Jumat, 08 November 2013

TOLONG MENOLONG & TIDAK MENGAMBIL YANG BUKAN HAKNYA



Midrash Ulangan 22:1-4

Sebagai orang Kristen kita mengenal istilah “Sepuluh Perintah Tuhan” atau yang sering disebut dengan “Aseret ha Debarot” atau “Ten Commandement” yang merujuk pada Keluaran 20:1-17. Sepuluh perintah ini diberikan Tuhan YHWH di Sinai kepada Musa untuk diteruskan kepada Bangsa Israel.

Rabbi Moshe Maimonides (1135-1204) dalam bukunya Misney Torah menghitung bahwa jumlah keseluruhan perintah YHWH dalam Kitab Torah dari Kitab Kejadian, Kitab Keluaran, Kitab Imamat, Kitab Ulangan serta Kitab Bilangan berjumlah 613 yang terbagi dalam 365 perintah yang bersifat negatif (ditandai dengan bentuk larangan atau “lo taasheh” -janganlah) dan 248 perintah yang bersifat positip (ditandai dengan bentuk anjuran atau “taasheh” - lakukanlah).

Sabtu, 05 Oktober 2013

GURITA KORUPSI DI LEMBAGA KONSTITUSI




Belum tuntas kasus mega korupsi yang ditangani KPK seperti kasus korupsi Simulator yang melibatkan perwira Irjen Djoko Susilo dan kasus-kasus lainnya seperti korupsi Wisma Atlet dan Hambalang, publik kembali dikejutkan dengan kasus besar yang dibongkar KPK dengan tertangkapnya Akil Mochtar yang baru beberapa bulan ditetapkan sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi. Dalam operasi tangkap tangan tersebut, KPK berhasil menyita sejumlah uang yang diterima Akil Mochtar senilai 22.000 Dolar Singgapura yang nilainya setara dengan 3 Miliar (KPK Tangkap Ketua MK, Kompas 3 Oktober 2013, hal 1). Kita menunggu hasil persidangan untuk membuktikan apakah Ketua Mahkamah Konstitusi terbukti melakukan pelanggaran hukum.

Peristiwa penangkapan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar dapat dimaknai dari tiga perspektif yaitu Hukum, Sosiologis, Teologis. Dari perspektif hukum, penangkapan Akil Mochtar menunjukkan paradox hukum. Pertama, delegitimasi MK sebagai lembaga yang memberi keputusan final terhadap sengketa-sengketa hukum lembaga negara. Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Adnan Pandu Praja mengatakan bahwa tindakan Akil Mochtar telah merobohkan pilar konstitusi dengan tindakan korupsi yang dilakukannya (Pilar Konstitusi Roboh, Kompas 4 Oktober 2013). Kepercayaan masyarakat terhadap validitas Mahkamah Konstitusi yang semula meningkat melalui dua mantan pimpinannya yaitu Jimly Ashidique dan Mahfud M.D. saat ini mengalami delegitimasi kepercayaan. Tidak Heran jika Mahfud M.D. mengatakan, MK saat ini mengalami gempa bumi dan kehancuran (KPK Tangkap Ketua MK, Kebumen Ekspres 3 Oktober hal 7) . Kedua, upaya masyarakat untuk meraih kembali kewibawaan hukum melalui kerja keras KPK. Notabene saat ini lembaga yang paling dipercaya adalah KPK setelah semua istitusi kenegaraan lainnya terjerat gurita korupsi. Bahkan kepolisian dan kehakiman pun tidak luput dari gurita korupsi. Belum lama ini laporan yang mengatakan bahwa DPR adalah lembaga terkorup pun semakin mengecilkan kepercayaan masyarakat akan tegaknya hukum di republik ini. Inilah paradox yang saat ini terjadi di depan mata kita: Semakin menurunnya kepercayaan publik terhadap kredibilitas lembaga hukum namun sekaligus harapan untuk menegakkan kewibawaan hukum.

Kamis, 12 September 2013

KEMATIAN YESUS SEBAGAI KORBAN PENDAMAIAN



 

Midrash 1 Yohanes 2:1-6 (Nats: 1 Yoh 2:1-2)


Perayaan Yom Kippur menunjuk pada pendamaian dosa-dosa kolektif Bangsa Yisrael terhadap YHWH dengan penyembelihan hewan setahun sekali. Dalam Perjanjian Baru menunjuk pada karya Yesus sebagai korban pendamaian sejati. Nilai karya Mesianis Yesus yaitu kewafatan di kayu salib memiliki aspek ganda yang berkaitan dengan dua perayaan dari tujuh hari raya yaitu Pesakh (Paskah) dan Yom Kippur (Hari Pendamaian).

