Sabtu, 15 September 2012

PREDESTINASI TERHADAP ORANG YANG BERIMAN PADA YESUS SEBAGAI MESIAS ANAK TUHAN




YHWH telah memiliki RENCANA (zamam, yatsar, Ibr) dalam kekekalan mengenai penciptaan dunia, baik fisik maupun metafisik dan, penciptaan manusia, hewan, tumbuhan, organisme lainnya. Ketika YHWH menciptakan dunia, Dia memberikan identifikasi BAIK terhadap seluruh  ciptaan-Nya, bahkan amat baik (Kej 1:4,10,12,18,21,25,31)

Tujuan Penciptaan Alama Semesta dan Manusia

Mencerminkan kemuliaan YHWH

Langit menceritakan kemuliaan Tuhan, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mzm 19:2)

Mencerminkan kekuasaan YHWH (Mzm 50:6)

Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Tuhan sendirilah Hakim. S e l a” (Mzm 50:6)

Menjadi mandataris YHWH (Kej 1:27-28)

Maka Tuhan menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Tuhan diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Tuhan memberkati mereka, lalu Tuhan berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kej 1:27-28)

Dosa Mencemari Rencana Tuhan

Apakah YHWH menciptakan adanya dosa? Tidak! Dosa adalah pelanggaran terhadap Hukum YHWH oleh manusia. Jika YHWH menciptakan dosa, berarti dalam diri YHWH ada dosa dan ini tidak mungkin

Apakah YHWH bertanggung jawab terhadap kejatuhan manusia dalam dosa?
    2
 
Tidak! YHWH sudah memberi peringatan kepada manusia sebelumnya. Kejatuhan adalah tanggung jawab manusia. Namun semua yang terjadi atas sepengetahuan dan seijin YHWH

Mengapa YHWH mengijinkan kejatuhan manusia dalam dosa? YHWH, dalam Kemaha tahuanNya, telah melihat bahwa manusia akan memberontak terhadap diriNya. Dalam KemahatahuanNya, YHWH telah MERENCANAKAN untuk memulihkan, menyelamatkan, menebus ciptaan (dunia dan manusia)

Predestinasi YHWH

Sebelum langit dan bumi serta manusia diciptakan, YHWH telah melakukan beberapa karya sbb:

Menetapkan, merencanakan untuk menebus ciptaan

Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas” (1 Ptr 1:18)

Menetapkan, merencanakan untuk memanggil manusia dalam rencana penyelamatan

Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Mesias” (Rm 1:6)

Menetapkan, merencanakan untuk memilih manusia dalam rencaana penyelamatan

Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya” (1 Ptr 1:20)

Rencana kekalNya yang telah disusun sebelum dunia tercipta, dikarenakan Dia mengetahui kejatuhan manusia dalam dosa, sehingga Dia merencanaakan pemulihan seperti semula

Arti Pemilihan YHWH Terhadap Manusia

Pemilihan dilakukan berdasarkan KASIH KARUNIA dan kemurahanNya. YHWH mengaruniakan keselamatan dan hidup kekal sebagaimana dikatakan: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Tuhan” (Ef 2:8)

Dan juga dikatakan, “Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya” (Rm 9:18)

Apakah jika seseorang telah dipilih/dipanggil sebelum langit dan bumi tercipta, berarti dia telah tercatat di Sorga dan tidak mungkin kehilangan keselamatan? Golongan Calvinis sangat percaya perihal doktrin “sekali selamat tetap selamat”.

Yohanes Calvin merumuskan suatu ajaran yang dikenal oleh kalangan Calvinisme sebagai Dotrin Predestinasi atau Ketetapan Tuhan. Rev. Gregory S. Neal mendefinisikan Predestinasi sbb, “Predestination is the doctrine which attempts to describe justification as the decision and act of God alone--an act based upon no external determinants, but only on God's own, divine decision. Additionally, it is held that those who are not elected to salvation are, through Divine will, elected to damnation. In this, 'double predestination' is, in fact, accepted. God elects people to both redemption and to reprobation[1](Predestinasi adalah doktrin yang mencoba untuk menggambarkan pembenaran sebagai keputusan dan tindakan Tuhan sendiri - sebuah tindakan yang tidak berdasarkan faktor-faktor penentu eksternal, tapi hanya pada keputusan Ilahi dari Tuhan sendiri. Selain itu  dinyatakan bahwa mereka yang tidak terpilih untuk keselamatan terpilih untuk menerima hukuman. Dalam hal ini,predestinasi ganda pada kenyataannya, diterima. Disatu sisi Tuhan  memilih orang baik untuk penebusan maupun untuk kutukan).

