Monday, October 29, 2012

NEPHILIM, NUH DAN PERISTIWA AIR BAH



 Midrash Kitab Kejadian 6:1-22
                                                                         

Kitab Kejadian Pasal 6:1-2 dibuka dengan sebuah kisah bahwa keturunan Adam dan Hawa semakin banyak dan memenuhi bumi (ha adam larov al peney ha adamah). Pada waktu itu, sejumlah putra-putra Tuhan tertarik dengan putri-putri manusia. Dalam teks Ibrani dikatakan, “wayyir’u beney ha Elohim et benot ha Adam ki tovot hennah, wayyiqkhu lahem nashim mi kol asyer bakharu”. Ayat ini menjadi pokok kontroversi di antara para ahli tafsir. Sebagian menafsirkan bahwa yang dimaksud “putra-putra Tuhan” adalah keturunan Seth sementara penafsir lainnya menunjuk pada para malaikat. Yang manakah di antara tafsiran tadi yang paling mendekati maksud teks Kejadian 6:1-2?

Siapakah beney ha Elohim itu? Dalam Kitab TaNaKh maupun Brit Khadasha (Perjanjian Baru) istilah beney ha Elohim menunjuk pada beberapa oknum al:
Malaikat (Ayub 1:6 ; 2:1 ; 38:7, Daniel 3: 25, 28)

Ayub 1:6, “Pada suatu hari datanglah putra-putra Tuhan menghadap Yahweh dan di antara mereka datanglah juga Shatan” (wayehi hayyom wayyavo’u beney ha Elohim lehityatsev al Yahweh wayyavo gam ha Syatan betokam).


Bangsa Israel (Kel 4:22, Ul 14:1)

Keluaran 4:22 “Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman Yahweh: Israel ialah Putra-Ku, Putra-Ku yang sulung;” (weamarta el Phar’oh, koh amar Yahweh, beni, bekori Yishrael)

Orang yang takut akan Yahweh sebelum kedatangan Mesias (2 Sam 7:8-14)

2 Samuel 7:8 “Oleh sebab itu, beginilah kaukatakan kepada hamba-Ku Dawid: Beginilah firman Yahweh semesta alam: Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel… Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi putra-Ku (yyihye lli beni). Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia”

Orang yang telah mengalami kelahiran baru dan menerima Yahshua sebagai Mesias (Yoh 1:12)

Yohanes 1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi putra-putra Tuhan (dalam terjemahan Hebrew New Testament: Banim le Elohim, dan Peshitta Aramaik: D’beniyah D’Elaha), yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;…

Gelar bagi Adam (Luk 3:38)

Ternyata istilah beney ha Elohim memiliki beragam makna. Namun frasa beney ha Elohim yang dilawankan dengan benot ha Adam, menunjukkan suatu PERBEDAAN HAKIKAT DAN KUALITAS di antara mereka. Yang satu berbeda dengan yang lain. Memang benar bahwa istilah beney ha Elohim adalah suatu idiom Hebraik untuk menggambarkan suatu sifat atau karakter tertentu dari orang-orang yang saleh dan mengasihi Yahweh. Namun ketika istilah ini dihadap mukakan dengan istilah benot ha Adam, tentu saja mereka bukan keturunan manusia. Maka dapat dipastikan istilah ini menunjuk pada malaikat.

Putra-putra Tuhan ini melihat bahwa putri-putri keturunan manusia itu sangat cantik (tovot hennah) sehingga mereka mengambilnya menjadi istri (nashim). Bagaimana mungkin malaikat memiliki kecenderungan seksual, padahal dalam Matius 22:30 dikatakan, “Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga”? Namun jika kita telaah, ayat ini tidak membicarakan apakah malaikat memiliki jenis kelamin atau tidak namun membicarakan bahwa di hari kebangkitan keadaan manusia seperti malaikat di Sorga, yaitu tidak menikah atau menikahkan. Rasul Paul sendiri menegaskan bahwa setelah manusia mengalami kebangkitan fungsi seksual mereka sebagai lelaki dan perempuan tidak hilang (1 Kor 15:35-38).

