Saturday, December 10, 2011

MONOGAMI ATAU POLIGAMI?


Isue poligami bukan barang baru. Kehidupan tokoh-tokoh dalam Kitab Suci pra Mesias, kerap melakukan poligami seperti. Abraham, Daud, Salomo, Yakub. Apakah Torah memerintahkan poligami? Apakah Yahweh memerintahkan agar seseorang poligami? Tuhan Yahweh tidak pernah memerintahkan pernikahan poligami. Dia menetapkan monogami sebagai sistem pernikahan yang kudus.

Dalam Kejadian 2:24 dikatakan, “al ken ya’azav ish et aviw we et immo wedavaq beishtto lehayu lebasyar ekhad  (Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging). Kata ishto (istrinya) merupakan bentuk tunggal. Jika Yahweh menetapkan poligami, Dia akan menggunakan kata nashaiw (istri-istrinya). Ini merupakan bukti dasar bahwa Yahweh menetapkan monogami sebagai dasar pernikahan kudus. Poligami yang dilakukan tokoh-tokoh dalam Kitab Suci, merupakan pilihan mereka sendiri. Selain dikarenakan pilihan, diperkuat dengan konteks kebudayaan pada saat itu yang mengijinkan terjadinya poligami demi kebutuhan tertentu.

Thursday, December 8, 2011

APAKAH YESUS SANG MESIAS MEMBATALKAN HUKUM KASHRUT DALAM IMAMAT 11?

Bagian Kedua

Kontradiksi gaya hidup Mesias
dengan gaya hidup Kekristenan moden

Kita kerap mendengar lantunan lagu-lagu Kristiani dan bahkan kita selalu menyanyikannya al, “Kumau sprti-Mu Yesus...”, “Jalan serta Yesus, jalan serta-Nya setiap hari...”, “Saya mau iring Yesus...”. Ungkapan syair-syair lagu di atas memberikan gambaran, dorongan agar meniru Yesus. Namun semua syair lagu dan pemahaman kita terkadang masih berkutat dalam pengertian perilaku moral belaka.

 Namun bagaimana dengan fakta Kekristenan modern mengenai gaya berpakaian? Bagaimana dengan fakta gaya makan dan menu makan? Kebanyakan dari kita mempraktekan gaya hidup khususnya dalam menyantap makanan tanpa adanya suatu pembatasan dan pemilahan mana yang tahor dan mana yang tame. Semua diperbolehkan. Alasan utama, Yesus telah menghapus dosa dan membatalkan Torah termasuk aturan makanan yang diatur dalam Torah. Sikap-sikap demikian semakin menguatkan kesan dan prasangka bahwa Kekristenan tidak memiliki syariat terkait makanan. Semua diperbolehkan.

Yesus telah mengatakan dalam Yohanes 13:15 sbb: “sebab Aku telah memberikan suatu TELADAN kepada kamu, supaya kamu juga BERBUAT SAMA seperti yang telah Kuperbuat kepadamu”. Rasul Petrus (Kefa) pun menegaskan hal yang sama dalam suratnya sbb: “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena (Mesias) pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan TELADAN bagimu, supaya kamu MENGIKUTI JEJAK-NYA”(1 Petrus 2:21).

Kata “teladan” dalam Yohanes 13:15 dipakai kata Yunani υποδειγμα (hupodeigma) dan dalam 1 Petrus 2:21 dipergunakan kata Yunani υπογραμμον (hupogrammos) dan diterjemahkan dalam bahasa Ibrani menjadi מופת (mofet) yang artinya “contoh”. Berarti Mesias Yesus telah meninggalkan bagi kita suatu contoh.

Baik Mesias Yesus maupun Rasul Petrus menekankan bahwa contoh atau teladan yang ditinggalkan Yesus Sang Mesias harus dilakukan. Kalimat “supaya kamu mengikuti jejak-Nya” dalam terjemahan berbahasa Ibrani, “Wayehi lakem lemofet LALEKET beiqqvotaiw”. Kata LALEKET  berasal dari kata “HALAK” yang artinya “berjalan”. Dalam terjemahan Peshitta Aramaik diterjemahkan dengan “TAHALAKON”. Berdasarkan pemahaman bahasa di atas, maka sebagai Pengikut Mesias (apapun namanya, Orthodox, Katholik, Kristen, Mesianik) kita harus menjalankan dan melaksanakan Halakah Mesias dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain kita menjalankan dan melaksanakan Syariat Al Masih dalam kehidupan sehari-hari.

