Friday, March 6, 2026

PUASA DAN INTERVENSI ILAHI

Sumber gambar: churchofjesuschrist.org

Bulan Maret 2026 ini, umat Muslim di dunia termasuk Indonesia sedang menjalankan ibadah Ramadhan yang ditandai dengan berpuasa sebulan lamanya. Bagaimana puasa dalam perspektif Kristiani? Apakah berpuasa itu sesuatu yang wajib atau tidak wajib? Apakah berpuasa hanya perintah untuk umat terdahulu? Jika berpuasa adalah bagian dari iman Kristen, lantas bagaimana seharusnya kita berpuasa?

Kita akan memahami ajaran perihal puasa atau berpuasa dari kisah Ester dalam Kitab Ester Pasal 4:1-17. Kitab Ester merupakan salah satu kitab dalam kelompok kitab-kitab sejarah dalam TaNaKh (Torah, Neviim, Ketuvim) atau Kitab Perjanjian Lama dalam terminologi Kristen. Dalam Tanakh Megillat Eshter (Gulungan Ester) merupakan bagian dari kelompok Ketuvim. Kitab ini merupakan asal mula dan inti dari perayaan Purim yang dirayakan oleh orang Yahudi, khususnya orang Israel modern hingga saat ini.

Secara tradisional, Kitab Ester dibacakan pada perayaan tersebut yang jatuh pada tanggal 14 Adar (sekitar bulan Maret) setiap tahunnya atau tanggal 15 Adar khusus di kota Yerusalem dan kota-kota lain yang bertembok ketika Yosua merebut Kanaan. Selain Kitab Ester, Kitab Shir ha Shirim (Kidung Agung) merupakan satu-satunya kitab dalam TaNaKh atau Perjanjian Lama yang sama sekali tidak menyebutkan nama Tuhan, meski memperlihatkan kuasa Tuhan dalam nasib bangsa Yahudi yang luput dari pemusnahan oleh Haman.

Ester 4:1 dimulai dengan frasa, “Setelah Mordekhai mengetahui segala yang terjadi itu, ia mengoyakkan pakaiannya, lalu memakai kain kabung dan abu,  kemudian keluar berjalan di tengah-tengah kota, sambil melolong-lolong dengan nyaring dan pedih”. Peristiwa apakah gerangan yang dimaksudkan sehingga Mordekhai mengoyakkan pakaian dan mengenakan kain kabung serta melempar abu? Haman ben Ahamedata orang Agag baru saja menerima jabatan dan kedudukan tinggi. Seluruh rakyat memberikan penghormatan dengan sujud menyembah, kecuali Mordekhai, sepupu Ester yang kelak menjadi permaisuri Raja Ahasyweros. Tindakkan Mordekhai menimbulkan kemarahan Haman sehingga dirinya “mencari ikhtiar memunahkan semua orang Yahudi, yakni bangsa Mordekhai itu, di seluruh kerajaan Ahasyweros (Est 3:5-6).

Haman bertindak lebih jauh melalui kekuasaan yang dimilikinya. Ester 3:12-13 menuliskan, “Maka dalam bulan yang pertama pada hari yang ketiga belas dipanggillah para panitera raja, lalu sesuai dengan segala yang diperintahkan Haman, ditulislah surat kepada wakil-wakil raja, kepada setiap bupati yang menguasai daerah dan kepada setiap pembesar bangsa, yakni kepada tiap-tiap daerah menurut tulisannya dan kepada tiap-tiap bangsa menurut bahasanya; surat itu ditulis atas nama raja Ahasyweros dan dimeterai dengan cincin meterai raja. Surat-surat itu dikirimkan dengan perantaraan pesuruh-pesuruh cepat ke segala daerah kerajaan, supaya dipunahkan, dibunuh dan dibinasakan semua orang Yahudi dari pada yang muda sampai kepada yang tua, bahkan anak-anak dan perempuan-perempuan, pada satu hari juga, pada tanggal tiga belas bulan yang kedua belas--yakni bulan Adar --dan supaya dirampas   harta milik mereka".

Nah, demikianlah konteks dan latar belakang mengapa Mordekhai mengoyakkan pakaian dan mengenakan kain kabung serta melempar abu. Sebuah ancaman genosida masal umat Yahudi. Mordekhai meminta sepupunya, Ester untuk melakukan tindakan agar bangsa Yahudi terluput dari pemusnahan masal. Apa yang dilakukan Ester? "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati" (Ester 4:16).

