Wednesday, November 16, 2016

NUBUAT YANG DIBUAT


Praktik manipulasi nubuat demi kepentingan pribadi dan kelompok rupanya sudah menjadi gejala yang tua usianya dan bukan hanya menjadi karakter kehidupan beragama di era modern belaka. Terbukti di masa kerajaan Israel dipimpin Ahab yang lalim, dia selalu menginginkan nubuat-nubuat yang baik dan menyenangkan hati serta mendukung berbagai tindakan dan keputusan yang dilakukannya tinimbang benar-benar mendengar suara dan petunjuk Tuhan.

Tindakan lalim Raja Ahab membelah para nabi menjadi nabi-nabi yang melacurkan diri demi uang dan kedudukan serta masa depan karir kenabiannya dan mereka yang meniti jalan sunyi untuk hanya mengatakan apa yang Tuhan katakan, benar adalah benar dan salah adalah salah dan tidak memutar balikkannya. 

Adalah Mikha ben Yimla yang dibenci oleh raja Ahab karena tidak pernah menubuatkan apa yang dikehendaki raja melainkan apa yang didengar Mikha dari Tuhannya untuk disampaikan pada raja. Oleh karenanya saat raja Yosafat besan Ahab hendak mencari restu dan petunjuk Tuhan untuk penyerangan ke wilayah Ramot Gilead, para nabi yang masuk arus utama dengan jumlah empat ratus beramai-ramai melantunkan satu suara merdu yang menyenangkan telinga  Ahab : "Majulah! Tuhan akan menyerahkannya ke dalam tangan raja” (2 Taw 15:5). 

Namun keraguan Yosafat menuntunnya untuk mencari konfirmasi terakhir. Ahab sudah mengetahui ada satu nabi yang hanya akan mengatakan yang berbeda dengan para nabi kalangan istana itu, namun dia membencinya karena selalu mengatakan yang berlawanan dengan ambisinya sebagai raja (2 Taw 18:7). Benar saja, ketika Mikha dipanggil ke istana, dia mengatakan yang berkebalikan dengan nabi-nabi istana (2 Taw 18:16) dan menimbulkan kemurkaan Ahab (2 Taw 18:17) serta reaksi keras para nabi istana yang diwakili Zedekiah ben Kenaana (2 Taw 18:23). 

Praktik membeli nubuat palsu masih terjadi dan berulang hingga kini, baik demi tujuan politik maupun kekuasaan. Tugas seorang rohaniawan sebagai penerus para nabi bukanlah menyampaikan apa yang disenangi telinga banyak orang melainkan menyampaikan apa yang seharusnya mereka dengar dan lakukan sekalipun tidak menyenangkan di dengar oleh telinga, seperti Mikha yang berani berkata "Demi Yahweh yang hidup, sesungguhnya, apa yang akan difirmankan Tuhanku, itulah yang akan kukatakan” (2 Taw 18:13)

No comments:

Post a Comment