelajaran.
Dalam kajian sebelumnya kita
sudah mendapatkan penjelasan perihal bukti keberadaan roh-roh jahat dalam Kitab
Suci baik Perjanjian Lama atau TaNaKh (Torah,Neviim,Ketuvim) maupun Kitab
Perjanjian Baru khususnya sabda Yesus Juruslamat kita yang menjelaskan perihal
keberadaan mereka. Pada kajian kali ini kita akan mempelajari sebuah kasus
kekuatan roh jahat yang mengendalikan seorang yang gila dan berhasil dibebaskan
oleh Yesus Juruslamat kita.
Markus 5:1 dimulai dengan
kalimat, “Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa. Baru
saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari
pekuburan menemui Dia”. Kalimat “Seorang yang kerasukan roh jahat” adalah
terjemahan dinamis Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) untuk kalimat yang dalam
bahasa Yunaninya, anthropos en pneumati
akatharto. New English Translation (NET) menerjemahkan, a man with an unclean spirit (seseorang
dengan roh jahat). Menarik membaca lokasi dimana orang gila di Gerasa yang
dirasuk roh jahat yaitu kuburan (mnemeion,
Yun). Terasa familiar bukan? Bukankah kita kerap mendengar dari masyarakat
fenomena keberadaan roh-roh jahat yang menghantui bukan hanya ada di lokasi seperti
bangunan lawas (rumah, pabrik, kantor) dan sejumlah tanah tertentu namun juga
kuburan.
Fenomena keberadaan roh jahat
entah yang menampakkan diri ataupun menguasai seseorang (merasuk) dan dikaitkan
dengan keberadaan kuburan/makam ternyata bukan fenomena lokal melainkan
fenomena global dan menjadi bagian kultur sebuah masyarakat, semodern apapun
jenis kehidupan mereka. Mentertawakan fenomena ini dan menuduhnya sebagai
sebuah tahayul tidak akan pernah memadamkan perulangan fenomena ini dibanyak tempat.
Ini hanya soal percaya atau tidak bukan soal ada tidaknya bukti.
Baiklah, kita lanjutkan. Apa yang
terjadi ketika orang gila di pekuburan Gerasa
saat menjumpai Yesus? “Orang itu diam di sana dan tidak ada seorangpun lagi
yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai, karena sudah sering ia
dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya
dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorangpun yang cukup kuat untuk
menjinakkannya. Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit
sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu”(Mark 5:3-5). Dan
roh-roh yang merasuk orang gila dari Gerasa ternyata jumlahnya banyak karena
saat Yesus bertanya, "Siapa namamu?" dijawablah dengan, "Namaku
Legion, karena kami banyak."
Bagi mereka yang masih berusaha
menyangkal fenomena kerasukan roh dengan mencari penjelasan rasional berupa
gejala psikologis yang disalahartikan sebagai kerasukan, bagaimana menjelaskan
rantai putus oleh kekuatan fisik belaka dan kekuatan manusia kerap kepayahan
mengendalikan orang gila dari Gerasa, bahkan batu yang dipukulkan kepada
badannya namun tidak mengalami kesakitan? Mereka yang terdidik dengan
rasionalisme Barat hanya diajari dunia yang bisa disentuh secara empirislah
yang merupakan sebuah fakta. Ketika menjumpai fenomena non empiris, mereka
mencoba mencari penjelasan logis.
Kita mengakui bahwa ada banyak
manipulasi dan penipuan di masyarakat terkait fenomena roh entah kerasukan,
kekuatan gaib, demonstrasi supranatural yang bahkan bisa dilakukan oleh para
pesulap profesional. Namun tidak karena sesuatu tindakan dapat dipalsukan lantas
kita membuat kesimpulan semua tindakan yang bersifat non rasional sebagai
sebuah tindakan manipulatif alias pemalsuan belaka.