Ada dua ayat dalam Kitab Brit Khadasha yang menyatakan bahwa pada zaman lampau ada sekumpulan malaikat yang memberontak dan berbuat dosa sebagaimana dikatakan: “Sebab jikalau Tuhan tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman; dan jikalau Tuhan tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang yang fasik” (2 Ptr 2:4-5). Dan dikatakan pula, “Dan bahwa Dia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar,sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang” (Yud 6-7). Dua ayat di atas menegaskan bahwa malaikat-malaikat melakukan dosa percabulan di masa lampau.

Apa yang terjadi setelah beney ha Elohim mengambil istri beney ha Adam? Dalam Kejadian 6:4 dikatakan, “hannefilim hayu baarets…”. Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan “Nefilim” dengan “orang-orang raksasa”. Terjemahan berbahasa Inggris kebanyakan tetap mempertahankan penggunaan kata “Nefilim” ini. Al.,

“The Nephilim were on the earth in those days-and also afterward—when the sons of God went in to the daughters of humans, who bore children to them. These were the heroes that were of old, warriors of renown”[1].

The Nephilim were on the earth in those days-and also afterward—when the sons of God went to the daughters of men and had children by them. They were the heroes of old, men of renown. The New International Version[2]

The Nephilim were on the earth in those days and also later. That was when the sons of God had sexual relations with the daughters of human beings. These women gave birth to children, who became famous and were the mighty warriors of long ago [3]

Septuaginta menerjemahkan “Nefilim” dengan “Gigantes” yang kelak diserap dalam bahasa Inggris menjadi “Gyant” yang artinya “Raksasa”. “Nefilim” sebagai hasil keturunan malaikat dan manusia disebut orang dengan “haggiborim asyer me’olam(orang-orang perkasa di zaman lampau) dan “Anshey hashem(orang kenamaan).

Kejadian 6:5-7 melaporkan bahwa manusia semakin mengalami kemerosotan moral dan spiritual. Kecenderungan ini diungkapkan dalam bahasa Ibrani, “ki rabah ra’at ha Adam baarets…”. Kerusakan moral ini tentunya ada kaitannya dengan keberadaan Nefilim sebagai hasil perkawinan beney ha Elohim dan beney ha Adam. Kejahatan manusia ini mengecewakan hati Yahweh. Dalam bahasa Ibrani dikatakan, “wayinnakhem Yahweh ki asyah et ha Adam baarets…”. Kata “yinakhem” merupakan bentuk orang ketiga tunggal dari kata “nakham” yang dapat diterjemahkan “menghibur” (Kej 24:67; 38:12; 50:21) namun juga dapat berarti “kekecewaan” (Kej 6:6) “penyesalan” (Kel 32:14), “menuntun” (Mzm 78:14, 53).

Kata “menyesal” atau “kecewa” yang dihubungkan dengan Yahweh, merupakan bentuk “anthrophomorphisme” (bertindak seolah-olah seperti manusia) untuk menggambarkan kesedihan dan kekecewaan yang mendalam karena ciptaan-Nya telah menyimpang dari apa yang telah ditetapkan-Nya. Seperti seorang Ayah atau Ibu kecewa terhadap perilaku anak-anak yang memberontak dan mempermalukan orang tuannya dengan perbuatannya yang buruk, demikianlah Yahweh terhadap ciptaan-Nya. Namun kekecewaan Yahweh ini berbeda kualitas dengan kekecewaan manusia. Kekecewaan Yahweh merupakan kekecewaan yang bersifat metafisik sebagaimana dikatakan dalam Mazmur 106:45, “Dia ingat akan perjanjian-Nya karena mereka, dan menyesal (wayyinakhem) sesuai dengan kasih setia-Nya yang besar”.

Thursday, October 25, 2012

KONSEP BEKERJA DALAM KEKRISTENAN


Apakah yang dikatakan oleh Kitab Suci baik TaNaKh (Torah, Neviim, Ketuvim) dan Kitab Perjanjian Baru mengenai bekerja? Apakah bekerja hanya sekedar bermakna mencari upah dari hasil kerja keras kita atau lebih dari itu?