Namun apakah Yesus hanya meninggalkan teladan moral belaka? Apakah Yesus tidak meninggalkan teladan-teladan lainnya terkait masalah gaya hidup dalam mengonsumsi makanan yang menyehatkan atau makanan yang telah dipisahkan sebagaimana diatur dalam Imamat 11?

Baru-baru ini saya membeli sebuah buku yang sangat mencerahkan dengan judul MENU MAKAN YESUS. Buku ini karya seorang dokter bernama Don ColberT, MD. Buku-buku yang beliau tulis al., Walking in Divine Health, The Bible Cure Booklet Series. Dan buku yang diterjemahkan oleh penerbit Kalam Hidup Bandung 2007 merupakan terjemahan dari bukunya WHAT WOULD JESUS EAT?

APAKAH YESUS SANG MESIAS MEMBATALKAN HUKUM KASHRUT DALAM IMAMAT 11?

Bagian Pertama

Mengkaji ayat-ayat yang disalahpahami

Jamak dalam pemikiran orang Kristen bahwa semua makanan dapat dimakan karena Yesus telah membatalkan peraturan dalam Imamat 11. Benarkah pemahaman tersebut? Apakah Yesus dan para rasul memberikan isyarat perihal pembatalan hukum Kashrut?

Sikap dan pemikiran demikian didasarkan pada pembacaan teks terjemahan Kitab Suci tertentu. Kita akan menyoroti sejumlah teks dan menganalisis baik berdasarkan kajian teks dan konteks untuk mendapatkan maknanya yang utuh.

Kasus pembasuhan tangan (Mrk 7:1-23)

Pernyataan dalam Markus 7:1-23, sering dimaknai secara keliru sebagai ayat-ayat yang menjadi dasar untuk menolak relevansi penetapan Imamat 11 mengenai hewan yang dikategorikan tahor dan tame. Namun jika kita menelaah dan menganalisis secara cermat, baik teks dan konteks perikop tidak mendukung sama sekali pemahaman mengenai pembatalan relevansi Imamat 11. Konteks keseluruhan perikop membicarakan mengenai Yesus yang sedang terlibat diskusi dengan Ahli Farisi mengenai “Netilat Yadayim” (pembasuhan tangan) BUKAN mengenai pembatalan makanan tahordan tame (Mrk 7:5-7).

Kalimat, “Dengan demikian Dia menyatakan semua makanan halal” (ay 20) dalam terjemahan LAI adalah tidak tepat. Dalam versi Darby Bible 1890 sbb: “because it does not enter into his heart but into his belly, and goes out into the draught, purging all meats?” (sebab itu tidak masuk kedalam hati melainkan kedalam perut dan lewat menuju tempat pembuangan, membuang semua makanan?). Demikian pula dalam Young’s Literal Translation sbb : “because it doth not enter into his heart, but into the belly, and into the drain it doth go out, purifying all the meats” (Sebab itu tidak masuk kedalam hati melainkan kedalam perut dan kedalam tempat pembuangan, membersihkan semua makanan). Frasa ini sesuai dengan kalimat dalam naskah Greek sbb : καθαριζων παντα  τα  βρωματα (katarizon panta ta bromata).

Kasus penglihatan Petrus (Kis 10: 1-48)

Demikian pula peristiwa rasul Petrus menerima penglihatan di Yope, sering dianggap sebagai bukti bahwa Yahweh Bapa Surgawi telah membuat tidak berlaku penetapan mengenai hewan-hewan yang dikategorikan tahor dan tame. Konteks keseluruhan perikop ini sebenarnya membicarakan bahwa Tuhan memberikan lambang makanan tame dijadikan tahor untuk menggambarkan bahwa dirinya menerima Bangsa non Israel untuk menjadi pengikut Mesias (Kis 10:34) BUKAN pembatalan makanan tahor dan tame.

