Minggu, 30 Oktober 2011

HALLOWEN: HARUSKAH ORANG KRISTEN MERAYAKANNYA?


Hallowen adalah sebuah perayaan memperingati orang-orang mati yang dirayakan dengan mengenakan kostum-kostum yang beraneka ragam dan corak yang mewakili karakteristik tokoh tertentu. Orang Amerika dan Eropa menjadikannya sebagai ritual tahunan selain Christmass.

Asal Usul Hallowen

Hallowen merupakan tradisi kafir bangsa Druid dari kebudayaan Celtik di Inggris dan Eropa Utara untuk merayakan orang-orang yang mati. Dalam upacara Samhain mereka akan merayakan akhir akhir musim hujan dengan  menyalakan api ungun. Mereka percaya bahwa saat itu arwah-arwah akan memenuhi jalanan dan hadir ditengah-tengah kehidupan manusia. Agar arwah-arwah tidak menggangu maka mereka akan mengelabui arwah-arwah dengan mengenakan kostum-kostum mirip hantu yang mengerikan. Ada juga yang menyalakan lilin di dalam labu yang dikosongkan isinya dan dibuat mata dan mulut yang dikenal dengan istilah Jack o Lantern. [1]

Dalam perjalanan sejarah, Gereja Katholik di masa Paul Gregory IV berusaha membaptiskan ritual pagan tersebut agar membuat kaum kafir berpaling kepada Yesus Sang Mesias. Kemudian diciptakanlah perayaan All Saint Day (perayaan orang kudus yang sudah mati) pada tanggal 31 Oktober dan kemudian diteruskan dengan All Hallow Eve (petang penyucian) pada Tanggal 1 November. Dari sinilah muncul istilah Hallow-en.[2]

Namun dalam prakteknya justru kebudayaan kafir tidak hilang bahkan menjadi-jadi sehingga merongrong akidah Kekristenan. Dan sampai hari ini perayaan ini tetap dirayakan secara antusias khususnya bagi kaum sekular yang tidak peduli dengan agama dihampir sebagian besar kebudayaan Amerika dan Eropa.

Apakah Orang Kristen Harus Merayakan Hallowen?

Tuhan sudah menetapkan hari-hari raya yang harus dilaksanakan oleh orang Kristen untuk merayakan karya penyelamatan YHWH di dalam Yesus Sang Mesias yaitu Sheva Moedim (Tujuh Hari Raya) dalam Imamat 23. Perayaan Hallowen tidak ada kaitannya dengan iman Kristen. Tidak ada kewajiban untuk melaksanakan perayaan Hallowen yang kerap dihubungkan dengan okultisme dan sihir serta hal-hal berbau mistik dan magis.

Di Eropa dan Amerika, tidak sedikit jemaat Kristen yang merayakan dalam rangka sebagai jembatan untuk memberitakan Injil dengan membuang berbagai unsur kekafiran di dalamnya dan menggantikannya dengan unsur-unsur yang masih dapat dipertahankan yaitu pesta panen dan segala aspeknya. Namun ada juga yang sama sekali menolak dan tidak merayakan Hallowen karena tidak menemukan rujukan apapun juga dalam Kitab Suci

Dibalik Perayaan Hallowen: Bagaimana Nasib Orang-Orang Yang Telah Meninggal?

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa setiap perayaan Hallowen diyakini roh-roh orang mati atau arwah-arwah akan turun ke bumi dan berbaur dengan kehidupan manusia. Dan untuk mengelabui mereka maka manusia harus menggenakan kostum-kostum yang menampilkan yang mewakili karakteristik hantu dan arwah-arwah.

Apa yang dikatakan Kitab Suci Mengenai Arwah?

Ada dua jenis orang mati, yaitu Orang Benar (Tsadik) dan Orang Jahat (Reshaim). Kitab TaNaKh tidak banyak memberi informasi apa yang terjadi atas Orang Benar dan Orang Jahat setelah kematian mereka. TaNaKh lebih menekankan kematian sebagai ketidakberdayaan dan keterpisahan. TaNaKh lebih menekankan pada kehidupan dan bagaimana mengisi kehidupan dengan Torah sebagai penuntun dan pengajar. Hanya dalam beberapa Kitab seperti Yesaya memberikan gambaran mengenai “Pengadilan atas bumi” (Yes 24:21-23) dan “Hari Kebangkitan Orang Mati” dimana Orang Benar maupun Orang Jahat akan menerima upah (Dan 12:2-3).

Kamis, 27 Oktober 2011

ORANG KRISTEN TANPA KRISTUS?