Bekerja Adalah Perintah Tuhan

Untuk pertama kalinya Yahweh Tuhan Semesta Alam memerintahkan perihal bekerja dalam Kejadian 2:15 sbb: “Tuhan Yahweh mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu”. Kata yang diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia “mengusahakan”, dalam bahasa Ibraninya ternyata digunakan kata Avdah dari kata Avad. Kata Avad dalam keseluruhan Kitab Torah, Neviim, Kethuvim (TaNaKh) muncul sebanyak 290 kali dan oleh Lembaga Alkitab Indonesia diterjemahkan “bekerja”, “mengusahakan” “melayani”. Contoh: “…belum ada semak apa pun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apa pun di padang, sebab Tuhan Yahweh belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untukmengusahakan (avod) tanah itu;…”(Kej 2:5).

Kata lain yang berkaitan dengan Avad adalah Eved yang muncul dalam Kitab Torah, Neviim, Kethuvim (TaNaKh) sebanyak 799 kali. Lembaga Alkitab Indonesia biasanya menerjemahkan dengan “budak”, “hamba”, “pelayan”. Contoh: “Apabila seseorang memukul budaknya (avdo) laki-laki atau perempuan dengan tongkat, sehingga mati karena pukulan itu, pastilah budak itu dibalaskan” (Kel 21:20). “Tetapi Abraham menyesali Abimelekh tentang sebuah sumur yang telah dirampas oleh hamba-hamba (avdey) Abimelekh” (Kej 21:25).

Jika bekerja adalah suatu perintah, maka bekerja adalah suatu kewajiban bagi manusia pada umumnya dan orang percaya pada khususnya. Rasul Paul secara tegas mengatakan kaitan antara pekerjaan dan makanan sbb: “Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu:jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (2 Tes 3:10). Oleh karenanya Rasul Paul pun melakukan pekerjaan siang malam untuk memenuhi kebutuhannya dan pelayanannya sebagaimana dikatakan, “Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementarakami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu, kami memberitakan Besorah Tuhan kepada kamu” (1 Tes 2:9)

Bekerja Adalah Melayani Tuhan

Yang menarik, kata “beribadah” dalam bahasa Ibrani dipergunakan kata Avodah. Kata Avodah muncul dalam Kitab Torah, Neviim, Kethuvim (TaNaKh) sebanyak 145 kali. Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan kata ini dengan “melayani”, “budak”, “mengerjakan”, “beribadah”. Contoh: “…tetapi supaya mezbah itu menjadi saksi antara kami dan kamu, dan antara keturunan kita kemudian, bahwa kami tetap beribadah (avodat) kepada Yahweh di hadapan-Nya dengan korban bakaran, korban sembelihan dan korban keselamatan kami. Jadi tidaklah mungkin anak-anak kamu di kemudian hari berkata kepada anak-anak kami: Kamu tidak mempunyai bagian pada Yahweh” (Yos 22:27). “Mereka harus mengerjakan tugas-tugas bagi Akharon dan bagi segenap umat Yishrael di depan Kemah Pertemuan dan dengan demikian melakukan pekerjaan (avodat) jabatannya pada Kemah Suci” (Bil 3:7). “Beribadahlah (ivdu) kepada Yahweh dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!” (Mzm 100:2).

Jika Avodah yang bermakna “beribadah” atau “melayani Tuhan” memiliki hubungan dengan kata sebelumnya yaitu Avad dan Eved maka dapat diambil kesimpulan sbb: Pertama, bekerja adalah ibadah. Bekerja adalah pelayanan kepada Tuhan dalam konteks sosial. Konsekwensi logis bahwa bekerja adalah ibadah dan pelayanan kepada Tuhan maka orang beriman dalam melakukan pekerjaan (sebagai pengusaha, pedagang, guru, karyawan, pegawai pemerintah, polisi, tentara, dll) harus mengekspresikan nilai-nilai kejujuran dan keadilan serta pelayanan. Tidak mengherankan ketika Yahweh memerintahkan kepada Yishrael agar tidak berlaku curang dalam berdagang dengan mengatakan, “Neraca yang betul, batu timbangan yang betul, efa yang betul dan hin yang betul haruslah kamu pakai; Akulah Yahweh Tuhanmu yang membawa kamu keluar dari tanah Mitsrayim” (Im 19:36).Inilah salah satu contoh bahwa bekerja adalah melayani Tuhan. Maka segala bentuk kecurangan dalam bekerja (menggunakan formalin, menggunakan zat pewarna berbahaya, menggelonggong hewan, mengedarkan makanan kadaluarsa, menyuap pejabat, mengorupsi uang rakyat) tidaklah mencerminkan nilai-nilai kejujuran dan keadilan serta pelayanan.