Berikut ini karakteristik dari perayaan Yom Kippur menurut Barney Kasdan dalam bukunya God’s Appointed Time: A Practical Guide for Undestanding and Celebrating the Biblical Holiday, sbb: Berdasarkan Imamat 16, ritual Yom Kippur berpusat pada persembahan dua korban kambing. Yang satu dinamai dengan Khatat yang akan disembelih sebagai lampang penghapusan dosa Yisrael. Sementara kambing yang satu diberi nama Azazel. Kambing ini tidak disembelih namun dibuang ke hutan dan ditandai kain merah kesumba. Kambing ini sebagai lambang dosa Yisrael yang dibuang. Ritual di atas merupakan ketetapan Tuhan yang agung, yaitu mengenai penebusan dan pengampunan melalui korban pengganti. Karena Rosh ha Shanah dan Yom Kippur berdekatan dalam berjarak sepuluh hari, maka perayaan Yom Kippur menjadi sangat penting. Apa yang telah dimulai pada bulan Tishri sebagai evaluasi diri dan pertobatan maka pada hari kesepuluh digenapi dengan penebusan dan pengampunan. Sejak Bait Suci (Bet ha Miqdash) di Yerusalem hancur pada tahun 70 Ms. Maka muncul kebingungan diantara para rabbi, mengenai bagaimana pelaksanaan korban Yom Kippur yang berpusat di Bait Suci. Pada perkembangannya para rabbi membuat korban pengganti melalui Tseloshah Taw atau “TIGA T” yaitu: Tefilah(doa), Tsedaqah (perbuatan baik, derma) dan Teshuvah (pertobatan).

Rabu, 04 September 2013

HIDUP MENGHASILKAN BUAH-BUAH PERTOBATAN



Midrash Lukas 3:1-22 (Nats: Luk 3:8)


Ketika kita membaca pernyataan berikut, “Dalam tahun kelima belas dari pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi wali negeri Yudea, dan Herodes raja wilayah Galilea, Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias raja wilayah Abilene, pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Tuhan kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun” (Luk 3:1-2), kita hanya mendapatkan latar belakang sosial politik ketika Yohanes melaksanakan tugas mempersiapkan kedatangan Mesias.

Dapatkah kita mendapatkan keterangan mengenai latar belakang munculnya pernyataan dan kotbah Yohanes Pembaptis sbb: “Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Tuhan akan mengampuni dosamu, seperti ada tertulis dalam kitab nubuat-nubuat Yesaya: Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk YHWH, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari YHWH” (Luk 3:3-6).

Pernyataan Yohanes di atas dapat kita telusuri dengan melacak jejak dan latar belakang keagamaan orang Yahudi yaitu Yudaisme yang mengalami perjalanan panjang hingga mencapai bentuk modernya saat ini. Apakah Yudaisme dan mengapa Yudaisme?

Kamis, 08 Agustus 2013

MENJADI KUDUS DALAM SEGALA ASPEK KEHIDUPAN



Midrash Shabat, 1 Petrus 1:1-25
Nats 1 Petrus 1:15


MAKNA KEKUDUSAN

Berbicara mengenai kekudusan bagi segolongan orang dianggap sebagai sebuah pola hidup yang steril dan ekslusif, baik dalam pergaulan dan hal-hal yang berkaitan dunia sekelilingnya. Ada yang mengartikan kekudusan dengan tidak boleh menggunakan assesoris dan bersolek, ada yang mengartikan kekudusan dengan tidak boleh menonton tayangan ini dan itu. Sementara dilain pihak ada yang mengartikan kekudusan sebagai sebuah konsep ideal yang mustahil untuk dipenuhi oleh manusia yang berdosa. Bagi orang-orang yang ada di wilayah pemikiran sedemikian, mereka mengartikan kekudusan hanyalah sesuatu yang bisa dikerjakan olehYesus Sang Mesias belaka.

Kedua pandangan mengenai kekudusan di atas, mewakili pemahaman ekstrim yang terjadi dalam Kekristenan. Apakah kedua pandangan tersebut firmaniah? Kita akan menyelidiki terlebih dahulu kata “kudus” yang berasal dari bahasa Ibrani “Qadosh” dari akar kata “Qadash” yang artinya “dipisahkan” atau “disendirikan” atau “dikhususkan”.

