Kamis, 01 Desember 2016

MEMBEDAKAN KATA IBRANI "ADONAY" DAN "ADON"

Mari kita perhatikan dengan seksama terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia untuk Lukas 20:41-42 sbb: “Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Bagaimana orang dapat mengatakan, bahwa Mesias adalah Anak Daud? Sebab Daud sendiri berkata dalam kitab Mazmur: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku”. Jadi tidak ada istilah “Tuhan Allah telah berfirman kepada Tuhanku”. Istilah Ketuhanan yang kacau balau dan mengesankan Tuhan memiliki Tuhan. 

RELASI KEKAL KEILAHIAN




Jika kita membaca struktur kalimat pembuka surat Rasul Paul berikut ini, “Kasih karunia dan damai sejahtera dari Tuhan, Bapa kita dan dari Junjungan Agung Yesus Sang Mesias  menyertai kamu. Terpujilah Tuhan dan Bapa Junjungan Agung kita  kita Yesus Sang Mesias  yang dalam Mesias telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga”, maka struktur ini hampir selalu muncul dalam surat-surat rasul Paul dimana istilah “Tuhan” (Theos/Elohim/God) dipisahkan dengan istilah “Tuan” atau “Junjungan Agung” (Kurios/Adon/Lord). Istilah “Tuhan” ditujukkan pada “Bapa” yaitu Yahweh dan istilah “Tuan” atau “Junjungan Agung” ditujukkan pada Yeshua (Fil 1:2, Kol 1:3, Flm 1:3, Tit 1:4, 1 Kor 8:6, 2 Kor 11:31). 

MELIHAT SEBAGAIMANA SIMEON MELIHAT

Berbagai buku dan film telah diproduksi di Abad 20 dengan tujuan menampik eksistensi historis ajaran Yesus sebagaimana buku yang diterbitkan dari kelompok Jesus Seminar al., The Five Gospels: What Did Jesus Really Say? The Search for the Authentic Words of Jesus, yang ditulis Robert W. Funk dengan kesimpulan, “Delapan puluh dua (82%) kata-kata yang dianggap berasal dari Yesus di dalam Injil, tidaklah benar-benar diucapkan oleh Yesus”.  

EUREKA (AKU TELAH MENEMUKAN)

Eureka adalah kata seruan dalam bahasa Yunani yang digunakan untuk melambangkan penemuan suatu hal. Seruan ini terkenal karena digunakan oleh Archimedes (287-212 SM). Ia mengucapkan kata Eureka! ketika ia masuk kedalam bak mandi dan menyadari bahwa permukaan air naik, sehingga ia menemukan bahwa berat (dalam Newton) air yang tumpah sama dengan gaya yang diterima tubuhnya.  

MENIMBA BIJAKSANA DENGAN PERGI KE RUMAH DUKA

Saat kematian terjadi terhadap seseorang, maka yang biasa kita lakukan adalah menyambangi keluarga yang ditinggal meninggal untuk memberikan dukungan moral agar tetap tabah dan tidak berlarut dalam kesedihan. Perilaku demikian sudah menjadi kelaziman dalam agama manapun. Namun yang menarik, Pengkotbah justru menjadikan perilaku tersebut yaitu pergi ke rumah duka (bet awel) sebagai sebuah perbandingan sikap yang terbaik dibandingkan perilaku lainnya yaitu pergi ke rumah pesta (bet mishteh). Apa maksud Pengkotbah mengatakan demikian? “karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya”. 

MENGHADAPI DAN MENGATASI MASALAH



Stephen Covey, penulis buku motivasi terlaris New York Times The 7 Habits of Highly Effective People memperkenalkan tentang Hukum 90/10. Hukum tersebut mengatakan bahwa kita tidak bisa mengendalikan 10% yang terjadi pada kita, namun 90% sisanya terletak pada bagaimana kita bereaksi terhadap keadaan itu. Kita tidak bisa menghindari kereta atau pesawat yang tertunda keberangkatannya, kita tidak bisa mencegah hujan yang jatuh di kota kita saat awan telah mendung, kita tidak bisa menghindari dari sakit, tua dan kematian. Namun kita bisa mengubah nasib kehidupan kita di hari-hari yang akan datang dengan kita memberikan reaksi-reaksi yang benar. Dan reaksi yang benar tersebut adalah 90% terletak dan tergantung pada diri kita. 

MEMBEBASKAN DARI TORAH ATAU MEMBEBASKAN DARI DOSA?



Dalam bukunya Destine to Reign, Pastor Joseph Prince yang kerap berpenampilan tambut dan pakaian bagaikan artis tinimbang rohaniawan menuliskan pernyataan, “Yesus Sang Mesias telah membebaskan semua orang percaya dari Perjanjian Torah yang menghakimi. Namun, ada orang-orang percaya yang memilih untuk terus hidup dibawah penghakiman daripada menerima Kasih karunia yang telah dibeli oleh darah Yesus Sang Mesias. Daripada mempercayai kebaikan Tuhan yang tidak layak mereka terima melalui Yesus Sang Mesias, mereka justru telah memilih untuk mempercayai kemampuanN mereka untuk mematuhi Torah. Singkatnya, mereka telah memilih pelayan kematian”. 

Selasa, 22 November 2016

KASIHILAH ATAU BENCILAH MUSUHMU?



Jika kita membaca Torah, maka kata “musuh” dan “perlawanan” serta “binasa” menjadi begitu dominan dituliskan sebagai respon seseorang terhadap mereka yang berlaku jahat terhadap dirinya, keluarganya atau bangsanya, sebagaimana dikatakan, “Lima orang dari antaramu akan mengejar seratus, dan seratus orang dari antaramu akan mengejar selaksa dan semua musuhmu akan tewas di hadapanmu oleh pedang”(Im 26:8 - Band. Kej 24:60, Bil 14:42, 1 Sam 12:1). Bahkan dalam Mazmur banyak tertulis doa-doa Daud yang meminta Tuhan membinasakan musuhnya antara lain, “Yahweh telah mendengar permohonanku, Yahweh menerima doaku. Semua musuhku mendapat malu dan sangat terkejut; mereka mundur dan mendapat malu dalam sekejap mata” (Mzm 6:11). Lantas bagaimana kita menyelaraskan teks perihal musuh dan respon perlawanan terhadap musuh serta doa-doa memohon kebinasaan terhadap musuh dengan sabda Yesus Sang Mesias perihal mengasihi musuh? 