Kedua, ibadah bermakna melayani Tuhan. Ibadah dalam pemahaman Kekristenan yang kembali ke akar Ibrani atau akar Semitik, terdiri dari empat bagian: ibadah harian (tefilah), ibadah pekanan (shabat), ibadah bulanan (rosh kodesh), ibadah tahunan (moedim). Empat bentuk ibadah di atas harus dipahami sebagai bentuk pelayanan individu dan komunitas umat beriman kepada Tuhan dan jangan dipahami sebagai sebuah beban yang memberatkan. Kita melayani Tuhan karena Tuhan telah melakukan banyak hal bagi kita. Dia telah menebus kita dari kutuk dosa dan telah mengaruniakan hidup kekal melalui Yahshua Sang Mesias, Dia telah menjanjikan berkat-berkat jasmani dan rohani dll. Jika kita telah sampai pada pemahaman bahwa ibadah adalah melayani Tuhan, maka kita tidak bermalas-malasan dalam beribadah dan tidak merasa terpaksa melakukan ibadah.

Batas Melakukan Pekerjaan

Apa yang terjadi jika seseorang tidak beristirahat dalam melakukan pekerjaan? Kelelahan yang berujung pada penyakit tentunya. Yahweh Semesta Alam telah mengatur batasan seseorang dalam melakukan pekerjaan dalam Keluaran 20:9-10 sbb, “…enam hari lamanya engkau akan bekerja (taavod) dan melakukan segala pekerjaanmu (asyita kol melakteka) ,tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat Yahweh Tuhanmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan (lo taasyeh kol melakah), engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu”.

Monday, October 8, 2012

APAKAH DUNIA AKAN BERAKHIR TAHUN 2012? ANTARA HARAPAN PROFETIS KERAJAAN MILENIUM DAN KEGELISAHAAN MENGENAI AKHIR DUNIA



Bacaan Kitab Suci:
Yesaya 65:20-25, Zakharia 14:9,16, Wahyu 20:11-15

Pdt. Teguh Hindarto, MTh.

7 Oktober 2012, Pendopo Hotel Prambanan Indah, Klaten


Latar Belakang Kegelisahan Mengenai Akhir Dunia

Mark Hitchchok dalam bukunya yang berjudul 2012: The Bible and the End of the World (2009, p.102) mengatakan sbb, “The oldest surviving prediction of the world’s imminent demise was found inscribed upon an Assyrian clay tablet which stated, ‘Our earth is degenerated in these latter days. There are signs that the world is speedily coming to end. Bribery and corruption are common[1] (Ramalan tertua yang masih bertahan perihal kehancuran dunia yang semakin mendekat telah ditemukan tertulis dalam lembaran tanah liat bangsa Assiria yang menyatakan bahwa dunia kita mengalami kemerosotan di akhir zaman. Ada sejumlah tanda-tanda bahwa dunia sedang menuju ambang kemusnahannya. Perilaku menyuap dan korupsi merajalela). Benarkah dunia saat ini sedang dalam ambang kemusnahan? Benarkah berbagai prediksi yang menghubungkan tahun 2012 sebagai  akhir dunia? Apakah berbagai bencana alam yang bersifat massiv (besar-besaran) dan global akhir-akhir ini memberikan petunjuk perihal akhir dunia?

Berkaitan dengan prediksi tahun 2012 sebagai akhir dunia, didasarkan pada ramalan bangsa Maya kuno. Bangsa Maya kuno berpusat di Amerika Tengah dan puncak kejayaan peradaban mereka adalah disekitar tahun 250 sampai 900 Ms. Imam-imam bangsa Maya menemukan sistem kalender yang dihubungkan dengan pengamatan astronomis dan yang dipercaya oleh beberapa orang lebih akurat dibandingkan kalender yang kita pergunakan sekarang ini. Meskipun demikian mereka sama sekali tidak mempergunakan alat-alat modern seperti teleskop dan cukup hanya dengan mempergunakan mata telanjang untuk mempelajari langit.

