Minggu, 16 Oktober 2016

GREBHEG SUKKOT SEBAGAI BENTUK AKULTURASI DAN MEMBUMIKAN MAKNA TUJUH HARI RAYA YHWH DALAM KONTEKS LOKAL

Kisah Rasul 17:16-34

Oleh:

Pdt. Teguh Hindarto, S.Sos., MTh.


Agnostho Theo

Dikisahkan, inskripsi Agnosto Theo dipahatkan atas petunjuk filsuf Epimenides, ketika bangsa Athena menghadapi bencana wabah yang mematikan. Rakyat Athena sudah meminta tolong kepada ribuan dewa yang patung-patungnya dideretkan di sekitar bukit Mars, tetapi hasilnya nihil. Wabah itu tetap melanda. Epimenides yang seorang Kreta, diminta oleh para tua-tua Athena untuk mengadakan perdamaian dengan salah satu dewa lagi. Hal ini sebenarnya aneh mengingat reputasi orang Atena sebagai para penyembah berhala dan politeistik. Epimenides berkata lantang, “Kalau ribuan dewa ini tidak mejawab doa-doa kita, kesimpulan logis saya, pastilah ada satu-satunya Dewa yang Mahakuasa, yang entahlah, kita tidak ahu siapa nama-Nya. Ya, kita benar-benar tidak mengenal Dia, yang namanya tidak kita ketahui, dan oleh karena itu tidak ada patung di kota ini yang mewakilinya. Yang kedua, bahwa Dia cukup berkuasa dan cukup baik hati untuk meredakan wabah ini, asal kita memohon bantuannya.".

SUKKOT (Pondok Daun) DAN SHEKINAH (Kemuliaan YHWH)

Yohanes 1:14

Midrash Sukot 5777 – 2016

Oleh: 

Pdt. Teguh Hindarto, S.Sos., MTh.


Pilar-Pilar Ibadah Kristiani

Ibadah Kristiani pada awalnya berakar pada Yudaisme. Yesus Sang Mesias adalah seorang Yahudi (Ibr 7:14) dan beribadah secara Yahudi. Demikian pula murid-murid Yesus dan para rasulnya meneruskan tata cara ibadah Yudaisme tersebut. Pilar ibadah Kristiani yang berakar pada Yudaisme meliputi sbb: Ibadah Harian tiga kali sehari (Tefilah Sakharit, Minkhah, Maariv – Kis 3:1; 10:3), Ibadah Pekanan (Sabat – Kis 13:14,27,42,44), Ibadah Bulanan (Rosh kodesh – Kol 2:16-17), Ibadah Tahunan atau Tujuh Hari Raya (Sheva Moedim – Kis 20:16, 1 Kor 16:8). 

Para ahli liturgi Kristen pun mengakui bahwa beberapa tradisi liturgis dalam gereja Katholik, Orthodox dan Protestan, sebenarnya berakar dari Yudaisme. Pdt. Theo Witkamp, Th.D., menjelaskan dalam artikelnya sbb: “Gereja Kristen dimulai sebagai suatu sekte Yahudi. Oleh karena itu, kalau kita ingin tahu tentang asal-usul dan latar belakang ibadah Kristen awal, kita terutama harus memandang kebiasaan-kebiasaan liturgis dan musikal dari agama Yahudi pada Abad Pertama Masehi”(Mazmur-Mazmur Kekristenan Purba Dalam Konteks Yahudi Abad Pertama, dalam Jurnal Teologi GEMA Duta Wacana, No 48 Tahun 1994, hal 16). Rashid Rahman mengatakan,“Gereja awal tidak memiliki pola ibadah tersendiri dan asli. Mereka beribadah bersama dengan umat Yahudi dan kemudian mengambil beberapa ritus Yahudi untuk menjadi pola ibadah harian”(Ibadah Harian Zaman Patristik, 2000: 36). 