Dalam Kitab Suci kata “Qadash” muncul dibeberapa tempat dalam pengertian sbb:

Selasa, 06 Agustus 2013

BOLEHKAH BERCERAI?




Tuhan Yahweh telah menetapkan pernikahan sebagai lembaga kudus dimana seorang lelaki dan seorang perempuan memiliki ikatan. Pernikahan bukan sekedar hubungan seksual lelaki dan perempuan melainkan sebuah lembaga spiritual yang ditetapkan Tuhan sebagaimana dikatakan, “al ken ya’azav ish et aviw we et immo wedavaq beishtto lehayu lebasyar ekhad"  (Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging – Kej 2:24).

Namun dalam perjalanan hidup, ternyata pernikahan tidak selalu berjalan dengan baik dan lancar. Ada berbagai persoalan yang dapat merusak kehidupan pernikahan seperti perzinahan, kekerasan fisik dalam keluarga, penelantaran atau pengabaian pemenuhan kebutuhan biologis dan kebutuhan psikis serta ekonomi. Apa yang harus dikerjakan ketika terjadi hal-hal tersebut di atas.

Senin, 15 Juli 2013

BERPUASA YANG DIKEHENDAKI TUHAN




Yesus bersabda mengenai berpuasa sbb: "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Matius 6:13-18).

Berpuasa adalah bagian dari ibadah Kristen sebagaimana Yesus Sang Mesias memerintahkannya bagi kita. Sabda Yesus mengajarkan pada kita bagaimana puasa yang benar dan berkenan di hadapan YHWH Tuhan dan Bapa Surgawi.

Sebelum kita mengupas perihal bagaimana berpuasa yang benar  dan berkenan di hadapan Tuhan, kita akan melihat secara singkat apa yang dimaksudkan dengan berpuasa dan kapan kita harus berpuasa serta manfaa apa yang kita dapatkan dari berpuasa.

Rabu, 05 Juni 2013

DEREK YAHWEH




Midrash Shabat: Yeremia 6:1-26
Nats: Yeremia 6:16; 5:4-5, Amsal 2:20

Yeremia pasal 6:1-26 memberikan gambaran perihal kondisi yang akan dialami oleh Bangsa Israel yaitu “malapetaka” (ay 1) dan “hukuman” (ay 6) serta “penyerbuan” dari musuh” (ay 11, Band. Ay 22-26). Apa yang menyebabkan hal-hal di atas? Karena “telinga mereka tidak bersunat dan Firman Tuhan menjadi bahan cemoohan” (ay 10) dan dikatakan “baik nabi maupun umat mengejar untung” (ay 13-15), “tidak mau menempuh jalan orang terdahulu” (ay 16), “tidak memperhatikan para penjaga” (ay 17), “tidak memperhatikan Torah” (ay 19).
Pada ayat 16 dikatakan bahwa orang Israel tidak mau menempuh “jalan orang terdahulu” atau “jalan yang baik”, dimana mereka seharusnya mendapat ketentraman. Apakah jalan yang dimaksudkan itu? Dalam Amsal 2:20 digemakan kembali sbb, “Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar” (Ibr: lema’an telek bederek tovim, wearkhot ha tsadiqim tishmor).

Untuk memahami makna “jalan orang terdahulu” atau “jalan orang baik” atau “jalan orang benar”, maka kita harus membaca terlebih dahulu Yeremia pasal 5:1-5 sbb: “Lintasilah jalan-jalan Yerusalem, lihatlah baik-baik dan camkanlah! Periksalah di tanah-tanah lapangnya, apakah kamu dapat menemui seseorang, apakah ada yang melakukan keadilan dan yang mencari kebenaran, maka Aku mau mengampuni kota itu. Sekalipun mereka berkata: "Demi YHWH yang hidup," namun mereka bersumpah palsu. Ya YHWH, tidakkah mata-Mu terarah kepada kebenaran? Engkau memukul mereka, tetapi mereka tidak kesakitan; Engkau meremukkan mereka, tetapi mereka tidak mau menerima hajaran. Mereka mengeraskan kepalanya lebih dari pada batu, dan mereka tidak mau bertobat. Lalu aku berpikir: "Itu hanya orang-orang kecil; mereka adalah orang-orang bodoh, sebab mereka tidak mengetahui jalan YHWH, hukum Tuhan mereka. Baiklah aku pergi kepada orang-orang besar, dan berbicara kepada mereka, sebab merekalah yang mengetahui jalan YHWH, hukum Tuhan mereka." Tetapi mereka pun semuanya telah mematahkan kuk, telah memutuskan tali-tali pengikat”.