Rabu, 16 November 2016

MEMPERTAHANKAN KESETIAAN DAN KEBENARAN

Pada bagian akhir sebuah film berjudul Crime of the Century dipetik sebuah surat seorang terdakwa mati bernama Richard Hauftman yang dituduh dan diputuskan bersalah telah membunuh seorang bayi sekalipun dirinya telah berusaha membuktikan tidak terlibat dan tidak bersalah. Demikian petikkan suratnya, “Aku senang hidupku di dunia ini yang tidak memahamiku telah berakhir. Sebentarlagi aku akan pulang dengan Tuhanku. Karena aku sayang Tuhanku aku mati sebagai orang tidak bersalah. Mereka pikir saat aku mati, kasus ini juga akan mati. Mereka pikir ini seperti buku yang akan ditutup. Tapi buku itu tak akan pernah tertutup”.

MENGAKHIRI PERTANDINGAN DENGAN BAIK

Jika kita menghadiri upacara pemakaman di kalangan mereka yang beragama Islam, kerap muncul ujaran yang kurang lebihnya demikian, “Kiranya saudara A matinya dalam keadaan “khusnul khotimah”, lalu akan ditimpali para hadirin , “Amin”. Apakah makna kata “khusnul khatimah?” Artinya “akhir yang baik”. Seseorang yang meninggal diharapkan meninggal dalam keadaan yang baik. Menurut kepercayaan Islam mereka yang meninggal dalam keadaan baik memiliki sejumlah ciri al., mampu mengucapkan kalimat sahadat saat sakratul maut alias menjelang kematian. Sebaliknya, mereka yang mengakhiri kehidupan dengan buruk disebut “shu’ul khatimah” yang merupakan kebalikkan dari “khusnul khatimah”.

NUBUAT YANG DIBUAT


Praktik manipulasi nubuat demi kepentingan pribadi dan kelompok rupanya sudah menjadi gejala yang tua usianya dan bukan hanya menjadi karakter kehidupan beragama di era modern belaka. Terbukti di masa kerajaan Israel dipimpin Ahab yang lalim, dia selalu menginginkan nubuat-nubuat yang baik dan menyenangkan hati serta mendukung berbagai tindakan dan keputusan yang dilakukannya tinimbang benar-benar mendengar suara dan petunjuk Tuhan.

BIARA KEHIDUPAN


Di kalangan gereja Ortodox dan Katolik dikenal kehidupan biara dan pertapaan Kristen. Kehidupan membiara ini dikenal dengan sebutan Monastikisme. Akar kehidupan membiara berasal dari tradisi Yudaisme sebagaimana dijalankan oleh kaum Esseni di kawasan Qumran, Laut Mati dan kehidupan Yohanes Pembaptis yang tinggal di padang gurun. Tercatat dalam sejarah kekristenan, tokoh-tokoh pertapa Kristen pertama al., Antonius dari Thebes Mesir memulai kehidupan membiara pada tahun 269 Ms, dilanjutkan oleh Benediktus di tahun 540 dst.

Kamis, 03 November 2016

AGAMA DAN KOMODITAS


Setiap barang selalu memiliki dua nilai dalam dirinya yaitu “nilai guna” dan “nilai jual” atau “nilai ekonomi”. Nilai guna berbicara perihal fungsi dan kegunaan sebuah barang atau benda. Pisau berfungsi dan berguna untuk mengupas, menguliti, menyobek dll. Nilai ekonomi berbicara perihal harga sebuah barang dalam kegiatan ekonomi dan pasar. Ini yang disebut dengan istilah “komoditas” alias barang yang dapat diperjualbelikan. Pisau memiliki nilai jual karena ada orang yang membelinya dan membutuhkannya sementara si pembeli tidak memiliki pisau. Namun ternyata bukan hanya benda dan barang yang memiliki nilai guna dan nilai jual, bahkan sejumlah situasi, kondisi, tindakan, peristiwa serta perilaku keagamaan dapat menjadi sebuah nilai jual atau nilai ekonomi. Kemiskinan sebagai kondisi bisa diubah menjadi nilai ekonomi oleh orang-orang yang memanfaatkan kondisi tersebut untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. 

MEMERANKAN DIRI SENDIRI


Tanpa bermaksud membuat stigma negatif dan membuat generalisasi (penyamarataan), kita kerap disuguhi kenyataan sebagaimana dilaporkan dalam sejumlah media sosial atau siaran-siaran infotainment di sejumlah media elektronik bagaimana para aktor dan aktris – baik dalam negeri maupun luar negeri – yang begitu piawai dan berhasil menerima sejumlah penghargaan dibidang tokoh yang diperankannya dalam sejumlah film ternama. Namun ironisnya kita kerap melihat dan mendengar bagaimana aktor yang mampu memerankan sejumlah tokoh dan menjadi idola banyak orang justru kerap gagal memerankan dirinya sendiri dalam kehidupan pribadi dan keluarganya. 

Minggu, 16 Oktober 2016

GREBHEG SUKKOT SEBAGAI BENTUK AKULTURASI DAN MEMBUMIKAN MAKNA TUJUH HARI RAYA YHWH DALAM KONTEKS LOKAL

Kisah Rasul 17:16-34

Oleh:

Pdt. Teguh Hindarto, S.Sos., MTh.


Agnostho Theo

Dikisahkan, inskripsi Agnosto Theo dipahatkan atas petunjuk filsuf Epimenides, ketika bangsa Athena menghadapi bencana wabah yang mematikan. Rakyat Athena sudah meminta tolong kepada ribuan dewa yang patung-patungnya dideretkan di sekitar bukit Mars, tetapi hasilnya nihil. Wabah itu tetap melanda. Epimenides yang seorang Kreta, diminta oleh para tua-tua Athena untuk mengadakan perdamaian dengan salah satu dewa lagi. Hal ini sebenarnya aneh mengingat reputasi orang Atena sebagai para penyembah berhala dan politeistik. Epimenides berkata lantang, “Kalau ribuan dewa ini tidak mejawab doa-doa kita, kesimpulan logis saya, pastilah ada satu-satunya Dewa yang Mahakuasa, yang entahlah, kita tidak ahu siapa nama-Nya. Ya, kita benar-benar tidak mengenal Dia, yang namanya tidak kita ketahui, dan oleh karena itu tidak ada patung di kota ini yang mewakilinya. Yang kedua, bahwa Dia cukup berkuasa dan cukup baik hati untuk meredakan wabah ini, asal kita memohon bantuannya.".

