Thursday, March 12, 2026

HIDUP SEGAN MATI TAK MAU (Belajar Dari Jemaat di Sardis)

Sumber foto:privateistanbultours.com

Tujuh Jemaat di Asia Kecil merupakan tujuh gereja di Provinsi Romawi yaitu Asia (meliputi wilayah Asia Kecil, bukan seluruh benua Asia). Yohanes sedang berada di pulau Patmos dalam pembuangan atas perintah Kekaisaran Romawi karena mengajarkan iman Kristen. Ketika di sana ia mendapatkan penglihatan di mana ia melihat dan mendengar Yesus Sang Mesias berbicara kepadanya dan memerintahkannya untuk menulis surat kepada tujuh jemaat tertentu. Ke tujuh jemaat itu adalah: Efesus (Wahyu 2:1-7), Smirna (Wahyu 2:8-11), Pergamus (Wahyu 2:12-17), Tiatira (Wahyu 2:18-29), Sardis (Wahyu 3:1-6), Filadelfia (Wahyu 3:7-13), Laodikia (Wahyu 3:14-22). Julukan pembuka “malaikat jemaat” menurut Origenes dianggap sebagai “malaikat pelindung” namun Ephipanius menganggapnya sebagai “penilik jemaat” atau “penatua”. 

Kelebihan Jemaat Sardis: Ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaian (Why 3:4). Apa yang dimaksudkan pakaian dalam ayat ini? Wahyu 19:8 menuliskan, “Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!"[Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus]”. Meskipun kata Yunani himation dalam Wahyu 3:4 dan businon dalam Wahyu 19:8, namun maknanya sama yaitu sesuatu yang menutupi tubuh rohani dan itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar. Teks ini menegaskan kembali nilai dan kedudukan perbuatan baik dalam kekekalan. Ajaran “hanya oleh iman” (sola fide) dalam Reformasi Protestan, jangan sampai menihilkan, mengecilkan, mengabaikan nilai dan kedudukan perbuatan baik. Perbuatan baik memang bukan untuk memperoleh keselamatan namun setelah diselamatkan wajiblah kita berbuat baik sebagai buah-buah pertobatan

Kelemahan Jemaat Sardis: Dikatakan hidup namun sebenarnya mati (Why 3:1).Apa maksud kalimat hoti zes, kai nekroi ei (kamu hidup namun kamu mati)? Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita telaah sejenak perihal darimanakah asal muasal kematian memasuki kehidupan manusia. Dalam perspektif Kristiani, kematian (lebih tepatnya asal usul kematian yang melekati kehidupan manusia) bukan sekedar takdir namun akibat dari sebuah sebab. Ketika manusia pertama (Adam dan Hawa) diciptakan, Tuhan tidak menjadikan kematian sebagai bagian dari takdirnya.

Ketika manusia pertama telah menerima mandat untuk mengelola bumi, Tuhan memberikan satu larangan yang apabila dilanggar akan menimbulkan kematian (Kej 3:16-17). Berdasarkan pemahaman di atas, kita mendapatkan pengetahuan bahwa kematian adalah akibat dosa dan pelanggaran manusia. Benih maut itu diturunkan dari Adam dan Hawa sampai kepada kita (Rm 6:23).

Berbicara mengenai kematian, Kitab Suci memberikan keterangan bahwa ada dua fase kematian. Kematian pertama adalah terpisahnya roh/nyawa dari tubuh dan kematian kedua adalah penghukuman di neraka sebagaimana dikatakan dalam Wahyu 21:8 sbb, “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua".

Jika ada kematian pertama dan kematian kedua, lalu apa yang dimaksudkan dengan “mati sebelum mengalami kematian?” Wahyu 3:1 mengatakan sbb, "Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!” Kalimat ini menggambarkan jemaat di Sardis yang dikategorikan “mati sebelum mati”. Mereka adalah orang-orang yang mati imannya, mati perbuatan baiknya, mati pengharapannya, mati hasrat dan kerinduannya pada Tuhan, mati persekutuannya, mati ibadahnya.