Senin, 10 Oktober 2016

KELAHIRAN YESUS DALAM PERAYAAN SUKOT

Sukot (Pondok Daun) adalah perayaan puncak dari Tujuh Hari Raya (Sheva Moedim) yang ditetapkan YHWH di Sinai (Im 23: 39-43) untuk memperingati penyertaan Tuhan YHWH terhadap leluhur Israel selama berada di padang gurun sebelum memasuki tanah perjanjian. Sukot merupakan perayaan yang bermakna profetik karena dihubungkan dengan pemerintahan YHWH di akhir zaman sebagaimana dinubuatkan dalam Zakaria 14:16. Mengapa kita seharusnya merayakan Sukkot? (1) karena Yesus Sang Mesias merayakan Tujuh Hari Raya demikian pula dengan Sukkot (Yoh 7:1-2, 37-38). (2) Tujuh Hari adalah bayangan yang menunjuk pada karya Mesianis Yesus (Kol 2:16). 

PENGORBANAN YESUS DALAM PERAYAAN YOM KIPPUR

Rasul Yohanes menggemakan makna Yom Kippur menunjuk pada karya pengorbanan Yeshua dengan mengatakan, “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (1 Yoh 2:2). Penulis Kitab Ibrani menggemakan hal yang sama, Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Tuhan...”(Ibr 10:11-12).

KEDATANGAN YESUS YANG KEDUA DALAM PERAYAAN ROSH HA SHANAH


Perayaan Rosh ha Shanah (tahun baru Ibrani) atau Yom Shofar (peniupan sangkakala) menunjuk pada peniupan shofar (tanduk domba yang panjang) sebagai penanda tahun baru sipil Ibrani dan juga peringatan penghakiman YHWH. Barney Kasdan dalam bukunya berjudul God’s Appointed Times: A Practical Guide for Understanding and Celebrating the Biblical Holidays(p.64-67)  memberikan penjelasan mengenai Rosh ha Shanah sbb:Tujuan hari raya ini diungkapkan dengan satu kata yaitu pengumpulan kembali. Karena hari raya ini mengajak semua orang Yisrael untuk kembali kepada iman yang murni kepada Tuhan. Rosh ha Shanah mewakili hari pertobatan. Ini adalah hari dimana Bangsa Israel mengambil persediaan kondisi spiritual mereka dan membuat perubahan yang diperlukan untuk memastikan bahwa tahun baru yang akan datang akan berkenan pada Tuhan. 

PENCURAHAN ROH KUDUS DALAM HARI RAYA SHAVUOT



Perayaan Shavuot menunjuk pada beberapa peristiwa sbb: (1) Pesta panen hari kelima puluh setelah menghitung buah sulung. (2) Dalam tradisi Yahudi, Pentakosta atau Yom Shavuot dirayakan bukan hanya sebagai pesta panen melainkan perayaan turunya pewahyuan Torah di Sinai karena Bangsa Israel berangkat menuju Sinai pada bulan ketiga setelah Pesakh yaitu bulan Siwan (Kel 19:1). Oleh karenanya nama lain hari raya Pentakosta atau Shavuot adalah Zmaan Matan Torateynu (Waktu Pemberian Torah kita). Keyakinan ini berpengaruh pada tradisi perayaan ini. Sinagoga-sinagoga Yahudi dihias dengan tumbuhan hijau, bunga dan keranjang buah-buahan untuk melambangkan aspek panen di masa Shavuot. Pembacaan Kitab Suci diambil dari Keluaran 19-20 (pemberian Torah) dan Yekhezkiel 1 (penglihatan nabi mengenai kemuliaan Tuhan). Demikian pula gulungan Kitab Ruth dibacakan selama masa panen Shavuot. 

KEBANGKITAN YESUS DALAM PERAYAAN YOM BIKURIM/SFIRAT HA OMER


Perayaan Bikurim (buah sulung) atau Sfirat ha Omer, menunjuk hari raya panen Bangsa Yisrael setelah memasuki tanah Kanaan. Tiap jatuh panen mempersembahkan buah sulung panen dan menghitung omer (Im 23:9-14). Ada perbedaan pendapat diantara mazhab agama Yahudi di zaman Mesias sampai sekarang mengenai kapan ditetapkannya perayaan Buah Sulung (sfirat ha omer/bikurim). Perbedaan tersebut dikarenakan perintah YHWH yang menimbulkan multitafsir dalam Imamat 23:9-11 mengenai kalimat “mimmohorat ha Shabat” (sesudah Sabat itu).  