Yang dimaksudkan dengan jalan dimana umat israel harus menempuhnya adalah “Jalan YHWH (Yahweh)” atau dalam bahasa Ibrani disebut “Derek YHWH”. Jalan YHWH adalah “jalan Tuhan mereka”. Jalan YHWH adalah aturan main yang telah ditetapkan oleh Tuhan agar umat-Nya mengalami ketentraman dan jika peraturan dan ketetapan ini dilanggar, mereka akan mengalami hukuman.

Mari kita lihat lebih jauh apa itu “Jalan YHWH” atau “Derek YHWH”. Kitab Suci memberikan keterangan sbb:

Selasa, 07 Mei 2013

MISKIN NAMUN MEMPERKAYA ORANG LAIN, KAYA FINANSIAL DAN KAYA AKAN KEBAJIKAN



Bahan Renungan:

2 Korintus 6:10, 1 Timotius 6:18


Ketika saya masih sekolah menengah atas di Bandung, saya pernah ingin menyalurkan bakat menulis saya dengan menyerahkan naskah cerpen ke pihak organisasi intra sekolah agar dapat dimuat di mading (majalah dinding). Namun cerpen tersebut dikembalikan pihak pengelola mading dengan alasan isinya terlalu idealis dan mustahil terjadi. Alasan pengembalian tersebut hanya dikarenakan saya membuat cerita tentang seorang pengemis baik hati yang mengembalikan dompet seseorang yang terjatuh dan tergeletak di jalanan, dimana ada sejumlah uang dan kartu identitas pemilik dompet. Saya kecewa dan tidak habis pikir dengan alasan penolakkan tersebut. Ketika saya membuat cerpen tersebut bukan dikarenakan saya telah melihat fakta atau mendengar sebuah kisah nyata yang saya tuangkan dalam bentuk cerpen. Sebaliknya, saya memang ingin menyalurkan sebuah idelaisme mengenai kejujuran dan kebaikan serta martabat, bahwa seorang miskin yang menjadi pengemis belum tentu akan memanfaatkan setiap kesempatan yang akan membuatnya melakukan tindakan melanggar hukum seperti mencuri.

Namun ketika saya membaca dua kisah nyata yang menggetarkan hati berikut ini, saya semakin percaya bahwa idealisme saya beberapa puluh tahun silam ternyata bukan sebuah khayalan yang tidak mungkin terjadi. Sebaliknya, idealisme tersebut telah menemukan pembuktiannya melalui kisah yang akan saya bagikan pada pembaca sekalian.

Ada dua kisah nyata dan inspiratif yang akan saya bagikan dan yang mungkin sudah pernah ada yang mendengar atau membaca kisah luar biasa ini.

Kisah Pertama

Hiduplah sepasang suami istri miskin yang hidup kolong jembatan di Sao Paulo, Brasil. Namun, hati Maranhao Rejaniel de Jesus Silva Santos (36) dan pasangannya, Sandra Regina Domingues luar biasa kaya.

Pada Minggu 8 Juli 2012, sekitar pukul 03.00 dini hari, mereka yang sedang terlelap di kolong Jembatan Azevedo terbangun saat mendengar raungan alarm memekakan telinga. Penasaran, Santos dan Domingues memutuskan untuk mendekati asal alarm, yang ternyata berasal dari sebuah restoran Jepang yang jadi korban perampokan.

Seperti dimuat laman Folha do Sao Paulo, beberapa waktu kemudian, di tengah jalan, Santos menemukan dua koper berisi uang diletakkan di bawah pohon sebelah halte bus. Satu koper berisi uang kertas, lainnya penuh berisi koin. Di dekatnya tergeletak bon dan bukti transaksi kartu kredit.

Dari bukti transaksi, diketahui bahwa uang tersebut dicuri dari restoran Hokkai Sushi yang baru dirampok. Diduga, uang itu sengaja ditinggal oleh para perampoknya karena banyak petugas yang sedang berjaga, dan akan diambil begitu keadaan sudah aman. Uang yang mereka temukan tak tanggung tanggung. Senilai 20.000 real Brazil atau Rp92 juta.

