Minggu, 27 November 2011

APAKAH PRAKTEK RIBA DIPERBOLEHKAN?

Torah mengatur perihal kehidupan yang adil terhadap sesama. Sebagaimana Yesus mengatakan bahwa dirinya bukan datang untuk membatalkan Torah melainkan untuk memberikan perspektif baru dalam melaksanakan Torah (Mat 5:17-18), maka kita akan belajar bagaimana Torah berbicara mengenai riba dan membungakan uang (נשׁך ותרבית = neshek we tarbit).

Imamat 25:35-36 mengatakan, "Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang, supaya ia dapat hidup di antaramu. Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba dari padanya, melainkan engkau harus takut akan Tuhanmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu”. Ditengah-tengah gencarnya Teologi Kemakmuran (Prosperity Gospel) yang mengajarkan bahwa kemiskinan sebagai bentuk kutuk dan anak Tuhan harus hidup kaya dan sehat, maka ayat di atas menempelak kita bahwa pengajaran demikian tidak mendapatkan dukungan baik dalam TaNaKh (Torah, Neviim, Ketuvim) maupun Kitab Perjanjian Baru. Torah justru mengajarkan kita untuk menolong sesama dan berbagi, termasuk terhadap mereka yang sedang mengalami jatuh miskin.

Beberapa pemimpin Kristen dan umat Kristen kerap mendengungkan pernyataan yang tidak pantas, “janganlah memberi ikan tapi berilah kail”. Pepatah tersebut benar jika kita tempatkan pada tempat yang tepat. Orang yang sedang kesusahan dan jatuh dalam kepailitan, kemiskinan (karena kalang bersaing usaha, karena PHK, dll) sudah seharusnya menjadi subyek pertolongan.

Yesus Sang Mesias bersabda: “Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu” (Mat 5:42). Perintah Yesus Sang Mesias menggemakan kembali apa yang diperintahkan dalam Torah yaitu Ulangan 15:7-8 sbb: “Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu di dalam salah satu tempatmu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh YHWH Tuhanmu, maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu, tetapi engkau harusmembuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan”.

Memberikan bantuan berupa pinjaman atau pemberian cuma-cuma kepada mereka yang sedang kesusahan dan mengalami kemiskinan adalah salah satu bentuk wujud kepedulian dalam menolong sesama. Namun ada satu hal yang tidak boleh diabaikan.

Janganlah membungakan uang dari harta yang kita pinjamkan. Mengapa? Pertama, Karena riba atau bunga uang bukan menguntungkan orang yang ditolong namun menguntungkan diri kita sebagaimana dikatakan dalam Amsal 28:8 sbb: “Orang yang memperbanyak hartanya dengan riba dan bunga uang, mengumpulkan itu untuk orang-orang yang mempunyai belas kasihan kepada orang-orang lemah”. Jika kita mengambil keuntungan dari balik kesulitan orang lain, maka perbuatan baik yang kita lakukan sia-sia belaka. Sebagaimana yang diperintahkan, seharusnya pertolongan yang kita berikan bertujuan “supaya saudaramu dapat hidup di antaramu” (Im 25:36).

Kedua, memungut riba dan bunga uang adalah kekejian di mata YHWH sebagaimana dikatakan, “...memungut bunga uang dan mengambil riba, orang yang demikian tidak akan hidup. Segala kekejian ini dilakukannya, ia harus mati; darahnya tertimpa kepadanya sendiri” (Yekhezkiel 18:13). Ketiga, merugikan orang lain sebagaimana dikatakan dalam Yekhezkiel 22:12 sbb: “Padamu orang menerima suap untuk mencurahkan darah, engkau memungut bunga uang atau mengambil riba dan merugikan sesamamu dengan pemerasan, tetapi Aku kaulupakan, demikianlah firman Tuan YHWH”.

Rabu, 23 November 2011

PREDESTINASI TERHADAP ORANG YANG BERIMAN PADA YESUS SEBAGAI MESIAS ANAK TUHAN

YHWH telah memiliki RENCANA (zamam, yatsar, Ibr) dalam kekekalan mengenai penciptaan dunia, baik fisik maupun metafisik dan, penciptaan manusia, hewan, tumbuhan, organisme lainnya. Ketika YHWH menciptakan dunia, Dia memberikan identifikasi BAIK terhadap seluruh  ciptaan-Nya, bahkan amat baik (Kej 1:4,10,12,18,21,25,31)

Tujuan Penciptaan Alama Semesta dan Manusia


Mencerminkan kemuliaan YHWH

Langit menceritakan kemuliaan Tuhan, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mzm 19:2)

Mencerminkan kekuasaan YHWH (Mzm 50:6)

Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Tuhan sendirilah Hakim. S e l a” (Mzm 50:6)

Menjadi mandataris YHWH (Kej 1:27-28)

Maka Tuhan menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Tuhan diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Tuhan memberkati mereka, lalu Tuhan berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kej 1:27-28)

Dosa Mencemari Rencana Tuhan

Apakah YHWH menciptakan adanya dosa? Tidak! Dosa adalah pelanggaran terhadap Hukum YHWH oleh manusia. Jika YHWH menciptakan dosa, berarti dalam diri YHWH ada dosa dan ini tidak mungkin

Apakah YHWH bertanggung jawab terhadap kejatuhan manusia dalam dosa? Tidak! YHWH sudah memberi peringatan kepada manusia sebelumnya. Kejatuhan adalah tanggung jawab manusia. Namun semua yang terjadi atas sepengetahuan dan seijin YHWH

Mengapa YHWH mengijinkan kejatuhan manusia dalam dosa? YHWH, dalam Kemaha tahuanNya, telah melihat bahwa manusia akan memberontak terhadap diriNya. Dalam KemahatahuanNya, YHWH telah MERENCANAKAN untuk memulihkan, menyelamatkan, menebus ciptaan (dunia dan manusia)

Predestinasi YHWH

Sebelum langit dan bumi serta manusia diciptakan, YHWH telah melakukan beberapa karya sbb:

Menetapkan, merencanakan untuk menebus ciptaan

Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas” (1 Ptr 1:18)

Menetapkan, merencanakan untuk memanggil manusia dalam rencana penyelamatan

Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Mesias” (Rm 1:6)

Menetapkan, merencanakan untuk memilih manusia dalam rencaana penyelamatan

Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya” (1 Ptr 1:20)

Rencana kekalNya yang telah disusun sebelum dunia tercipta, dikarenakan Dia mengetahui kejatuhan manusia dalam dosa, sehingga Dia merencanaakan pemulihan seperti semula

Arti Pemilihan YHWH Terhadap Manusia

Pemilihan dilakukan berdasarkan KASIH KARUNIA dan kemurahanNya. YHWH mengaruniakan keselamatan dan hidup kekal sebagaimana dikatakan: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapipemberian Tuhan” (Ef 2:8)

Dan juga dikatakan, “Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya” (Rm 9:18)

Apakah jika seseorang telah dipilih/dipanggil sebelum langit dan bumi tercipta, berarti dia telah tercatat di Sorga dan tidak mungkin kehilangan keselamatan? Golongan Calvinis sangat percaya perihal doktrin “sekali selamat tetap selamat”.