Bahkan jika kita cermat menganalisis, kita mendapat informasi bahwa rasul Petrus tetap memelihara Imamat 11, sehingga dia tetap menolak untuk memakan hidangan yang diperlihatkan oleh Yahweh Bapa Surgawi (Kis 10:14). Lebih jauh, jika memang penglihatan yang diterima Petrus adalah pembatalan mengenai Imamat 11, mengapa Petrus masih bertanya-tanya akan arti penglihatan tersebut, meski sudah terdengar suara dari langit, “apa yang Kunyatakan bersih, jangan kamu katakan kotor!” (Kis 10:17).

Indikasi bahwa makna penglihatan yang diterima Petrus menjadi jelas ketika Petrus bertemu dengan Kornelius, perwira Italia yang non Yahudi yang telah memutuskan untuk menjadi murid Mesias. Petrus mulai mengerti arti penglihatan tersebut, bahwa Yahweh tidak ingin Petrus sebagai bangsa Yahudi membeda-bedakan secara ekslusif hak untuk menerima keselamatan, terhadap bangsa non Yahudi (Kis 10:34)
Kasus surat dan pengajaran Paul

Kata “Tidak ada suatupun yang haram” (1 Tim 4:3-4) demikian pula kata “Segala sesuatu adalah suci” (Rm 14:20) dalam terjemahan LAI, adalah tidak tepat. Kata “Koinos”Katharos” (Rm 14:20), dalam Darby Bible 1890 diterjemahkan sbb :”… that nothing is unclean of itself”… All things indeed are pure”. Kata “Kalon” dan “Apobleton” (1 Tim 4:3-4) dalamDarby Bible 1890 sbb : For every creature of God is good and nothing is to be rejected.

Thursday, December 1, 2011

MAKNA ASARA DEVARIM (SEPULUH PERINTAH) DALAM KELUARAN 20



Dalam tradisi dan pemahaman orang Yahudi, perayaan Shavuot atau Pentakosta adalah perayaan panen dan sekaligus perayaan turunnya Torah di Sinai. Beberapa kebiasaan orang Yahudi menjelang dan di saat jatuh perayaan Shavuot atau Pentakosta al., membaca Kitab Suci semalam suntuk. Ada yang memilih membaca Mazmur, ada yang membaca Kitab Ruth karena berbicara mengenai pesta panen dan bayangan Mesias yang akan datang, dan ada pula yang membaca Kitab Keluaran 19-20.

Perayaan Shavuot dihubungkan dengan turunnya Torah di Sinai karena dikatakan “Pada bulan ketiga setelah orang Israel keluar dari tanah Mesir, mereka tiba di padang gurun Sinai pada hari itu juga” (Kel 19:1). Karena bulan Nisan dijadikan bulan yang pertama sebagai peringatan Pesakh dan pembebasan dari Mesir (Kel 13:4, Ul 16:1) maka tiga bulan dari bulan Nisan atau Aviv adalah bulan Siwan yang dalam kalender modern jatuh pada bulan Juni.

Kelak Tuhan YHWH menjadikan perayaan Shavuot sebagai momentum pencurahan Roh Kudus sebagai Penghibur yang menyertai orang-orang yang percaya kepada Yesus sebagai Mesias dan Anak Tuhan (Kis 2:1-47).

Beberapa hari sebelum Tuhan memberikan Torah dalam bentuk dua loh batu berisikan sepuluh perintah-Nya persiapan khusus dilakukan oleh umat Israel berdasarkan petunjuk dan pewahyuan Tuhan YHWH yaitu menyucikan diri dan dilarang bersetubuh sebagaimana dikatakan dalam Keluaran 19:10 dan 15 sbb:

Berfirmanlah YHWH kepada Musa: "Pergilah kepada bangsa itu; suruhlah mereka menguduskan diri pada hari ini dan besok, dan mereka harus mencuci pakaiannya

Maka kata Musa kepada bangsa itu: "Bersiaplah menjelang hari yang ketiga, dan janganlah kamu bersetubuh dengan perempuan

Petunjuk Tuhan YHWH di atas menjadi pedoman bagi kita sebagai umat pengikut Mesias yang hidup di Abad XXI bahwa kesucian dan kebersihan adalah prasyarat pertama datang kepada Tuhan baik dalam ibadah Tefilah atau ibadah harian maupun ibadah Shabat atau ibadah pekanan serta Moedim atau ibadah hari raya tahunan.

Itulah sebabnya jika kita mendengar sabda Tuhan diperdengarkan dan dijabarkan, seharusnya kita memiliki sikap yang hormat dan menantikan kehendak Tuhan bagi kita.