PENGUBURAN YESUS DALAM PERAYAAN ROTI TIDAK BERAGI


Perayaan ha Matsah (roti tidak beragi) menunjuk pada peristiwa historis dimana nenek moyang Yisrael memakan roti tidak beragi selama perjalanan menuju Laut Teberau setelah meninggalkan negeri Mesir negeri perbudakan mereka. Pelaksanaan makan roti tidak beragi selama satu minggu (Im 23:6-8). Dalam Perjanjian Baru menunjuk penguburan Yesus selama tiga hari tiga malam di rahim bumi. Rasul Paul menggemakan kembali makna perayaan Roti Tidak Beragi sebagai refleksi jemaat Kristen untuk membuang berbagai kejahatan dan kefasikan dalam hidup sebagaimana dikatakan: “Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran” (1 Kor 5:8)

KEMATIAN YESUS DALAM PERAYAAN PESAKH


Membaca perikop Lukas 22:14-23, tanpa memahami latar belakang sejarah dan keagamaan serta kebudayaan Yahudi Abad 1 Ms akan membuat kita kehilangan akar historis dan essensi dibalik peristiwa tersebut. Kekristenan Barat menyebut peristiwa tersebut dengan Last Supper (Perjamuan Terakhir). Seolah-olah Yesus Sang Mesias makan malam terakhir sebelum Dia ditangkap oleh prajurit Romawi untuk dihukum, disiksa dan disalibkan. Peristiwa Yesus dan murid-murid-Nya makan Pesakh merupakan ritual tahunan tiap jatuh Tgl 14 Nisan yang di namakan Seder Pesakh

YESUS DALAM TUJUH HARI RAYA





Di Sinai YHWH memberikan Torah. Dalam Torah, YHWH menetapkan Moedim (waktu-waktu yang tetap) atau hari-hari raya yang berjumlah tujuh (sheva moedim). Ketujuh perayaan tersebut adalah (Imamat 23:1-44) sbb: Pesakh (14 Nisan), Ha Matsah (roti tidak beragi, 15 Nisan), Sfirat ha Omer (menghitung omer setelah shabat hari raya), Shavuot (hari kelimapuluh setelah menghitung omer), Yom Truah /Rosh ha Shanah (peniupan shofar atau tahun baru Ibrani, 1 Tishri), Yom Kippur (hari pendamaian, 10 Tishri), Sukkot (perayaan pondok daun, 15-21 Tishri). 

KEKRISTENAN SEBAGAI SALAH SATU MAZHAB DALAM YUDAISME



Dalam Kisah Rasul 28:22, kita mendapati pernyataan orang-orang Yahudi di Roma yang meminta penjelasan Rasul Paulus perihal Injil yang berpusat pada figur Yesus yang diberitakannya dengan berkata, “Tetapi kami ingin mendengar dari engkau, bagaimana pikiranmu, sebab tentang mazhab ini kami tahu, bahwa di mana-mana pun ia mendapat perlawanan”. Apakah makna kata “mazhab” itu? Dan mengapa Injil Yeshua yang diberitakan Rasul Paul disebut dengan “mazhab?” Dalam Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani, kata Haereseis diterjemahkan secara berbeda tergantung konteks kalimatnya yaitu sbb: “sekte” (Kis 24:5, 14), “bidat” (Tit 3:10), “roh perselisihan” (Gal 5:20), “perpecahan” (1 Kor 11:19), “pengajaran sesat” (2 Ptr 2:1), “mazhab” (Kis 5:17; 24:5, 26:5, 28:22). Adapun istilah “mazhab” sendiri diambil dari bahasa Arab yang artinya, “jalan yang dilalui”, “mengikuti sesuatu yang dipercayai”. 

ADAM DAN MESIAS (KRISTUS)


Dengan membandingkan keberadaan dan kehadiran Adam dan Yesus, Rasul Paul hendak menyampaikan pesan yang penting dan mendalam sbb: Pertama, Adam menjadi pintu masuk dosa namun Yesus menjadi pintu masuk kehidupan kekal (Rm 5:12-17). Adam yang diciptakan Tuhan gagal mematuhi perintah dan larangan Tuhan agar tidak makan buah Pengetahuan Baik dan Pengetahuan Buruk sehingga mengalami kehilangan kemuliaan Tuhan berujung kefanaan alias maut. Inilah yang disebut upah dosa. Maut yang dialami Adam dan Hawa sebagai upah dosa telah masuk (eiselthen, Yun) dan menjalar (dielthen, Yun) ke dalam dunia dan dalam kehidupan manusia. Melalui ayat ini kita bisa mengerti mengapa semua orang berpotensi mengalami kematian termasuk bayi yang belum mengerjakan dosa dan kejahatan karena buah dosa yaitu kematian Adam dan Hawa “terwariskan” dalam semua DNA keturunan Adam dan Hawa. 