Namun, alih-alih mengambilnya dan menganggap sebagai "rezeki jatuh dari langit", Santos memutuskan untuk mengembalikannya. "Saya langsung terpikir untuk lapor polisi," kata pria yang sehari-hari mengais rezeki dengan memulung sampah plastik.

Kejujurannya juga memukau polisi yang menerima pengembalian itu. "Saat polisi datang dan menjumpai uang sebanyak itu, mereka nyaris tak percaya aku mengembalikannya."

Salah satu pemilik restoran yang dirampok, Daniel Uemura juga heran bukan kepalang saat mengetahui yang menemukan uang miliknya adalah seorang tunawisma.

"Ini merupakan contoh kejujuran dan kerendahan hati. Kami sangat bersyukur masih ada orang seperti dia," ujar Uemura, ketika datang ke kantor polisi untuk mengambil uangnya.

Kamis, 04 April 2013

ARTI KEMATIAN YESUS BAGI PENGHAPUSAN DOSA MANUSIA



Sebelum kita mengupas makna kematian Yesus bagi penghapusan dosa umat manusia, kita akan mengkaji terlebih dahulu apa yang dimaksudkan dengan Dosa Asal (Original Sin). Saya lebih memilih istilah ini karena memang istilah inilah yang lebih tepat dan dipergunakan untuk menjelaskan asal usul dosa dalam berbagai terjemahan bahasa Inggris. Tidak ada istilah Dosa Waris kecuali penafsiran beberapa golongan Kristen yang membuat istilah tersebut menjadi rancu. Karena memang dosa tidak diwariskan sebagaimana dikatakan dalam Yekhezkiel 18:20

Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya”.

Dosa Asal (Original Sin)

Dosa berawal ketika manusia melanggar perintah Tuhan YAHWEH agar tidak memakan buah Pohon Pengetahuan Baik dan Pengetahuan Jahat sebagaimana dikatakan:

Lalu Yahweh Tuhan (יהוה אלהים) memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati”(Kej 2:16-17).

Sabtu, 23 Maret 2013

YESUS DALAM UPACARA SEDER PESAKH



MENGKAJI AKAR YUDAISME PERJAMUAN KUDUS YAITU SEDER PESAKH

Pesakh ada daftar perayaan yang pertama dari ketujuh hari raya yang ditetapkan YHWH di Sinai untuk dipelihara selamanya. Perayaan ini menunjuk pada peringatan terluputnya nenek moyang Yishrael dari tulah YHWH melalui olesan darah di tiap palang pintu orang Yisrael (Im 23:5).

Tradisi Yahudi melaksanakan Seder Pesakh dalam menandai Pesakh yang jatuh Tanggal 14 Nisan. DR. David Stern menjelaskan perihal Seder sbb:  “Seder adalah, Tata Cara, namun istilah ini menunjuk pada tata cara makan dan perayaan yang dilaksanakan saat Pesakh. Hari ini, bagian-bagian dari peristiwa Paskah, doa-doa, cerita dan berbagai hidangan yang dimakan dipersiapkan dalam bentuk Haggadah (penceritaan) yang mengumpulkan cerita Kitab Suci mengenai keluarnya Bangsa Israel dari Mesir dengan tambahan-tambahan Rabinik. Banyak dari ciri-ciri dalam Seder Modern tetap dilaksanakan dimasa hidup Yeshua”[1].

Unsur-Unsur Liturgis Seder Pesakh Yahudi

Untuk dapat memahami makna yang terkandung dalam Seder Pesakh, maka perlu mengkaji unsur-unsur liturgis dan berbagai hidangan yang tersedia selama pelaksanaan Seder Pesakh, yaitu:

Cawan Berkat/Pengudusan
Meminum anggur pertama, dengan terlebih dahulu mengucap syukur dan mengucapkan Berakhah (berkat). Anggur yang diminum bukanlah anggur berfermentasi sebagai lambang tanpa dosa dan cela.

Cawan Tulah
Meminum anggur kedua, sebagai lambang peringatan terhadap peristiwa YHWH membebaskan Bangsa Israel dari Mesir. Nama-nama tulah disebutkan sambil mencelupkan jari kelingking kedalam cawan sebagai simbol berkurangnya sukacita.


