Sabtu, 10 Desember 2011

MONOGAMI ATAU POLIGAMI?


Isue poligami bukan barang baru. Kehidupan tokoh-tokoh dalam Kitab Suci pra Mesias, kerap melakukan poligami seperti. Abraham, Daud, Salomo, Yakub. Apakah Torah memerintahkan poligami? Apakah Yahweh memerintahkan agar seseorang poligami? Tuhan Yahweh tidak pernah memerintahkan pernikahan poligami. Dia menetapkan monogami sebagai sistem pernikahan yang kudus.

Dalam Kejadian 2:24 dikatakan, “al ken ya’azav ish et aviw we et immo wedavaq beishtto lehayu lebasyar ekhad  (Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging). Kata ishto (istrinya) merupakan bentuk tunggal. Jika Yahweh menetapkan poligami, Dia akan menggunakan kata nashaiw (istri-istrinya). Ini merupakan bukti dasar bahwa Yahweh menetapkan monogami sebagai dasar pernikahan kudus. Poligami yang dilakukan tokoh-tokoh dalam Kitab Suci, merupakan pilihan mereka sendiri. Selain dikarenakan pilihan, diperkuat dengan konteks kebudayaan pada saat itu yang mengijinkan terjadinya poligami demi kebutuhan tertentu.

Kamis, 08 Desember 2011

APAKAH YESUS SANG MESIAS MEMBATALKAN HUKUM KASHRUT DALAM IMAMAT 11?

Bagian Kedua

Kontradiksi gaya hidup Mesias
dengan gaya hidup Kekristenan moden

Kita kerap mendengar lantunan lagu-lagu Kristiani dan bahkan kita selalu menyanyikannya al, “Kumau sprti-Mu Yesus...”, “Jalan serta Yesus, jalan serta-Nya setiap hari...”, “Saya mau iring Yesus...”. Ungkapan syair-syair lagu di atas memberikan gambaran, dorongan agar meniru Yesus. Namun semua syair lagu dan pemahaman kita terkadang masih berkutat dalam pengertian perilaku moral belaka.

 Namun bagaimana dengan fakta Kekristenan modern mengenai gaya berpakaian? Bagaimana dengan fakta gaya makan dan menu makan? Kebanyakan dari kita mempraktekan gaya hidup khususnya dalam menyantap makanan tanpa adanya suatu pembatasan dan pemilahan mana yang tahor dan mana yang tame. Semua diperbolehkan. Alasan utama, Yesus telah menghapus dosa dan membatalkan Torah termasuk aturan makanan yang diatur dalam Torah. Sikap-sikap demikian semakin menguatkan kesan dan prasangka bahwa Kekristenan tidak memiliki syariat terkait makanan. Semua diperbolehkan.

Yesus telah mengatakan dalam Yohanes 13:15 sbb: “sebab Aku telah memberikan suatu TELADAN kepada kamu, supaya kamu juga BERBUAT SAMA seperti yang telah Kuperbuat kepadamu”. Rasul Petrus (Kefa) pun menegaskan hal yang sama dalam suratnya sbb: “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena (Mesias) pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan TELADAN bagimu, supaya kamu MENGIKUTI JEJAK-NYA”(1 Petrus 2:21).

Kata “teladan” dalam Yohanes 13:15 dipakai kata Yunani υποδειγμα (hupodeigma) dan dalam 1 Petrus 2:21 dipergunakan kata Yunani υπογραμμον (hupogrammos) dan diterjemahkan dalam bahasa Ibrani menjadi מופת (mofet) yang artinya “contoh”. Berarti Mesias Yesus telah meninggalkan bagi kita suatu contoh.

Baik Mesias Yesus maupun Rasul Petrus menekankan bahwa contoh atau teladan yang ditinggalkan Yesus Sang Mesias harus dilakukan. Kalimat “supaya kamu mengikuti jejak-Nya” dalam terjemahan berbahasa Ibrani, “Wayehi lakem lemofet LALEKET beiqqvotaiw”. Kata LALEKET  berasal dari kata “HALAK” yang artinya “berjalan”. Dalam terjemahan Peshitta Aramaik diterjemahkan dengan “TAHALAKON”. Berdasarkan pemahaman bahasa di atas, maka sebagai Pengikut Mesias (apapun namanya, Orthodox, Katholik, Kristen, Mesianik) kita harus menjalankan dan melaksanakan Halakah Mesias dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain kita menjalankan dan melaksanakan Syariat Al Masih dalam kehidupan sehari-hari.

