Ketika kita mendengar kata “sehat”, apa yang terpikir dalam benak kita? Ya, tentu saja sebuah kondisi di mana badan atau fisik kita yang jauh dari sakit penyakit, segar, bugar serta sanggup melakukan sejumlah aktifitas yang membutuhkan keluarnya tenaga fisik mulai dari berjalan jauh atau berlari ringan hingga cepat serta mengangkat beban tertentu. Orang yang pucat pasi, lemas dan lemah, sorot mata sayu dan pembawaan fisik ringkih biasa melekati mereka yang sedang mengalami sakit baik sakit sementara maupun sakit yang menahun.
Kata “sehat” tentu tidak hanya
disematkan pada “badan” namun bisa disematkan pada “jiwa” atau “pikiran”.
Seseorang yang berbicara sendiri dan tersenyum tanpa ada orang yang diajak
tertawa dan berbicara, maka orang tersebut bisa disebut tidak sehat jiwa atau
pikirannya.
Demikian pula perikop kita hari ini
yang terambil dari Titus 1:1-16 berbicara mengenai kesehatan namun bukan badan
atau raga serta pikiran melainkan iman dan ajaran sebagaimana dikatakan dalam
Titus 1:9, “dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan
ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu
dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya”. Frasa “ajaran yang sehat” dalam
bahasa Yunani, te didaskalia te higionose.
Sementara itu Titus 1:13 menuliskan, “Kesaksian itu benar. Karena itu
tegorlah mereka dengan tegas supaya mereka menjadi sehat dalam iman”. Frasa
“sehat dalam iman” dalam bahasa Yunani, higianosin
en te pistei. Kata Yunani higiano
(menjadi sehat) diadaptasi ke dalam bahasa Inggris menjadi hygiene yang artinya bersih atau sehat. Selain itu kata hygiene mengadaptasi nama dewi
kesembuhan dan kesehatan Yunani bernama Hygiea,
anak perempuan Asclepius Sang Dewa Obat
Apa yang dimaksudkan dengan
“ajaran yang sehat” dan “iman yang sehat?” Rasul Paulus tidak memberikan
definisi dalam suratnya yang dikirimkan kepada Titus, namun jika kita membaca
konteks kalimat ini dalam susunan kalimat surat Paulus kita akan mendapat
pengertian apa yang dimaksudkan dengan “ajaran yang sehat” dan “iman yang
sehat”
Mari kita baca Titus 1:10-11
darimana kalimat “ajaran sehat” disematkan sbb, “Karena sudah banyak orang
hidup tidak tertib, terutama di antara mereka yang berpegang pada hukum
sunat. Dengan omongan yang sia-sia
mereka menyesatkan pikiran. Orang-orang semacam itu harus ditutup mulutnya,
karena mereka mengacau banyak keluarga dengan mengajarkan yang tidak-tidak
untuk mendapat untung yang memalukan”. Dari teks ini kita bisa melihat bahwa
ada jemaat Kristiani awal yang disesatkan oleh kelompok orang Yahudi yang sudah
percaya kepada Yesus Sang Mesias namun mereka menambahkan apa yang tidak
diajarkan sehingga “mengacau banyak keluarga” dan “mengajarkan yang
tidak-tidak”. Maka frasa te didaskalia te
higionose atau ajaran yang sehat adalah ajaran yang tidak membuat kekacauan
dan tetap berakar pada apa yang disabdakan oleh Yesus Sang Mesias dan
Juruslamat.
Jika kita mengatakan dan
mengajarkan Yesus tidak mati disalibkan dan tidak bangkit dari kematian, itu
bukan ajaran yang sehat karena bertentangan dengan kesaksian Kitab Injil dan
tulisan para rasul. 1 Korintus 15:3-4 menuliskan, “Sebab yang sangat penting
telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Mesias
(Kristus) telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia
telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai
dengan Kitab Suci”
Jika kita mengatakan dan mengajarkan
bahwa Yesus akan datang kembali ke dunia pada tanggal dan bulan serta tahun
2026 (sebagaimana perilaku para bid’ah
sebelumnya yang menghitung dan menyesatkan banyak orang) maka ini ajaran tidak
sehat karena Yesus tidak pernah mengajarkannya. Matius 24:36 menuliskan, “Tetapi
tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di
sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri”
Jika kita mengatakan dan
mengajarkan bahwa miskin dan sakit adalah dosa dan sehat serta hidup kaya adalah
tanda diberkati, itu bukan ajaran yang sehat melainkan ajaran yang cacat dan
sakit. Tidak peduli diminati ribuan pendengar dan menjadi trend pengajaran yang menyenangkan
telinga orang. Namun Yesus tidak pernah mengajarkan demikian. Lukas 4:18
menuliskan, ”Roh YHWH ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk
menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin..”. Dikatakan pula dalam
Matius 25:40, “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari
saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”
Dengan demikian, ajaran yang
sehat adalah ajaran yang tidak cacat dan rusak karena bertentangan dengan apa
yang diperintahkan Yesus dan para rasulnya.