MISSION IMPOSIBLE


Jika kita pernah menyaksikan film layar lebar produksi tahun 1996 berjudul Mision Imposible (yang didasarkan pada serial televisi) dengan tokohnya Ethant Hunt yang diperankan Tom Cruise sebagai seorang spion IMF. Dinamai Mission Imposible karena berbagai aksi spionase yang dilakukan dalam membongkar sebuah kejahatan atau menyadap kegiatan musuh kerap bersifat imposible (tidak mungkin), mulai dari penyamaran, penyusupan, penyergapan, meloloskan diri dll. Namun itu hanya terjadi dalam dunia film dan fiksi. Kitab Suci Perjanjian Baru, menyaksikan sebuah mission imposible dalam Roma 8:1-4. “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Mesias Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Mesias dari hukum dosa dan hukum maut. Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Tuhan. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh”.  

MENGEJAR BARANG YANG SIA-SIA


Masih ingat perilaku sejumlah orang tertentu yang mempercayai perihal keberadaan “Harta Gaib Sukarno”, “Dana Revolusi”, “Harta Amanah Sukarno?” Bermula dari scan foto dan foto copy-an dua lembar surat wasiat tertanggal 12 Januari 1967 atas nama Sukarno dan Hatta dengan bubuhan stempel UBS. Dengan menggunakan ejaan lama dan tintas hijau khas Sukarno, semua orang yang pernah hidup di era beliau seketika akan yakin betul perihal otentisitas dan keberadaan harta yang diwasiatkan dalam surat tersebut. Saya kutipkan penggalan kalimat dalam surat wasiat tersebut sbb: “Bersama ini, Soekarno atas nama seluruh Rakyat yang tercinta dan atas nama Pemegang Harta yang Rakyat titipkan dan percayakan kepadaku, karena mengingat kondisi dari kesehatanku dan kondisi dalam tubuh Kabinetku sendiri, maka sangat perlu aku mengambil jalan yang aku pikir sangat tepat untuk mengamankan nasib Bangsa dan Rakyat yang sebagian tidak tahu tentang harta yang aku tinggalkan di Luar Negeri….”. 

MANIPULASI DIRI


Di era teknologi informasi yang menghasilkan sejumlah modern gadget dan social media, ternyata membuat banyak orang tergoda untuk melakukan berbagai manipulasi diri, mulai dari mengedit foto diri agar terlihat lebih tampan dan cantik, berfoto di sejumlah tempat liburan mahal dan prestisius untuk mengirim pesan betapa mapannya diri kita, menyandingkan barang-barang mahal (mobil, motor, handphone, rumah, dll) seolah-olah kita adalah pemilik atau konsumen utama. Mengunggah foto menu makanan mahal di restoran terkemuka untuk mendapatkan pengakuan perihal selera makan. Ukuran keberhasilan dan kesuksesan saat ini ditentukan oleh apa yang kita unggah di media sosial (facebook, instagram, you tube, line, whatsap, dll). 

Minggu, 09 Oktober 2016

MEMPERTANGGUNGJAWABKAN IMAN



Teks yang kita baca ini memerintahkan pada segenap umat Kristen untuk bersiap sedia memberikan dirinya untuk melakukan “pertanggungan jawab” perihal iman dan kepercayaannya. Kata yang diterjemahkan dengan “pertanggungan jawab” dalam bahasa Yunaninya apologian bentuk akusatif feminin dari apologia. Kata apologia muncul dan diterjemahkan secara berbeda sesuai konteks kalimatnya yaitu “pembelaan diri” (2 Korintus 7:11) dan “membela Injil” (Fil 1:16). Jadi apologia bisa bermakna memberikan jawaban, tanggapan, pertanggungjawaban, pembelaan terhadap Injil. 

