Selasa, 22 November 2016

KASIHILAH ATAU BENCILAH MUSUHMU?



Jika kita membaca Torah, maka kata “musuh” dan “perlawanan” serta “binasa” menjadi begitu dominan dituliskan sebagai respon seseorang terhadap mereka yang berlaku jahat terhadap dirinya, keluarganya atau bangsanya, sebagaimana dikatakan, “Lima orang dari antaramu akan mengejar seratus, dan seratus orang dari antaramu akan mengejar selaksa dan semua musuhmu akan tewas di hadapanmu oleh pedang”(Im 26:8 - Band. Kej 24:60, Bil 14:42, 1 Sam 12:1). Bahkan dalam Mazmur banyak tertulis doa-doa Daud yang meminta Tuhan membinasakan musuhnya antara lain, “Yahweh telah mendengar permohonanku, Yahweh menerima doaku. Semua musuhku mendapat malu dan sangat terkejut; mereka mundur dan mendapat malu dalam sekejap mata” (Mzm 6:11). Lantas bagaimana kita menyelaraskan teks perihal musuh dan respon perlawanan terhadap musuh serta doa-doa memohon kebinasaan terhadap musuh dengan sabda Yesus Sang Mesias perihal mengasihi musuh? 

Rabu, 16 November 2016

MEMPERTAHANKAN KESETIAAN DAN KEBENARAN

Pada bagian akhir sebuah film berjudul Crime of the Century dipetik sebuah surat seorang terdakwa mati bernama Richard Hauftman yang dituduh dan diputuskan bersalah telah membunuh seorang bayi sekalipun dirinya telah berusaha membuktikan tidak terlibat dan tidak bersalah. Demikian petikkan suratnya, “Aku senang hidupku di dunia ini yang tidak memahamiku telah berakhir. Sebentarlagi aku akan pulang dengan Tuhanku. Karena aku sayang Tuhanku aku mati sebagai orang tidak bersalah. Mereka pikir saat aku mati, kasus ini juga akan mati. Mereka pikir ini seperti buku yang akan ditutup. Tapi buku itu tak akan pernah tertutup”.

MENGAKHIRI PERTANDINGAN DENGAN BAIK

Jika kita menghadiri upacara pemakaman di kalangan mereka yang beragama Islam, kerap muncul ujaran yang kurang lebihnya demikian, “Kiranya saudara A matinya dalam keadaan “khusnul khotimah”, lalu akan ditimpali para hadirin , “Amin”. Apakah makna kata “khusnul khatimah?” Artinya “akhir yang baik”. Seseorang yang meninggal diharapkan meninggal dalam keadaan yang baik. Menurut kepercayaan Islam mereka yang meninggal dalam keadaan baik memiliki sejumlah ciri al., mampu mengucapkan kalimat sahadat saat sakratul maut alias menjelang kematian. Sebaliknya, mereka yang mengakhiri kehidupan dengan buruk disebut “shu’ul khatimah” yang merupakan kebalikkan dari “khusnul khatimah”.

NUBUAT YANG DIBUAT


Praktik manipulasi nubuat demi kepentingan pribadi dan kelompok rupanya sudah menjadi gejala yang tua usianya dan bukan hanya menjadi karakter kehidupan beragama di era modern belaka. Terbukti di masa kerajaan Israel dipimpin Ahab yang lalim, dia selalu menginginkan nubuat-nubuat yang baik dan menyenangkan hati serta mendukung berbagai tindakan dan keputusan yang dilakukannya tinimbang benar-benar mendengar suara dan petunjuk Tuhan.

BIARA KEHIDUPAN


Di kalangan gereja Ortodox dan Katolik dikenal kehidupan biara dan pertapaan Kristen. Kehidupan membiara ini dikenal dengan sebutan Monastikisme. Akar kehidupan membiara berasal dari tradisi Yudaisme sebagaimana dijalankan oleh kaum Esseni di kawasan Qumran, Laut Mati dan kehidupan Yohanes Pembaptis yang tinggal di padang gurun. Tercatat dalam sejarah kekristenan, tokoh-tokoh pertapa Kristen pertama al., Antonius dari Thebes Mesir memulai kehidupan membiara pada tahun 269 Ms, dilanjutkan oleh Benediktus di tahun 540 dst.

Kamis, 03 November 2016

AGAMA DAN KOMODITAS


Setiap barang selalu memiliki dua nilai dalam dirinya yaitu “nilai guna” dan “nilai jual” atau “nilai ekonomi”. Nilai guna berbicara perihal fungsi dan kegunaan sebuah barang atau benda. Pisau berfungsi dan berguna untuk mengupas, menguliti, menyobek dll. Nilai ekonomi berbicara perihal harga sebuah barang dalam kegiatan ekonomi dan pasar. Ini yang disebut dengan istilah “komoditas” alias barang yang dapat diperjualbelikan. Pisau memiliki nilai jual karena ada orang yang membelinya dan membutuhkannya sementara si pembeli tidak memiliki pisau. Namun ternyata bukan hanya benda dan barang yang memiliki nilai guna dan nilai jual, bahkan sejumlah situasi, kondisi, tindakan, peristiwa serta perilaku keagamaan dapat menjadi sebuah nilai jual atau nilai ekonomi. Kemiskinan sebagai kondisi bisa diubah menjadi nilai ekonomi oleh orang-orang yang memanfaatkan kondisi tersebut untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. 

MEMERANKAN DIRI SENDIRI


Tanpa bermaksud membuat stigma negatif dan membuat generalisasi (penyamarataan), kita kerap disuguhi kenyataan sebagaimana dilaporkan dalam sejumlah media sosial atau siaran-siaran infotainment di sejumlah media elektronik bagaimana para aktor dan aktris – baik dalam negeri maupun luar negeri – yang begitu piawai dan berhasil menerima sejumlah penghargaan dibidang tokoh yang diperankannya dalam sejumlah film ternama. Namun ironisnya kita kerap melihat dan mendengar bagaimana aktor yang mampu memerankan sejumlah tokoh dan menjadi idola banyak orang justru kerap gagal memerankan dirinya sendiri dalam kehidupan pribadi dan keluarganya.