Friday, December 1, 2017

MELEMPAR ROTI KE DALAM AIR

Untuk membiayai pendidikannya, seorang anak miskin menjual barang dari pintu ke pintu. Suatu hari, anak laki-laki ini benar-benar lapar tapi tidak punya uang untuk membeli makanan. Dia memutuskan untuk meminta sesuatu untuk dimakan ketika ia mengetuk pintu di rumah berikutnya. 

MENILAI DAN MENGHAKIMI DENGAN ADIL


Seorang lelaki berusia 24 tahun sedang berada di kereta api bersama dengan ayahnya. Ia melihat keluar melalui jendela kereta api dan berteriak, “Ayah, lihat pohon-pohon itu berjalan!”. Ayahnya tersenyum, namun pasangan muda yang duduk di dekatnya, memandang perilaku kekanak-kanakan lelaki yang berusia 24 tahun dengan kasihan. 

GEMILUT KHASADIM (PERBUATAN BAJIK)


Seorang lelaki tua terbaring lemah di sebuah rumah sakit. Seorang pemuda datang menengoknya setiap hari dan menghabiskan waktu berjam-jam bersama lelaki tua itu. Pemuda itu menyuapinya, membersihkan badannya, dan membimbingnya berjalan-jalan di taman, lalu membantunya kembali berbaring. Pemuda itu baru pergi setelah merasa bila lelaki tua itu sudah bisa ditinggal. 

UNTA DAN LUBANG JARUM


Dalam suatu kesempatan saat Yesus menjawab pertanyaan perihal orang kaya dan Kerajaan Surga, keluarlah pernyataan sbb, “Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Tuhan” (Luk 10:25). Pernyataan ini membingungkan banyak penafsir Kitab Perjanjian Baru. Ada berbagai tafsir terkait pernyataan Yesus di atas. 

Thursday, November 2, 2017

IBADAH PEKANAN GEREJA PERDANA

Yesus Sang Mesias dan Juruslamat kita beribadah pada hari sabat layaknya orang-orang Yahudi penganut Yudaisme pada zamannya, sebagaimana dikatakan, "Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Kitab Suci" (Luk 4:16). Bukan hanya Yesus namun rasul-rasul Yesus mewartakan Injil di sinagog tiap-tiap hari sabat sebagaimana dikatakan, "Dari Perga mereka melanjutkan perjalanan mereka, lalu tiba di Antiokhia di Pisidia. Pada hari Sabat mereka pergi ke rumah ibadat, lalu duduk di situ" (Kis 13:14. Band. Kis 13:27, 42, 44).

IBADAH HARIAN GEREJA PERDANA


Tanpa pemahaman latar belakang keagamaan Yudaisme Abad 1 Ms dan latar belakang kebudayaan Yahudi pada zaman itu, maka kita akan kerap gagal memahami pesan-pesan yang tertulis dalam Kitab Perjanjian Baru karena banyak rekaman percakapan yang sarat dengan idiom Ibrani sekalipun dikisahkan dalam bahasa Yunani. 

Bukan hanya percakapan yang sarat dengan ekspresi Ibrani, idiom Ibrani atau dituliskan dengan sastra Ibrani melainkan menggambarkan kehidupan sosial keagamaan Yahudi dan Yudaisme Abad 1 Ms. Itulah sebabnya DR. David Stern menyarankan untuk mempelajari teks-teks rabinik (Talmud dll) untuk memahami latar belakang kehidupan sosial keagamaan Yahudi yang dituliskan dalam Kitab Perjanjian Baru sebagaimana dikatakan, “Sudut pandang tradisional rabinik merupakan elemen dasar untuk mendapatkan pengertian yang jelas mengenai naskah Kitab Perjanjian Baru” (Jewish New Testament Commentary JNTP, 1998, p. 33). 

Thursday, October 26, 2017

CATATAN KRITIS UNTUK BUKU, “ZEALOT: THE LIFE AND TIMES OF JESUS OF NAZARETH” (2013)


Sekalipun Reza Aslan mengklaim dalam pengantar bukunya ,“Zealot: The Life And Times of Jesus of Nazareth” (2013 - http://jeankaleb.com/ebooks/Zealot.pdf) bahwa karyanya dihasilkan dari  “that two decades of rigorous academic research into the origins of Christianity” (dua dekade hasil penelitian perihal asal usul Kekristenan), namun membaca bukunya Reza Aslan khususnya bagian pengantar (introduction) terlihat bahwa Reza Aslan memilih menggunakan pendekatan Liberal terhadap analisis sejarah Kekristenan. Ini terlihat saat dia mengutip teolog Rudolph Bultman yang terkenal dengan teori Demitologisasi yaitu Kitab Suci baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berisikan mitos yang untuk memahaminya harus dilakukan proses demitos (saya masih menyimpan makalah tanggapan saya terhadap pemikiran Rudolph Bultman semasa semester pertengahan di sekolah Teologi yang berkiblat separuhnya ke pendekatan Liberal). Dalam pengantar bukunya, Aslan mengutip pernyataan Rudolph Bultman, “The great Christian theologian Rudolf Bultmann liked to say that the quest for the historical Jesus is ultimately an internal quest. Scholars tend to see the Jesus they want to see. Too often they see themselves—their own reɻection—in the image of Jesus they have constructed”.