Friday, March 27, 2026

AKATHARTON PNEUMA (ROH JAHAT) DAN MENAKLUKAN KUASA ROH JAHAT (BAGIAN KEDUA)

Sumber gambar: hbgospelchapel.com.au

Dalam dunia Teologi kita mengenal sejumlah istilah seperti bibliologi (pengetahuan mengenai Kitab Suci), soteriologi (pengetahuan mengenai keselamatan), kristologi (pengetahuan mengenai Kristus/Mesias) , anggelogi (pengetahuan mengenai malaikat) bahkan demonologi (pengetahuan mengenai roh jahat). Sayangnya tidak semua sekolah teologi memasukkan demonologi sebagai sebuah mata pelajaran.

Dalam kajian sebelumnya kita sudah mendapatkan penjelasan perihal bukti keberadaan roh-roh jahat dalam Kitab Suci baik Perjanjian Lama atau TaNaKh (Torah,Neviim,Ketuvim) maupun Kitab Perjanjian Baru khususnya sabda Yesus Juruslamat kita yang menjelaskan perihal keberadaan mereka. Pada kajian kali ini kita akan mempelajari sebuah kasus kekuatan roh jahat yang mengendalikan seorang yang gila dan berhasil dibebaskan oleh Yesus Juruslamat kita.

Markus 5:1 dimulai dengan kalimat, “Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa. Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia”. Kalimat “Seorang yang kerasukan roh jahat” adalah terjemahan dinamis Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) untuk kalimat yang dalam bahasa Yunaninya, anthropos en pneumati akatharto. New English Translation (NET) menerjemahkan, a man with an unclean spirit (seseorang dengan roh jahat). Menarik membaca lokasi dimana orang gila di Gerasa yang dirasuk roh jahat yaitu kuburan (mnemeion, Yun). Terasa familiar bukan? Bukankah kita kerap mendengar dari masyarakat fenomena keberadaan roh-roh jahat yang menghantui bukan hanya ada di lokasi seperti bangunan lawas (rumah, pabrik, kantor) dan sejumlah tanah tertentu namun juga kuburan.

Fenomena keberadaan roh jahat entah yang menampakkan diri ataupun menguasai seseorang (merasuk) dan dikaitkan dengan keberadaan kuburan/makam ternyata bukan fenomena lokal melainkan fenomena global dan menjadi bagian kultur sebuah masyarakat, semodern apapun jenis kehidupan mereka. Mentertawakan fenomena ini dan menuduhnya sebagai sebuah tahayul tidak akan pernah memadamkan perulangan fenomena ini dibanyak tempat. Ini hanya soal percaya atau tidak bukan soal ada tidaknya bukti.

Baiklah, kita lanjutkan. Apa yang terjadi ketika orang  gila di pekuburan Gerasa saat menjumpai Yesus? “Orang itu diam di sana dan tidak ada seorangpun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai, karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorangpun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu”(Mark 5:3-5). Dan roh-roh yang merasuk orang gila dari Gerasa ternyata jumlahnya banyak karena saat Yesus bertanya, "Siapa namamu?" dijawablah dengan, "Namaku Legion, karena kami banyak."

Bagi mereka yang masih berusaha menyangkal fenomena kerasukan roh dengan mencari penjelasan rasional berupa gejala psikologis yang disalahartikan sebagai kerasukan, bagaimana menjelaskan rantai putus oleh kekuatan fisik belaka dan kekuatan manusia kerap kepayahan mengendalikan orang gila dari Gerasa, bahkan batu yang dipukulkan kepada badannya namun tidak mengalami kesakitan? Mereka yang terdidik dengan rasionalisme Barat hanya diajari dunia yang bisa disentuh secara empirislah yang merupakan sebuah fakta. Ketika menjumpai fenomena non empiris, mereka mencoba mencari penjelasan logis.

Kita mengakui bahwa ada banyak manipulasi dan penipuan di masyarakat terkait fenomena roh entah kerasukan, kekuatan gaib, demonstrasi supranatural yang bahkan bisa dilakukan oleh para pesulap profesional. Namun tidak karena sesuatu tindakan dapat dipalsukan lantas kita membuat kesimpulan semua tindakan yang bersifat non rasional sebagai sebuah tindakan manipulatif alias pemalsuan belaka.