Rumusan doktrin itu diringkaskan dalam bentuk akrostik TULIP sbb:

T    - Total Depravity (Kerusakan Total)
U   - Unconditional Election (Pemilihan Tak Bersyarat)
L    - Limited Atonement (Penebusan yang Terbatas)
I     - Irresistible Grace (Anugrah yang Tidak Dapat Ditolak)
P    - Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang-orang  Kudus)[2]

Benarkah pemahaman “sekali selamat tetap selamat?” Tanpa menampik pemahaman yang brilian dari Yohanes Calvin namun terhadap pemahaman yang satu ini, saya tidak sependapat. Keselamatan bisa hilang jika kita tidak menjaganya dengan kesungguhan.

Bangsa Israel sebagai bangsa pilihanpun dapat/berpotensi untuk memberontak dan kehilangan kemurahan YHWH sebagaimana dikatakan: “Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata: "YHWH, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?" Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Mesias. Tetapi aku bertanya: Adakah mereka tidak mendengarnya? Memang mereka telah mendengarnya: "Suara mereka sampai ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi."  Tetapi aku bertanya: Adakah Israel menanggapnya? Pertama-tama Musa berkata: "Aku menjadikan kamu cemburu terhadap orang-orang yang bukan umat dan membangkitkan amarahmu terhadap bangsa yang bebal."Dan dengan berani Yesaya mengatakan: "Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak menc ari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku." Tetapi tentang Israel ia berkata: "Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah. (Rm 10:16-21)

Rasul Paul mengingatkan bahwa keselamatan dan kehidupan kekal membutuhkan kondisi tertentu keteguhan pada keyakinan tersebut sebagaimana dikatakan: “Karena kita telah beroleh bagian di dalam Mesias, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula” (Ibr 3:14)

Bahkan sabda Yesus memberikan penegasan perihal orang-orang tertentu yang akan dihapus dari Kitab Kehidupan yaitu mereka yang tidak berjuang mempertahankan iman sampai penghabisan dan murtad dari Tuhan sebagaimana dikatakan: “Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya(Why 3:5).

Apakah Predestinasi bermakna bahwa YHWH telah menetapkan sebagian orang binasa dan sebagian orang memperoleh hidup kekal? Dimanakah letak keadilan YHWH? Pertama, Itu bertentangan dengan karakter Yahweh yang menghendaki pertobatan orang berdosa sebagaimana dikatakan, “Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan YHWH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?” (Yehz 33:11).

Senin, 10 September 2012

BAGAIMANA NASIB ORANG KRISTEN YANG MATI BUNUH DIRI?



Kitab TaNaKh (Torah – Neviim – Ketuvim) maupun Kitab Perjanjian Baru tidak memberikan penjelasan mengenai bagaimana hukumnya orang yang melakukan bunuh diri. Bagaimana kita dapat melakukan penilaian dosa dan tidaknya kematian dengan cara bunuh diri jika Kitab Suci tidak memberikan aturan yang jelas? Bagaimana pula sikap kita dalam memperlakukan orang yang mati dengan cara bunuh diri?

Pandangan Yudaisme dan Kekristenan Terhadap Bunuh Diri

Yudaisme memandang tindakan bunuh diri sebagai dosa yang besar (grave sin) dan dosa yang keji (heinous sin), dosa yang serius (serious sin)[1]. Referensi Talmud mengenai kasus bunuh diri terdapat dalam Bava Kama 91b yang memberikan penafsiran terhadap Kejadian 9:5, “Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia”. Dengan kata lain, Tuhan akan menuntut atas darah kita yang ditumpahkan oleh kita sendiri[2].

Yudaisme sendiri membedakan antara tindakan bunuh diri didasarkan kondisi mental yang sadar sepenuhnya (sound mind: lada’at) dan yang tidak sadar sepenuhnya/gila (unsound mind: she lo lada’at). Mereka yang naik ke atas pohon atau bangunan lalu mengalami kecelakaan tentu saja tidak dikategorikan bunuh diri dalam keadaan yang sadar. Sementara mereka yang naik ke atas bangunan atau pohon yang tinggi dan menyatakan pada semua orang bahwa dia akan melompat dan menjatuhkan dirinya lalu mati maka mereka terkategori melakukan bunuh diri dalam sebuah kesadaran[3].