Yohanes Calvin merumuskan suatu ajaran yang dikenal oleh kalangan Calvinisme sebagai Dotrin Predestinasi atau Ketetapan Tuhan. Rev. Gregory S. Neal mendefinisikan Predestinasi sbb, “Predestination is the doctrine which attempts to describe justification as the decision and act of God alone--an act based upon no external determinants, but only on God's own, divine decision. Additionally, it is held that those who are not elected to salvation are, through Divine will, elected to damnation. In this, 'double predestination' is, in fact, accepted. God elects people to both redemption and to reprobation” [1](Predestinasi adalah doktrin yang mencoba untuk menggambarkan pembenaran sebagai keputusan dan tindakan Tuhan sendiri - sebuah tindakan yang tidak berdasarkan faktor-faktor penentu eksternal, tapi hanya pada keputusan Ilahi dari Tuhan sendiri. Selain itu  dinyatakan bahwa mereka yang tidak terpilih untuk keselamatan terpilih untuk menerima hukuman. Dalam hal ini, “predestinasi ganda” pada kenyataannya, diterima. Disatu sisi Tuhan  memilih orang baik untuk penebusan maupun untuk kutukan).

Rumusan doktrin itu diringkaskan dalam bentuk akrostik TULIP sbb:

T    - Total Depravity (Kerusakan Total)
U   - Unconditional Election (Pemilihan Tak Bersyarat)
L    - Limited Atonement (Penebusan yang Terbatas)
I     - Irresistible Grace (Anugrah yang Tidak Dapat Ditolak)
P    - Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang-orang  Kudus)[2]

Benarkah pemahaman “sekali selamat tetap selamat?” Tanpa menampik pemahaman yang brilian dari Yohanes Calvin namun terhadap pemahaman yang satu ini, saya tidak sependapat. Keselamatan bisa hilang jika kita tidak menjaganya dengan kesungguhan.

Bangsa Israel sebagai bangsa pilihanpun dapat/berpotensi untuk memberontak dan kehilangan kemurahan YHWH sebagaimana dikatakan: “Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata: "YHWH, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?" Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Mesias. Tetapi aku bertanya: Adakah mereka tidak mendengarnya? Memang mereka telah mendengarnya: "Suara mereka sampai ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi."  Tetapi aku bertanya: Adakah Israel menanggapnya? Pertama-tama Musa berkata: "Aku menjadikan kamu cemburu terhadap orang-orang yang bukan umat dan membangkitkan amarahmu terhadap bangsa yang bebal."Dan dengan berani Yesaya mengatakan: "Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak menc ari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku." Tetapi tentang Israel ia berkata: "Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah. (Rm 10:16-21)

Rasul Paul mengingatkan bahwa keselamatan dan kehidupan kekal membutuhkan kondisi tertentu keteguhan pada keyakinan tersebut sebagaimana dikatakan: “Karena kita telah beroleh bagian di dalam Mesias, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula” (Ibr 3:14)

Bahkan sabda Yesus memberikan penegasan perihal orang-orang tertentu yang akan dihapus dari Kitab Kehidupan yaitu mereka yang tidak berjuang mempertahankan iman sampai penghabisan dan murtad dari Tuhan sebagaimana dikatakan: “Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya(Why 3:5).

Apakah Predestinasi bermakna bahwa YHWH telah menetapkan sebagian orang binasa dan sebagian orang memperoleh hidup kekal? Dimanakah letak keadilan YHWH? Pertama, Itu bertentangan dengan karakter Yahweh yang menghendaki pertobatan orang berdosa sebagaimana dikatakan, “Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan YHWH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?” (Yehz 33:11)

Selasa, 22 November 2011

TAKDIR DALAM PERSPEKTIF KRISTEN

Telinga kita kerap mendengar istilah “Takdir”. Saat kita menonton tayangan film atau sinetron di televisi. Saat laporan berita di televisi mengenai musibah, kriminal dan peristiwa sehari-hari. Apakah Kekristenan mengenal konsep tentang “takdir?” Sebelumnya kita mengkaji terlebih dahulu pengertian tentang “takdir”. Kata “takdir” merupakan terminologi dalam Islam. Kata “takdir” berkaitan dengan kata “nasib”.

Dalam konsep Islam, kata Takdir  terambil dari kata qaddara yang bermakna mengukur, memberi kadar atau ukuran, perhitungan, ketetapan dan keputusan sehingga jika dikatakan, "Tuhan telah menakdirkan demikian," maka itu berarti, "Tuhan telah memberi kadar/ukuran/batas tertentu dalam diri, sifat, atau kemampuan maksimal makhluk-Nya." 

Adapun beberapa ayat Al Quran yang menyinggung mengenai kata “takdir” sbb:

Qs 25: 2 yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya (fa qaddarahu taqdira)

Qs 36:38-39. dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (taqdirul azizil alim). Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua

Bagaimana dengan konsep Kristiani mengenai “takdir?” Kitab TaNaKh dan Perjanjian Baru tidak menggunakan istilah takdir namun menggunakan beberapa istilah Ibrani yaitu “makhasava”, “zamam”, “asha”, “mezima”, “yatsar”, nekhtak”, “khuqot” dan istilah Yunani “keimai”, “diatithemi”, “apodeiknumi”, “proopizo”, “istemi”, “orizo” yang dalam terjemahan LAI biasa diterjemahkan dengan “DITENTUKAN”, “DITETAPKAN”, “RENCANA”, “RANCANGAN”, sebagaimana tabulasi data ayat berikut:

DITENTUKAN

Yesaya 37:26 “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari dan telah merancangnya dari zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu”

Lukas 2:34 “Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak iniditentukan untuk menjatuhkan atau memban
gkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan”