SUKKOT (Pondok Daun) DAN SHEKINAH (Kemuliaan YHWH)

Yohanes 1:14

Midrash Sukot 5777 – 2016

Oleh: 

Pdt. Teguh Hindarto, S.Sos., MTh.


Pilar-Pilar Ibadah Kristiani

Ibadah Kristiani pada awalnya berakar pada Yudaisme. Yesus Sang Mesias adalah seorang Yahudi (Ibr 7:14) dan beribadah secara Yahudi. Demikian pula murid-murid Yesus dan para rasulnya meneruskan tata cara ibadah Yudaisme tersebut. Pilar ibadah Kristiani yang berakar pada Yudaisme meliputi sbb: Ibadah Harian tiga kali sehari (Tefilah Sakharit, Minkhah, Maariv – Kis 3:1; 10:3), Ibadah Pekanan (Sabat – Kis 13:14,27,42,44), Ibadah Bulanan (Rosh kodesh – Kol 2:16-17), Ibadah Tahunan atau Tujuh Hari Raya (Sheva Moedim – Kis 20:16, 1 Kor 16:8). 

Para ahli liturgi Kristen pun mengakui bahwa beberapa tradisi liturgis dalam gereja Katholik, Orthodox dan Protestan, sebenarnya berakar dari Yudaisme. Pdt. Theo Witkamp, Th.D., menjelaskan dalam artikelnya sbb: “Gereja Kristen dimulai sebagai suatu sekte Yahudi. Oleh karena itu, kalau kita ingin tahu tentang asal-usul dan latar belakang ibadah Kristen awal, kita terutama harus memandang kebiasaan-kebiasaan liturgis dan musikal dari agama Yahudi pada Abad Pertama Masehi”(Mazmur-Mazmur Kekristenan Purba Dalam Konteks Yahudi Abad Pertama, dalam Jurnal Teologi GEMA Duta Wacana, No 48 Tahun 1994, hal 16). Rashid Rahman mengatakan,“Gereja awal tidak memiliki pola ibadah tersendiri dan asli. Mereka beribadah bersama dengan umat Yahudi dan kemudian mengambil beberapa ritus Yahudi untuk menjadi pola ibadah harian”(Ibadah Harian Zaman Patristik, 2000: 36). 

Senin, 10 Oktober 2016

KELAHIRAN YESUS DALAM PERAYAAN SUKOT

Sukot (Pondok Daun) adalah perayaan puncak dari Tujuh Hari Raya (Sheva Moedim) yang ditetapkan YHWH di Sinai (Im 23: 39-43) untuk memperingati penyertaan Tuhan YHWH terhadap leluhur Israel selama berada di padang gurun sebelum memasuki tanah perjanjian. Sukot merupakan perayaan yang bermakna profetik karena dihubungkan dengan pemerintahan YHWH di akhir zaman sebagaimana dinubuatkan dalam Zakaria 14:16. Mengapa kita seharusnya merayakan Sukkot? (1) karena Yesus Sang Mesias merayakan Tujuh Hari Raya demikian pula dengan Sukkot (Yoh 7:1-2, 37-38). (2) Tujuh Hari adalah bayangan yang menunjuk pada karya Mesianis Yesus (Kol 2:16). 

PENGORBANAN YESUS DALAM PERAYAAN YOM KIPPUR

Rasul Yohanes menggemakan makna Yom Kippur menunjuk pada karya pengorbanan Yeshua dengan mengatakan, “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (1 Yoh 2:2). Penulis Kitab Ibrani menggemakan hal yang sama, Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Tuhan...”(Ibr 10:11-12).

KEDATANGAN YESUS YANG KEDUA DALAM PERAYAAN ROSH HA SHANAH


Perayaan Rosh ha Shanah (tahun baru Ibrani) atau Yom Shofar (peniupan sangkakala) menunjuk pada peniupan shofar (tanduk domba yang panjang) sebagai penanda tahun baru sipil Ibrani dan juga peringatan penghakiman YHWH. Barney Kasdan dalam bukunya berjudul God’s Appointed Times: A Practical Guide for Understanding and Celebrating the Biblical Holidays(p.64-67)  memberikan penjelasan mengenai Rosh ha Shanah sbb:Tujuan hari raya ini diungkapkan dengan satu kata yaitu pengumpulan kembali. Karena hari raya ini mengajak semua orang Yisrael untuk kembali kepada iman yang murni kepada Tuhan. Rosh ha Shanah mewakili hari pertobatan. Ini adalah hari dimana Bangsa Israel mengambil persediaan kondisi spiritual mereka dan membuat perubahan yang diperlukan untuk memastikan bahwa tahun baru yang akan datang akan berkenan pada Tuhan. 

PENCURAHAN ROH KUDUS DALAM HARI RAYA SHAVUOT



Perayaan Shavuot menunjuk pada beberapa peristiwa sbb: (1) Pesta panen hari kelima puluh setelah menghitung buah sulung. (2) Dalam tradisi Yahudi, Pentakosta atau Yom Shavuot dirayakan bukan hanya sebagai pesta panen melainkan perayaan turunya pewahyuan Torah di Sinai karena Bangsa Israel berangkat menuju Sinai pada bulan ketiga setelah Pesakh yaitu bulan Siwan (Kel 19:1). Oleh karenanya nama lain hari raya Pentakosta atau Shavuot adalah Zmaan Matan Torateynu (Waktu Pemberian Torah kita). Keyakinan ini berpengaruh pada tradisi perayaan ini. Sinagoga-sinagoga Yahudi dihias dengan tumbuhan hijau, bunga dan keranjang buah-buahan untuk melambangkan aspek panen di masa Shavuot. Pembacaan Kitab Suci diambil dari Keluaran 19-20 (pemberian Torah) dan Yekhezkiel 1 (penglihatan nabi mengenai kemuliaan Tuhan). Demikian pula gulungan Kitab Ruth dibacakan selama masa panen Shavuot. 

