Friday, July 31, 2026

APAKAH YESUS MENGENAL KITA?

Sumber foto:https://bible.art

Bagi para pembaca karya sastra, entah novel atau cerpen tentu tidak asing dengan nama A.A. Navis. Namanya tidak bisa dilepaskan dari sebuah cerpen berjudul, Robohnya Surau Kami. Novel ini sendiri ditulis tahun 1956 dan masih dicetak ulang sampai hari ini.

Salah satu penggalan kisahnya mengenai seorang yang menganggap dirinya saleh dan kebetulan namanya Haji Saleh, seorang tokoh yang merasa telah menjalani hidup dengan penuh ibadah. Namun, setelah meninggal dunia, ia justru mendapati dirinya berada di neraka bersama orang-orang yang sama-sama rajin beribadah. Mereka kemudian mempertanyakan keputusan tersebut kepada Tuhan bahkan ada yang menghasut agar berdemonstrasi bahkan revolusi kepada Tuhan. Maklum orang ini semasa hidup di dunia pernah menjadi pemimpin gerakan revolusioner.

Dalam penggalan percakapan antara Tuhan dengan orang yang mendakwa dirinya saleh ada yang menarik.

‘Apa kerjamu di dunia?’

‘Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.’

‘Lain?’

‘Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.’

‘Lain.’

‘Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.’

Semua hal yang diajukan tersebut tidak membuat Tuhan terkesan. Sebaliknya Dia berkata, “Kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain yang mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja.”

Melalui dialog yang sederhana tetapi penuh makna, Navis mengajak pembaca memikirkan kembali hubungan antara ibadah dan tanggung jawab sosial. Kritiknya terasa tajam, tetapi disampaikan lewat kisah yang mengalir sehingga pembaca dapat menarik maknanya sendiri.

Sampai di sini, saya berharap Anda dapat mengerti arah kritik tajam penulis cerpen ini. Ya, sebuah perilaku kehidupan beragama yang egois. Agama hanya untuk agama. Ibadah hanya untuk ibadah. Namun kita abai terhadap kehidupan nyata di dunia dan panggilan sebagai orang yang menyembah Tuhan yaitu menjadi sesama bagi manusia lain dan membawa kebermanfaatan bagi kehidupan di dunia yang ditinggali.

Saya fikir cerita fiksi tersebut bukan hanya berbicara perihal perilaku beragama salah satu agama saja tapi semua penganut agama. Kesombongan rohani dan kesalehan individual yang tidak berbanding lurus dengan kesalehan sosial adalah problem semua umat beragama.

Kisah yang diangkat dalam cerpen ini mengingatkan saya pada sabda Yesus, “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tu(h)an, Tu(h)an, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu. Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Mat 7:22-23). Bagaimana bisa? Bukankah Yesus memerintahkan kita mengusir setan dan roh-roh jahat dalam nama-Nya? Bukankah Yesus berkata bahwa kita akan melakukan perbuatan yang lebih besar dari apa yang pernah beliau perbuat di dunia? Mengapa justru mereka, orang-orang ini justru dikatakan, hoti oudipote egnon himas (aku tidak kenal kalian semua), apochoreite ap emou (enyahlah daripadaku), hoi ergazomenoi ten anomian (wahai pembuat kejahatan)?

Jawabannya pada Matius 7: 22, Hou pas ho legon moi, Kyrie, Kyrie eiselusetai eis ten basilean ton ourano (Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tu(h)an, Tu(h)an! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga), all ho poion to thelema tou patros mou tou en tois ouranois (melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga). Apa arti pernyataan tersebut? Bukankah kita sudah diajar dan menjadi doktrin utama Kristen Reformasi selama ini bahwa perbuatan baik bukan prasayarat masuk sorga? Memang benar, kita tidak diselamatkan dari maut dan beroleh hidup kekal berdasarkan banyaknya amalan baik yang telah kita lakukan melainkan oleh Anugrah Tuhan Sang Bapa yang telah memberikan Anak-Nya untuk menjadi Penebus kutuk dosa dan yang diterima dengan iman (Yoh 3:16, Ef 2:8).

Namun demikian, sebagai orang yang telah ditebus dan diselamatkan kita diperintahkan untuk menghasilkan “buah-buah pertobatan” sebagaimana dikatakan, “Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan” (Mat 3:8). Muara akhir ibadah dan belajar sabda Tuhan adalah berbuat kebaikan dan kebajikan sebagaimana dikatakan 2 Timotius 3:16, “Segala tulisan yang diilhamkan Tuhan memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Tuhan diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik”. Bahkan saat kita beristirahat dalam debu, siapa lagi yang menemani jika bukan perbuatan baik kita sebagaimana dikatakan Wahyu 14:13, “Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: "Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan sejak sekarang ini." "Sungguh," kata Roh,"supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka."

Oleh karena itu, marilah kita menjadi orang-orang yang bukan hanya tekun beribadah dan menjalani kesalehan individual namun gagal menjalankan kesalehan sosial. Orang-orang Kristen harus berbuat banyak bagi dunia dan sesama. Bukan sekedar membuat mereka berpaling kepada Kristus dan menjadikan mereka anggota gereja melainkan memperlihatkan kasih dan kuasa Kristus melalui karya pelayanan di segala bidang kehidupan (sosial, budaya, ekonomi, politik) sehingga mereka berjumpa dengan Kristus dan mengambil keputusan untuk mengikut Dia atau menolak-Nya.

Sumber foto:https://bible.art

Masih ingatkah kita tentang perumpamaan Yesus memisahkan kambing dan domba pada penghakiman terakhir. Domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Dan Yesus berkata kepada para domba di sebelah kanannya, “Terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia  dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku” (Mat 25:33-36). Bagaimana bisa? Ya, pertanyaan ini juga menjadi pertanyaan para domba yang diberi kemuliaan tersebut “Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?” (Mat 25:37-39). Apa jawab Yesus? “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40).

Mari kita pergi keluar dari rumah ibadah yang nyaman di mana kita bertemu dengan orang-orang yang satu iman, satu pemikiran, satu kesenangan dan pergilah ke dalam dunia nyata dimana Tuhan menempatkan kita dan menebarkan kasih dan kuasa Kristus melalui talenta dan karunia yang diberikan kepada kita melalui status dan kedudukan kita masing-masing, entah sebagai guru, aktivis sosia budaya, direktur perusahaan, petani, pedagang dll

No comments:

Post a Comment