Banyak orang yang mengaku Kristen secara formal namun dikategorikan “mati sebelum mengalami kematian”, atau dalam peribahasa kita, "hidup segan mati tak mau". Ada banyak orang yang telah mengalami kematian sebelum kematian jasmaninya. Jenis kematian ini adalah kematian rohani yaitu hubungan pribadinya dengan Tuhan telah terputus. Mereka menjalani kehidupan tanpa nilai-nilai ketuhanan yang mengaturnya. Mereka menjauh dari ibadah dan persekutuan dan hidup dalam dosa. Atau mungkin mereka secara ragawi pergi ke rumah ibadah namun tanpa ada kerinduan dan pengenalan pribadi tentang Tuhan. Periksalah kehidupan iman kita, apakah kita baik-baik saja di hadapan Tuhan atau tidak baik-baik saja.

Namun apa arti menjadi jemaat yang hidup sebagai kebalikan jemaat yang mati sebelum mati? Apakah kita menjadi orang yang setiap hari atau begitu sering berkumpul beribadah? Atau mengekspresikan ibadah dengan kemeriahan dan alat musik yang riuh? Tentu saja bukan itu yang dimaksudkan. Menjadi jemaat hidup yang tidak suam-suam kuku adalah senantiasa terkoneksi dengan Tuhan Yang Hidup, Sang Bapa Surgawi di dalam Sang Putra, Juruslamat serta Junjungan Yang Ilahi. Seperti “pohon yang ditanam di tepi aliran air” (Mzm 1:1) dan seperti “pokok anggur dan rantingnya” (Yoh 5:5), demikianlah seharusnya orang beriman terkoneksi dengan Tuhannya. Mereka bukan orang-orang yang sekedar emosional berkotbah dan bernyanyi di gereja namun lemah dan kalah dalam menghadapi persoalan hidup sehari-hari. Mererka bukan orang-orang yang hanya berbicara perihal surga nun jauh di sana namun menghadirkan surga di bumi dengan menegakkan keadilan dan kebenaran. Mereka adalah orang-orang yang tetap mengasihi Tuhan entahkah situasi buruk atau situasi baik.

Sebelum kematian fisik mendatangi dan kematian kedua menghabisi masa depan seseorang, bertobat adalah jalan kembali menuju kehidupan sejati (Why 3:2-3). Bertobat dalam bahasa Ibrani adalah shuv yang artinya “berbalik arah”. Berbalik arah dari jalan yang salah menuju jalan yang benar. Berbalik arah dari pemikiran yang jahat menjadi pemikiran yang baik (metanoia, Yun). Berbalik arah dari perilaku yang jahat menjadi perilaku yang baik (epistrophe, Yun).

Di mana kehidupan yang Anda jalani saat ini? Hidup dalam kehidupan atau mati sebelum kematian? Apakah kita mengalami pertumbuhan dalam pengetahuan iman Kristen dan berbuah kebajikkan dalam kehidupan kita? Atau sebaliknya kita beriringan mengerjakan kesalehan sekaligus kefasikkan? Jika demikian yang kita lakukan, waspadalah karena kita sedang berada dalam kondisi yang disebutkan Yesus, “Engkau dikatakan  hidup padahal engkau mati(Why 3:1). Padahal setelah kematian ragawi akan terjadi kematian kedua yaitu hukuman kekal bagi mereka yang namanya tidak tertulis dalam Kitab Kehidupan (Why 21:8).

MIDRASHIM: KEUTAMAAN MEMBACA KITAB WAHYU

MIDRASHIM: MENINGGALKAN KASIH YANG MULA-MULA (Pelajaran Dari Jemaat di Efesus)

MIDRASHIM: MISKIN NAMUN KAYA (Pelajaran Dari Jemaat di Smirna)

MIDRASHIM: TIDAK MENYANGKALI IMAN (Belajar Dari Jemaat Pergamus)

No comments:

Post a Comment