Bandingkan ayat-ayat lainnya dalam Lukas 22:29, Kisah Rasul 2:22, Kisah Rasul 4:28, Kisah Rasul 10:42, Kisah Rasul 13:48, Kisah Rasul 17:26, Roma 3:25, Efesus 1:11, Efesus 1:5

DITETAPKAN

Yeremia 31:35 “Beginilah firman YHWH, yang memberi matahari untuk menerangi siang, yang menetapkan bulan dan bintang-bintang untuk menerangi malam, yang mengharu biru laut, sehingga gelombang-gelombangnya ribut, YHWH semesta alam nama-Nya”

Daniel 9:24 “Tujuh puluh kali tujuh masa telah ditetapkan atas bangsamu dan atas kotamu yang kudus, untuk melenyapkan kefasikan, untuk mengakhiri dosa, untuk menghapuskan kesalahan, untuk mendatangkan keadilan yang kekal, untuk menggenapkan penglihatan dan nabi, dan untuk mengurapi yang maha kudus”

Bandingkan dengan Lukas 22:22; 17:31

RANCANGAN

Yesaya 55:8 “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman YHWH

Yeremia 29:11 “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman YHWH, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan

RENCANA

Ayub 42:2 "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal

1 Petrus 1:2 “yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Tuhan, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Sang Mesias dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu

Bandingkan dengan Yesaya 46:11, Yeremia 51:12

Dari kajian di atas dapat disimpulkan bahwa Kekristenan memiliki konsep tentang Takdir. Namun konsep Kristen tentangTakdir memiliki perbedaan dengan Islam. Konsepsi Kristen tentang Takdir (Ketetapan, Ketentuan, Rencana, Rancangan Tuhan) memiliki dua karakteristik yang berbeda dengan Islam dalam hal sbb:

Pertama, YHWH tidak menetapkan, merencanakan, merencanakan, merancangkan kecelakaan, penderitaan atas diri manusia. Baik kecelakaan dan penderitaan adalah dosa dan pelanggaran manusia atas perintah YHWH (Yer 2:19, Ul 28:1-26). Jika YHWH tidak menetapkan, merencanakan, merencanakan, merancangkan kecelakaan, penderitaan atas diri manusia, bagaimana dengan Yesaya 45:7 yang mengatakan bahwa YHWH menjadikan nasib mujur dan celaka bagi manusia? Bagaimana pula dengan Ulangan 29:2 dimana YHWH menjatuhkan hajaran dan penyakit atas manusia? Mengenai Yesaya 45:7, ayat ini membicarakan kedaulatan dan kekuasaan YHWH untuk mengubah segala sesuatu, menjadikan segala sesuatu baik yang buruk maupun yang baik. Hal buruk yang dijadikan YHWH disiapkan bagi orang-orang yang melanggar titah-titah-Nya. Kenyataan ini bermuara pada Yeremia 2:19 dimana dosa dan pelanggaran seseorang menyebabkan petaka dan keburukan datang dengan seizin YHWH. Hal yang sama terjadi dengan Ulangan 29:2. Ayat ini menegaskan bahwa hukuman YHWH dapat melanda manusia oleh karena suatu sebab bukan oleh karena suatu takdir. Sebab itu adalah pelanggaran manusia terhadap perintah YHWH.

Kedua, YHWH telah menetapkan, merencanakan, merencanakan, merancangkan keselamatan dan kehidupan kekal atas orang-orang pilihan-Nya (1 Ptr 1:2, Ef 1:5). Sebaliknya, Al Qur’an menegaskan bahwa semua umat manusia akan mendatangi neraka sebagaimana dikatakan dalam Qs 19:71, “Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan”. Untuk kemudian orang-orang yang bertakwa akan diselamatkan sebagaimana dikatakan dalam Qs 19:72 sbb: “Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut”.

Kembali kepada pembacaan teks Mazmur 139:13-16 khususnya ayat 16 yang mengatakan, “mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya”. Dalam teks Ibrani, “golmi ra’u eyneka, we’al sifreka kulam yikatevu yutsaru, we lo ekhad bahem”. Kata golmi dari katagolem yang artinya “an embryo” (bakal anak). Rancangan, rencana, ketetapan, keputusan atau takdir Tuhan atas seorang manusia dimulai sejak dia berstatus golem (bakal anak) bukan yeled (anak).

Oleh karenanya, praktek aborsi adalah pembunuhan karena Tuhan telah memberikan kehidupan dan rencana atas bakal anak yang dikandung seorang wanita. Konsekwensi logis pemahaman ini bahwa kita berharga di mata YHWH. Dia telah melihat dan memberikan sejumlah potensi dalam diri kita sejak kita masih berada dalam kandungan ibu kita. Kita harus bersyukur dan menikmati kehidupan yang YHWH telah berikan bagi kita. Kata yikatevu dari kata katav yang artinya “to write” (menulis). Kehidupan yang sudah kita lewati dan sedang kita jalani serta akan kita datangi adalah sebuah garis kehidupan yang telah dituliskan sebelum kita lahir ke dunia ini. Semua yang terjadi sudah ada takarannya masing-masing. Dan yang tidak boleh kita abaikan, bahwa garis kehidupan yang YHWH berikan semata-mata adalah garis kehidupan yang dirancangkan untuk kebaikan, kedamaian kita (Yer 29:11). Berbagai keburukan yang dialami bisa jadi karena faktor kesalahan kita (Yer 2:19), kuasa gelap (Ayb 2:7), namun semua diijinkan YHWH terjadi untuk kebaikkan kita (Rm 8:28).

Hargailah kehidupan, terimalah kehidupan yang telah Tuhan berikan pada kita dengan ucapan syukur. Optimalkan usaha dan kerja keras kita agar kebaikan-Nya yang telah dijanjikan menghampiri kehidupan kita, Amin.

Minggu, 20 November 2011

AKHLAK AL MASIH – HALIKOT HA MASHIAKH

Suatu ketika saya memberikan sebuah tayangan video di You Tube perihal perilaku seorang hamba Tuhan terkenal yang kerap tampil dalam penginjilan televisi khususnya di bidang kesembuhan Ilahi dan praise and worship (pujian penyembahan ala Kharismatik) kepada beberapa orang ibu yang berkunjung ke kediaman saya untuk belajar. Tayangan video tersebut memperlihatkan seorang hamba Tuhan terjatuh berkali-kali di atas mimbar karena mabuk dan ditolong berulang kali oleh para penatuanya. Jatuh lagi dan jatuh lagi. Dia jatuh diantara derai jemaat yang mendengarkan kotbahnya.