Seperti apakah kalender bangsa Maya itu? Mereka mendasarkan pada penyelidikan astronomis dan menciptakan sistem kalender yang merancang sejarah yang diawali dengan permulaan dunia pada tanggal 11 Agustus 3114 sM. Dengan mempergunakan sistem kalender matahari, bangsa Maya mengukur waktu dalam 20 unit. Sebanyak 20 kin (hari) mengasilkan winal (bulan); 18 winal menghasilkan tun (tahun); 20 tun menghasilkan katun (20 tahun) dan 20 katun menghasilkan baktun (400 tahun). Untuk memastikan kapan dunia berakhir, mereka menghitung dari awal penciptaan dan mencatat telah berapa lama waktu berjalan. Dengan berbagai kalkulasi rumit dari tahun ke tahun dari sejak awalnya penciptaan, mereka menemukan bahwa dunia akan berakhir pada 13 baktun (5200 tahun).

Dan jika dikomparasikan (diperbandingkan) ke dalam kalender Gregorian maka dunia akan berakhir pada tanggal 21-12-2012 sebagaimana dikatakan oleh Raymond Hundley dalam bukunya berjudul Will the World End in 2012? (2010, p. 7-8) Sbb, “Translating the Mayan calendar date into the Gregorian calendar system used today produces a date of December 21, 2012 as the end-date for the present age[2] (menerjemahkan kalender bangsa Maya ke dalam sistem kalender Gregorian yang kita pergunakan saat ini, maka dihasilkan angka 21 Desember 2012).

Minat bangsa Maya terhadap penghitungan waktu terlihat dalam kenyataan bahwa mereka mengembangkan 20 sistem kalender yang berbeda dan tiga diantaranya dijadikan rujukan oleh bangsa Maya dimana salah satunya yang berisikan predikisi dunia akan berakhir pada tahun 2012 dan dari kalender ini berasal kepercayaan bahwa dunia akan berakhir pada tahun 2012 (Mark Hitchchok, p.32-33)[3].

Kitab Suci TaNaKh dan Kitab Perjanjian Baru pun memprediksikan hal yang sama. Bedanya, Kitab Suci tidak memberikan kepastian perihal tanggal, hari, bulan maupun tahunnya. Sabda Yesus Sang Mesias sbb, “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar” (Mat 24:42-43).

Apa kaitan tema perayaan Pondok Daun (Sukot) kali ini dengan berbagai ramalan mengenai kiamat 2012?

Trilogi Tujuh Hari Raya YHWH

Di Sinai YHWH memberikan Torah. Dalam Torah, YHWH menetapkan Moedim (waktu-waktu yang tetap) atau hari-hari raya yang berjumlah tujuh (sheva moedim). Ketujuh perayaan tersebut adalah (Imamat 23:1-44) sbb:

  1. Pesakh (14 Nisan)
  2. Ha Matsah (15 Nisan)
  3. Sfirat ha Omer (menghitung omer setelah shabat moedim)
  4. Shavuot (hari kelimapuluh setelah menghitung omer)
  5. Yom Truah /Rosh ha Shanah (1 Tishri)
  6. Yom Kippur (10 Tishri)
  7. Sukkot (15-21 Tishri)

Tujuh Hari Raya memiliki tiga pemahaman utama sbb: Pertama, Perayaan Historis. Merayakan tindakan YHWH terhadap umat Israel sejak pembebasan Mesir, penyertaan di padang gurun serta memasuki tanah perjanjian.

