Friday, June 5, 2026

AJARAN DAN IMAN YANG SEHAT

Sumber Gambar: bible.art

Ketika kita mendengar kata “sehat”, apa yang terpikir dalam benak kita? Ya, tentu saja sebuah kondisi di mana badan atau fisik kita yang jauh dari sakit penyakit, segar, bugar serta sanggup melakukan sejumlah aktifitas yang membutuhkan keluarnya tenaga fisik mulai dari berjalan jauh atau berlari ringan hingga cepat serta mengangkat beban tertentu. Orang yang pucat pasi, lemas dan lemah, sorot mata sayu dan pembawaan fisik ringkih biasa melekati mereka yang sedang mengalami sakit baik sakit sementara maupun sakit yang menahun.

Kata “sehat” tentu tidak hanya disematkan pada “badan” namun bisa disematkan pada “jiwa” atau “pikiran”. Seseorang yang berbicara sendiri dan tersenyum tanpa ada orang yang diajak tertawa dan berbicara, maka orang tersebut bisa disebut tidak sehat jiwa atau pikirannya.

Demikian pula perikop kita hari ini yang terambil dari Titus 1:1-16 berbicara mengenai kesehatan namun bukan badan atau raga serta pikiran melainkan iman dan ajaran sebagaimana dikatakan dalam Titus 1:9, “dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya”. Frasa “ajaran yang sehat” dalam bahasa Yunani, te didaskalia te higionose. Sementara itu Titus 1:13 menuliskan, “Kesaksian itu benar. Karena itu tegorlah mereka dengan tegas supaya mereka menjadi sehat dalam iman”. Frasa “sehat dalam iman” dalam bahasa Yunani, higianosin en te pistei. Kata Yunani higiano (menjadi sehat) diadaptasi ke dalam bahasa Inggris menjadi hygiene yang artinya bersih atau sehat. Selain itu kata hygiene mengadaptasi nama dewi kesembuhan dan kesehatan Yunani bernama Hygiea, anak perempuan Asclepius Sang Dewa Obat

Apa yang dimaksudkan dengan “ajaran yang sehat” dan “iman yang sehat?” Rasul Paulus tidak memberikan definisi dalam suratnya yang dikirimkan kepada Titus, namun jika kita membaca konteks kalimat ini dalam susunan kalimat surat Paulus kita akan mendapat pengertian apa yang dimaksudkan dengan “ajaran yang sehat” dan “iman yang sehat”

Mari kita baca Titus 1:10-11 darimana kalimat “ajaran sehat” disematkan sbb, “Karena sudah banyak orang hidup tidak tertib, terutama di antara mereka yang berpegang pada hukum sunat.  Dengan omongan yang sia-sia mereka menyesatkan pikiran. Orang-orang semacam itu harus ditutup mulutnya, karena mereka mengacau banyak keluarga dengan mengajarkan yang tidak-tidak untuk mendapat untung yang memalukan”. Dari teks ini kita bisa melihat bahwa ada jemaat Kristiani awal yang disesatkan oleh kelompok orang Yahudi yang sudah percaya kepada Yesus Sang Mesias namun mereka menambahkan apa yang tidak diajarkan sehingga “mengacau banyak keluarga” dan “mengajarkan yang tidak-tidak”. Maka frasa te didaskalia te higionose atau ajaran yang sehat adalah ajaran yang tidak membuat kekacauan dan tetap berakar pada apa yang disabdakan oleh Yesus Sang Mesias dan Juruslamat.

Jika kita mengatakan dan mengajarkan Yesus tidak mati disalibkan dan tidak bangkit dari kematian, itu bukan ajaran yang sehat karena bertentangan dengan kesaksian Kitab Injil dan tulisan para rasul. 1 Korintus 15:3-4 menuliskan, “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Mesias (Kristus) telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci”

Jika kita mengatakan dan mengajarkan bahwa Yesus akan datang kembali ke dunia pada tanggal dan bulan serta tahun 2026 (sebagaimana perilaku para bid’ah sebelumnya yang menghitung dan menyesatkan banyak orang) maka ini ajaran tidak sehat karena Yesus tidak pernah mengajarkannya. Matius 24:36 menuliskan, “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri”