Banyak orang mengaku dirinya seorang Kristiani namun tutur kata, sikap dan perilaku mereka tidak ada hubungannya dengan Kekristenan. Mereka melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang pada umumnya, bertindak tidak adil, menindas, memfitnah, bergosip, berselisih, melakukan praktek sihir, memiliki jimat dan benda-benda gaib, suka bertanya pada paranormal, dll.

Menjadi pengikut Yesus Sang Mesias adalah mereka yang mengaku bahwa Yesus adalah Junjungan Agung Yang Ilahi (Yun, Kurios/Ibr, Adon/Arm, Maran) sebagaimana dikatakan, “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Junjungan Agung Yang Ilahi, dan percaya dalam hatimu, bahwa Tuhan telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (Roma 10:9).

Menjadi pengikut Yesus Sang Mesias adalah mereka yang mengikuti teladan pikiran dan perbuatan Yesus Sang Mesias sebagaimana dikatakan, “Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:15).

Namun demikian, menjadi pengikut Yesus Sang Mesias, bukan sekedar mengaku bahwa Yesus adalah Mesias, Juruslamat, Anak Tuhan dan meneladani sikap kehidupan Sang Juruslamat. Menjadi pengikut Yesus Sang Mesias berarti kehidupan Yesus ada dalam diri kita sebagaimana dikatakan, “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Tuhan. Aku telah disalibkan dengan Kristus (Mesias); namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus (Mesias) yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Tuhan yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:19-20).

Menjadi pengikut Yesus Sang Mesias, bukan hanya kehidupan Yesus tinggal di dalam diri kita namun Yesus Sang Mesias menjadi pakaian yang menutupi diri kita sebagaimana dikatakan, “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus (Mesias), telah mengenakan Kristus” (Gal 3:27). Dan juga dikatakan, “Tetapi kenakanlah Junjungan Agung Yesus Kristus (Mesias) sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya” (Rm 13:14).

Jika Yesus Sang Mesias hidup dalam diri kita dan menjadi pakaian yang menutupi diri kita, maka seluruh pikiran dan perkataan serta perilaku kita seharusnya mencerminkan atau mengejawantahkan pikiran dan tindakan Yesus Sang Mesias sebagaimana dikatakan, “Hendaklah perkataan Kristus (Mesias) diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Tuhan di dalam hatimu” (Kol 3:16).

Jumat, 14 Oktober 2011

MENYEMBAH TUHAN DALAM ROH DAN KEBENARAN

(Pengkajian Terhadap Yohanes 4:1-54)

DR. Suhento Liauw, rektor Graphe International Theological Seminary menuliskan pernataan sbb: “Orang Kristen harus tahu bahwa kita sekarang sudah berada di Zaman Ibadah Hakekat (ZIH) bukan berada di Zaman Ibadah Simbolik (ZIS) lagi. Bahwa kita berada di zaman menyembah dengan hati, bukan di zaman menyembah dengan tubuh. Bahwa kita sudah berada di dalam zaman beribadah secara rohaniah dan bersifat disimbolkebenaran, bukan beribadah secara ritual” dengan berbagai upacara lahiriah [1]. Benarkah pernyataan di atas? Apakah benar makna ucapan Yesus Sang Mesias bahwa penyembahan dalam roh dan kebenaran telah meniadakan bentuk-bentuk ibadah dalam Perjanjian Lama?

Membenturkan istilah “ibadah simbolik” dan “ibadah hakikat” adalah tidak dapat dibenarkan sama sekali. Karena Yesus Sang Mesias dan para rasul tidak pernah mengajarkan meniadakan pola ibadah sebelumnya. Baik Yesus dan para rasul tetap beribadah dengan pola yang sudah ada sebelumnya.

Ibadah Kristiani pada awalnya berakar pada Yudaisme. Yesus Sang Mesias adalah seorang Yahudi (Ibr 7:14) dan beribadah secara Yahudi. Demikian pula murid-murid Yesus dan para rasulnya meneruskan tata cara ibadah Yudaisme tersebut. Pilar ibadah Kristiani yang berakar pada Yudaisme meliputi sbb:

1.       Ibadah Harian tiga kali sehari (Tefilah Sakharit, Minkhah, Maariv – Kis 3:1; 10:3) 

2.       Ibadah Pekanan (Sabat – Kis 13:14,27,42,44) 

3.       Ibadah Bulanan (Rosh kodesh – Kol 2:16-17) 

4.       Ibadah Tahunan atau Tujuh Hari Raya (Sheva Moedim – Kis 20:16, 1 Kor 16:8[2]).

Ibadah, selalu berkaitan dengan penyembahan. Demikian pula sebaliknya, penyembahan selalu berkaitan dengan ibadah. Tidak ada ibadah tanpa penyembahan dan tidak ada penyembahan tanpa ibadah. Ibadah yang benar dan berkenan menurut kehendak-Nya, bukan terletak pada kerumitan, keindahan maupun pranatan fisik semata, seperti, sujud, menadahkan tangan ke langit, berlutut dan perilaku sejenisnya, meskipun pola demikian tidak di persalahkan. Inti ibadah ada dalam penyembahan. Saat seseorang menyembah, dia terhubung dengan pribadi Absolut yang mengatasi keterbatasannya. Ada hubungan antara Tuhan dan ciptaan Tuhan. Penyembahan yang benar, merupakan ibadah yang benar. Penyembahan yang keliru merupakan ibadah yang sia-sia.

