Friday, March 20, 2026

MEMAAFKAN DAN MENGAMPUNI

Sumber gambar: sermoncentral.com

Tanggal 21 Maret 2026 besok, umat Muslim akan merayakan Iedul Fitri. Sekalipun ada yang sudah mendahului mengakhiri puasa dan merayakannya hari ini (20 Maret 2026). Tradisi yang sudah berlangsung berabad-abad, usai menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan akan diakhiri dengan sholat Iedul Fitri dan mengucapkan salam dan maaf dengan sesama Muslim, mulai dari anggota keluarga hingga tetangga.

Kalimat yang diucapkan mulai dari bahasa Arab Minal aidin wal faizin (kiranya menjadi orang yang kembali ke fitrah dan menang) atau jika di Arab Saudi (dan diadopsi juga di Indonesia) mengucapkan Taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya karim (semoga Allah menerima kami dan kamu, wahai Allah Yang Maha Mulia, terimalah) dan biasanya ditambahi kalimat mohon maaf lahir batin. Selebihnya, warisan kultural yang menghiasai rumah tangga Muslim di Indonesia yaitu mulai dari makan sayur disertai kupat yang berisikan beras dimasukkan dalam anyaman daun kelapa.

Sejak saya tinggal di kota saya dan melayani sebagai rohaniawan Kristen (pendeta) dan melakukan pelayanan umum di pemerintahan dengan menjadi narasumber di beberapa bidang pengetahuan di luar teologi, saya dan keluarga memiliki kebiasaan yang tetap kami kerjakan sampai hari ini di saat Iedul Fitri yaitu selain memberikan salam dan ucapan hari raya secara virtual, saya dan keluarga akan menyambangi tetangga, saudara, sahabat untuk memberikan ucapan selamat.

Kepada yang lebih muda saya tidak akan mengucapkan selamat dengan tata krama, tetapi standar memberikan ucapan selamat hari raya. Kepada yang lebih tua atau status sosialnya lebih tinggi saya akan mengucapkan selamat dengan tata krama tertentu.

Ucapan yang saya sampaikan selalu dalam bahasa Jawa (entah di awal atau hendak berpamitan setelah berbincang) yang kalau diterjemahkan kurang lebih demikian: Permisi saya hendak menyampaikan beberapa hal berikut: Pertama, bersilaturahmi dan turut berbahagia serta mengucapkan selamat Iedul Fitri. Kedua, apabila saya dan keluarga selama bergaul (sebagai tetangga, saudara, sahabat) ada kekeliruan dalam ucapan dan perbuatan, mohon maaf. Ketiga, karena masih ada keperluan untuk mendatangi saudara yang lain, saya memohon pamit. Biasanya yang status sosialnya lebih tinggi dan terpelajar akan menjawab dengan baik. Ada yang menjawab secukupnya karena kekurangan kosa kata

Selain adab dan tata krama saat hari raya, beberapa hari sebelum hari raya saya akan membagikan beberapa bingkisan (maaf, bukan bermaksud riya) kepada orang-orang yang biasa saya mintai pertolongan dan yang kurang beruntung secara ekonomi.

Pertanyaanya, mengapa pula saya harus mengucapkan mohon maaf lahir batin? Dalilnya begini. Kalimat itu saya ucapkan setelah saya memberikan selamat berbahagia untuk perayaan Iedul Fitri. Kalimat tersebut tidak saya ucapkan di awal tapi kedua. Artinya ucapan maaf adalah penyerta simbolik di hari perayaan, bukan semata-mata saya memiliki kesalahan yang meminta dimaafkan (sekalipun tersirat ada tujuan ini karena setiap manusia tidak luput dari salah).

Selanjutnya, saya mengucapkan mohon maaf lahir batin karena permohonan maaf adalah ajaran universal dan juga ajaran Gusti Yesus Kristus (Adon Yahshua/Yeshua ha Mashiakh). Bukankah dalam Doa Bapa kami kita diajarkan, Ampunilah kesalahan kami sebagaimana kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami? (Mat 6:11).

Ya, memaafkan dan mengampuni adalah ajaran Kristiani yang mendasar selain mengasihi Tuhan dan sesama (Mat 22:37-40). Itulah sebabnya Yesus Sang Mesias dan Juruslamat kita menganggap doa kita tidak akan bermanfaat dan didengar Tuhan jika belum mengampuni sesama kita sebagaimana dikatakan, “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat 5:23-24).

