Wednesday, November 16, 2011

RELEVANSI KIBLAT

Kata Kiblat dalam bahasa Arab berasal dari kata kablu, yukbilu, kublah yang bermakna “arah”, “menerima”, “mencium”. Jika Yahudi dan Islam memiliki arah kiblat Yerusalem dan Mekkah, berbeda dengan Kekristenan. Dikarenakan penafsiran yang bias atas ucapan Yesus dalam Yohanes 4:23-24 yang mengatakan, “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Tuhan itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.", maka Kekristenan yang telah lepas dari akar Semitik Yudaiknya tidak mengenal arah kiblat. Menghadap kemana saya saat beribadah adalah sah dan benar.

Apakah benar Kiblat sudah tidak memiliki relevansi? Kekeristenan awal sebenarnya adalah kelanjutan dari Yudaisme. Peribadatan Yudaisme yang diteruskan oleh pengikut Mesias awal tetap mengarahkan diri menuju Yerusalem sebagaimana perintah berikut ini:

Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Tuhannya, seperti yang biasa dilakukannya” (Daniel 6:11).

Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar, aku akan masuk ke dalam rumah-Mu, sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau” (Mazmur 5:8) .

Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu” (Mazmur 138:2)

Dalam perkembangannya, Gereja Orthodox mengubah arah Kiblat dari Yerusalem (di Barat) ke arah Timur. Klemen dari Alexandria (150-215 Ms) dalam bukunya Protrepticus dan Stromateis serta Pedagogus menyatakan bahwa Yesus adalah matahari yang sejati. Langkah ini diikuti oleh Origen dan Cyprian[1]. Konsekwensi logisnya peribadatan dengan menghadap arah matahari terbit diadopsi oleh kekristenan di Roma.

F.J. Dolger dalam bukunya Sol Salutis mengutip beberapa tulisan Origen dan Klement yang mendasari peribadatan menghadap ke Timur dengan menggunakan dalil-dalil Kitab Suci yang terlalu dipaksakan dengan cara melakukan alegorisasi atau pemaknaan simbolis atas Mazmur 132:7, Yesaya 9:2, 2 Korintus 4:6, Matius 4:6.

Origenes pun melakukan alegorisasi yang sama terhadap Zakharia 6:12 berdasarkan naskah Septuaginta yang menerjemahkan secara keliru kata Ibrani Tsemakh (tunas) dengan kata Anatole (timur). Yustinus Martir mengikuti pola penafsiran tersebut sehingga setiap ada kata Anatole selalu dihubungkan dengan Mesias.

Bahkan Mazmur 72:17 pun dihubungkan dengan Mesias[2]. Ayat-ayat lain yang dipaksakan untuk membenarkan peribadatan menghadap ke Timur al., Kejadian 2:8,Maleakhi 4:2, Matius 24:27, Mazmur 68:34[3]. Dan penulis-penulis Kristen seperti Basilius, Gregorius dari Nyssa, John Chrisostomos, Severus, Cyrill dari Yerusalem, Yohanes Damaskinos, Thomas Aquinas, dll[4].

Apapun dalihnya, pengubahan arah Kiblat tidak memiliki dasar dalam sabda Yesus Sang Mesias dan para rasulnya.

Yang menjadi persoalan, benarkah sabda Yesus dalam Yohanes 4:23-24 membatalkan kiblat umat Kristen yang seharusnya berdoa ke arah Yerusalem? Itu tidak benar. Penyembah benar akan menyembah dengan benar (Yoh 4:23) Menyembah dengan cara yang tidak benar, menunjukkan bahwa seseorang belum mengenal siapa yang di sembah (Yoh 4:22). Menyembah yang benar adalah dengan Roh dan Kebenaran, karena Tuhan Roh adanya. Apa artinya ? Dalam percakapan singkat antara Yesus dan perempuan Samaria, terlihat konsep umum yang berkembang pada waktu itu, bahwa seolah-olah Tuhan berada dan berdiam di wilayah tertentu saja. Bagi orang samaria, Dia ada di gunung Gerizim. Bagi orang Yahudi, Dia ada di Yerusalem. Yesus menyalahkan semua angapan tersebut.

Yesus, bukan mengkritik bentuk dan cara penyembahan (sujud, berlutut, menadahkan tangan, berdiri, dll) bukan pula menyalahkan aturan ibadah (liturgi, doa harian, hafalan doa, dl). Yesus hanya menyalahkan KONSEP wanita Samaria yang keliru. Wanita Samaria ini keliru memahami wujud  dan tempat Tuhan berada. Konsep yang keliru ini mengakibatkan penyembahan yang keliru.

Jika Yesus mengritik Yerusalem sebagai kiblat, maka pernyataan dalam Yohanes 4:21 seharusnya tidak berbunyi demikian, “Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem”. Jika benar Yesus membatalkan arah kiblat Yerusalem dan Gerizim, maka ayatnya akan berbunyi, “saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan ke arah gunung ini dan bukan juga ke arah Yerusalem”. Nyatanya ayat tersebut berbicara perihal menjadi Yerusalem dan Gerizim sebagai tempat yang diklaim sebagai tempat dimana Tuhan hadir, sehingga dipergunakan kata “di” bukan “ke”.

Menyembah dalam Roh dan Kebenaran, bermakna menyembah dengan kemurnian hati yang keluar dari kesadaran diri manusia. Dengan kata lain, penyembahan dengan ekspresi hati yang tidak dapat di batasi oleh bentuk-bentuk yang temporal, Dalam diri manusia ada “roh”. Ini adalah pusat kesadaran manusia akan Tuhan (Ams 20:27). Dan menyembah dalam roh dan kebenaran tidak sama sekali membatalkan arah kiblat.

Dengan penjelasan ini, pengikut Mesias yang melaksanakan ibadah Tefilah (doa harian) tiga kali sehari hendaknya membasuh tangannya sebagai simbol penyucian dan berdoa dengan mengarahkan wajah dan badanya ke Yerusalem sebagai simbol peringatan bahwa Yerusalem adalah tempat dimana kemuliaan Tuhan pernah tinggal dalam Bait Suci yang sekarang telah roboh. Dan alasan yang berikutnya. Yang kedua adalah simbol kesatuan iman, kesatuan pengharapan dimana Tuhan Yahweh melalui Yesus Sang Mesias akan menjejakkan kaki-Nya di Yerusalem saat penghakiman dunia sebagaimana dikatakan:

Kemudian YHWH akan maju berperang melawan bangsa-bangsa itu seperti Ia berperang pada hari pertempuran. Pada waktu itu kaki-Nya akan berjejak di bukit Zaitun yang terletak di depan Yerusalem di sebelah timur. Bukit Zaitun itu akan terbelah dua dari timur ke barat, sehingga terjadi suatu lembah yang sangat besar; setengah dari bukit itu akan bergeser ke utara dan setengah lagi ke selatan” (Zak 14:3-4)

Pada waktu itu akan mengalir air kehidupan dari Yerusalem; setengahnya mengalir ke laut timur, dan setengah lagi mengalir ke laut barat; hal itu akan terus berlangsung dalam musim panas dan dalam musim dingin. Maka YHWH akan menjadi Raja atas seluruh bumi; pada waktu itu YHWH adalah satu-satunya dan nama-Nya satu-satunya” (Zak 14:8-9)



[1] C.J. Coster, Come Out of Her My People, Institute for Scripture Research, 1998, p.12

[2] Ibid.,18

[3] Ibid.,

[4] Ibid.,


1 comment: