Thursday, June 25, 2020

KITA MEMERLUKAN KECERDIKAN


Gambar: https://www.washingtonpost.com

Sejak awal Juni, pemerintah telah memberlakukan sebuah kebijakan baru dalam merespon pandemi Covid-19 dengan istilah “New Normal”. Secara hurufiah, istilah “new normal” bermakna kenormalan yang baru. Namun secara semantik istilah “new normal” hendak menyampaikan sebuah konsep mengenai kehidupan keseharian khususnya keekonomian yang berjalan kembali setelah beberapa waktu lamanya terhenti dikarenakan panemi Covid-19. Kehidupan keseharian yang kembali normal ini diiringi dengan kebaruan yang berbeda dengan sebelumnya. Ada tata nilai dan tata perilaku yang berbeda yang diberlakukan. Itulah sebabnya disebut normal yang baru.

Thursday, June 4, 2020

KEMAH, SEBAGAI SIMBOLISASI KESEMANTARAAN HIDUP


Kemah, adalah sebuah alat yang dipergunakan untuk menghindari panas dan hujan dengan didirikan di suatu tempat tertentu dengan tujuan sementara. Para pendaki gunung, tentara, tim SAR sangat familiar dengan penggunaan kemah. Demikian pula sejak zaman Israel kuno, kemah-kemah sudah familiar dipergunakan untuk melindungi dari panas terik dan hujan. 

TERTULIS DI BUMI ATAU TERTULIS DI SORGA?


Dalam Yeremia 17:5-6, dikatakan bahwa orang yang mengandalkan manusia adalah terkutuk dan kondisi keterkutukkan itu digambarkan bagai “semak bulus di padang belantara yang tidak pernah menghasilkan apapun” dan “tinggal di tanah hangus di padang gurun serta padang asin”. 

GUNUNG BATU


Dalam Kitab TaNaKh (Torah-Neviim-Ketuvim) atau kita lazim menyebutnya Perjanjian Lama, Tuhan YHWH kerap diidentifikasi dengan sejumlah istilah yang berasal dari alam. Salah satunya adalah “gunung batu” (tsur), “perisai” (magen), “bukit batu” (tsela), “kubu pertahanan” (metsudat), “kota benteng” (mishgav) sebagaimana dikatakan dalam 2 Samuel 22:2-3, “Ya, YHWH bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Tuhanku, gunung batuku, tempat aku berlindung,  perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan”. 

TUHAN MENGUBAH RANCANGAN KEJAHATAN MENJADI KEBAIKAN


Pernyataan Yusuf yang berkata kepada saudara-saudaranya, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Tuhan telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga." Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya” (Kej 50:20-21) menceritakan tigal hal penting pada kita yaitu, Pertama, ringkasan keseluruhan hidup Yusuf yang penuh dengan air mata namun berakhir bahagia.