Saya memperhatikan respon dan reaksi wajah, perkataan dan psikis mereka. Banyak yang kecewa, sedih, pusing dll. Respon yang sama saat saya pertama kali menerima video tersebut adalah mual dan prihatin. Tidak ada lagikah suri tauladan dari para pemimpin agama sehingga harus mempermalukan Tuhan dan Firman-Nya dengan perilaku demikian?

Ditengah krisis keteladanan, kita masih berharap ada pemimpin-pemimpin rohani yang masih tetap setia menjalankan tugas kerohanian dan tidak mudah disimpangkan dalam perilaku yang memalukan sebagaimana peristiwa di atas.

Perilaku Yesus adalah teladan sejati bagi pengikutnya. Kata perilaku dalam bahasa Arab adalah Akhlak dan dalam bahasa Ibrani Hatnahgot dan Halikot. Kata Arab Akhlak berasal dari kata Akhlaq yang merupakan jama’ dari Khulqu yang artinya perangai, budi, tabiat dan adab. Akhlak itu terbagi dua yaitu Akhlak yang Mulia atau Akhlak yang Terpuji (Al-Akhlakul Mahmudah) dan Akhlak yang Buruk atau Akhlak yang Tercela (Al-Ahklakul Mazmumah). Dalam padanan bahasa Ibrani adalah Hatnahgot tova (perilaku baik) dan Hatnaghot ra’ah (perilaku buruk).

Agar kita memiliki akhlak atau hatnihgot atau halikot yang baik, maka teladanilah akhlak Al Masih atau ha Mashiakh. Rasul Petrus menuliskan sbb, “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Mesiaspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. (1Pet 2:21). Kata Yunani untuk Teladan adalah Hupogrammos dan dalam bahasa Ibrani adalah Mofet. Teladan yang ditinggalkan oleh Yesus Sang Mesias terekam dalam perkataan berupa ajaran dan nasihat serta perilaku beliau dalam keseharian.

Setidaknya ada 10 (sepuluh) Akhlak Al Masih yang akan kita telaah dan kita teladani dalam kehidupan sebagai orang Kristen. Kedelapan Ahlak Al Masih tersebut adalah sbb:

Belas Kasih

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala” (Mat 9:36). Kata “belas kasihan” dalam Peshitta Aramaik Perjanjian Baru dituliskan Etrakham yang setara dengan bahasa Ibrani Rakham yang bermakna kemurahan hati. Jika belas kasih menjadi motivasi dalam melayani dan memberikan pertolongan, maka tiada pamrih di dalamnya.

Pengampun

Yesus bukan hanya mengajarkan perihal pengampunan bahkan terhadap musuh (Luk 6:37) namun Yesus memberikan kata-kata pengampunan saat dia disiksa hingga menjelang ajalnya. Yesus berkata dalam rasa sakit yang menyergap sendi dan tulang serta tubuhnya demikian, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Ditengah kondisi masyarakat yang mudah tersulut amarah dan melakukan kekerasan, Akhlak Al Masih yang pengampun menjadi solusi untuk mengubah masyarakat.

Tidak membedakan status sosial

Dalam puisi yang saya buat dengan judul Pemuda Galilea, dalam salah satu penggalan dituliskan, “Dia ada diantara mereka yang papa. Dia pun tidak silau ketika berada diantara yang berkelimpahan harta”. Inilah akhlak Yesus yang mulia. Lukas 15:2 menceritakan, “Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka”. Demikian pula Matius 9:10 menuliskan, “Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya”. Ditengah sikap hidup para pemimpin agama yang bergelimangan harta karena menganut Teologi Kemakmuran dan sukar ditemui karena padatnya jadwal pelayanan, maka akhlak Yesus justru berkebalikan. Dia mudah ditemui dan berada dengan siapa saja serta dimana saja.

Tidak mencari popularitas

Saat orang-orang banyak kagum akan kewibawaan pengajarannya dan kuasa yang dimilikinya, banyak orang meminta Yesus sebagai raja. Namun apa yang dilakukan Yesus Sang Mesias? Yohanes 6:15 mengatakan, “Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri”. Banyak orang mencari popularitas dan tergoda dengan popularitas sekalipun waktu selalu membuktikan bahwa popularitas terkadang memenjarakan hidup kita menjadi budak kemauan banyak orang dan menjerumuskan kita pada kecintan diri sendiri.

Menghargai anak-anak

Yesus mencitai dan peduli pada anak-anak. Matius 19:13-14 melaporkan, “Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." Anak-anak sering menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga baik oleh ayah maupun ibu yang tidak bijaksana dalam mendidik. Dengan meneladani akhlak Yesus yang mencintai anak-anak, kita pun akan semakin menghargai keberadaan anak-anak.

Berbicara yang benar

Ketika Yesus selesai mengucapkan pengajaran yang mengatakan bahwa dirinya adalah Roti Hidup yang turun dari surga, banyak murid-muridnya mengundurkan diri sebagaimana dilaporkan Yohanes 6:60, “Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Dan pada ayat 66 lebih jelas lagi dikatakan, “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia”. Itu semua terjadi karena Yesus mengatakan kebenaran apa adanya. Yesus tidak mengurangi kebenaran dan tidak pula menyembunyikan kebenaran.

Yesus bersabda, “Tetapi karena Aku mengatakan kebenaran kepadamu, kamu tidak percaya kepada-Ku. Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku” (Yoh 8:45-46)

Anti kekerasan

Petrus, seorang murid Yesus yang cukup tegas dan temperamental bereaksi saat Yesus hendak ditangkap oleh prajurit Roma. Petrus menetakkan pedang di telinga salah satu prajurit Roma. Jika saya sebagai Petrus, mungkin akan melakukan langkah yang sama untuk membela kehormatan Sang Guru. Namun Yesus berkata kepada Petrus, "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang” (Yoh 26:52). Yesus bukan melarang perlawanan karena toch jika dia melakukan itu, dia mampu melakukannya sebagaimana dikatakan pada ayat 53, “Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?”. Yesus anti kekerasan demi mencapai tujuannya yaitu penyelamatan melalui pengorbanan dirinya sebagaimana dikatakan pada ayat 54, “Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?"

Jika akhlak Al Masih yang anti kekerasan ini menjadi gaya hidup pengikut Mesias, maka kita telah meminimalisir kecenderungan akhir-akhir ini dalam masyarakat untuk menyelesaikan masalah dengan kekerasan dan anarkisme.