Memaafkan dan mengampuni itu membutuhkan kekuatan dari dalam. Hanya orang yang kuat yang mampu memaafkan dan mengampuni. Ingatlah kembali apa yang dialami Juruslamat dan Junjungan kita Yang Ilahi menjelang kewafatannya di kayu salib, dimana sebait ucapan keluar dari mulut beliau, πάτερ, ἄφες αὐτοῖς, ou γὰρ οἴδασιν τί ποιοῦσιν - Pater, aphes autois, ou gar oidasin ti poiousin  (Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat - Luk 23:34). Bagaimana mungkin kalimat tersebut dapat muncul dari seseorang yang telah mengalami hinaan dan hukuman yang tidak setimpal dengan apa yang dikerjakannya? Apakah Yesus mencuri sehingga layak dihukum? Apakah Yesus merampok dan membunuh sehingga harus dieksekusi mati? Bahkan sebelum penangkapan dan eksekusi, Yesus menjawab para prajurit Romawi yang hendak menangkapnya, “Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Tuhan, dan kamu tidak menangkap Aku” (Mat 26:55).

Anehnya, bukan kalimat ratapan akan rasa sakit dan meminta belas kasih agar terbebas dari hukuman yang menyiksa badan luar biasa namun justru yang keluar adalah kata-kata pengampunan. Bukankah itu sebuah kekuatan yang melampai sebuah ajaran? Orang yang mengalami luka dan sengsara di saat kematiannya, belum tentu ingat untuk mengampuni orang yang telah memperlakukannya secara tidak adil. Hanya kesedihan dan kekalutan bahkan meresa terdzolimi yang mungkin dipikirkannya. Namun Yesus melampaui batasan tersebut.

Dalam rasa sakit dan maut yang siap memisahkan roh dari tubuh, beliau menyampaikan kata-kata pengampunan. Ucapan Yesus di atas kayu salib memberikan pelajaran penting bagi kita untuk direnungkan. Pertama, mengampuni membutuhkan keberanian. Orang yang mengampuni bukanlah orang yang penakut dan takut menghadapi hukuman. Orang yang mengampuni adalah orang yang berani melawan dan melampaui batasan dirinya. Dia harus bergumul melawan keinginan dirinya untuk marah dan memusuhi serta mendendam pada orang yang menyakiti dirinya.

Kedua, pengampunan membutuhkan kekuatan. Orang yang mengampuni adalah orang yang kuat, bukan orang yang lemah. Dia memiliki kekuatan untuk melawan egosentrismenya yang menuntut balasan terhadap orang yang merancangkan kejahatan terhadap dirinya. Pengampunan digerakkan oleh kasih dan kekuatan Ilahi yang bukan hanya bersumber dari kekuatan diri sendiri.

Ketiga, pengampunan membebaskan. Mereka yang memberikan pengampunan pada orang yang bersalah dan meminta maaf adalah orang yang membebaskan dirinya dari belenggu kepahitan dan dendam yang merusak jiwa dan tubuh.

Peristiwa penyaliban dan kematian Yesus mungkin dianggap sebuah kegagalan dan kekalahan. Teriakan Yesus saat hendak menyerahkan nyawa-Nya kepada Sang Bapa mungkin dianggap kelemahan. Namun jika kita memahami dengan sungguh dari kedalaman hati, pernyataan Yesus di kayu salib yang memintakan pengampunan bagi orang-orang yang menyalibkan-Nya merefleksikan kekuatan yang luar biasa.

Yesus tidak sedang memperlihatkan kelemahan dan kekalahan. Sebaliknya Dia sedang memperlihatkan kekuatan dalam kelemahan. Kekuatan untuk memberikan pengampunan. Yesus telah memberikan teladan keberanian dan kekuatan melalui tindakkan memintakan pengampunan pada orang yang menyalibkan-Nya. Bagaimana dengan kita?

Beberapa hari ke depan, kita akan memasuki perayaan Pesakh Ibrani (14 Nisan 5786 - 1 Apr 2026) dan juga Paskah Kristiani umum (5 April 2026). Terlepas Pesakh Ibrani lebih menekankan pembebasan perbudakan di Mesir dan sengsara dan kewafatan Yesus di kalangan Mesianik Yudaisme dan Paskah Kristiani menekankan kemenangan karena kebangkitan Yesus dari kewafatan, marilah kita mempersiapkan hati dan pikiran kita untuk memasuki perayaan suci dan merenungkan kembali ajaran dan teladan Sang Juruslamat dan Junjungan Agung kita Yang Ilahi selain sengsara dan kebangkitan-Nya dari kematian di kayu salib hina Golgota.

No comments:

Post a Comment