Namun apakah Yesus hanya meninggalkan teladan moral belaka? Apakah Yesus tidak meninggalkan teladan-teladan lainnya terkait masalah gaya hidup dalam mengonsumsi makanan yang menyehatkan atau makanan yang telah dipisahkan sebagaimana diatur dalam Imamat 11?

Baru-baru ini saya membeli sebuah buku yang sangat mencerahkan dengan judul MENU MAKAN YESUS. Buku ini karya seorang dokter bernama Don ColberT, MD. Buku-buku yang beliau tulis al., Walking in Divine Health, The Bible Cure Booklet Series. Dan buku yang diterjemahkan oleh penerbit Kalam Hidup Bandung 2007 merupakan terjemahan dari bukunya WHAT WOULD JESUS EAT?

APAKAH YESUS SANG MESIAS MEMBATALKAN HUKUM KASHRUT DALAM IMAMAT 11?

Bagian Pertama

Mengkaji ayat-ayat yang disalahpahami

Jamak dalam pemikiran orang Kristen bahwa semua makanan dapat dimakan karena Yesus telah membatalkan peraturan dalam Imamat 11. Benarkah pemahaman tersebut? Apakah Yesus dan para rasul memberikan isyarat perihal pembatalan hukum Kashrut?

Sikap dan pemikiran demikian didasarkan pada pembacaan teks terjemahan Kitab Suci tertentu. Kita akan menyoroti sejumlah teks dan menganalisis baik berdasarkan kajian teks dan konteks untuk mendapatkan maknanya yang utuh.

Kasus pembasuhan tangan (Mrk 7:1-23)

Pernyataan dalam Markus 7:1-23, sering dimaknai secara keliru sebagai ayat-ayat yang menjadi dasar untuk menolak relevansi penetapan Imamat 11 mengenai hewan yang dikategorikan tahor dan tame. Namun jika kita menelaah dan menganalisis secara cermat, baik teks dan konteks perikop tidak mendukung sama sekali pemahaman mengenai pembatalan relevansi Imamat 11. Konteks keseluruhan perikop membicarakan mengenai Yesus yang sedang terlibat diskusi dengan Ahli Farisi mengenai “Netilat Yadayim” (pembasuhan tangan) BUKAN mengenai pembatalan makanan tahordan tame (Mrk 7:5-7).

Kalimat, “Dengan demikian Dia menyatakan semua makanan halal” (ay 20) dalam terjemahan LAI adalah tidak tepat. Dalam versi Darby Bible 1890 sbb: “because it does not enter into his heart but into his belly, and goes out into the draught, purging all meats?” (sebab itu tidak masuk kedalam hati melainkan kedalam perut dan lewat menuju tempat pembuangan, membuang semua makanan?). Demikian pula dalam Young’s Literal Translation sbb : “because it doth not enter into his heart, but into the belly, and into the drain it doth go out, purifying all the meats” (Sebab itu tidak masuk kedalam hati melainkan kedalam perut dan kedalam tempat pembuangan, membersihkan semua makanan). Frasa ini sesuai dengan kalimat dalam naskah Greek sbb : καθαριζων παντα  τα  βρωματα (katarizon panta ta bromata).

Kasus penglihatan Petrus (Kis 10: 1-48)

Demikian pula peristiwa rasul Petrus menerima penglihatan di Yope, sering dianggap sebagai bukti bahwa Yahweh Bapa Surgawi telah membuat tidak berlaku penetapan mengenai hewan-hewan yang dikategorikan tahor dan tame. Konteks keseluruhan perikop ini sebenarnya membicarakan bahwa Tuhan memberikan lambang makanan tame dijadikan tahor untuk menggambarkan bahwa dirinya menerima Bangsa non Israel untuk menjadi pengikut Mesias (Kis 10:34) BUKAN pembatalan makanan tahor dan tame.