Tegas

Sikap welas asih dan pengampunannya tidak meniadakan ketegasan sikapnya ketika dengan keras dia menegur orang-orang Farisi yang hendak menguji dia  dengan mengatakan, "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?” (Mat 22:18). Kebanyakan orang Kristen menyalahpahami ajaran Yesus. Hanya dikarenakan Yesus mengajarkan kasih dan pengampunan lalu melupakan akhlak lain dari Yesus yaitu ketegasan sikap melawan ketidakbenaran. Kasih tanpa ketegasan menjadi lemah. Ketegasan tanpa kasih menjadi kasar.


Waktu untuk menyendiri bersama Tuhan dalam doa

Markus 1:35 menuliskan, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana”. Beberapa orang Kristen yang dahulunya berlatar belakang agama Islam ada yang bertanya, “dulu saya rajin beribadah dan bangun pagi sekali. Rajin dzikir tengah malam. Namun setelah menjadi Kristen, saya khoq menjadi malas dan tidak memiliki waktu berdoa?”. Kekristenan khususnya Kekristenan kontemporer dan Kekristenan Barat telah kehilangan akar Ibrani imannya. Kekristenan yang berakar pada Yudaisme memiliki ibadah harian di jam tertentu dengan sikap tubuh tertentu. Jika akhlak Al Masih dalam hal doa kita teladani maka kita akan menjadi orang yang memiliki disiplin rohani dan waktu khusus berkomunikasi dengan Tuhan.

Menolong orang

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia: "Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur." Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu” (Mat 9:23-26). Lebih dari sekedar kisah mukjizat dan kuasa yang dimiliki Yesus, kisah di atas mencerminkan sikap Yesus yang suka menolong tanpa pamrih. Kuasa yang dimilikinya tidak memposisikan dia pada status ekslusif namun status yang inklusif yaitu hadir diantara mereka yang membutuhkan.

Demikianlah kesepuluh Akhlak Al Masih yang harus kita teladani dalam kehidupan iman kita. Marilah kita teladani perilaku Yesus Sang Mesias yang sempurna tersebut agar kita menjadi teladan bagi orang yang tidak beriman sehingga mereka boleh datang dan menerima Yesus Sang Mesias Juruslamat kita.

Tanamkan kesepuluh Akhlak Al Masih tersebut pada anak-anak kita sehingga kelak mereka akan meneladan sikap-sikap Yesus yang terpuji dan menjadi berkat bagi orang lain dan sesama.

REDEFINISI KONSEP HELENIS TENTANG EKSISTENSI TUHAN: KEESAAN ATAU KETRITUNGGALAN?

Konsep Tuhan dalam Kekristenan yang disifatkan dengan istilah Tritunggal atau Trinitas kerap menimbulkan kebingungan bukan hanya terhadap orang Kristen namun juga terhadap Muslim. Tidak mengherankan banyak orang Kristen yang berpalinng dari keimanannya dan Muslim terus menerus menuduh Kekristenan mempercayai Tuhan berbilang alias Politeis. Benarkah?

Letak persoalannya adalah bukan Tuhan yang diyakini oleh umat Kristen melainkan konsep dan pembahasaan Tuhan yang dirumuskan oleh umat Kristen berdasarkan rujukan Bapa Gereja yang menggunakan konsep dan terminologi (istilah) Helenis dan Filsafat, dengan menggunakan istilah Tritunggal telah meninggalkan jejak kebingungan menalar Tuhan.

Darimanakah istilah Tritunggal? Perlukan kita menggunakan istilah Tritunggal? Kekristenan mengungkapkan misteri relasi ontologis (hakikat) antara Bapa, Putra dan Roh Kudus, dengan istilah Tritunggal atau trinitas. Terminologi ini tidak tertulis dalam Kitab Suci. Istilah ini secara historis merupakan perspektif orang beriman Abad 2 Ms. Abad 2 Ms merupakan perpindahan titik berat pola berteologia, dari teologia Palestina yang kontemplatif, menjadi Teologia Hellenis yang rasionalistik dan metafisik[1] Akibatnya, dibutuhkan suatu penjelasan yang rasional kepada kaum pagan Yunani, mengenai realitas Tuhan. Bernhard Lohse memberikan komentar, “Karena itu, sedikitpun tidak mengherankan bahwa gereja terkadang meraba-raba dalam upayanya memformulasikan imannya secara intelrktual dan konseptual kepada (Tuhan) Bapa, (Yesus Sang Mesias) dan Roh Kudus”[2]. Sejumlah teolog dan Bapa Gereja (Church Fathers) yang telah lebih dahulu menggumuli persoalan relasi ontologis antara Bapa, Putra dan Roh Kudus, adalah Yustinus martyr, Theophilus dari Anthiokhia, Adamatinus , Origenes, Arius, Athanisius, Agustinus serta Tertulianus.

Dari sekian teolog yang merumuskan formula relasi intologis antara Bapa, Putra dan Roh Kudus, adalah tertulianus. Beliau merumuskan dalam bentuk ungkapan Yunani, “Mono Ousia Tress Hypostasis” atau dalam ungkapan Latin, “Una Substantiae Tress Persona”, yang jika diterjemahkan adalah, “Satu Keberadaan Tiga pribadi”. DR. Harun Hadiwyono mensinyalir ada pengaruh Filsafat Platonik tentang konsep “Divine nature” (Tabiat Ketuhanan) dalam perumusan konsep Trinitas[3]

Hampir semua teolog mengakui bahwa istilah Trinitas/Tritunggal, tidak terdapat secara literal dalam Kitab Suci. Namun essensi yang mengarah pada pengertian tersebut memang terpampang dalam banyak ayat. DR. Andar Tobing, mengakui kenyataan tersebut dan mengatakan: “kita terpaksa memakai istilah Trinitas itu untuk menolak adjaran-adjaran dan pendapat-pendapat yang salah dan bertentangan dengan isi Alkitab. Biarpun istilah itu tidak sempurna…”[4]. DR.Budyanto mengusulkan suatu peninjauan kembali terhadap penggunaan istilah “Pribadi” dengan mengatakan: “Karena itu, menurut hemat penulis, kalau istilah ini pada akhirnya tidak dapat dihindarkan lagi, sebaiknya pengertian yang dipakai untuk istilah pribadi adalah, ‘suatu keberadaan sadar diri’ yang maknanya bisa menampung pengertian-pengertian tersebut (cat: “pribadi”, “Cara Berada”, “Tiga Subyektivitas dalam Unitas”, dll)… jika pengertian ‘pribadi’ itu seperti itu, maka pengertian pribadi yang dipakai sebagai bukti (ketuhanan) seperti diatas adalah tidak tepat, sebab kata pribadi itu justru dipakai untuk menunjukkan kekhususan dari sifat masing-masing, bukan kesamaan sifat”[5].

