Bagi para pembaca karya sastra,
entah novel atau cerpen tentu tidak asing dengan nama A.A. Navis. Namanya tidak
bisa dilepaskan dari sebuah cerpen berjudul, Robohnya Surau Kami. Novel ini sendiri ditulis tahun 1956 dan masih
dicetak ulang sampai hari ini.
Salah satu penggalan kisahnya
mengenai seorang yang menganggap dirinya saleh dan kebetulan namanya Haji
Saleh, seorang tokoh yang merasa telah menjalani hidup dengan penuh ibadah.
Namun, setelah meninggal dunia, ia justru mendapati dirinya berada di neraka
bersama orang-orang yang sama-sama rajin beribadah. Mereka kemudian
mempertanyakan keputusan tersebut kepada Tuhan bahkan ada yang menghasut agar
berdemonstrasi bahkan revolusi kepada Tuhan. Maklum orang ini semasa hidup di
dunia pernah menjadi pemimpin gerakan revolusioner.
Dalam penggalan percakapan antara
Tuhan dengan orang yang mendakwa dirinya saleh ada yang menarik.
‘Apa kerjamu di dunia?’
‘Aku menyembah Engkau selalu,
Tuhanku.’
‘Lain?’
‘Setiap hari, setiap malam.
Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.’
‘Lain.’
‘Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.’
Semua hal yang diajukan tersebut
tidak membuat Tuhan terkesan. Sebaliknya Dia berkata, “Kenapa engkau biarkan
dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kau
biarkan orang lain yang mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih
suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau
negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena
beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku
menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadat. Bagaimana engkau bisa
beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja,
hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja.”
Melalui dialog yang sederhana
tetapi penuh makna, Navis mengajak pembaca memikirkan kembali hubungan antara
ibadah dan tanggung jawab sosial. Kritiknya terasa tajam, tetapi disampaikan
lewat kisah yang mengalir sehingga pembaca dapat menarik maknanya sendiri.
Sampai di sini, saya berharap
Anda dapat mengerti arah kritik tajam penulis cerpen ini. Ya, sebuah perilaku
kehidupan beragama yang egois. Agama hanya untuk agama. Ibadah hanya untuk
ibadah. Namun kita abai terhadap kehidupan nyata di dunia dan panggilan sebagai
orang yang menyembah Tuhan yaitu menjadi sesama bagi manusia lain dan membawa
kebermanfaatan bagi kehidupan di dunia yang ditinggali.
Saya fikir cerita fiksi tersebut
bukan hanya berbicara perihal perilaku beragama salah satu agama saja tapi
semua penganut agama. Kesombongan rohani dan kesalehan individual yang tidak
berbanding lurus dengan kesalehan sosial adalah problem semua umat beragama.
Kisah yang diangkat dalam cerpen
ini mengingatkan saya pada sabda Yesus, “Pada hari terakhir banyak orang akan
berseru kepada-Ku: Tu(h)an, Tu(h)an, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan
mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak
pernah mengenal kamu. Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
(Mat 7:22-23). Bagaimana bisa? Bukankah Yesus memerintahkan kita mengusir setan
dan roh-roh jahat dalam nama-Nya? Bukankah Yesus berkata bahwa kita akan
melakukan perbuatan yang lebih besar dari apa yang pernah beliau perbuat di
dunia? Mengapa justru mereka, orang-orang ini justru dikatakan, hoti oudipote egnon himas (aku tidak
kenal kalian semua), apochoreite ap emou
(enyahlah daripadaku), hoi ergazomenoi
ten anomian (wahai pembuat kejahatan)?
Jawabannya pada Matius 7: 22, Hou pas ho legon moi, Kyrie, Kyrie
eiselusetai eis ten basilean ton ourano (Bukan setiap orang yang berseru
kepada-Ku: Tu(h)an, Tu(h)an! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga), all ho poion to thelema tou patros mou tou
en tois ouranois (melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di
sorga). Apa arti pernyataan tersebut? Bukankah kita sudah diajar dan menjadi
doktrin utama Kristen Reformasi selama ini bahwa perbuatan baik bukan
prasayarat masuk sorga? Memang benar, kita tidak diselamatkan dari maut dan
beroleh hidup kekal berdasarkan banyaknya amalan baik yang telah kita lakukan
melainkan oleh Anugrah Tuhan Sang Bapa yang telah memberikan Anak-Nya untuk menjadi
Penebus kutuk dosa dan yang diterima dengan iman (Yoh 3:16, Ef 2:8).
Namun demikian, sebagai orang
yang telah ditebus dan diselamatkan kita diperintahkan untuk menghasilkan
“buah-buah pertobatan” sebagaimana dikatakan, “Jadi hasilkanlah buah yang sesuai
dengan pertobatan” (Mat 3:8). Muara akhir ibadah dan belajar sabda Tuhan adalah
berbuat kebaikan dan kebajikan sebagaimana dikatakan 2 Timotius 3:16, “Segala
tulisan yang diilhamkan Tuhan memang bermanfaat untuk mengajar, untuk
menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam
kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Tuhan diperlengkapi
untuk setiap perbuatan baik”. Bahkan saat kita beristirahat dalam debu, siapa
lagi yang menemani jika bukan perbuatan baik kita sebagaimana dikatakan Wahyu
14:13, “Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan:
"Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan sejak sekarang
ini." "Sungguh," kata Roh,"supaya mereka boleh beristirahat
dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka."
Oleh karena itu, marilah kita
menjadi orang-orang yang bukan hanya tekun beribadah dan menjalani kesalehan
individual namun gagal menjalankan kesalehan sosial. Orang-orang Kristen harus
berbuat banyak bagi dunia dan sesama. Bukan sekedar membuat mereka berpaling
kepada Kristus dan menjadikan mereka anggota gereja melainkan memperlihatkan
kasih dan kuasa Kristus melalui karya pelayanan di segala bidang kehidupan
(sosial, budaya, ekonomi, politik) sehingga mereka berjumpa dengan Kristus dan
mengambil keputusan untuk mengikut Dia atau menolak-Nya.
Masih ingatkah kita tentang perumpamaan
Yesus memisahkan kambing dan domba pada penghakiman terakhir. Domba-domba di
sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Dan Yesus berkata
kepada para domba di sebelah kanannya, “Terimalah Kerajaan yang telah
disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.
Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi
Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku
telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika
Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku” (Mat 25:33-36). Bagaimana bisa? Ya,
pertanyaan ini juga menjadi pertanyaan para domba yang diberi kemuliaan
tersebut “Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan,
bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus
dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang
asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi
Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan
kami mengunjungi Engkau?” (Mat 25:37-39). Apa jawab Yesus? “Dan Raja itu akan
menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu
lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah
melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40).
Mari kita pergi keluar dari rumah
ibadah yang nyaman di mana kita bertemu dengan orang-orang yang satu iman, satu
pemikiran, satu kesenangan dan pergilah ke dalam dunia nyata dimana Tuhan
menempatkan kita dan menebarkan kasih dan kuasa Kristus melalui talenta dan
karunia yang diberikan kepada kita melalui status dan kedudukan kita
masing-masing, entah sebagai guru, aktivis sosia budaya, direktur perusahaan,
petani, pedagang dll

No comments:
Post a Comment