Bahkan jika kita cermat menganalisis, kita mendapat informasi bahwa rasul Petrus tetap memelihara Imamat 11, sehingga dia tetap menolak untuk memakan hidangan yang diperlihatkan oleh Yahweh Bapa Surgawi (Kis 10:14). Lebih jauh, jika memang penglihatan yang diterima Petrus adalah pembatalan mengenai Imamat 11, mengapa Petrus masih bertanya-tanya akan arti penglihatan tersebut, meski sudah terdengar suara dari langit, “apa yang Kunyatakan bersih, jangan kamu katakan kotor!” (Kis 10:17).

Indikasi bahwa makna penglihatan yang diterima Petrus menjadi jelas ketika Petrus bertemu dengan Kornelius, perwira Italia yang non Yahudi yang telah memutuskan untuk menjadi murid Mesias. Petrus mulai mengerti arti penglihatan tersebut, bahwa Yahweh tidak ingin Petrus sebagai bangsa Yahudi membeda-bedakan secara ekslusif hak untuk menerima keselamatan, terhadap bangsa non Yahudi (Kis 10:34)
Kasus surat dan pengajaran Paul

Kata “Tidak ada suatupun yang haram” (1 Tim 4:3-4) demikian pula kata “Segala sesuatu adalah suci” (Rm 14:20) dalam terjemahan LAI, adalah tidak tepat. Kata “Koinos”Katharos” (Rm 14:20), dalam Darby Bible 1890 diterjemahkan sbb :”… that nothing is unclean of itself”… All things indeed are pure”. Kata “Kalon” dan “Apobleton” (1 Tim 4:3-4) dalamDarby Bible 1890 sbb : For every creature of God is good and nothing is to be rejected.

Kamis, 01 Desember 2011

MAKNA ASARA DEVARIM (SEPULUH PERINTAH) DALAM KELUARAN 20



Dalam tradisi dan pemahaman orang Yahudi, perayaan Shavuot atau Pentakosta adalah perayaan panen dan sekaligus perayaan turunnya Torah di Sinai. Beberapa kebiasaan orang Yahudi menjelang dan di saat jatuh perayaan Shavuot atau Pentakosta al., membaca Kitab Suci semalam suntuk. Ada yang memilih membaca Mazmur, ada yang membaca Kitab Ruth karena berbicara mengenai pesta panen dan bayangan Mesias yang akan datang, dan ada pula yang membaca Kitab Keluaran 19-20.

Perayaan Shavuot dihubungkan dengan turunnya Torah di Sinai karena dikatakan “Pada bulan ketiga setelah orang Israel keluar dari tanah Mesir, mereka tiba di padang gurun Sinai pada hari itu juga” (Kel 19:1). Karena bulan Nisan dijadikan bulan yang pertama sebagai peringatan Pesakh dan pembebasan dari Mesir (Kel 13:4, Ul 16:1) maka tiga bulan dari bulan Nisan atau Aviv adalah bulan Siwan yang dalam kalender modern jatuh pada bulan Juni.

Kelak Tuhan YHWH menjadikan perayaan Shavuot sebagai momentum pencurahan Roh Kudus sebagai Penghibur yang menyertai orang-orang yang percaya kepada Yesus sebagai Mesias dan Anak Tuhan (Kis 2:1-47).

Beberapa hari sebelum Tuhan memberikan Torah dalam bentuk dua loh batu berisikan sepuluh perintah-Nya persiapan khusus dilakukan oleh umat Israel berdasarkan petunjuk dan pewahyuan Tuhan YHWH yaitu menyucikan diri dan dilarang bersetubuh sebagaimana dikatakan dalam Keluaran 19:10 dan 15 sbb:

Berfirmanlah YHWH kepada Musa: "Pergilah kepada bangsa itu; suruhlah mereka menguduskan diri pada hari ini dan besok, dan mereka harus mencuci pakaiannya

Maka kata Musa kepada bangsa itu: "Bersiaplah menjelang hari yang ketiga, dan janganlah kamu bersetubuh dengan perempuan

Petunjuk Tuhan YHWH di atas menjadi pedoman bagi kita sebagai umat pengikut Mesias yang hidup di Abad XXI bahwa kesucian dan kebersihan adalah prasyarat pertama datang kepada Tuhan baik dalam ibadah Tefilah atau ibadah harian maupun ibadah Shabat atau ibadah pekanan serta Moedim atau ibadah hari raya tahunan.

