Sunday, October 9, 2016

SALAH MEMBACA KITAB SUCI



Ada seorang yang ingin mengetahui kehendak Tuhan tentang sesuatu hal. Dia mengambil Kitab Suci dan membuka secara sembarangan serta menjatuhkan jari telunjuknya pada halaman tertentu dengan mengadaikan bahwa ayat yang ditunjukkan oleh jarinya akan mengatakan kepadanya apa yang patut diperbuat. Betapa menyedihkan hatinya sebab jarinya menunjuk pada teks Matius 27:5 yang mengatakan bahwa Yudas keluar dan menggantungkan diri. Kali ini jari telunjukknya menunjuk pada teks Lukas 10:37 yang berbunyi, “Pergilah dan perbuatlah yang sama”. Ketika dia mengikuti metode yang sama untuk ketiga kalinya, jarinya jatuh pada teks Yohanes 13:27 yang berbunyi, “Bergegaslah dengan apa yang hendak engkau laksanakan!”. Cerita di atas mungkin saja tidak terjadi secara persis dalam kehidupan keseharian kita namun dalam bentuk lainnya metode membaca Kitab Suci dengan cara demikian masih banyak terjadi di kalangan umat Kristen. 


Membaca Kitab Suci tentu saja ada metode dan kaidahnya sendiri. Oleh karena itulah keberadaan sekolah Teologi diperlukan karena dalam Teologi seseorang dididik untuk memiliki salah satu kompetensi yaitu tafsir terhadap Kitab Suci. Mengapa Ilmu tafsir (hermeneutik) diperlukan? Pertama, Kitab Suci ditulis dalam bahasa yang bukan bahasa penerima melainkan ditulis dalam bahasa Ibrani, Aramaik, Yunani sehingga dibutuhkan penguasaan bahasa sumber untuk menerjemahkan dan menafsirkan isi teks Kitab Suci. Kedua, penuturan kisah dalam Kitab Suci ditulis dan mengisahkan peristiwa yang berbeda kebudayaan dengan kebudayaan penerima sehingga penguasaan aspek sosiologis dan antropologis serta latar belakang keagamaan pada saat itu diperlukan agar kita mendapatkan pemahaman yang utuh dan lengkap. 

Para murid Yesus yang hidup di zaman beliau hidup tentu tidak memerlukan penafsiran apapun terhadap sabda-sabda-Nya karena akan langsung dijelaskan jika tidak mengerti. Berbeda dengan kita para pembaca modern dengan latar belakang kebudayaan, bahasa, cara berfikir yang berbeda, tentu saja diperlukan sebuah ilmu dan kemampuan untuk menafsirkan teks Kitab Suci. Itulah sebabnya Rasul Petrus menuliskan, “…nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri…”(1 Ptr 1:20). Ada banyak buku Teologia yang dapat menjadi alat bantu kita menafsirkan perkataan dan peristiwa yang sulit dipahami dalam Kitab Suci dan menjadi alat bantu yang baik dalam memahami Firman Tuhan.

No comments:

Post a Comment