Makna Penyembahan

Penyembahan, dalam teks bahasa Ibrani, “Tistakhawe”, sedangkan dalam bahasa Yunani, “Proskuneo”. Dalam bahasa Ingris di sebut “Worship”. Keseluruhan istilah tersebut mengandung makna, baik secara simbolik maupun lahiriah. Secara simbolik, penyembahan adalah refleksi ketaatan, ketundukan pada otoritas yang lebih tinggi (Hak 6:10, Mzm 8:10, Why 14:7). Secara lahiriah, penyembahan bermakna tindakan untuk berlutut dengan sikap merendahkan wajah dan badan (Kel 34:8, Yes 36:7, Yoh 9:38).

Bentuk dan Fase Penyembahan

Kitab TaNaKh (Torah, Neviim, Kethuvim]), memberikan kesaksian historis fase-fase penyembahan, sbb :


Pra Bait Suci di Yerusalem. Di tandai dengan ungkapan fisik seperti berlutut, bersujud, menadahkan tangan dan di sertai korban hewan (Kej 8:20, Kel 18:12, Im 6:9, Bil 28:3, 1 Raj 18:28).

Berdirinya Bait Suci di Yerusalem. Ada waktu-waktu tertentu dalam ibadah. Daud, tujuh kali sehari memuji Tuhannya (Mzm 119:64), terkadang tiga kali sehari (Mzm 55:17). Bahkan di malam hari, Daud memiliki waktu untuk ibadah (Mzm 119:62). Demikian pula Daniel melakukan ibadah tiga kali sehari (Dan 2:19, 6:10). Begitu pula Ezra saat membangun puing-puing Yerusalem yang runtuh, berdoa dalam waktu-waktu tertentu (Ezra 9:5).

Masa karya Mesias dan para Rasul. Yesus beribadah di Sinagog dalam waktu-waktu tertentu (Luk 4:11). Rasul-rasul mengikuti pola ibadah tiga kali sehari pada jam-jam tertentu (Kis 2:24, Kis 3:1, Kis 4:42, Kis 10:9,30, Kis 16:25).

Fokus Penyembahan

Frasa, “Tuhan itu Roh”, menunjuk pada pemahaman bahwa orang beriman memiliki fokus penyembahan, yaitu Tuhan yang keberadaan-Nya Roh. Ada banyk elohim di dunia ini. Siapakah Tuhan yang sejati ?, Yahweh Dialah Tuhan yang benar (Ul 10:17, Yer 10:10, 1 Taw 16:26, 1 Kor 8:5-6, Yoh 17:3). Tuhan yang benar itu telah menyatakan Firman-Nya dalam rupa manusia (1 Tim 3:16, Ibr 11:1, Yoh 1:14).

Tuhan bukanlah mahluk ciptaan ketakutan manusia terhadap gejala alam yang di manifestasikan dengan gambar-gambar tertentu, patung-patung pahatan tertentu (dewa api, dewa angin, dewa halilintar, dewa hujan, dll). Tuhan itu Roh. Wujud keberadaan yang non material namun spiritual.

PILAR IBADAH KRISTIANI

Kata  “beribadah” dalam bahasa Ibrani dipergunakan kata Avodah. Kata Avodah muncul dalam Kitab Torah, Neviim, Kethuvim (TaNaKh atau Kekristenan lazim menyebutnya dengan Perjanjian Lama) sebanyak 145 kali. Dalam bahasa Yunani dipergunakan kata Latreuo.

Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan kata Avodah dan Latreuo dengan “melayani”, “budak”, “mengerjakan”, “beribadah”. Contoh:

“…tetapi supaya mezbah itu menjadi saksi antara kami dan kamu, dan antara keturunan kita kemudian, bahwa kami tetap beribadah (avodat) kepada YHWH di hadapan-Nya dengan korban bakaran, korban sembelihan dan korban keselamatan kami. Jadi tidaklah mungkin anak-anak kamu di kemudian hari berkata kepada anak-anak kami: Kamu tidak mempunyai bagian pada YHWH” (Yos 22:27).