Itulah sebabnya jika kita mendengar sabda Tuhan diperdengarkan dan dijabarkan, seharusnya kita memiliki sikap yang hormat dan menantikan kehendak Tuhan bagi kita.

Kembali kepada peristiwa di Sinai. Apa yang terjadi ketika Torah akan diberikan kepada Bangsa Israel melalui Musa? Keluaran 19:16 mengatakan, “Dan terjadilah pada hari ketiga, pada waktu terbit fajar, ada guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan

Peristiwa pewahyuan Torah terjadi dengan disaksikan banyak saksi yaitu orang-orang Israel di bawah gunung Sinai sekalipun gunung Sinai ditutupi awan dan kilat bergemuruh. Pewahyuan Torah bukan terjadi di tempat gelap atau di sebuah gua yang tersembunyi dimana tidak ada saksi satupun. Dan para saksi yakni bangsa Israel melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana kemuliaan Tuhan YHWH menyertai turunya Torah yang diberikan kepada Musa dalam bentuk dua loh batu.

Isi dua loh batu ini disebut dengan Asara Debarim atau Sepuluh Firman. Kita mengenalnya dengan sebutan Ten Commandement atau Sepuluh Perintah. Marilah kita hayati kembali kesepuluh perintah YHWH di Sinai ini (Keluaran20:1-26)

Kesepuluh perintah ini diawali dengan preambule atau pembukaan yang mengatakan: “Ani YHWH Eloheika asyer hotsieni mi Mitsrayim mi bet Avadim”  yang artinya “Akulah YHWH Tuhanmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan”. Pernyataan ini hendak menegaskan Tuhan yang membebaskan bangsa Israel memiliki nama yaitu YHWH (Yahweh) dan Tuhan yang bernama YHWH (Yahweh) adalah Tuhan yang bertindak dengan tangan-Nya sendiri untuk membebaskan umat-Nya dari perbudakan Mesir melalui Asara Negef Maskhit atau Sepuluh Tulah Kebinasaan.

Perintah yang pertama: “Lo yihye elohim akherim al panay” yang artinya “Jangan ada padamu tuhan lain di hadapan-Ku

Dalam konteks Israel kuno, bentuk “tuhan lain” (elohim akherim) adalah patung-patung. Tuhan menginginkan bangsa Israel menyembah patung dan menganggapnya sebagai Tuhan. Dalam kebudayaan modern Abad XXI bentuk-bentuk “tuhan lain” adalah materi, kedudukan, jabatan, kekayaan. Bukankah materi, kedudukan, jabatan, kekayaan terkadang menyita waktu kita dan menyebabkan Tuhan tersingkir dalam hati dan pikiran kita?

Perintah yang kedua: “Lo taashe leka fesel” yang artinya “jangan membuat bagimu patung”

Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, YHWH, Tuhanmu, adalah Tuhan yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku”(Kel 20:3-6)

Apakah ayat ini merupakan larangan untuk membuat patung? Tepatnya larangan agar membuat patung dan sujud menyembahnya. Kalimat “lo tishtakhawe” (jangan menyembah) dan “lo taavod” (jangan beribadah) menjadi penanda bahwa bentuk-bentuk peribadatan kepada patung buatan manusia adalah perbuatan kekejian yang menimbulkan kemurkaan Tuhan YHWH?

Bagaimana dengan kecenderungan gereja tertentu yang mempergunakan patung orang kudus dan tokoh Kitab Suci sebagai sarana peribadahan? Sepanjang patung-patung tersebut diperlakukan sebagai sebuah karya seni maka tidak ada persoalan. Namun jika patung-patung tersebut menjadi sarana peribadatan individu dan komunitas maka sudah termasuk penyembahan berhala. Apalagi ada kewajiban mencium patung tersebut. Apapun alasannya.

Perintah yang ketiga: “Lo tissa et shem YHWH Eloheika lashaw” yang artinya “jangan menyebut nama YHWH Tuhanmu dengan sembarangan”.