Bulan Maret 2026 ini, umat Muslim
di dunia termasuk Indonesia sedang menjalankan ibadah Ramadhan yang ditandai
dengan berpuasa sebulan lamanya. Bagaimana puasa dalam perspektif Kristiani?
Apakah berpuasa itu sesuatu yang wajib atau tidak wajib? Apakah berpuasa hanya
perintah untuk umat terdahulu? Jika berpuasa adalah bagian dari iman Kristen,
lantas bagaimana seharusnya kita berpuasa?
Kita akan memahami ajaran perihal
puasa atau berpuasa dari kisah Ester dalam Kitab Ester Pasal 4:1-17. Kitab
Ester merupakan salah satu kitab dalam kelompok kitab-kitab sejarah dalam
TaNaKh (Torah, Neviim, Ketuvim) atau
Kitab Perjanjian Lama dalam terminologi Kristen. Dalam Tanakh Megillat Eshter
(Gulungan Ester) merupakan bagian dari kelompok Ketuvim. Kitab ini merupakan asal mula dan inti dari perayaan Purim
yang dirayakan oleh orang Yahudi, khususnya orang Israel modern hingga saat
ini.
Secara tradisional, Kitab Ester
dibacakan pada perayaan tersebut yang jatuh pada tanggal 14 Adar (sekitar bulan
Maret) setiap tahunnya atau tanggal 15 Adar khusus di kota Yerusalem dan
kota-kota lain yang bertembok ketika Yosua merebut Kanaan. Selain Kitab Ester,
Kitab Shir ha Shirim (Kidung Agung)
merupakan satu-satunya kitab dalam TaNaKh atau Perjanjian Lama yang sama sekali
tidak menyebutkan nama Tuhan, meski memperlihatkan kuasa Tuhan dalam nasib
bangsa Yahudi yang luput dari pemusnahan oleh Haman.
Ester 4:1 dimulai dengan frasa, “Setelah
Mordekhai mengetahui segala yang terjadi itu, ia mengoyakkan pakaiannya, lalu
memakai kain kabung dan abu, kemudian
keluar berjalan di tengah-tengah kota, sambil melolong-lolong dengan nyaring
dan pedih”. Peristiwa apakah gerangan yang dimaksudkan sehingga Mordekhai mengoyakkan
pakaian dan mengenakan kain kabung serta melempar abu? Haman ben Ahamedata
orang Agag baru saja menerima jabatan dan kedudukan tinggi. Seluruh rakyat
memberikan penghormatan dengan sujud menyembah, kecuali Mordekhai, sepupu Ester
yang kelak menjadi permaisuri Raja Ahasyweros. Tindakkan Mordekhai menimbulkan
kemarahan Haman sehingga dirinya “mencari ikhtiar memunahkan semua orang
Yahudi, yakni bangsa Mordekhai itu, di seluruh kerajaan Ahasyweros (Est 3:5-6).
Haman bertindak lebih jauh
melalui kekuasaan yang dimilikinya. Ester 3:12-13 menuliskan, “Maka dalam bulan
yang pertama pada hari yang ketiga belas dipanggillah para panitera raja, lalu sesuai
dengan segala yang diperintahkan Haman, ditulislah surat kepada wakil-wakil
raja, kepada setiap bupati yang menguasai daerah dan kepada setiap pembesar
bangsa, yakni kepada tiap-tiap daerah menurut tulisannya dan kepada tiap-tiap
bangsa menurut bahasanya; surat itu ditulis atas nama raja Ahasyweros dan
dimeterai dengan cincin meterai raja. Surat-surat itu dikirimkan dengan
perantaraan pesuruh-pesuruh cepat ke segala daerah kerajaan, supaya dipunahkan,
dibunuh dan dibinasakan semua orang Yahudi dari pada yang muda sampai kepada
yang tua, bahkan anak-anak dan perempuan-perempuan, pada satu hari juga, pada tanggal
tiga belas bulan yang kedua belas--yakni bulan Adar --dan supaya dirampas harta milik mereka".
Nah, demikianlah konteks dan
latar belakang mengapa Mordekhai mengoyakkan pakaian dan mengenakan kain kabung
serta melempar abu. Sebuah ancaman genosida masal umat Yahudi. Mordekhai
meminta sepupunya, Ester untuk melakukan tindakan agar bangsa Yahudi terluput
dari pemusnahan masal. Apa yang dilakukan Ester? "Pergilah, kumpulkanlah
semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah
makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu
siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku
akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau
terpaksa aku mati, biarlah aku mati" (Ester 4:16).
Ester melakukan tindakkan heroik
meski berisiko, karena siapapun menghadap raja tanpa ijinnya akan dihukum mati.