Ester melakukan tindakkan heroik meski berisiko, karena siapapun menghadap raja tanpa ijinnya akan dihukum mati. Ester, sebaliknya berhasil menghadap raja dan mengadukan nasib bangsanya. Hasilnya, pembalikkan nasib dimana justru bukan Mordekhai dan bangsa Yahudi namun Haman yang dihukum raja (Est 7:1-10) dan orang-orang Yahudi mengalahkan para pembenci mereka (Est 9:1).

Dari kisah Ester meminta bangsanya berpuasa selama tiga hari tiga malam kita dapat mendefinisikan makna puasa yaitu tidak makan dan tidak minum (al toklu we al tishtu, “jangan makan dan jangan minum”). Jadi, berpuasa itu bukan mengurangi menu makan, bukan mengurangi daftar belanja, bukan mengurangi daftar keinginan namun tidak makan dan tidak minum selama beberapa hari. Dalam bahasa Ibrani, kata “berpuasa” dipergunakan kata צום (tsom) yang artinya “mengurangi asupan makanan bagi tubuh sebagai bentuk dukacita atau penyesalan” (Theological Words of Old Testament Lexicon, Bible Work 6).

Baik Kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru meletakkan puasa setara dengan doa dan dipergunakan dalam beberapa kesempatan yaitu, Perayaan Yom Kippur atau Hari Pendamaian (Im 23:27), perkabungan atau dukacita (2 Sam 1:12), permohonan kesembuhan atas orang lain (2 Sam 12:16), pengakuan dosa sebuah bangsa (Neh 9:1-2), memohon petunjuk dan jawaban Tuhan (2 Taw 20:1-3)

Demikian pula dalam Kitab Perjanjian Baru, kita membaca bagaimana jemaat mula-mula menjadikan puasa dan doa sebagai satu kesatuan ibadah sebagaimana dikatakan dalam Kisah Rasul 13:1-2 sbb, “Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus. Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: ‘Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka"

Apa yang diajarkan Juruslamat dan Junjungan kita Yang Ilahi perihal berpuasa? Yesus mengontraskan sikap berpuasa orang munafik dan memberikan petunjuk mengenai cara dan laku puasa yang benar dengan bersabda, “Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi” (Mat 6:16). Yesus mengajarkan kerendahan hati sebagai bentuk dan cara atau laku berpuasa yang benar dan berkenan di hadapan Tuhan YHWH Sang Bapa Surgawi. Yesus selalu menonjolkan kerendahan hati sebagai watak dan laku orang yang percaya kepadanya sebagai Mesias dan Putra Tuhan.

Bahkan saat mengajar perihal cara atau laku berdoa yang benar, Yesus bersabda perihal tempat tertutup dan tersembunyi sebagaimana beliau sabdakan: "Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat 6:6).

Jika berpuasa dipahami hanya mengurangi asupan makanan dan daftar belanjaan serta keinginan kita, Yesus tidak mungkin menuntut sebuah perilaku yang nampak yaitu, “minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa”. Orang yang mengurangi menu makan atau daftar belanjaan tidak akan terlihat raut mukanya masam bukan?

Dari penelaahan sabda Tuhan mengenai berpuasa baik dari Kitab Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru khususnya melalui Kitab Ester kita dapat mengambil beberapa kesimpulan penting. Pertama, berpuasa setara dengan doa dan memiliki kuasa yang mengubahkan dari ketidakbaikkan menjadi kebaikkan atau memperkuat niatan kita dihadapan Tuhan entah dalam bentuk pengakuan dosa ataupun ungkapan dukacita. Kedua, berpuasa itu tidak makan dan tidak minum selama beberapa hari yang ditentukan. Meskipun tidak dijelaskan dalam Kitab Suci, saat kita berpuasa, tidak ada salahnya subuh hari kita bisa makan secukupnya sebelum memulai berpuasa. Ketiga, meskipun berpuasa bukan sebuah kewajiban yang mengikat namun bagian dari ibadah Kristiani yang masih berlaku sampai hari ini jika kita memerlukan sebuah tindakan bukan hanya sekedar doa. Itulah sebabnya Yesus bersabda, “Apabila kamu berpuasa” (Mat 6:5) dan “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa (Mat 17:21).

Marilah kita berdoa dan berpuasa sebagai bagian dari ahlak Al Masih atau Halaqah ha Mashiakh.

No comments:

Post a Comment