Kitab TaNaKh dan Kitab Perjanjian Baru konsisten mempergunakan istilah Keesaan dan tidan pernah sekalipun menuliskan Ketritunggalan sekalipun frasa Bapa, Anak, Roh Kudus muncul.

Selayaknya istilah yang dipergunakan untuk menyifatkan Tuhan adalah KEESAAN BAPA-ANAK-ROH KUDUS. Mengapa digunakan istilah “Keesaan Bapa, Putra, dan Roh Kudus?”. Pertama, istilah Keesaan adalah istilah yang firmaniah dan secara literal tertulis dalam TaNaKh dan Kitab Perjanjian Baru. Ortodoksi Yudaisme, sebagai akar Kekristenan mendasarkan pada “Shema yang berbunyi, “Shema Yisrael, YHWH Eloheinu YHWH Ekhad” (Dengarlah Israel, YHWH itu Tuhan kita, YHWH itu Esa”,Ul 6:4)[6] Rabbi Hayim Ha Levy Donin, memberikan keterangan: “The Shema is declaration of faith, a pledge of allegiance to One God, an affirmation of Judaism. It is the first prayer that children are taught to say”[7] (Shema adalah pernyataan iman, ikrar kesetiaan kepada Tuhan yang Esa, sebuah penegasan mengenai Yudaisme. Ini adalah doa pertama yang diajarkan kepada seorang anak).

MELURUSKAN BERBAGAI KESALAHPAHAMAN DISEPUTAR KEILAHIAN YESUS (2)

Bagian Kedua

APAKAH YESUS SANG BAPA DAN YAHWEH SERTA ELOHIM?

Baik Kitab Injil maupun surat-surat rasuli tidak pernah menisbatkan Yesus sebagai Sang Bapa, melainkan Dia adalah Sang Anak karena hakikat Dia adalah Sang Firman yang menjadi manusia (Yoh 1:14, 18).


Bapa menyatakan sendiri bahwa Yesus adalah Anak sebagaimana dikatakan dalam Matius 3:16-17 sbb: “Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." Jika Yesus Sang Bapa, siapa yang berkata “Inilah Anak-Ku?” Apakah Anak Tuhan berbicara kepada Anak Tuhan?


Malaikat yang mewartakan kelahiran Yesus mengatakan sbb: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Tuhan Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Tuhan” (Luk 1:35).

Petrus murid Yesus menegaskan siapa Yesus dan dibenarkan oleh Yesus saat ditanya siapakah diri-Nya, sebagaimana dikatakan dalam Matius 16 :15-17, “Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Tuhan yang hidup!" Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga”.

Bahkan Shatan saja mengakui bahwa Yesus adalah Anak Tuhan dengan mengatakan: “Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu. Dan mereka itu pun berteriak, katanya: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Tuhan? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?" (Mat 8:28-29)

Orang yang tidak menjadi murid Yesus pun mengakui bahwa Dia adalah Anak Tuhan sebagaimana dilaporkan dalam Matius 27:54 sbb: “Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: "Sungguh, Ia ini adalah Anak Tuhan".

Tidak ada satupun referensi ayat yang menegaskan secara langsung bahwa Yesus adalah Sang Bapa kecuali 2 ayat yang disalahpahami pengertiannya. Kedua ayat yang disalahpahami tersebut adalah Yesaya 9:5 yang berbunyi: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Tuhan yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”. Ayat ini menjadi referensi nubuatan yang membuktikan sifat keilahian Mesias yang dilahirkan. Thoh Yesus tidak pernah disapa dengan sebutan “Penasihat Ajaib”, “Tuhan yang Perkasa”, “Bapa yang Kekal”, “Raja Damai”.

Julukan profetis tersebut lebih memberikan informasi sifat keilahian Mesias atau Pra Ada Mesias sebagai Sang Firman. Bukankah Firman itu tidak diciptakan melainkan menciptakan (Mzm 33:6)? Jika Dia menciptakan, maka Dia kekal. Sifat keilahian Mesias dinyatakan pula dalam Mikha 5:1 sbb: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala”. Frasa “permulaannya sudah sejak dahulu kala” dalam bahasa Ibrani, “umotsaotaiw  miqqedem” secara literal artinya “yang kehadirannya sudah sejak lampau”. Kalimat ini hendak memberikan petunjuk kekekalan Sang Mesias sebagai Firman YHWH yang berdiam bersama YHWH. Dan frasa ini hendak mengungkapkan sifat keilahian yang ditegaskan dalam Yesaya 9:5.

Ayat berikutnya yang disalahpahami adalah Yohanes 14:7-9 sbb: “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." Kata Filipus kepada-Nya: "Tuantunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami." Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami”. Ayat ini harus dipahami dengan membaca dan mempertimbangkan terlebih dahulu ayat-ayat yang telah dikutip sebelumnya yang menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Tuhan (Mzm 2:7, Luk 1:35, Mat 16:15-17, Mat 8:28-29, Mat 27:54).

Oleh karenanya di bawah terang pemahaman ayat-ayat sebelumnya, pernyataan Yesus ini harus dipahami dalam artian bahwa Yesus menyatakan Bapa yang tidak nampak atau Bapa yang Roh tersebut sebagaimana dikatakan dalam Yohanes 1:18 sbb: ”Tidak seorang pun yang pernah melihat Tuhan tetapi Anak Tunggal Tuhan, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya“. Dan Yesus menegaskan pada Yohanes 14:10 sbb, ”Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya”. Mengapa Yesus masih menggunakan kalimat ”Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku“ jika Dia adalah Bapa itu sendiri?

Kemudian Yohanes 8:24 mengatakan, ” Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu." Kata yang diterjemahkan ”Akulah Dia“ dalam ayat tersebut dipergunakan bahasa Yunani Ego eimi. Persoalannya, apakah kata Ego eimi dalam ayat ini menunjuk pada Bapa atau menunjuk pada pengertian lain?