Kedua, Perayaan Kristologis/Mesianis. Merayakan tindakan Yesus Sang Mesias sebagai wujud sejati yang nubuat karya Mesianisnya terekam dalam Tujuh Hari Raya YHWH. Rasul Paul berkata dalam Kolose 1:15-16 sbb: “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Mesias”. Ayat ini bukan larangan agar orang Kristen melaksanakan perayaan yang ditetapkan oleh YHWH di Sinai namun perihal larangan agar jemaat Mesias non Yahudi jangan membiarkan diri mereka dihakimi oleh beberapa kelompok mazhab Yahudi yang menekankan praktek legalistik dalam pelaksanaan Torah yang dipaksakan terhadap jemaat non Yahudi sebagaimana DR. David Stern menjelaskan sbb: “But here it appears that Gentile Judaizers, perhaps like those in Corinth who put themselves ‘in subjection to a legalistic perversion of the Torah (1 C 9:20b&N), have set up arbitrary rules (Shaul brings examples at v.21) about when and how to eat and drink, in order to ‘take ...captive’(v.8) their fellow Collosian[4] (Namun di sini nampaknya orang-orang non Yahudi yang di yahudisasi, seperti di Korintus yang meletakkan pada diri mereka dalam ketaatan kepada pelaksanaan Torah yang legalistik (1 Kor 9:20) harus membebaskan diri dari aturan-aturan dangkal (Shaul memberikan contoh pada ayat 21) mengenai kapan dan bagaimana makan dan minum agar menjadikan... tawanan).

Pernyataan Rasul Paul memberikan pemahaman bahwa perayaan yang ditetapkan YHWH di Sinai merupakan bayangan yang wujud nyatanya adalah Mesias. Barney Kasdan memberikan penjelasan mengenai relevansi Tujuh Hari Raya bagi kehidupan iman pengikut Mesias sbb: “The Feast of the Lord or the biblical holy days, teach us about the nature of God and his plan for mankind...in short, all of the Feast of the Lord were given to Israel and to grafted-in believer to teach, in practical way, more about God and his plan for the world[5] (Hari Raya YHWH atau Hari Raya Biblikal mengajar kita mengenai sifat Tuhan dan rencana-Nya bagi umat manusia...singkatnya semua Hari Raya YHWH telah diberikan bagi Israel dan orang beriman yang ditempelkan untuk belajar dalam cara yang sederhanan mengenai Tuhan dan rencananya bagi dunia).

Jika kita membaca Kitab Perjanjian Baru, baik Mesias maupun para rasul memberikan makna baru terhadap Tujuh Hari Raya yang menunjuk kepada kehidupan, kematian, kebangkitan Yesus dari kematian. Simak saja ayat-ayat berikut:

Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku." Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu” (Luk 22:19-20).

Rasul Paul menegaskan kembali makna Pesakh dan pengorbanan Yesus di kayu salib dengan mengatakan demikian: “Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Mesias” (2 Kor 5:17).

Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran” (1 Kor 5:8)

Tetapi yang benar ialah, bahwa Mesias telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1 Kor 15:20)

Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Mesias sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya” (1 Kor 15:23)

Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya” (Kis 2:1-4)

Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Tuha) berbunyi, maka Junjungan Agung sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Mesias akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Junjungan Agung di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Junjungan Agung. Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini (1 Tesalonika 4:16-18)

Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (1 Yoh 2:2)

Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Tuhan, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Tuhan ada di tengah-tengah manusia dan Dia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Tuhan mereka (Wahyu 21:1-3)

Ketiga, Perayaan Eskatologis. Merayakan apa yang akan terjadi atas dunia sebagai panggung penggenapan rancangan Tuhan. Tiga hari raya yaitu Rosh ha Shanah/Yom Truah dan Yom Kippur serta Sukkot berbicara mengenai peristiwa-peristiwa yang akan datang berkaitan dengan nasib dunia serta alam semesta.

Dalam tradisi lisan dan tertulis Yahudi yang disebut Talmud, bertebaran berbagai pandangan mengenai ketiga hari raya tersebut dihubungkan dengan kebangkitan orang mati, kedatangan Mesias dan akhir zaman. Rosh ha Shanah bukan hanya dirayakan sebagai Tahun Baru Ibrani melainkan hari kebangkitan dan penghakiman. Yom Kippur dirayakan sebagai hari Pengakuan Dosa dan Pengampunan serta Pengadilan Tuhan. Sukkot bukan sekedar merayakan penyertaan YHWH di padang gurun melalui kemuliaan-Nya yang berdiam di Kemah Suci melainkan diyakini sebagai hari dimana langit dan bumi yang baru akan terjadi di dunia yang telah hancur musnah. Tuhan YHWH akan berkemah dan menjadi Raja bagi orang-orang benar.