Bagaimana dengan frasa higianosin en te pistei alias “sehat
dalam iman?” Mari kita baca Titus 1:13 secara utuh darimana frasa “sehat dalam
iman” berasal dan dengan menyertakan ayat 14 sbb, “Kesaksian itu benar. Karena
itu tegorlah mereka dengan tegas supaya mereka menjadi sehat dalam iman, dan
tidak lagi mengindahkan dongeng-dongeng Yahudi dan hukum-hukum manusia yang
berpaling dari kebenaran”. Teks ini menjelaskan bahwa sejumlah orang Kristen
perdana khususnya dari kalangan Yahudi masih prosexontes Ioudaikois muthois alias menaruh perhatian pada
dongeng-dongeng Yahudi tinimbang Firman Tuhan. Tentu saja berbagai ilustrasi,
perumpamaan, dongengan baik jika diletakkan pada kedudukannya namun jika
menggantikan Firman Tuhan sebagai sumber kebenaran, tentu menjadi bermasalah.
Iman yang sehat adalah iman yang berfokus pada sabda Tuhan YHWH Sang bapa
Surgawi dalam TaNaKh (Torah, Neviim, Ketuvim), Kitab Perjanjian Lama dan ajaran
Yesus Sang Mesias, Juruslamat dan Junjungan Yang Ilahi.
Ketika keputusan kita lebih
ditentukan oleh nasihat perdukunan dan tahayul, tentu saja iman kita tidak
sehat. Meletakkan sapu lidi di sudut ruangan saat kehamilan seorang wanita atau
membawa senjata tajam sebagai senjata melawan roh-roh jahat, tentu saja
mengesampingkan kuasa Yesus Sang Juruslamat yang berkuasa atas roh-roh jahat.
Ketika kita menyangkal pengobatan
modern dan rumah sakit ketika jatuh sakit dan hanya mengandalkan doa dan iman,
tentu sikap ini bukan iman yang sehat. Yesus tidak pernah melarang orang
berobat pada tabib meskipun Yesus selalu membuat mukjizat kesembuhan. Yesus
bersabda dalam Matius 9:12, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi
orang sakit”. Demikian pula dikatakan dalam 1 Timotius 5:23, “Janganlah lagi
minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu
terganggu dan tubuhmu sering lemah”. Bahkan di sorga terdapat daun yang
menyembuhkan bangsa-bangsa sebagaimana dikatakan Wahyu 22:2, “…daun pohon-pohon
itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa”
Sebagaimana kesehatan tidak
datang dengan sendirinya, melainkan diupayakan dengan mengonsumsi makanan
bergizi dan memiliki pola hidup bersih serta mendisiplin tubuh melalui olah
raga sesuai dengan kapasitas dan usia, demikian pula kesehatan ajaran dan iman.
Salah satu cara menyehatkan
ajaran dan iman adalah kesediaan untuk dengan rendah hati mengevaluasi dan
mengawasi diri kita sendiri, baik ucapan, tindakan, ajaran, keputusan. 1 Timotius 4:16 menuliskan, “Awasilah dirimu
sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan
berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang
mendengar engkau”. Ya, epeche seauto kai
te didaskalia (awasilah dirimu dan ajaranmu) menjadi salah satu kontrol
membuat ajaran dan iman kita sehat.
Apakah yang kita ajarkan atau
ajaran yang kita dengar ada landasannya dalam Kitab Suci dan sabda Yesus?
Apakah iman yang selama ini kita hayati apakah iman buta yang hanya menengadah
ke atas namun lupa menunduk ke bawah kepada realitas hidup keseharian dimana
kita harus menolong orang lain dan bukan hanya sibuk dan asyik masyuk melantunkan
nama Tuhan dalam doa dan pujian?
Kiranya Tuhan menolong kita untuk
memiliki ajaran dan iman yang sehat

No comments:
Post a Comment