Sebagaimana telah diulas pada bab sebelumnya bahwa bentuk kata Ego eimi oleh Yesus dapat menunjuk dan menegaskan sifat keilahian-Nya namun disatu sisi istilah ini dapat menunjuk pada ungkapan penegasan saat seseorang berbicara. Contoh: ”Jawab malaikat itu kepadanya: "Akulah Gabriel yang melayani Tuhan dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu“ (Luk 1:19). Frasa "Akulah Gabriel“ dalam teks Yunani dipergunakan bentuk ”Ego eimi Gabriel“. Tidak ada yang istimewa dalam penggunaan kalimat Ego eimi pada ayat ini. Demikian pula dalam Matius 14:27 dikatakan: ”Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!". Kalimat ”Aku ini“ dalam teks Yunani dipergunakan bentuk Ego eimi. Demikian pula saat Yesus menegaskan diri-Nya pada Paul di Damsyik sebagaimana dilaporkan Kisah Rasul 9:5 sbb: ”Jawab Saulus: "Siapakah Engkau, (Tuan)?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kauaniaya itu“. Kalimat, "Akulah Yesus“ dalam ayat tersebut dipergunakan bentuk ”Ego eimi Iesous“. Sekali lagi, tidak ada yang istimewa dengan penggunaan kalimat tersebut selain bentuk penegasan dan idiom Yunani yang khas. Jika membuat kesimpulan Yesus adalah Bapa berdasarkan penggunaan Ego eimi, mengapa malaikat (Luk 1:19) yang menggunakan bentuk Ego eimi tidak disebut sebagai Bapa?

MELURUSKAN BERBAGAI KESALAHPAHAMAN DISEPUTAR KEILAHIAN YESUS (1)

Bagian Pertama

YESUS DAN ARTI KATA YUNANI “EGO EIMI”

Donald Guthrie menjelaskan dalam bukunya, “Dalam Injil Yohanes dan tidak terdapat dalam kitab-kitab Injil Sinoptik, terdapat suatu kelompok ucapan Tu(h)an Yesus yang penting karena memiliki fungsi yang berarti dalam pembahasan Kristologi. Ucapan-ucapan ini memakai kata ganti orang pertama, karena itu jika dapat dipercayai, sangat bernilai sebagai penyataan dari kesadaran diri Yesus sendiri. Memang ada alasan untuk menganggap ucapan-ucapn ini mempunyai arti yang penting bagi kristologi yang tidak dapat diremehkan”[1] Mari kita perhatikan ekslusifitas kata/ucapan yang berkaitan dengan kesadaran diri Yesus atas keilahian-Nya. Yesus kerap menggunakan bentuk  “Ego Eimi” yang diterjemahkan “Aku adalah”.

Kata ini muncul pertama kalinya dalam Kitab Septuaginta untuk menerjemahkan pernyataan YHWH (Yahweh) yang menyingkapkan nama-Nya pada Musa sbb: “Firman (Tuhan) kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu." Frasa “Aku adalah Aku” dalam bahasa Ibrani adalah “Ehyeh asyer Ehyeh” yang secara literal diterjemahkan dengan “Aku ada yang Aku ada”. Dalam naskah Septuaginta (terjemahan TaNaKh dalam bahasa Yunani) diterjemahkan, “Ego eimi ho on”.

Dalam Kitab Yohanes, Yesus menggunakan bentuk Ego Eimi yang muncul sebanyak 7 kali. Yesus mengatakan bahwa diri-Nya adalah “Roti” (Yoh 6:35 “Ego eimi ho Artos”), “Terang Dunia” (Yoh 8:12, “Ego eimi to Phos tou kosmou”), “Pintu” (Yoh 10:7, “Ego eimi he Thura ton Probaton”),”Gembala” (Yoh 10:11, “Ego eimi ho Poimen ho Kalos”) “Kebangkitan dan Hidup” (Yoh 11:25 “Ego eimi he Anastasis kai he Zoen”), “Jalan, Kebenaran, Hidup” (Yoh 14:6, “Ego eimi ho Hodos kai he Aletheia kai he Zoen”), “Anggur” (Yoh 15:1, “Ego eimi he Ampelos he alethine”).

Donald Guthrie memberikan komentar mengenai kemunculan bentuk kata “Ego eimi” dalam tujuh tempat yang menunjuk pada diri Yesus sbb: “Melalui perkataan ‘Aku adalah’, Yesus membuat hal-hal yang masih abstrak dalam pendahuluan Injil menjadi nyata dalam pribadi. Hal ini menyangkut hidup, kebenaran dan juga terang. Yohanes memperlihatkan bahwa Yesus menyatakan diri sebagai perwujudan dari semua cita-cita tertinggi yang pernah dicari orang”[2] . Naskah Peshitta Aramaik menegaskan keunikan bentuk kata ini dengan penggunaan bentuk “Ana Ana” dalam setiap pernyataan Yesus ditujuh tempat tersebut, sekalipun bentuk kalimat ini tidak menghubungkan dengan keunikan pernyataan YHWH dalam Keluaran 3:14, karena Targum Aramaik mempergunakan bentuk Aramaik “Ahyah aha ‘al mah d’aha

Penegasan diri atas keilahian Yesus bukan hanya dinampakkan dalam tujuh pernyataan di atas, namun di beberapa tempat ada sejumlah pernyataan yang patut mendapat perhatian terkait studi kristologis. Dalam Yohanes 8:57-58 dikatakan sbb: “Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada-Nya: "Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." Bentuk kata “Aku Ada” digunakan Ego eimi dan dikontraskan dengan “Abraham jadi (Abraam genestai)“. Selanjutnya dilaporkan dalam Yohanes 18:4-6 sbb: ”Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: "Siapakah yang kamu cari?" Jawab mereka: "Yesus dari Nazaret." Kata-Nya kepada mereka: "Akulah Dia." Yudas yang mengkhianati Dia berdiri juga di situ bersama-sama mereka. Ketika Ia berkata kepada mereka: "Akulah Dia," mundurlah mereka dan jatuh ke tanah“. Frasa ”Akulah Dia“ dalam ayat di atas dalam bahasa Yunani, Ego eimi. Terkait bentuk kata Ego eimi dalam Yohanes 8:58, Donald Guthrie kembali menegaskan, ”Ego eimi di sini harus dilihat sebagai penghubung dengan nama untuk YHWH yang dinyatakan dalam Keluaran 3 dan dengan penggunaan tanpa tambahan dari ’Aku’ (Ibr: ”Ani Hu“/Yun: ”Ego Eimi“) dalam Yesaya 46:4“.