KEBANGKITAN YESUS DALAM PERAYAAN YOM BIKURIM/SFIRAT HA OMER


Perayaan Bikurim (buah sulung) atau Sfirat ha Omer, menunjuk hari raya panen Bangsa Yisrael setelah memasuki tanah Kanaan. Tiap jatuh panen mempersembahkan buah sulung panen dan menghitung omer (Im 23:9-14). Ada perbedaan pendapat diantara mazhab agama Yahudi di zaman Mesias sampai sekarang mengenai kapan ditetapkannya perayaan Buah Sulung (sfirat ha omer/bikurim). Perbedaan tersebut dikarenakan perintah YHWH yang menimbulkan multitafsir dalam Imamat 23:9-11 mengenai kalimat “mimmohorat ha Shabat” (sesudah Sabat itu).  

PENGUBURAN YESUS DALAM PERAYAAN ROTI TIDAK BERAGI


Perayaan ha Matsah (roti tidak beragi) menunjuk pada peristiwa historis dimana nenek moyang Yisrael memakan roti tidak beragi selama perjalanan menuju Laut Teberau setelah meninggalkan negeri Mesir negeri perbudakan mereka. Pelaksanaan makan roti tidak beragi selama satu minggu (Im 23:6-8). Dalam Perjanjian Baru menunjuk penguburan Yesus selama tiga hari tiga malam di rahim bumi. Rasul Paul menggemakan kembali makna perayaan Roti Tidak Beragi sebagai refleksi jemaat Kristen untuk membuang berbagai kejahatan dan kefasikan dalam hidup sebagaimana dikatakan: “Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran” (1 Kor 5:8)

KEMATIAN YESUS DALAM PERAYAAN PESAKH


Membaca perikop Lukas 22:14-23, tanpa memahami latar belakang sejarah dan keagamaan serta kebudayaan Yahudi Abad 1 Ms akan membuat kita kehilangan akar historis dan essensi dibalik peristiwa tersebut. Kekristenan Barat menyebut peristiwa tersebut dengan Last Supper (Perjamuan Terakhir). Seolah-olah Yesus Sang Mesias makan malam terakhir sebelum Dia ditangkap oleh prajurit Romawi untuk dihukum, disiksa dan disalibkan. Peristiwa Yesus dan murid-murid-Nya makan Pesakh merupakan ritual tahunan tiap jatuh Tgl 14 Nisan yang di namakan Seder Pesakh

YESUS DALAM TUJUH HARI RAYA





Di Sinai YHWH memberikan Torah. Dalam Torah, YHWH menetapkan Moedim (waktu-waktu yang tetap) atau hari-hari raya yang berjumlah tujuh (sheva moedim). Ketujuh perayaan tersebut adalah (Imamat 23:1-44) sbb: Pesakh (14 Nisan), Ha Matsah (roti tidak beragi, 15 Nisan), Sfirat ha Omer (menghitung omer setelah shabat hari raya), Shavuot (hari kelimapuluh setelah menghitung omer), Yom Truah /Rosh ha Shanah (peniupan shofar atau tahun baru Ibrani, 1 Tishri), Yom Kippur (hari pendamaian, 10 Tishri), Sukkot (perayaan pondok daun, 15-21 Tishri). 

KEKRISTENAN SEBAGAI SALAH SATU MAZHAB DALAM YUDAISME



Dalam Kisah Rasul 28:22, kita mendapati pernyataan orang-orang Yahudi di Roma yang meminta penjelasan Rasul Paulus perihal Injil yang berpusat pada figur Yesus yang diberitakannya dengan berkata, “Tetapi kami ingin mendengar dari engkau, bagaimana pikiranmu, sebab tentang mazhab ini kami tahu, bahwa di mana-mana pun ia mendapat perlawanan”. Apakah makna kata “mazhab” itu? Dan mengapa Injil Yeshua yang diberitakan Rasul Paul disebut dengan “mazhab?” Dalam Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani, kata Haereseis diterjemahkan secara berbeda tergantung konteks kalimatnya yaitu sbb: “sekte” (Kis 24:5, 14), “bidat” (Tit 3:10), “roh perselisihan” (Gal 5:20), “perpecahan” (1 Kor 11:19), “pengajaran sesat” (2 Ptr 2:1), “mazhab” (Kis 5:17; 24:5, 26:5, 28:22). Adapun istilah “mazhab” sendiri diambil dari bahasa Arab yang artinya, “jalan yang dilalui”, “mengikuti sesuatu yang dipercayai”. 

ADAM DAN MESIAS (KRISTUS)


Dengan membandingkan keberadaan dan kehadiran Adam dan Yesus, Rasul Paul hendak menyampaikan pesan yang penting dan mendalam sbb: Pertama, Adam menjadi pintu masuk dosa namun Yesus menjadi pintu masuk kehidupan kekal (Rm 5:12-17). Adam yang diciptakan Tuhan gagal mematuhi perintah dan larangan Tuhan agar tidak makan buah Pengetahuan Baik dan Pengetahuan Buruk sehingga mengalami kehilangan kemuliaan Tuhan berujung kefanaan alias maut. Inilah yang disebut upah dosa. Maut yang dialami Adam dan Hawa sebagai upah dosa telah masuk (eiselthen, Yun) dan menjalar (dielthen, Yun) ke dalam dunia dan dalam kehidupan manusia. Melalui ayat ini kita bisa mengerti mengapa semua orang berpotensi mengalami kematian termasuk bayi yang belum mengerjakan dosa dan kejahatan karena buah dosa yaitu kematian Adam dan Hawa “terwariskan” dalam semua DNA keturunan Adam dan Hawa. 

MISSION IMPOSIBLE


Jika kita pernah menyaksikan film layar lebar produksi tahun 1996 berjudul Mision Imposible (yang didasarkan pada serial televisi) dengan tokohnya Ethant Hunt yang diperankan Tom Cruise sebagai seorang spion IMF. Dinamai Mission Imposible karena berbagai aksi spionase yang dilakukan dalam membongkar sebuah kejahatan atau menyadap kegiatan musuh kerap bersifat imposible (tidak mungkin), mulai dari penyamaran, penyusupan, penyergapan, meloloskan diri dll. Namun itu hanya terjadi dalam dunia film dan fiksi. Kitab Suci Perjanjian Baru, menyaksikan sebuah mission imposible dalam Roma 8:1-4. “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Mesias Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Mesias dari hukum dosa dan hukum maut. Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Tuhan. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh”.  