Kamis, 21 Februari 2013

KORUPSI: MENDAPATKAN REZEKI TIDAK KOSHER




Halaman surat kabar hari-hari ini masih melaporkan kasus-kasus penindakan korupsi sebagai headingnya. Harian Suara Merdeka beberapa hari lalu melaporkan hasil pengkajian KPK terhadap kasus korupsi Simulator SIM dan penyucian uang dengan terdakwa Irjen Djoko Susilo dengan heading “Irjen Djoko ‘Raja’ Properti”. Dalam pemberitan dilaporkan bahwa Irjen Djoko Susilo telah melakukan penyucian uang dengan membeli sejumlah properti di beberapa daerah. KPK telkah menemukan dan menyita sejumlah rumah mewah yang dibeli oleh Irjen Djoko Susilo dengan uang hasil korupsi al., rumah di Graha Candi Golf Semarang (2 buah), rumah di Jalan Perintis Kemerdekaan Solo, rumah di Jalan Sam Ratulangi Solo, rumah di Jalan Langenastran Yogya, rumah di Jalan Patehan Lor Yogyakarta[1]. Rumah-rumah tersebut disita antara tanggal 13-14 Februari 2013 lalu.

Beberapa hari kemudian tanggal 20 Februari 2013 KPK menemukan bukti baru dan melakukan penyitaan perumahan hasil penyucian uang Irjen Djoko Susilo al, rumah di Jalan Prapanca Raya Jakarta Selatan, rumah di Jalan Cikajang Jakarta Selatan, rumah di Jalan Elang Mas Jakarta Selatan, rumah di Pesona Kayangan Jawa Barat[2]. Semua rumah tersebut bernilai miliaran rupiah. Sebuah angka fantastis dan jumlah rumah yang fantastis jika melihat jabatan Djoko Susilo sebagai Inspektur Jendral.

Kita pun masih teringat dengan kasus korupsi pengadaan Al Qur’an beberapa waktu lalu. Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan dua tersangka korupsi pengadaan Al-Quran di Kementerian Agama pada 2011/2012. Mereka adalah anggota Komisi Agama Dewan Perwakilan Rakyat, Zulkarnaen Djabar, serta Direktur Utama PT Karya Sinergi Alam Indonesia, Dendy Prasetia. "KPK dalam hal ini telah menemukan dua alat bukti yang cukup untuk menaikkan status kasus ini ke tahap penyidikan," kata Ketua KPK Abraham Samad di kantor KPK kemarin. Abraham hanya menyebut inisial kedua tersangka sebagai ZD dan DP demikian laporan koran Tempo[3].

SUAP MEMBUTAKAN MATA ORANG BIJAKSANA




Di era Reformasi yang mengedepankan jargon-jargon (semboyan) al., demokrasi, kebebasan berpendapat, reformasi birokrasi, reformasi hukum, keadilan sosial, anti korupsi dll justru kenyataan-kenyataan di atas semakin menguat saja kepermukaan.

Dibentuknya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) bukan menghentikan dan meminimalisir korupsi dan suap, sebaliknya semakin merajalela di tubuh badan-badan pemerintahan serta partai politik dengan ditemukannya berbagai fakta dan kasus yang ditemukan oleh KPK. Ini bukan bermakna keberadaan KPK menjadi stimulan kemunculan korupsi, melainkan eksistensi dan kerja KPK menyebabkan aktifitas korupsi sistemik di segala bidang mulai terkuak satu persatu dan belum memberikan efek jera kepada pelaku korupsi.

Publik kembali dikejutkan oleh kasus yang sedang hangat hari ini dibahas yaitu kasus suap kuota impor daging sapi yang melibatkan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bernama Luthfi Hasan Ishaaq[1]. Ternyata tindakan melawan hukum berupa kasus suap tidak melihat apakah orang tersebut beragama apa atau berasal dari partai berbasis agama atau tidak. Kasus Lutfi Hasan Ishaaq membuktikan bahwa partai berbasis agama tidak menjamin pelaku organisasi kepartaian ini akan menjadi orang yang bersih dan terbebas dari suap dan korupsi.
Bagaimana iman Kristen memandang kasus suap? Tuhan YHWH melalui Torah-Nya ribuan tahun lampau telah mengecam dan melarang praktek suap. Kitab Keluaran (Sefer Shemot) 23:8 Tuhan YHWH bersabda agar para hakim di Israel dalam menjalankan peradilan dalam sistem Teokrasi diperintahkan, “Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar”.