MAKNA SEBUTAN “KURIOS” BAGI YESUS

Saat jatuh Hari Raya Shavuot (Pentakosta) dan ketika para murid-murid yang menantikan janji Bapa menerima kepenuhan Roh Kudus, maka bangkitlah Petrus Petrus menyampaikan midrash (kotbah, ajaran) kepada orang banyak yang hadir.

Dalam midrashnya, Rasul Petrus  menyampaikan dua (2) pokok pesan sbb: Pertama, peristiwa pencurahan Roh yang terjadi saat itu bukanlah peristiwa biasa melainkan peristiwa penggenapan nubuat para nabi (Kis 2:15-21). Rasul Petrus mengutip Yoel 2:28-32 dan memberikan ulasan. Ini ciri tafsir Kitab Suci yang dinamakan “Drash” yaitu mencari ayat-ayat bukti untuk melandaskan kotbahnya. Kedua, Yesus adalah Mesias yang dijanjikan dalam Kitab Para Nabi. Kebangkitan-Nya dari kematian menegaskan janji-janji yang terkandung dalam nubuatan (Kis 2:22-33).

Rasul Petrus kembali mengutip Kitab Mazmur 16:8-11 dan Mazmur 132:11, 2 Samuel 7:12-13 serta Mazmur 110:1. Dalam midrashnya, Rasul Petrus berulang kali menegaskan dengan kalimat, “tetapi Tuhan telah membangkitkan Dia…”(Kis 2:24) kemudian, “Yesus inilah yang dibangkitkan Tuhan” (Kis 2:32). Apa arti pernyataan ini? Bahwa inisiator kebangkitan adalah Bapa sendiri yaitu YHWH. Dialah sumber kebangkitan bagi Yesus Sang Mesias. Hal tersebut dapat disimak dalam bentuk kalimat dimana kalimat pertama pada ayat 24 menunjuk secara aktif Tuhan YHWH yang bertindak membangkitkan Yesus dan pada ayat 32 menunjuk secara pasif Yesus yang dibangkitkan Bapa. Hal ini penting untuk dipahami bahwa Yesus Sang Mesias sepenuhnya manusia sebagai perwujudan dari Sang Firman. Dalam keadaan yang sepenuhnya manusia, Dia bergantung pada Bapa-Nya. Dia tidak bangkit atas kehendak dan kuasa-Nya sendiri melainkan atas kuasa dan otoritas Bapa-Nya.

Dengan demikian, sebutan Kurios atau Adoni bagi Yesus Sang Mesias bermakna Dia adalah Penguasa atau Junjungan Agung yang dinantikan dalam nubuatan para nabi dan yang “Kekuriosan-Nya” diteguhkan melalui kematian dan kebangkitan-Nya dari maut. Yesus benar-benar Kurios atau Adoni yang telah mengalahkan maut atau kebinasaan. Dia bukan sekedar “Tuan” atau “Orang Yang Terhormat” namun Dia adalah “Yang telah mengatasi kebinasaan dan memiliki kehidupan sejati”. Demikianlah makna sebutan “Kurios” atau “Adoni” bagi Yesus.

Midrash Petrus ditutup dengan sebuah kesimpulan setelah mengutip Mazmur 110:1 dengan mengatakan, “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Tuhan (Elohim:Ibr/Theos:Yun) telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Junjungan Agung (Adon:Ibr/Kurios:Yun) dan Mesias (Mashiakh:Ibr/Chritos:Yun)." Pernyataan ini hendak menegaskan bahwa kematian dan kebangkitan Yesus Sang Mesias justru menegaskan nubuatan para nabi bahwa Yesus adalah Tuan atau Junjungan Agung dan Mesias yang telah ada sebelum segala sesuatu ada. Daud telah menyapa Yesus dalam Pra Ada-Nya dengan sebutan “Adoni” (Tuanku, Junjunganku).

Dan Daud menyampaikan sebuah penglihatan Ilahi bahwa YHWH Sang Bapa, telah menyapa Yesus, Junjungan Daud dan mengatakan, “Duduklah disebelah kanan-Ku, sampai kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu”. Penyebutan Yesus dengan “Kurios” atau “Adon” atau “Junjungan Agung” adalah untuk menegaskan hakikat diri-Nya sebagai Sang Firman yang setara, sehakikat, melekat dengan YHWH Bapa-Nya. Sebutan Theos atau Elohim hanya patut diberikan pada Bapa. Yesus tidak pernah disebut dengan Theos atau Elohim. Maka penyebutan Yesus dengan Tuhan (Elohim/Theos) adalah keliru dan mencederai keesaan YHWH dalam Ulangan 6:4. Yesus adalah Kurios, Adon atau “Junjungan Agung” atau “Tuan”.

Midrash Petrus berakhir dengan “keharuan” orang-orang yang mendengarnya dan mereka menyatakan diri untuk bertobat dan dibaptis. Keharuan yang dialami orang-orang muncul karena midrash Petrus menyentuh hati dan perasaan mereka akan suatu pengharapan Mesianis yaitu harapan akan datangnya Sang Mesias, Pembebas, Juruslamat yang dijanjikan dalam Kitab Para Nabi. Kematian dan kebangkitan Mesias meneguhkan berita nubuatan para nabi. Kematian dan kebangkitan Mesias menegaskan diri-Nya sebagai Kurios dan Christos atau sebagai “Junjungan Agung” dan “Mesias”.

Jika midrash Petrus mengarahkan pendengarnya untuk mempertuhan (membuat Yesus menjadi Elohim atau Theos) maka bukan keharuan yang terjadi melainkan kemarahan dan perajaman atas Petrus, karena itu menodai keesaan YHWH. Tidak ada ayat satupun dalam Torah yang mengatakan manusia menjadi Tuhan (Elohim/Theos) dan Yesus pun tidak pernah mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Justru Yesus mengatakan dalam Yohanes 14:1 sbb: "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Tuhan (Elohim/Theos), percayalah juga kepada-Ku” demikian pula dalam Yohanes 20:17 dikatakan: “Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Tuhan-Ku (Theos mou/Elohay) dan Tuhanmu (Theos humon/Elohekem)”.

Dalam perkembangan selanjutnya, Rasul Paul sangat dominan menggunakan sapaan Kurios (Junjungan Agung) danChristos (Mesias/Yang Diurapi) bagi Yesus (Kisah Rasul 16:31, Roma 10:9, 1 Korintus 8:6, 1 Korintus 12:9, dll). IstilahKurios yang dinisbatkan pada diri Yesus tidak hanya dihubungkan penggenapan dalam Mazmur 110:1. namun dapat dikaji dari arti kata ”Kurios” itu sendiri.