MENGEJAR BARANG YANG SIA-SIA


Masih ingat perilaku sejumlah orang tertentu yang mempercayai perihal keberadaan “Harta Gaib Sukarno”, “Dana Revolusi”, “Harta Amanah Sukarno?” Bermula dari scan foto dan foto copy-an dua lembar surat wasiat tertanggal 12 Januari 1967 atas nama Sukarno dan Hatta dengan bubuhan stempel UBS. Dengan menggunakan ejaan lama dan tintas hijau khas Sukarno, semua orang yang pernah hidup di era beliau seketika akan yakin betul perihal otentisitas dan keberadaan harta yang diwasiatkan dalam surat tersebut. Saya kutipkan penggalan kalimat dalam surat wasiat tersebut sbb: “Bersama ini, Soekarno atas nama seluruh Rakyat yang tercinta dan atas nama Pemegang Harta yang Rakyat titipkan dan percayakan kepadaku, karena mengingat kondisi dari kesehatanku dan kondisi dalam tubuh Kabinetku sendiri, maka sangat perlu aku mengambil jalan yang aku pikir sangat tepat untuk mengamankan nasib Bangsa dan Rakyat yang sebagian tidak tahu tentang harta yang aku tinggalkan di Luar Negeri….”. 

MANIPULASI DIRI


Di era teknologi informasi yang menghasilkan sejumlah modern gadget dan social media, ternyata membuat banyak orang tergoda untuk melakukan berbagai manipulasi diri, mulai dari mengedit foto diri agar terlihat lebih tampan dan cantik, berfoto di sejumlah tempat liburan mahal dan prestisius untuk mengirim pesan betapa mapannya diri kita, menyandingkan barang-barang mahal (mobil, motor, handphone, rumah, dll) seolah-olah kita adalah pemilik atau konsumen utama. Mengunggah foto menu makanan mahal di restoran terkemuka untuk mendapatkan pengakuan perihal selera makan. Ukuran keberhasilan dan kesuksesan saat ini ditentukan oleh apa yang kita unggah di media sosial (facebook, instagram, you tube, line, whatsap, dll). 

Minggu, 09 Oktober 2016

MEMPERTANGGUNGJAWABKAN IMAN



Teks yang kita baca ini memerintahkan pada segenap umat Kristen untuk bersiap sedia memberikan dirinya untuk melakukan “pertanggungan jawab” perihal iman dan kepercayaannya. Kata yang diterjemahkan dengan “pertanggungan jawab” dalam bahasa Yunaninya apologian bentuk akusatif feminin dari apologia. Kata apologia muncul dan diterjemahkan secara berbeda sesuai konteks kalimatnya yaitu “pembelaan diri” (2 Korintus 7:11) dan “membela Injil” (Fil 1:16). Jadi apologia bisa bermakna memberikan jawaban, tanggapan, pertanggungjawaban, pembelaan terhadap Injil. 

TURUN KE DALAM DUNIA ORANG MATI


Saat saya masih kuliah strata satu teologi, saya berkenalan dengan sebuah kelompok persekutuan doa yang dipimpin oleh salah seorang pemimpinnya yang kerap melakukan “penginjilan arwah”. Dalil yang dipercayai pemimpin ini berdasarkan kisah Yeshua turun ke dalam dunia orang maut yang dilaporkan 1 Petrus 3:19-20). Benarkah saat Yeshua wafat tiga hari tiga malam beliau memberitakan Injil pada mereka yang telah wafat? Kata yang diterjemahkan “memberitakan Injil”, dalam naskah Yunani, ekeruzen dari akar kata keruzo yang artinya “mengumumkan”. 

PERHIASAN WANITA



Berbicara mengenai wanita, tentu tidak bisa dilepaskan dari kecantikkan dan perhiasan yang memperlengkapi kecantikannya. Tidak mengherankan jika kita melihat penampilan seorang wanita dari kelas sosial tertentu akan memperlihatkan simbol-simbol statusnya salah satunya melalui perhiasan yang dikenakannya. Perhiasan, bukan sekedar simbol pencapapaian prestasi melainkan simbol status sosial seorang wanita. Berhias dan perhiasan yang melekat dengan citra seorang wanita bukanlah sebuah kesalahan ataupun kejahatan, namun ada sesuatu yang lebih besar dan lebih penting dari itu semua adalah adakah para wanita khususnya wanita Kristen telah memiliki dan mengenakan perhiasan yang bukan “lahiriah” belaka melainkan perhiasannya adalah “manusia batiniah”. Apakah “perhiasan lahiriah” (exotheen, Yun) itu? “mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah” (1 Ptr 3:3). 

BERSIMAHARAJELANYA KETIDAKSOPANAN




Seiring maraknya teknologi informasi dalam bentuk internet yang bisa kita akses bukan hanya di laptop ataupun personal computer di rumah kita melainkan melalui hand phone, kita kerap dibanjiri dengan berbagai informasi perihal semakin maraknya perilaku tidak sopan dari masyarakat kita. Ironisnya, perilaku ketidaksopanan itu bukan hanya diperlihatkan oleh orang-orang yang tidak terpelajar melainkan orang-orang terpelajar, terdidik bahkan dengan status sosial yang tinggi dan berpengaruh di mata publik. Kita sudah kenyang disuguhi informasi perihal pemukulan seorang murid pada gurunya atau kekerasan orang tua terhadap guru, menghina pemimpin negara dengan gambar dan kalimat seronok, melecehkan sebuah kebijakkan publik bukan dengan argumentasi logis melainkan hinaan dan caci maki tanpa bobot argumentasi logis sama sekali, makian-makian berbau rasialis dan agama yang kerap dipertontonkan pejabat, politisi, akademisi di muka publik secara verbal tanpa rasa malu dan sungkan. 