Apa yang dituliskan dalam Markus 5:3-5 justru memberikan informasi penting kepada kita perihal memahami fenomena roh jahat yang merasuki seseorang yaitu mengubah kepribadian dan kemampuan fisik seseorang. Beberapa gejala dan fenomena kerasukkan mampu membuat suara seseorang berubah, kekuatannya bertambah, memakan apa yang bukan makanan lazim bagi manusia. Film The Conjuring (Baca:Film "The Conjuring:The Enfield Poltergeist" dan Fenomena Demonik di Sekitar Kita - https://pijarpemikiran.blogspot.com/2016/06/film-conjuring-enfield-poltergeist-dan.html).
yang
terdiri dari beberapa serial dan didasarkan pada penanganan kasus demonik nyata
oleh praktisi demonologi bernama Ed Warren dan istrinya Lorraine Warren di
tahun 1970-1980-an bisa menjadi alat bantu kita berimajinasi dan memahami
kasus-kasus demonik di luar negeri. Karena saya pernah terlibat melakukan
exorcisme dan masih terlibat dalam batas tertentu, film ini menarik bagi saya.
Jika Markus 5:3-5 mendeskripsikan
kepada kita bagaimana gejala dan ciri orang yang dirasuk roh-roh jahat, maka
kita akan melihat bagaimana mengatasi roh-roh jahat dengan memahami apa yang
dilakukan oleh Yesus sendiri sebagaimana dikatakan, “Hai engkau roh jahat!
Keluar dari orang ini!"(Mark 5:8). Hardikan ini menakutkan sehingga legion
yang merasuki orang gila dari Gerasa berkata, "Apa urusan-Mu dengan aku, hai
Yesus, Anak Tuhan Yang Mahatinggi? Demi Tuhan, jangan siksa aku!" (Mar 5:7).
Bahkan legion ini memohon kepada Yesus
agar mereka bisa berpindah kepada babi-babi dengan berkata "Suruhlah kami
pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!"(Mark 5:12). Yesus
mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki
babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari
tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya.
Apa yang terjadi selanjutnya, “Orang
yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya
kerasukan legion” (Mark 5:15). Kuasa Yesus Anak Tuhan dan Juruslamat serta Junjungan
Yang Ilahi lebih unggul dari kuasa roh-roh jahat.
Apa pelajaran penting dari
tindakan Yesus ini? Ya, tidak ada negosiasi dengan kuasa jahat. Mereka harus
keluar dan meninggalkan orang yang dirasukinya. Ini mengajarkan kepada kita
bahwa sebagai seorang rohaniawan Kristen ataupun jemaat Kristiani biasa dan
tidak berjabatan sebagai rohaniawan, kita harus dapat memahami dan mengenali gejala
demonik dan menggunakan otoritas dan kuasa Yesus untuk mengusir kekuatan jahat,
baik yang menghantui rumah, tanah, bangunan bahkan manusia.
Apakah kisah tunduknya kuasa jahat
pada Yesus karena status beliau yang adalah Anak Tuhan Yang Maha Tinggi
sementara kita hanya manusia biasa? Tidak! Sebagaimana Yesus demikianlah
orang-orang beriman mengalirkan kasih dan kuasa Sang Juruslamat sebagaimana
dikatakan, “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka
akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam
bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular dan sekalipun
mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan
meletakkan tangannya atas orang sakit,
dan orang itu akan sembuh."(Mrk 16:17-18)
Tindakan mengusir kuasa jahat
yang merasuk membutuhkan kesalehan dan kesungguhan dimana setiap orang Kristen
terkoneksi dengan Sang Bapa Surgawi di dalam Yesus Sang Putra serta Roh Kudus-Nya.
Jangan sampai seperti kasus anak-anak Skewa yang diterjang kuasa jahat ketika
mereka mengusir dan tidak berhasil serta dipermalukan dengan dikatai, "Yesus
aku kenal, dan Paulus aku ketahui, tetapi kamu, siapakah kamu?"(Kis 19:15).
Artinya, agar kuasa jahat tunduk dan takluk, maka kita sebagai orang Kristiani
harus terkoneksi, terhubung dengan kasih dan kuasa-Nya. Dan kuasa jahat dapat
mengenali apakah kita orang yang terhubung atau tidak terhubung dengan Yesus Sang
Mesias dan Juruslamat.
Akatharton Pneuma (Roh Jahat) dan
Penampakkan Roh (Bagian Pertama)
https://bet-midrash.blogspot.com/2025/04/akatharton-pneuma-roh-jahat-dan.html

No comments:
Post a Comment