Kembali kepada peristiwa di Sinai. Apa yang terjadi ketika Torah akan diberikan kepada Bangsa Israel melalui Musa? Keluaran 19:16 mengatakan, “Dan terjadilah pada hari ketiga, pada waktu terbit fajar, ada guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan

Peristiwa pewahyuan Torah terjadi dengan disaksikan banyak saksi yaitu orang-orang Israel di bawah gunung Sinai sekalipun gunung Sinai ditutupi awan dan kilat bergemuruh. Pewahyuan Torah bukan terjadi di tempat gelap atau di sebuah gua yang tersembunyi dimana tidak ada saksi satupun. Dan para saksi yakni bangsa Israel melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana kemuliaan Tuhan YHWH menyertai turunya Torah yang diberikan kepada Musa dalam bentuk dua loh batu.

Isi dua loh batu ini disebut dengan Asara Debarim atau Sepuluh Firman. Kita mengenalnya dengan sebutan Ten Commandement atau Sepuluh Perintah. Marilah kita hayati kembali kesepuluh perintah YHWH di Sinai ini (Keluaran20:1-26)

Kesepuluh perintah ini diawali dengan preambule atau pembukaan yang mengatakan: “Ani YHWH Eloheika asyer hotsieni mi Mitsrayim mi bet Avadim”  yang artinya “Akulah YHWH Tuhanmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan”. Pernyataan ini hendak menegaskan Tuhan yang membebaskan bangsa Israel memiliki nama yaitu YHWH (Yahweh) dan Tuhan yang bernama YHWH (Yahweh) adalah Tuhan yang bertindak dengan tangan-Nya sendiri untuk membebaskan umat-Nya dari perbudakan Mesir melalui Asara Negef Maskhit atau Sepuluh Tulah Kebinasaan.

Perintah yang pertama: “Lo yihye elohim akherim al panay” yang artinya “Jangan ada padamu tuhan lain di hadapan-Ku

Dalam konteks Israel kuno, bentuk “tuhan lain” (elohim akherim) adalah patung-patung. Tuhan menginginkan bangsa Israel menyembah patung dan menganggapnya sebagai Tuhan. Dalam kebudayaan modern Abad XXI bentuk-bentuk “tuhan lain” adalah materi, kedudukan, jabatan, kekayaan. Bukankah materi, kedudukan, jabatan, kekayaan terkadang menyita waktu kita dan menyebabkan Tuhan tersingkir dalam hati dan pikiran kita?

Perintah yang kedua: “Lo taashe leka fesel” yang artinya “jangan membuat bagimu patung”

Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, YHWH, Tuhanmu, adalah Tuhan yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku”(Kel 20:3-6)

Apakah ayat ini merupakan larangan untuk membuat patung? Tepatnya larangan agar membuat patung dan sujud menyembahnya. Kalimat “lo tishtakhawe” (jangan menyembah) dan “lo taavod” (jangan beribadah) menjadi penanda bahwa bentuk-bentuk peribadatan kepada patung buatan manusia adalah perbuatan kekejian yang menimbulkan kemurkaan Tuhan YHWH?

Bagaimana dengan kecenderungan gereja tertentu yang mempergunakan patung orang kudus dan tokoh Kitab Suci sebagai sarana peribadahan? Sepanjang patung-patung tersebut diperlakukan sebagai sebuah karya seni maka tidak ada persoalan. Namun jika patung-patung tersebut menjadi sarana peribadatan individu dan komunitas maka sudah termasuk penyembahan berhala. Apalagi ada kewajiban mencium patung tersebut. Apapun alasannya.

Perintah yang ketiga: “Lo tissa et shem YHWH Eloheika lashaw” yang artinya “jangan menyebut nama YHWH Tuhanmu dengan sembarangan”.

Sunday, November 27, 2011

APAKAH PRAKTEK RIBA DIPERBOLEHKAN?

Torah mengatur perihal kehidupan yang adil terhadap sesama. Sebagaimana Yesus mengatakan bahwa dirinya bukan datang untuk membatalkan Torah melainkan untuk memberikan perspektif baru dalam melaksanakan Torah (Mat 5:17-18), maka kita akan belajar bagaimana Torah berbicara mengenai riba dan membungakan uang (נשׁך ותרבית = neshek we tarbit).

