Thursday, December 1, 2016

MEMBEDAKAN KATA IBRANI "ADONAY" DAN "ADON"

Mari kita perhatikan dengan seksama terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia untuk Lukas 20:41-42 sbb: “Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Bagaimana orang dapat mengatakan, bahwa Mesias adalah Anak Daud? Sebab Daud sendiri berkata dalam kitab Mazmur: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku”. Jadi tidak ada istilah “Tuhan Allah telah berfirman kepada Tuhanku”. Istilah Ketuhanan yang kacau balau dan mengesankan Tuhan memiliki Tuhan. 

RELASI KEKAL KEILAHIAN




Jika kita membaca struktur kalimat pembuka surat Rasul Paul berikut ini, “Kasih karunia dan damai sejahtera dari Tuhan, Bapa kita dan dari Junjungan Agung Yesus Sang Mesias  menyertai kamu. Terpujilah Tuhan dan Bapa Junjungan Agung kita  kita Yesus Sang Mesias  yang dalam Mesias telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga”, maka struktur ini hampir selalu muncul dalam surat-surat rasul Paul dimana istilah “Tuhan” (Theos/Elohim/God) dipisahkan dengan istilah “Tuan” atau “Junjungan Agung” (Kurios/Adon/Lord). Istilah “Tuhan” ditujukkan pada “Bapa” yaitu Yahweh dan istilah “Tuan” atau “Junjungan Agung” ditujukkan pada Yeshua (Fil 1:2, Kol 1:3, Flm 1:3, Tit 1:4, 1 Kor 8:6, 2 Kor 11:31). 

MELIHAT SEBAGAIMANA SIMEON MELIHAT

Berbagai buku dan film telah diproduksi di Abad 20 dengan tujuan menampik eksistensi historis ajaran Yesus sebagaimana buku yang diterbitkan dari kelompok Jesus Seminar al., The Five Gospels: What Did Jesus Really Say? The Search for the Authentic Words of Jesus, yang ditulis Robert W. Funk dengan kesimpulan, “Delapan puluh dua (82%) kata-kata yang dianggap berasal dari Yesus di dalam Injil, tidaklah benar-benar diucapkan oleh Yesus”.  

EUREKA (AKU TELAH MENEMUKAN)

Eureka adalah kata seruan dalam bahasa Yunani yang digunakan untuk melambangkan penemuan suatu hal. Seruan ini terkenal karena digunakan oleh Archimedes (287-212 SM). Ia mengucapkan kata Eureka! ketika ia masuk kedalam bak mandi dan menyadari bahwa permukaan air naik, sehingga ia menemukan bahwa berat (dalam Newton) air yang tumpah sama dengan gaya yang diterima tubuhnya.  

MENIMBA BIJAKSANA DENGAN PERGI KE RUMAH DUKA

Saat kematian terjadi terhadap seseorang, maka yang biasa kita lakukan adalah menyambangi keluarga yang ditinggal meninggal untuk memberikan dukungan moral agar tetap tabah dan tidak berlarut dalam kesedihan. Perilaku demikian sudah menjadi kelaziman dalam agama manapun. Namun yang menarik, Pengkotbah justru menjadikan perilaku tersebut yaitu pergi ke rumah duka (bet awel) sebagai sebuah perbandingan sikap yang terbaik dibandingkan perilaku lainnya yaitu pergi ke rumah pesta (bet mishteh). Apa maksud Pengkotbah mengatakan demikian? “karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya”. 

MENGHADAPI DAN MENGATASI MASALAH



Stephen Covey, penulis buku motivasi terlaris New York Times The 7 Habits of Highly Effective People memperkenalkan tentang Hukum 90/10. Hukum tersebut mengatakan bahwa kita tidak bisa mengendalikan 10% yang terjadi pada kita, namun 90% sisanya terletak pada bagaimana kita bereaksi terhadap keadaan itu. Kita tidak bisa menghindari kereta atau pesawat yang tertunda keberangkatannya, kita tidak bisa mencegah hujan yang jatuh di kota kita saat awan telah mendung, kita tidak bisa menghindari dari sakit, tua dan kematian. Namun kita bisa mengubah nasib kehidupan kita di hari-hari yang akan datang dengan kita memberikan reaksi-reaksi yang benar. Dan reaksi yang benar tersebut adalah 90% terletak dan tergantung pada diri kita. 

MEMBEBASKAN DARI TORAH ATAU MEMBEBASKAN DARI DOSA?



Dalam bukunya Destine to Reign, Pastor Joseph Prince yang kerap berpenampilan tambut dan pakaian bagaikan artis tinimbang rohaniawan menuliskan pernyataan, “Yesus Sang Mesias telah membebaskan semua orang percaya dari Perjanjian Torah yang menghakimi. Namun, ada orang-orang percaya yang memilih untuk terus hidup dibawah penghakiman daripada menerima Kasih karunia yang telah dibeli oleh darah Yesus Sang Mesias. Daripada mempercayai kebaikan Tuhan yang tidak layak mereka terima melalui Yesus Sang Mesias, mereka justru telah memilih untuk mempercayai kemampuanN mereka untuk mematuhi Torah. Singkatnya, mereka telah memilih pelayan kematian”.