TURUN KE DALAM DUNIA ORANG MATI


Saat saya masih kuliah strata satu teologi, saya berkenalan dengan sebuah kelompok persekutuan doa yang dipimpin oleh salah seorang pemimpinnya yang kerap melakukan “penginjilan arwah”. Dalil yang dipercayai pemimpin ini berdasarkan kisah Yeshua turun ke dalam dunia orang maut yang dilaporkan 1 Petrus 3:19-20). Benarkah saat Yeshua wafat tiga hari tiga malam beliau memberitakan Injil pada mereka yang telah wafat? Kata yang diterjemahkan “memberitakan Injil”, dalam naskah Yunani, ekeruzen dari akar kata keruzo yang artinya “mengumumkan”. 

PERHIASAN WANITA



Berbicara mengenai wanita, tentu tidak bisa dilepaskan dari kecantikkan dan perhiasan yang memperlengkapi kecantikannya. Tidak mengherankan jika kita melihat penampilan seorang wanita dari kelas sosial tertentu akan memperlihatkan simbol-simbol statusnya salah satunya melalui perhiasan yang dikenakannya. Perhiasan, bukan sekedar simbol pencapapaian prestasi melainkan simbol status sosial seorang wanita. Berhias dan perhiasan yang melekat dengan citra seorang wanita bukanlah sebuah kesalahan ataupun kejahatan, namun ada sesuatu yang lebih besar dan lebih penting dari itu semua adalah adakah para wanita khususnya wanita Kristen telah memiliki dan mengenakan perhiasan yang bukan “lahiriah” belaka melainkan perhiasannya adalah “manusia batiniah”. Apakah “perhiasan lahiriah” (exotheen, Yun) itu? “mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah” (1 Ptr 3:3). 

BERSIMAHARAJELANYA KETIDAKSOPANAN




Seiring maraknya teknologi informasi dalam bentuk internet yang bisa kita akses bukan hanya di laptop ataupun personal computer di rumah kita melainkan melalui hand phone, kita kerap dibanjiri dengan berbagai informasi perihal semakin maraknya perilaku tidak sopan dari masyarakat kita. Ironisnya, perilaku ketidaksopanan itu bukan hanya diperlihatkan oleh orang-orang yang tidak terpelajar melainkan orang-orang terpelajar, terdidik bahkan dengan status sosial yang tinggi dan berpengaruh di mata publik. Kita sudah kenyang disuguhi informasi perihal pemukulan seorang murid pada gurunya atau kekerasan orang tua terhadap guru, menghina pemimpin negara dengan gambar dan kalimat seronok, melecehkan sebuah kebijakkan publik bukan dengan argumentasi logis melainkan hinaan dan caci maki tanpa bobot argumentasi logis sama sekali, makian-makian berbau rasialis dan agama yang kerap dipertontonkan pejabat, politisi, akademisi di muka publik secara verbal tanpa rasa malu dan sungkan. 

CYBER BULLYNG


Bagi mereka yang aktif di media sosial seperti Facebook, Twetter, Whatsap, Instagram, Line dll pasti tidak asing dengan istilah Cyber Bullyng. Jika ada istilah Real World dan Real Community maka di era teknologi informasi dan internet ini ada istilah Cyber World dan Cyber Community. Namun bukan hanya nilai-nilai yang positip yang dipindahkan ke dunia maya (cyber world) melainkan kejahatan dan berbagai bentuk perkataan serta perilaku menyimpang dapat masuk ke dunia maya. Oleh karenanya ada istilah Cyber Crime (kejahatan dunia maya) dalam bentuk penipuan, pemalsuan yang merugikan siapapun yang menjadi korban pelaku kejahatan di dunia maya. Gejala lainnya yang saat ini marak adalah Hate Speech (ujaran kebencian) yang bisa dimanifestikan secara verbal (melalui kata-kata langsung) atau non verbal melalui media sosial. 

SALAH MEMBACA KITAB SUCI



Ada seorang yang ingin mengetahui kehendak Tuhan tentang sesuatu hal. Dia mengambil Kitab Suci dan membuka secara sembarangan serta menjatuhkan jari telunjuknya pada halaman tertentu dengan mengadaikan bahwa ayat yang ditunjukkan oleh jarinya akan mengatakan kepadanya apa yang patut diperbuat. Betapa menyedihkan hatinya sebab jarinya menunjuk pada teks Matius 27:5 yang mengatakan bahwa Yudas keluar dan menggantungkan diri. Kali ini jari telunjukknya menunjuk pada teks Lukas 10:37 yang berbunyi, “Pergilah dan perbuatlah yang sama”. Ketika dia mengikuti metode yang sama untuk ketiga kalinya, jarinya jatuh pada teks Yohanes 13:27 yang berbunyi, “Bergegaslah dengan apa yang hendak engkau laksanakan!”. Cerita di atas mungkin saja tidak terjadi secara persis dalam kehidupan keseharian kita namun dalam bentuk lainnya metode membaca Kitab Suci dengan cara demikian masih banyak terjadi di kalangan umat Kristen. 