Imamat 25:35-36 mengatakan, "Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang, supaya ia dapat hidup di antaramu. Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba dari padanya, melainkan engkau harus takut akan Tuhanmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu”. Ditengah-tengah gencarnya Teologi Kemakmuran (Prosperity Gospel) yang mengajarkan bahwa kemiskinan sebagai bentuk kutuk dan anak Tuhan harus hidup kaya dan sehat, maka ayat di atas menempelak kita bahwa pengajaran demikian tidak mendapatkan dukungan baik dalam TaNaKh (Torah, Neviim, Ketuvim) maupun Kitab Perjanjian Baru. Torah justru mengajarkan kita untuk menolong sesama dan berbagi, termasuk terhadap mereka yang sedang mengalami jatuh miskin.

Beberapa pemimpin Kristen dan umat Kristen kerap mendengungkan pernyataan yang tidak pantas, “janganlah memberi ikan tapi berilah kail”. Pepatah tersebut benar jika kita tempatkan pada tempat yang tepat. Orang yang sedang kesusahan dan jatuh dalam kepailitan, kemiskinan (karena kalang bersaing usaha, karena PHK, dll) sudah seharusnya menjadi subyek pertolongan.

Yesus Sang Mesias bersabda: “Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu” (Mat 5:42). Perintah Yesus Sang Mesias menggemakan kembali apa yang diperintahkan dalam Torah yaitu Ulangan 15:7-8 sbb: “Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu di dalam salah satu tempatmu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh YHWH Tuhanmu, maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu, tetapi engkau harusmembuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan”.

Memberikan bantuan berupa pinjaman atau pemberian cuma-cuma kepada mereka yang sedang kesusahan dan mengalami kemiskinan adalah salah satu bentuk wujud kepedulian dalam menolong sesama. Namun ada satu hal yang tidak boleh diabaikan.

Janganlah membungakan uang dari harta yang kita pinjamkan. Mengapa? Pertama, Karena riba atau bunga uang bukan menguntungkan orang yang ditolong namun menguntungkan diri kita sebagaimana dikatakan dalam Amsal 28:8 sbb: “Orang yang memperbanyak hartanya dengan riba dan bunga uang, mengumpulkan itu untuk orang-orang yang mempunyai belas kasihan kepada orang-orang lemah”. Jika kita mengambil keuntungan dari balik kesulitan orang lain, maka perbuatan baik yang kita lakukan sia-sia belaka. Sebagaimana yang diperintahkan, seharusnya pertolongan yang kita berikan bertujuan “supaya saudaramu dapat hidup di antaramu” (Im 25:36).

Kedua, memungut riba dan bunga uang adalah kekejian di mata YHWH sebagaimana dikatakan, “...memungut bunga uang dan mengambil riba, orang yang demikian tidak akan hidup. Segala kekejian ini dilakukannya, ia harus mati; darahnya tertimpa kepadanya sendiri” (Yekhezkiel 18:13). Ketiga, merugikan orang lain sebagaimana dikatakan dalam Yekhezkiel 22:12 sbb: “Padamu orang menerima suap untuk mencurahkan darah, engkau memungut bunga uang atau mengambil riba dan merugikan sesamamu dengan pemerasan, tetapi Aku kaulupakan, demikianlah firman Tuan YHWH”.

Wednesday, November 23, 2011

PREDESTINASI TERHADAP ORANG YANG BERIMAN PADA YESUS SEBAGAI MESIAS ANAK TUHAN

YHWH telah memiliki RENCANA (zamam, yatsar, Ibr) dalam kekekalan mengenai penciptaan dunia, baik fisik maupun metafisik dan, penciptaan manusia, hewan, tumbuhan, organisme lainnya. Ketika YHWH menciptakan dunia, Dia memberikan identifikasi BAIK terhadap seluruh  ciptaan-Nya, bahkan amat baik (Kej 1:4,10,12,18,21,25,31)

Tujuan Penciptaan Alama Semesta dan Manusia


Mencerminkan kemuliaan YHWH

Langit menceritakan kemuliaan Tuhan, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mzm 19:2)

Mencerminkan kekuasaan YHWH (Mzm 50:6)

Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Tuhan sendirilah Hakim. S e l a” (Mzm 50:6)

Menjadi mandataris YHWH (Kej 1:27-28)