Rabbi Moshe Maimonides yang hidup pada Abad 13 Ms menuliskan dalam Rotzeah, 2.2-3 bahwa “tidak ada (hukuman) kematian di persidangan” bagi yang melakukan bunuh diri melainkan “(hukuman) kematian oleh surga”. Pernyataan ini membuat teka-teki namun beberapa panafsir mengatakan bahwa ini adalah cara Maimonides untuk mengatakan bahwa mereka yang melakukan bunuh diri tidak akan dapat dituntut dalam pengadilan dunia melainkan pengadilan Tuhan dan mereka dipastikan tidak akan mendapatkan bagian dalam dunia yang akan datang (olam haba)[4]

Perlakuan Terhadap Orang Yang Bunuh Diri

Referensi Paska Talmudik menjelaskan bahwa mereka yang mati dengan cara bunuh diri tidak berhak menerima perlakuan sebagaimana mereka yang mati secara wajar. Tidak ada upacara dan pembacaan doa-doa khusus (YD 345:1; Maim. Yad, Evel 1:11). Beberapa yang lain mengatakan tidak perlu melakukan apapun kecuali mengafani dan menguburkannya (Rashba, Resp., vol. 2, no. 763)[5].

Demikian pula dalam referensi tulisan Bapa Gereja (Church Fathers), sejumlah pemikir seperti Agustinus menggumuli kasus bunuh diri dan menyatakan bahwa itu merupakan salah satu dosa yang tidak terampuni. Dan Gereja Abad Pertengahan melalui tulisan Thomas Aquinas meneruskan pandangan yang serupa tersebut dengan memperlakukan penguburan terhadap mereka yang melakukan bunuh diri, dengan cara yang kurang terhormat dibandingkan mereka yang mengalami kematian secara wajar. Hal berbeda ditunjukkan oleh para Bapak Reformasi. Didasarkan pada penafsiran Matius 12:31 dimana dosa yang tidak terampuni adalah menghujat Roh Kudus, maka baik Luther maupun Calvin menolak mengategorikan bahwa tindakan bunuh diri adalah dosa yang tidak terampuni.[6]

Pandangan Judeochristianity Terhadap Bunuh Diri

Bagaimana Judeochristianity menentukan sikap terhadap kematian dengan cara bunuh diri? Orang yang melakukan bunuh diri, setara dengan orang yang melakukan pembunuhan terhadap orang lain. Torah melarang pembunuhan terhadap orang lain (Kel 20:13) dan seorang pembunuh harus menerima hukuman bunuh (Bil 35:16-20). Maka tindakan bunuh diri, dapat disetarakan dengan tindakan melakukan pembunuhan terhadap orang lain.

Kitab TaNaKh menyitir soal kematian orang fasik yang diidentikan dengan “mati binasa dalam kegelapan” sebagaimana dikatakan dalam 1 Samuel 2:9 sbb: “Langkah kaki orang-orang yang dikasihi-Nya dilindungi-Nya, tetapi orang-orang fasik akan mati binasa dalam kegelapan, sebab bukan oleh karena kekuatannya sendiri seseorang berkuasa”. Kitab TaNaKh pun menyitir soal “kematian tanpa hikmat” sebagaimana dikatakan dalam Ayub 4:23 sbb: “Bukankah kemah mereka dicabut? Mereka mati, tetapi tanpa hikmat”. Dengan dalil-dalil di atas, maka orang yang melakukan bunuh diri dapat dikategorikan telah melakukan tindakan yang setara dengan membunuh dan mereka dikategorikan setara dengan orang fasik yang mati dalam kegelapan dan tanpa hikmat.

Kitab TaNaKh memang memberikan informasi perihal sejumlah nama orang yang melakukan tindakan bunuh diri namun dengan motif dan konteks yang berbeda seperti kasus Simson yang merobohkan tiang bangunan orang Filistin untuk membiarkan dirinya mengalami kematian dengan jumlah kematian orang Filistin yang lebih banyak (Hak 16:30). Demikian pula Saul yang menancapkan pedangnya pada tubuhnya (1 Sam. 31:4–5) serta Yudas yang menggantung dirinya setelah menerima uang 30 keping perak sebagai upah pengkhianatan terhadap gurunya (Mat 27:5). Dalam kasus-kasus di atas tidak ada penilaian apapun dalam Kitab TaNaKh maupun Kitab Perjanjian Baru mengenai tindakan mereka apakah dinilai salah atau tidak.

Namun dengan melihat kasus dan motifnya, maka baik tulisan para rabbi dalam Talmud maupun para Bapa Gereja sepakat memberikan penilaian positip terhadap tindakan Samson demi menyelamatkan bangsanya dari serangan bangsa Filistin. Demikian pula para rabbi menilai bahwa tindakan Shaul dapat dibenarkan dikarenakan untuk menghindari tindakan ejekan dan hinaan musuh agar menyangkali nama YHWH (khilul ha Shem) dan bukan memuliakan nama YHWH (Kidush ha Shem). Namun tidak demikian dengan sikap Bapa Gereja terhadap apa yang dilakukan Yudas yang dianggap sebagai tindakan berdosa yang serius, sekalipun para Bapak Reformasi memandang tindakan Yudas bukan dosa yang setara dengan dosa yang tidak terampuni.