Jika kita mengatakan dan mengajarkan bahwa miskin dan sakit adalah dosa dan sehat serta hidup kaya adalah tanda diberkati, itu bukan ajaran yang sehat melainkan ajaran yang cacat dan sakit. Tidak peduli diminati ribuan pendengar dan  menjadi trend pengajaran yang menyenangkan telinga orang. Namun Yesus tidak pernah mengajarkan demikian. Lukas 4:18 menuliskan, ”Roh YHWH ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin..”. Dikatakan pula dalam Matius 25:40, “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”

Dengan demikian, ajaran yang sehat adalah ajaran yang tidak cacat dan rusak karena bertentangan dengan apa yang diperintahkan Yesus dan para rasulnya.

Bagaimana dengan frasa higianosin en te pistei alias “sehat dalam iman?” Mari kita baca Titus 1:13 secara utuh darimana frasa “sehat dalam iman” berasal dan dengan menyertakan ayat 14 sbb, “Kesaksian itu benar. Karena itu tegorlah mereka dengan tegas supaya mereka menjadi sehat dalam iman, dan tidak lagi mengindahkan dongeng-dongeng Yahudi dan hukum-hukum manusia yang berpaling dari kebenaran”. Teks ini menjelaskan bahwa sejumlah orang Kristen perdana khususnya dari kalangan Yahudi masih prosexontes Ioudaikois muthois alias menaruh perhatian pada dongeng-dongeng Yahudi tinimbang Firman Tuhan. Tentu saja berbagai ilustrasi, perumpamaan, dongengan baik jika diletakkan pada kedudukannya namun jika menggantikan Firman Tuhan sebagai sumber kebenaran, tentu menjadi bermasalah. Iman yang sehat adalah iman yang berfokus pada sabda Tuhan YHWH Sang bapa Surgawi dalam TaNaKh (Torah, Neviim, Ketuvim), Kitab Perjanjian Lama dan ajaran Yesus Sang Mesias, Juruslamat dan Junjungan Yang Ilahi.

Ketika keputusan kita lebih ditentukan oleh nasihat perdukunan dan tahayul, tentu saja iman kita tidak sehat. Meletakkan sapu lidi di sudut ruangan saat kehamilan seorang wanita atau membawa senjata tajam sebagai senjata melawan roh-roh jahat, tentu saja mengesampingkan kuasa Yesus Sang Juruslamat yang berkuasa atas roh-roh jahat.

Ketika kita menyangkal pengobatan modern dan rumah sakit ketika jatuh sakit dan hanya mengandalkan doa dan iman, tentu sikap ini bukan iman yang sehat. Yesus tidak pernah melarang orang berobat pada tabib meskipun Yesus selalu membuat mukjizat kesembuhan. Yesus bersabda dalam Matius 9:12, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit”. Demikian pula dikatakan dalam 1 Timotius 5:23, “Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah”. Bahkan di sorga terdapat daun yang menyembuhkan bangsa-bangsa sebagaimana dikatakan Wahyu 22:2, “…daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa”

Sebagaimana kesehatan tidak datang dengan sendirinya, melainkan diupayakan dengan mengonsumsi makanan bergizi dan memiliki pola hidup bersih serta mendisiplin tubuh melalui olah raga sesuai dengan kapasitas dan usia, demikian pula kesehatan ajaran dan iman.

Salah satu cara menyehatkan ajaran dan iman adalah kesediaan untuk dengan rendah hati mengevaluasi dan mengawasi diri kita sendiri, baik ucapan, tindakan, ajaran, keputusan.  1 Timotius 4:16 menuliskan, “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau”. Ya, epeche seauto kai te didaskalia (awasilah dirimu dan ajaranmu) menjadi salah satu kontrol membuat ajaran dan iman kita sehat.

Apakah yang kita ajarkan atau ajaran yang kita dengar ada landasannya dalam Kitab Suci dan sabda Yesus? Apakah iman yang selama ini kita hayati apakah iman buta yang hanya menengadah ke atas namun lupa menunduk ke bawah kepada realitas hidup keseharian dimana kita harus menolong orang lain dan bukan hanya sibuk dan asyik masyuk melantunkan nama Tuhan dalam doa dan pujian?

Kiranya Tuhan menolong kita untuk memiliki ajaran dan iman yang sehat

No comments:

Post a Comment