CYBER BULLYNG


Bagi mereka yang aktif di media sosial seperti Facebook, Twetter, Whatsap, Instagram, Line dll pasti tidak asing dengan istilah Cyber Bullyng. Jika ada istilah Real World dan Real Community maka di era teknologi informasi dan internet ini ada istilah Cyber World dan Cyber Community. Namun bukan hanya nilai-nilai yang positip yang dipindahkan ke dunia maya (cyber world) melainkan kejahatan dan berbagai bentuk perkataan serta perilaku menyimpang dapat masuk ke dunia maya. Oleh karenanya ada istilah Cyber Crime (kejahatan dunia maya) dalam bentuk penipuan, pemalsuan yang merugikan siapapun yang menjadi korban pelaku kejahatan di dunia maya. Gejala lainnya yang saat ini marak adalah Hate Speech (ujaran kebencian) yang bisa dimanifestikan secara verbal (melalui kata-kata langsung) atau non verbal melalui media sosial. 

SALAH MEMBACA KITAB SUCI



Ada seorang yang ingin mengetahui kehendak Tuhan tentang sesuatu hal. Dia mengambil Kitab Suci dan membuka secara sembarangan serta menjatuhkan jari telunjuknya pada halaman tertentu dengan mengadaikan bahwa ayat yang ditunjukkan oleh jarinya akan mengatakan kepadanya apa yang patut diperbuat. Betapa menyedihkan hatinya sebab jarinya menunjuk pada teks Matius 27:5 yang mengatakan bahwa Yudas keluar dan menggantungkan diri. Kali ini jari telunjukknya menunjuk pada teks Lukas 10:37 yang berbunyi, “Pergilah dan perbuatlah yang sama”. Ketika dia mengikuti metode yang sama untuk ketiga kalinya, jarinya jatuh pada teks Yohanes 13:27 yang berbunyi, “Bergegaslah dengan apa yang hendak engkau laksanakan!”. Cerita di atas mungkin saja tidak terjadi secara persis dalam kehidupan keseharian kita namun dalam bentuk lainnya metode membaca Kitab Suci dengan cara demikian masih banyak terjadi di kalangan umat Kristen. 

TENANGLAH, INI AKU, JANGAN TAKUT!



Malam itu murid-murid Yesus Sang Mesias terombang-ambing di lautan oleh karena datangnya angin sakal. Mereka terperangkap dalam ributnya angin yang mempermainkan mereka sehingga mereka kehilangan orientasi dan kepercayaan diri. Dalam kondisi panik mereka tidak lagi dapat membedakan obyek-obyek yang mereka lihat dan jumpai di depan mereka. Demikian pula saat angin sakal menghempaskan perahu mereka, “murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: ‘Itu hantu!’, lalu berteriak-teriak karena takut” (Mat 14:26). Barulah saat Yesus bersabda, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" (Mat 14:27) muncul keberanian dan ketenangan diantara para murid, walaupun salah satu murid yaitu Petrus masih ingin meyakinkan apa yang dilihatnya sebagai kebenaran dengan mengajukan bukti agar dapat berjalan di atas air menghampir Yeshua (Mat 14:28). 

WAKTU ARITMETIK DAN WAKTU EKSISTENSIAL



Seorang raja muda dari Timur ingin menjadi orang baik dan bijaksana serta memerintah rakyatnya menurut kehendak Tuhan. Dia mengumpulkan semua orang paling bijaksana dari seluruh kerajaan dan memerintahkan mereka untuk mengumpulkan semua kebijaksanaan ke dalam buku-buku sehingga dia dapat membaca dan belajar sendiri bagaimana memerintah dengan baik. Orang-orang bijaksana itu segera memulai pekerjaan raksasa dan sesudah tiga puluh tahun pekerjaan itu selesai. Satu barisan unta panjang membawa lima ribu jilid buku berjalan menuju istana. Raja pada saat itu sudah berusia tengahan dan dipenuhi dengan banyak tugas dan rencana. Dia melihat unta-unta yang bermuatan itu dan berkata, “Saya terlalu sibuk untuk membaca begitu banyak buku. Bawa semua buku ini dan ringkaskan lagi untuk saya”. Pekerjaan meringkaskan memakan waktu lima belas tahun dan kemudian orang-orang bijaksana itu dengan bangga menghasilkan lima ratus jilid. Raja itu mengatakan, “Masih terlalu banyak. Lima puluh cukup”.  

MEWASPADAI RADIKALISME DAN FANATISME AGAMA




Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin oleh Prof Dr Bambang Pranowo, yang juga guru besar sosiologi Islam di UIN Jakarta, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal. Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia. Jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3% siswa dan 14,2% membenarkan serangan bom. Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin oleh Prof Dr Bambang Pranowo, yang juga guru besar sosiologi Islam di UIN Jakarta, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal. Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia. Jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3% siswa dan 14,2% membenarkan serangan bom (bbc.com). 

SINDROM STOCKHOLM



Sindrom Stockholm adalah respon psikologis dimana dalam kasus-kasus tertentu para sandera penculikan menunjukkan tanda-tanda kesetiaan kepada penyanderanya tanpa memperdulikan bahaya atau risiko yang telah dialami oleh sandera itu. Sindrom ini dinamai berdasarkan kejadian perampokan Sveriges Credit Bank di Stockholm pada tahun 1973. Perampok bank tersebut, Jan-Erik Olsson dan Clark Olofsson, memiliki senjata dan menyandera karyawan bank dari 23 Agustus sampai 28 Agustus pada tahun 1973. Ketika akhirnya korban dapat dibebaskan, reaksi mereka malah memeluk dan mencium para perampok yang telah menyandera mereka. Mereka secara emosional menjadi menyayangi penyandera, bahkan membela mereka. Sandera yang bernama Kristin bahkan jatuh cinta dengan salah satu perampok dan membatalkan pertunangan dengan pacarnya setelah dibebaskan. 

Minggu, 28 Agustus 2016

TIGA ASPEK SALIB

Kita mungkin kerap menemui sejumlah perilaku beragama yang berlebihan saat ada seseorang yang dengan bersemangat melarang orang Kristen menggunakan lambang salib baik dalam bentuk accecories ataupun hiasan dinding. Alasan naif yang kerap dilontarkan adalah “itu lambang kehinaan”, “lambang paganisme”, “lambang kutuk” dll. Orang-orang fanatik tersebut tidak mengerti istilah salib baik secara historis ,teologis serta simbolis. 