Apa yang dituliskan dalam Markus 5:3-5 justru memberikan informasi penting kepada kita perihal memahami fenomena roh jahat yang merasuki seseorang yaitu mengubah kepribadian dan kemampuan fisik seseorang. Beberapa gejala dan fenomena kerasukkan mampu membuat suara seseorang berubah, kekuatannya bertambah, memakan apa yang bukan makanan lazim bagi manusia. Film The Conjuring (Baca:Film "The Conjuring:The Enfield Poltergeist" dan Fenomena Demonik di Sekitar Kitahttps://pijarpemikiran.blogspot.com/2016/06/film-conjuring-enfield-poltergeist-dan.html).

yang terdiri dari beberapa serial dan didasarkan pada penanganan kasus demonik nyata oleh praktisi demonologi bernama Ed Warren dan istrinya Lorraine Warren di tahun 1970-1980-an bisa menjadi alat bantu kita berimajinasi dan memahami kasus-kasus demonik di luar negeri. Karena saya pernah terlibat melakukan exorcisme dan masih terlibat dalam batas tertentu, film ini menarik bagi saya.

Jika Markus 5:3-5 mendeskripsikan kepada kita bagaimana gejala dan ciri orang yang dirasuk roh-roh jahat, maka kita akan melihat bagaimana mengatasi roh-roh jahat dengan memahami apa yang dilakukan oleh Yesus sendiri sebagaimana dikatakan, “Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!"(Mark 5:8). Hardikan ini menakutkan sehingga legion yang merasuki orang gila dari Gerasa berkata, "Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Tuhan Yang Mahatinggi? Demi Tuhan, jangan siksa aku!" (Mar 5:7).

Bahkan legion ini memohon kepada Yesus agar mereka bisa berpindah kepada babi-babi dengan berkata "Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!"(Mark 5:12). Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya.

Apa yang terjadi selanjutnya, “Orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan legion” (Mark 5:15). Kuasa Yesus Anak Tuhan dan Juruslamat serta Junjungan Yang Ilahi lebih unggul dari kuasa roh-roh jahat.

Apa pelajaran penting dari tindakan Yesus ini? Ya, tidak ada negosiasi dengan kuasa jahat. Mereka harus keluar dan meninggalkan orang yang dirasukinya. Ini mengajarkan kepada kita bahwa sebagai seorang rohaniawan Kristen ataupun jemaat Kristiani biasa dan tidak berjabatan sebagai rohaniawan, kita harus dapat memahami dan mengenali gejala demonik dan menggunakan otoritas dan kuasa Yesus untuk mengusir kekuatan jahat, baik yang menghantui rumah, tanah, bangunan bahkan manusia.

Apakah kisah tunduknya kuasa jahat pada Yesus karena status beliau yang adalah Anak Tuhan Yang Maha Tinggi sementara kita hanya manusia biasa? Tidak! Sebagaimana Yesus demikianlah orang-orang beriman mengalirkan kasih dan kuasa Sang Juruslamat sebagaimana dikatakan, “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya  atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh."(Mrk 16:17-18)

Tindakan mengusir kuasa jahat yang merasuk membutuhkan kesalehan dan kesungguhan dimana setiap orang Kristen terkoneksi dengan Sang Bapa Surgawi di dalam Yesus Sang Putra serta Roh Kudus-Nya. Jangan sampai seperti kasus anak-anak Skewa yang diterjang kuasa jahat ketika mereka mengusir dan tidak berhasil serta dipermalukan dengan dikatai, "Yesus aku kenal, dan Paulus aku ketahui, tetapi kamu, siapakah kamu?"(Kis 19:15). Artinya, agar kuasa jahat tunduk dan takluk, maka kita sebagai orang Kristiani harus terkoneksi, terhubung dengan kasih dan kuasa-Nya. Dan kuasa jahat dapat mengenali apakah kita orang yang terhubung atau tidak terhubung dengan Yesus Sang Mesias dan Juruslamat.


Akatharton Pneuma (Roh Jahat) dan Penampakkan Roh (Bagian Pertama)

https://bet-midrash.blogspot.com/2025/04/akatharton-pneuma-roh-jahat-dan.html


No comments:

Post a Comment