Ester, sebaliknya berhasil menghadap raja dan mengadukan nasib bangsanya.
Hasilnya, pembalikkan nasib dimana justru bukan Mordekhai dan bangsa Yahudi
namun Haman yang dihukum raja (Est 7:1-10) dan orang-orang Yahudi mengalahkan
para pembenci mereka (Est 9:1).
Dari kisah Ester meminta
bangsanya berpuasa selama tiga hari tiga malam kita dapat mendefinisikan makna
puasa yaitu tidak makan dan tidak minum (al
toklu we al tishtu, “jangan makan dan jangan minum”). Jadi, berpuasa itu
bukan mengurangi menu makan, bukan mengurangi daftar belanja, bukan mengurangi
daftar keinginan namun tidak makan dan tidak minum selama beberapa hari. Dalam
bahasa Ibrani, kata “berpuasa” dipergunakan kata צום (tsom) yang artinya
“mengurangi asupan makanan bagi tubuh sebagai bentuk dukacita atau penyesalan”
(Theological Words of Old Testament
Lexicon, Bible Work 6).
Baik Kitab Perjanjian Lama maupun
Perjanjian Baru meletakkan puasa setara dengan doa dan dipergunakan dalam
beberapa kesempatan yaitu, Perayaan Yom Kippur atau Hari Pendamaian (Im 23:27),
perkabungan atau dukacita (2 Sam 1:12), permohonan kesembuhan atas orang lain (2
Sam 12:16), pengakuan dosa sebuah bangsa (Neh 9:1-2), memohon petunjuk dan
jawaban Tuhan (2 Taw 20:1-3)
Demikian pula dalam Kitab
Perjanjian Baru, kita membaca bagaimana jemaat mula-mula menjadikan puasa dan
doa sebagai satu kesatuan ibadah sebagaimana dikatakan dalam Kisah Rasul 13:1-2
sbb, “Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar,
yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan
Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus. Pada suatu
hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus:
‘Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan
bagi mereka"
Apa yang diajarkan Juruslamat dan
Junjungan kita Yang Ilahi perihal berpuasa? Yesus mengontraskan sikap berpuasa
orang munafik dan memberikan petunjuk mengenai cara dan laku puasa yang benar
dengan bersabda, “Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan
cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa,
melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi” (Mat 6:16). Yesus
mengajarkan kerendahan hati sebagai bentuk dan cara atau laku berpuasa yang
benar dan berkenan di hadapan Tuhan YHWH Sang Bapa Surgawi. Yesus selalu
menonjolkan kerendahan hati sebagai watak dan laku orang yang percaya kepadanya
sebagai Mesias dan Putra Tuhan.
Bahkan saat mengajar perihal cara
atau laku berdoa yang benar, Yesus bersabda perihal tempat tertutup dan
tersembunyi sebagaimana beliau sabdakan: "Tetapi jika engkau berdoa,
masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada
di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan
membalasnya kepadamu” (Mat 6:6).
Jika berpuasa dipahami hanya
mengurangi asupan makanan dan daftar belanjaan serta keinginan kita, Yesus
tidak mungkin menuntut sebuah perilaku yang nampak yaitu, “minyakilah kepalamu
dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang
berpuasa”. Orang yang mengurangi menu makan atau daftar belanjaan tidak akan
terlihat raut mukanya masam bukan?
Dari penelaahan sabda Tuhan
mengenai berpuasa baik dari Kitab Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
khususnya melalui Kitab Ester kita dapat mengambil beberapa kesimpulan penting.
Pertama, berpuasa setara dengan doa
dan memiliki kuasa yang mengubahkan dari ketidakbaikkan menjadi kebaikkan atau
memperkuat niatan kita dihadapan Tuhan entah dalam bentuk pengakuan dosa
ataupun ungkapan dukacita. Kedua,
berpuasa itu tidak makan dan tidak minum selama beberapa hari yang ditentukan.
Meskipun tidak dijelaskan dalam Kitab Suci, saat kita berpuasa, tidak ada
salahnya subuh hari kita bisa makan secukupnya sebelum memulai berpuasa. Ketiga, meskipun berpuasa bukan sebuah
kewajiban yang mengikat namun bagian dari ibadah Kristiani yang masih berlaku
sampai hari ini jika kita memerlukan sebuah tindakan bukan hanya sekedar doa.
Itulah sebabnya Yesus bersabda, “Apabila kamu berpuasa” (Mat 6:5) dan “Jenis
ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa (Mat 17:21).
Marilah kita berdoa dan berpuasa
sebagai bagian dari ahlak Al Masih
atau Halaqah ha Mashiakh.

No comments:
Post a Comment