Secara historis, istilah salib menunjuk pada sebuah peristiwa historis dan benda yang dipakai untuk menyulakan seorang bernama Yesus dari Natzaret di bukit bernama Golgota dengan tuduhan menyamakan dirinya dengan Tuhan karena menyebut diri-Nya Anak Tuhan dan Mesias. Itulah sebabnya dikatakan, “Tuhan nenek moyang kita telah membangkitkan Yeshua yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh” (Kis 5:30). 

Jumat, 26 Agustus 2016

APA YANG SALAH DENGAN YUDAS ISKARIOT?



Tahun 2006 terbit dalam bahasa Indonesia buku dengan judul The Gospel of Judas Dari Kodeks Tchacos oleh Gramedia Pustaka Tama. Buku tersebut hasil upaya penerjemahan naskah kuno Gnostik oleh Rodolphe Kasser dkk terhadap salah satu isi naskah yang ada dalam Kodeks Tchacos yang ditemukan pada tahun 1970. Kodeks ini berisikan al., suatu versi dari Surat Petrus kepada Filipus, sebuah naskah berjudul Yakobus, Injil Yudas, sebuah naskah yang sementara disebut dengan Kitab Allogenes. Sebagaimana dikatakan Marvin Meyer dalam pengantarnya, “Injil Yudas dapat diklasifikasikan sebagai Injil gnostik. Kemungkinan besar disusun pada pertengahan abad kedua, amat mungkinberdasarkan gagasan dan sumber-sumber awal, Injil Yudas mewakili model kerohanian awal yang amat menekankan pentingnya gnosis atau pengetahuan – yaitu pengetahuan mistik rahasia, ilmu gaib, pengetahuan mengenai Tuhan dan kesatuan esensial antara kita dan Tuhan” (2006:xxvi).

Senin, 25 Juli 2016

MENOLAK KECERDASAN MEMUJA KEBODOHAN


Jika mengingat peristiwa yang satu ini, bukan saja saya geli tapi prihatin. Saat saya masih bergiat mengikuti persekutuan kharismatik pada tahun 90-an saat masih studi strata satu teologi di Yogyakarta. Suatu ketika saat mengikuti persekutuan rutin yang dilaksanakan tiap-tiap hari jum’at di sebuah kawasan sentra ekonomi bakpia di wilayah Yogyakarta, saat yang lain sedang menaikkan pujian dalam bentuk nyanyian dan doa, saya pergi ke kamar kecil untuk buang air kecil. Menurut informasi teman saat usai persekutuan, saat saya keluar untuk pergi ke kamar kecil, ada seseorang yang mendoakan dan “menengking roh kepandaian” dalam diri saya karena saya seorang siswa teologi. Mungkin pikirnya kecerdasan, kepandaian, rasionalitas, ilmu adalah musuh Tuhan dan para orang kudusnya. Jika memang benar demikian, lalu mengapa Salomo menuliskan manfaat bagi siapapun membaca dan merenungkan amsal-amsal yang ditulis dirinya sbb, “…untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda” (Ams 1:2-4). Bahkan selanjutnya ditegaskan, “baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan” (Ams 1:5). Perhatikan kata-kata “hikmat” (חכמה - khokhma), “didikan” (מוסר - musar), “kata yang bermakna” ( בינה- binah), “pandai” (השׂכל - hashkil), “kebenaran” (צדק - tsedeq), “keadilan” (משׁפט - mishpat), “kejujuran” (מישׁרים - mesharim) semua disejajarkan dan disetarakan. Tidak ada stratifikasi hirarkis yang bersifat dikotomis dan saling menegasikan antara kecerdasan, kepandaian dan hikmat dengan kebenaran, keadilan serta kejujuran. Perhatikan pula kalimat “menambah ilmu” (יוסף לקח - yosef leqakh) yang mengindikasikan proses pendakian tahapan sebuah pengetahuan. Pemahaman dan praktik “memuja kebodohan” dan anti ilmu serta anti berfikir rasional di atas masih berlangsung sampai hari ini di kalangan dunia Kristen. Perhatikanlah kalimat-kalimat yang kerap muncul ke publik seperti, "Gunakan ayat-ayat Firman Tuhan dan jangan pergunakan logikamu sendiri!". Persoalannya adalah bisakah kita menelaah Kitab Suci dengan bahasa yang ditulis tidak dalam bahasa kita melainkan ditulis dalam bahasa dan kebudayaan yang berbeda yaitu bahasa Ibrani, Aramaik, Yunani tanpa menggunakan logika dan rasionalitas kita dalam ilmu bahasa dan tafsir Kitab Suci? Di sinilah letak kesalahan berfikir seseorang yang memisahkan antara Iman dan Akal. Kecerdasan dan berfikir rasional seolah-olah sebuah kegiatan yang terpisah dari keimanan dan berjalan sendiri-sendiri atau bahkan dianggap saling berkontradiksi.

Minggu, 05 Juni 2016

APAKAH NAMA “IESOUS” (YESUS DALAM BAHASA YUNANI) BERKAITAN DENGAN NAMA “ZEUS?”


Masih saja ada yang memposting status di media sosial yang menghubungkan nama Yesus dengan nama dewa Zeus bahkan yang lebih ekstrim melakukan "gothak gathuk mathuk" bahwa nama Yesus berhubungan dengan angka Anti Mesias yaitu “666” sebagaimana disebutkan dalam Wahyu 13:18. Supaya komunitas Kristen "Akar Ibrani" dan "Sacred Name" tidak dituding berlebihan dan kurang cerdas, marilah membebaskan diri dari guru-guru dan pengajar eksentrik dengan minus literatur.

Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani menuliskan perihal nama Mesias dalam logat Yunani sbb:

και καλεσεις το ονομα αυτου ιησουν (Iesoun)

"...dan engkau akan menamai Dia Yesus"(Mat 1:21)

Jauh sebelum ada Kitab Perjanjian Baru Yunani ditulis dan nama Mesias dilaporkan dalam Kitab Perjanjian Baru Yunani sebagaimana dituliskan di atas, nama yang dieja Iesous telah dituliskan dalam Kitab Septuaginta (terjemahan Torah dalam bahasa Yunani pada Abad 3 sM) untuk dua nama yaitu Yehoshua (menurut ejaan Masoretik. Ada yang mengeja dengan Yahushua dan Yahshua) dan Yeshua.


