Thursday, November 17, 2011

MATI SEBELUM MATI

Darimanakah asal muasal kematian? Dalam perspektif Kristiani, kematian bukan sekedar takdir namun akibat dari sebuah sebab. Ketika manusia pertama (Adam dan Hawa) diciptakan, Tuhan tidak menjadikan kematian sebagai bagian dari takdirnya. Ketika manusia pertama telah menerima mandat untuk mengelola bumi, Tuhan memberikan satu larangan yang apabila dilanggar akan menimbulkan kematian sebagaimana dikatakan dalam Kejadian 3:16-17 sbb, “Lalu YHWH, Tuhan memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

Berdasarkan pemahaman di atas, kita mendapatkan pengetahuan bahwa kematian adalah akibat dosa dan pelanggaran manusia. Benih maut itu diturunkan dari Adam dan Hawa sampai kepada kita. Benih maut adalah buah dosa sebagaimana dikatakan Roma 6:23 sbb, “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Tuhan ialah hidup yang kekal dalam Mesias Yesus, Junjungan Agung kita”.

Kita semua akan mengalami kematian. Yang berbeda adalah sebab dan cara kita menemui kematian. Berbicara mengenai kematian, Kitab Suci memberikan keterangan bahwa ada dua fase kematian. Kematian pertama adalah terpisahnya roh/nyawa dari tubuh dan kematian kedua adalah penghukuman di neraka sebagaimana dikatakan dalam Wahyu 21:8 sbb, “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua."

Jika ada kematian pertama dan kematian kedua, lalu apa yang dimaksudkan dengan “mati sebelum mengalami kematian?” Wahyu 3:1 mengatakan sbb, "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Tuhan dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!” Wahyu 3:1 menggambarkan jemaat di Sardis yang dikategorikan “mati sebelum mati”. Mereka adalah orang-orang yang mati imannya, mati perbuatan baiknya, mati pengharapannya, mati hasrat dan kerinduannya pada Tuhan, mati persekutuannya, mati ibadahnya.

Banyak orang yang mengaku Kristen secara formal namun dikategorikan “mati sebelum mengalami kematian”. Menjadi tugas dan tanggungjawab kita pula agar mereka mengalami kehidupan.


Yesus Sang Mesias memberikan solusi bagi mereka yang mengalami mati sebelum mati, yaitu pertobatan sebagaimana dikatakan, “Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Tuhan-Ku. Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu” (Why 3:2-3). Bertobat dalam bahasa Ibrani adalah Shuv yang artinya “berbalik arah”. Berbalik arah dari jalan yang salah menuju jalan yang benar. Berbalik arah dari perilaku yang jahat menjadi perilaku yang baik. Berbalik arah dari pemikiran yang jahat menjadi pemikiran yang baik. Bahasa Yunani membagi dua istilah yaitu Metanoia yang artinya “perubahan pemikiran” dan Epistrophe yang artinya “perubahan perilaku”.

Apa yang terjadi bagi mereka yang dikategorikan “mati sebelum mati” dan tidak mau bertobat? Sabda Yesus dalam Wahyu 3:3, “Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu”. Kematian yang datang tiba-tiba akan membuat seseorang tidak mengalami kesiapan dan kelayakan saat meninggalkan dunia ini. Alangkah ngerinya jika seseorang mengalami kematian sedangkan kondisi kehidupan kerohanian mereka pun mati.

Jemaat di Sardis tidak semua mengalami kematian rohani karena pada Wahyu 3:4 dikatakan, “Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu”. Apakah yang dimaksudkan dengan “pakaian putih” dalam ayat tersebut? Pakaian adalah simbol dari perbuatan benar dari orang-orang kudus sebagaimana dikatakan dalam Wahyu 21:8  sbb, “Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!" (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus).

Oleh karenanya perbuatan benar atau perbuatan baik menempati kedudukan yang penting dan setara dengan iman. Kita memang tidak diselamatkan dan beroleh hidup kekal oleh karena berbuat baik namun sebagai orang sudah diselamatkan kita seharusnya banyak berbuat kebaikan sebagai buah-buah keselamatan. Perbuatan baik akan menentukan kedudukan apa yang akan kita terima dalam kekekalan. Perbuatan baik akan menyertai kita saat kita mengalami kematian sebagaimana dikatakan dalam Wahyu 14:13 demikian, “Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: "Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Junjungan Agung, sejak sekarang ini." "Sungguh," kata Roh, "supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka”.

Yesus menutup sabdanya kepada jemaat di Sardis dengan berkata, “Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya” (Why 3:5). Kata “menang” mengindikasikan adanya faktor usaha dan perjuangan. Iman itu bukan bekerja secara otomatis. Iman harus dipertahankan dan diperjuangkan sebagaimana dikatakan dalam Yudas 1:3 sbb, “Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus”.

Kalimat, “Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan” membuktikan bahwa doktrin “sekali selamat tetap selamat” atau “keselamatan tidak bisa hilang” adalah keliru sama sekali. Ajaran tersebut membuai dan melenakan orang beriman dari tanggung jawab untuk melakukan perbuatan baik. Kata “dihapus” mengandaikan pernah ditulis. Tulisan yang dihapus berarti hilang sama sekali. Dengan demikian keselamatan bisa hilang jika kita tidak berjuang dan memelihara iman.

Sof davar (akhir kata) Yesus bersabda, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.". baiklah kita mendengarkan apa yang disabdakan Yesus agar kita beroleh keselamatan senantiasa.

No comments:

Post a Comment