TENANGLAH, INI AKU, JANGAN TAKUT!



Malam itu murid-murid Yesus Sang Mesias terombang-ambing di lautan oleh karena datangnya angin sakal. Mereka terperangkap dalam ributnya angin yang mempermainkan mereka sehingga mereka kehilangan orientasi dan kepercayaan diri. Dalam kondisi panik mereka tidak lagi dapat membedakan obyek-obyek yang mereka lihat dan jumpai di depan mereka. Demikian pula saat angin sakal menghempaskan perahu mereka, “murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: ‘Itu hantu!’, lalu berteriak-teriak karena takut” (Mat 14:26). Barulah saat Yesus bersabda, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" (Mat 14:27) muncul keberanian dan ketenangan diantara para murid, walaupun salah satu murid yaitu Petrus masih ingin meyakinkan apa yang dilihatnya sebagai kebenaran dengan mengajukan bukti agar dapat berjalan di atas air menghampir Yeshua (Mat 14:28). 

WAKTU ARITMETIK DAN WAKTU EKSISTENSIAL



Seorang raja muda dari Timur ingin menjadi orang baik dan bijaksana serta memerintah rakyatnya menurut kehendak Tuhan. Dia mengumpulkan semua orang paling bijaksana dari seluruh kerajaan dan memerintahkan mereka untuk mengumpulkan semua kebijaksanaan ke dalam buku-buku sehingga dia dapat membaca dan belajar sendiri bagaimana memerintah dengan baik. Orang-orang bijaksana itu segera memulai pekerjaan raksasa dan sesudah tiga puluh tahun pekerjaan itu selesai. Satu barisan unta panjang membawa lima ribu jilid buku berjalan menuju istana. Raja pada saat itu sudah berusia tengahan dan dipenuhi dengan banyak tugas dan rencana. Dia melihat unta-unta yang bermuatan itu dan berkata, “Saya terlalu sibuk untuk membaca begitu banyak buku. Bawa semua buku ini dan ringkaskan lagi untuk saya”. Pekerjaan meringkaskan memakan waktu lima belas tahun dan kemudian orang-orang bijaksana itu dengan bangga menghasilkan lima ratus jilid. Raja itu mengatakan, “Masih terlalu banyak. Lima puluh cukup”.  

MEWASPADAI RADIKALISME DAN FANATISME AGAMA




Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin oleh Prof Dr Bambang Pranowo, yang juga guru besar sosiologi Islam di UIN Jakarta, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal. Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia. Jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3% siswa dan 14,2% membenarkan serangan bom. Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin oleh Prof Dr Bambang Pranowo, yang juga guru besar sosiologi Islam di UIN Jakarta, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal. Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia. Jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3% siswa dan 14,2% membenarkan serangan bom (bbc.com). 

SINDROM STOCKHOLM



Sindrom Stockholm adalah respon psikologis dimana dalam kasus-kasus tertentu para sandera penculikan menunjukkan tanda-tanda kesetiaan kepada penyanderanya tanpa memperdulikan bahaya atau risiko yang telah dialami oleh sandera itu. Sindrom ini dinamai berdasarkan kejadian perampokan Sveriges Credit Bank di Stockholm pada tahun 1973. Perampok bank tersebut, Jan-Erik Olsson dan Clark Olofsson, memiliki senjata dan menyandera karyawan bank dari 23 Agustus sampai 28 Agustus pada tahun 1973. Ketika akhirnya korban dapat dibebaskan, reaksi mereka malah memeluk dan mencium para perampok yang telah menyandera mereka. Mereka secara emosional menjadi menyayangi penyandera, bahkan membela mereka. Sandera yang bernama Kristin bahkan jatuh cinta dengan salah satu perampok dan membatalkan pertunangan dengan pacarnya setelah dibebaskan.