Nama Yehoshua disalin Septuaginta sbb:

 ויהי אחרי מות משׁה עבד יהוה ויאמר יהוה אל־יהושׁע בן־נון משׁרת משׁה לאמר

 και  εγενετο μετα την  τελευτην  μωυση ειπεν  κυριος τω ιησοι υιω ναυη τω

"Sesudah Musa hamba YHWH itu mati, berfirmanlah YHWH kepada Yehoshua Ben Nun, abdi Musa itu, demikian:.." (Yos 1:1)

Sabtu, 09 April 2016

KEDUANYA MENJADI SATU DAGING





Kotbah Pernikahan: Kejadian 2:21-25 (Nats ay 24)

Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) 8 April 2016


Pernikahan, dalam perspektif iman Kristiani bukan sekedar penetapan secara legitimatif hubungan antara seorang laki-laki dan perempuan yang telah mengakhiri masa lajangnya melalui sebuah prosesi dan ritual suci secara gerejawi. Pernikahan bukan sekedar peristiwa penetapan secara legitimatif oleh negara dimana seorang laki-laki dan seorang perempuan diikat oleh kewajiban-kewajiban satu sama lain. Lebih dari itu, pernikahan adalah hubungan yang dikuduskan dan diberkati agar laki-laki dan perempuan saling melekatkan dan menyatukan diri satu sama lain sebagaimana dikatakan, על־כן יעזב־אישׁ את־אביו ואת־אמו ודבק באשׁתו והיו לבשׂר אחד “al ken ya’azav ish et aviw we et immo wedavaq beishto wehayu lebashar ekhad - Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kej 2:24).

Ada tiga kata kunci penting dalam ayat ini yaitu, “meninggalkan” (azav), “melekat” (davaq), “menjadi satu daging” (bashar ekhad). Ketika seseorang memutuskan untuk hidup berumah tangga, maka mereka harus menyadari seutuhnya bahwa mereka akan membangun sebuah kehidupan yang baru dimana mereka berdualah yang mengelola kehidupan yang baru tersebut. Kehidupan yang baru tersebut harus diawali dengan “meninggalkan ayah dan ibunya”. Dengan meninggalkan kedua orang tuanya, kedua pasangan telah mengikrarkan kemandirian dan kesiapan dirinya memasuki bahtera rumah tangga. Ketika kehidupan yang baru diikrarkan dalam upacara pernikahan, maka sepasang laki-laki dan perempuan telah mengikatkan dirinya untuk melekat satu sama lain dan menjadi satu daging. Kata Ibrani ekhad mengindikasikan sebuah kesatuan atau unitas. Sepasang laki-laki dan perempuan yang telah menikah adalah pribadi yang saling menyatukan pikirannya, kehendaknya, kekuatannya, tekadnya untuk membangun tujuan yang sama yaitu masa depan yang bahagia. 

Rabu, 17 Februari 2016

ZAQAR DAN NEQEBAH (LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN) SEBAGAI PENANDA KEBERLANSUNGAN REPRODUKSI MANUSIA DI BUMI DAN MANDAT MENGELOLA BUMI SEISINYA



Saat Tuhan YHWH menciptakan manusia, Dia bersabda:

ויברא אלהים את־האדם בצלמו בצלם אלהים ברא אתו זכר ונקבה ברא אתם
ויברך אתם אלהים ויאמר להם אלהים פרו ורבו ומלאו את־הארץ וכבשׁה ורדו בדגת הים ובעוף השׁמים ובכל־חיה הרמשׂת על־הארץ׃

(wayibra Elohim et ha Adam betsalmo betselem Elohim, bara oto zakar uneqevah bara otam. Wayevarek otam Elohim wayyomer lahem Elohim, pru urevu umilu et haarets ukivsuha uredu bidgat khayim uve’of hashamayim uvekol khayah haromeshet ‘al haarets - Maka Tuhan menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Tuhan diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.  Tuhan memberkati mereka, lalu Tuhan berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi - Kej 1:27-28). Melalui pembacaan teks di atas, kita akan menelaah beberapa hal penting sbb:

Makna Istilah “Adam”

Sebutan “ha Adam” (האדם) dalam bahasa Ibrani memiliki beberapa pengertian. Pertama, menunjuk pada “Manusia” yang diciptakan Tuhan baik laki-laki maupun perempuan, sebagaimana dijelaskan dalam Kejadian 1:27. Hal ini ditegaskan kembali dalam Kejadian 5:2 sbb: זכר ונקבה בראם ויברך אתם ויקרא את־שׁמם אדם ביום הבראם (zaqar uneqebah beraam wayevarek otam wayiqra et shemam Adam, beyom hibaram - laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Ia memberkati mereka dan memberikan nama ‘Manusia’ kepada mereka, pada waktu mereka diciptakan). Kedua, menunjuk pada manusia laki-laki pertama yang diciptakan Tuhan sebagaimana dikatakan: וייצר יהוה אלהים את־האדם עפר מן־האדמה ויפח באפיו נשׁמת חיים ויהי האדם לנפשׁ חיה (wayitser YHWH Elohim et ha Adam afar min ha Adamah, wayipakh beapaiw nishmat khayim wayehi ha Adam lenefesh khayah - ketika itulah YHWH Tuhan membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup – Kej 2:7). Ketiga, menunjuk pada nama diri manusia laki-laki setelah bagian dalam dirinya (rusuknya) diambil dan diciptakan menjadi pasangan hidupnya sebagaimana dikatakan, וישׁמעו את־קול יהוה אלהים מתהלך בגן לרוח היום ויתחבא האדם ואשׁתו מפני יהוה אלהים בתוך עץ הגן׃ (wayishme’u et qol YHWH Elohim mithalek bagan, leruakh hayom, wayyithabe ha Adam weishtto mipeney YHWH Elohim betok ets hagan - Ketika mereka mendengar bunyi langkah YHWH Tuhan, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap YHWH Tuhan di antara pohon-pohonan dalam taman – Kej 3:8).