 “Mereka harus mengerjakan tugas-tugas bagi Akharon dan bagi segenap umat Israel di depan Kemah Pertemuan dan dengan demikian melakukan pekerjaan (avodat) jabatannya pada Kemah Suci” (Bil 3:7).

Beribadahlah (ivdu) kepada YHWH dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!” (Mzm 100:2).

Ibadah Kristiani pada awalnya berakar pada Yudaisme. Yesus Sang Mesias adalah seorang Yahudi (Ibr 7:14) dan beribadah secara Yahudi. Demikian pula murid-murid Yesus dan para rasulnya meneruskan tata cara ibadah Yudaisme tersebut. Pilar ibadah Kristiani yang berakar pada Yudaisme meliputi sbb:

1.       Ibadah Harian tiga kali sehari (Tefilah Sakharit, Minkhah, Maariv – Kis 3:1; 10:3) 

2.       Ibadah Pekanan (Sabat – Kis 13:14,27,42,44) 

3.       Ibadah Bulanan (Rosh kodesh – Kol 2:16-17) 

4.       Ibadah Tahunan atau Tujuh Hari Raya (Sheva Moedim – Kis 20:16, 1 Kor 16:8).

Sabtu, 01 Oktober 2011

ILMU IKHLAS: BELAJAR IKHLAS DARI AYUB

Kata Arab Ikhlas setara dengan bahasa Ibrani ישׁר לבב (yosher levav) sebagaimana dikatakan dalam 1 Tawarikh 29:17 sbb: “Aku tahu, ya Tuhanku, bahwa Engkau adalah penguji hati dan berkenan kepada keikhlasan, maka aku pun mempersembahkan semuanya itu dengan sukarela dan tulus ikhlas. Dan sekarang, umat-Mu yang hadir di sini telah kulihat memberikan persembahan sukarela kepada-Mu dengan sukacita”. 

Menurut tata bahasa Arab kata ikhlas merupakan bentuk mashdar dari kata akhlasha yang berasal dari akar kata khalasha. Menurut Luis Ma’luuf, kata khalasha ini mengandung beberapa macam arti sesuai dengan konteks kaliamatnya. Ia bisa berarti shafaa (jernih), najaa wa salima (selamat), washala (sampai), dan I’tazala (memisahkan diri). Bila diteliti lebih lanjut, kata ikhlas sendiri sebenarnya tidak dijumpai secara langsung penggunaannya dalam al-Qur’an. Yang ada hanyalah kata-kata yang berderivat sama dengan kata ikhlas tersebut. Secara keseluruhan terdapat dalam tiga puluh ayat dengan penggunaan kata yang beragam. Kata-kata tersebut antara lain : kata khalashuu, akhlashnaahum, akhlashuu, astakhlish, al-khaalish, dan khaalish masing-masing sebanyak satu kali. Selanjutnya kata khaalishah lima kali, mukhlish (tunggal) tiga kali, mukhlishuun (jamak) satu kali, mukhlishiin (jamak) tujuh kali, mukhlash (tunggal) satu kali, dan mukhlashiin (jamak) sebanyak delapan kali[1]. Dalam kata ikhlas terkandung makna jujur, bersih, murni, rela. 

Belakangan ini kita mendengar istilah “ilmu Ikhlas” yang didengungkan para mubaligh Islam baik di televisi maupun dalam berbagai media massa dan media elektronik.

Jauh sebelum Muslim mendegung-dengungkan istilah “ilmu ikhlas”, ribuan tahun sebelumnya Torah telah mengajarkan kisah kehidupan seorang yang ikhlas yaitu Ayub.

Siapakah Ayub? Beliau adalah seorang yang hidup di tanah Us, sebelum timur Kanaan (Ayb 1:1). Memiliki 10 anak yang terdiri 7 laki-laki dan 3 anak perempuan, Ayb 1:2). Memiliki kekayaan ternak sebanyak 7000 ekor kambing, 3000 unta, 500 pasang lembu, 500 keledai betina, budak dalam jumlah besar (Ayb 1:3).

Ayub bukan hanya seorang yang kaya raya namun dia adalah seorang yang saleh dan takut akan YHWH (Ayb 1:1). Bukti kesalehan Ayub dibuktikan dari tiga hal. Pertama, perbuatannya yang senantiasa menguduskan anak-anaknya dan mendoakan mereka setiap hari agar terhindar dari perbuatan berdosa (Ayb 1:5). Kedua, YHWH pun menegaskan kualitas kesalehan Ayub saat Satan memohon izin YHWH agar mengirimkan penyakit (Ayb 1:8; 2:3). Ketiga, bahkan Satan pun mengakui kesalehan Ayub (Ayb 1:10; 2:4-5).