Maka Tuhan menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Tuhan diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Tuhan memberkati mereka, lalu Tuhan berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kej 1:27-28)

Dosa Mencemari Rencana Tuhan

Apakah YHWH menciptakan adanya dosa? Tidak! Dosa adalah pelanggaran terhadap Hukum YHWH oleh manusia. Jika YHWH menciptakan dosa, berarti dalam diri YHWH ada dosa dan ini tidak mungkin

Apakah YHWH bertanggung jawab terhadap kejatuhan manusia dalam dosa? Tidak! YHWH sudah memberi peringatan kepada manusia sebelumnya. Kejatuhan adalah tanggung jawab manusia. Namun semua yang terjadi atas sepengetahuan dan seijin YHWH

Mengapa YHWH mengijinkan kejatuhan manusia dalam dosa? YHWH, dalam Kemaha tahuanNya, telah melihat bahwa manusia akan memberontak terhadap diriNya. Dalam KemahatahuanNya, YHWH telah MERENCANAKAN untuk memulihkan, menyelamatkan, menebus ciptaan (dunia dan manusia)

Predestinasi YHWH

Sebelum langit dan bumi serta manusia diciptakan, YHWH telah melakukan beberapa karya sbb:

Menetapkan, merencanakan untuk menebus ciptaan

Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas” (1 Ptr 1:18)

Menetapkan, merencanakan untuk memanggil manusia dalam rencana penyelamatan

Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Mesias” (Rm 1:6)

Menetapkan, merencanakan untuk memilih manusia dalam rencaana penyelamatan

Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya” (1 Ptr 1:20)

Rencana kekalNya yang telah disusun sebelum dunia tercipta, dikarenakan Dia mengetahui kejatuhan manusia dalam dosa, sehingga Dia merencanaakan pemulihan seperti semula

Arti Pemilihan YHWH Terhadap Manusia

Pemilihan dilakukan berdasarkan KASIH KARUNIA dan kemurahanNya. YHWH mengaruniakan keselamatan dan hidup kekal sebagaimana dikatakan: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapipemberian Tuhan” (Ef 2:8)

Dan juga dikatakan, “Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya” (Rm 9:18)

Apakah jika seseorang telah dipilih/dipanggil sebelum langit dan bumi tercipta, berarti dia telah tercatat di Sorga dan tidak mungkin kehilangan keselamatan? Golongan Calvinis sangat percaya perihal doktrin “sekali selamat tetap selamat”.

Yohanes Calvin merumuskan suatu ajaran yang dikenal oleh kalangan Calvinisme sebagai Dotrin Predestinasi atau Ketetapan Tuhan. Rev. Gregory S. Neal mendefinisikan Predestinasi sbb, “Predestination is the doctrine which attempts to describe justification as the decision and act of God alone--an act based upon no external determinants, but only on God's own, divine decision. Additionally, it is held that those who are not elected to salvation are, through Divine will, elected to damnation. In this, 'double predestination' is, in fact, accepted. God elects people to both redemption and to reprobation” [1](Predestinasi adalah doktrin yang mencoba untuk menggambarkan pembenaran sebagai keputusan dan tindakan Tuhan sendiri - sebuah tindakan yang tidak berdasarkan faktor-faktor penentu eksternal, tapi hanya pada keputusan Ilahi dari Tuhan sendiri. Selain itu  dinyatakan bahwa mereka yang tidak terpilih untuk keselamatan terpilih untuk menerima hukuman. Dalam hal ini, “predestinasi ganda” pada kenyataannya, diterima. Disatu sisi Tuhan  memilih orang baik untuk penebusan maupun untuk kutukan).

Rumusan doktrin itu diringkaskan dalam bentuk akrostik TULIP sbb:

T    - Total Depravity (Kerusakan Total)
U   - Unconditional Election (Pemilihan Tak Bersyarat)
L    - Limited Atonement (Penebusan yang Terbatas)
I     - Irresistible Grace (Anugrah yang Tidak Dapat Ditolak)
P    - Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang-orang  Kudus)[2]

Benarkah pemahaman “sekali selamat tetap selamat?” Tanpa menampik pemahaman yang brilian dari Yohanes Calvin namun terhadap pemahaman yang satu ini, saya tidak sependapat. Keselamatan bisa hilang jika kita tidak menjaganya dengan kesungguhan.

Bangsa Israel sebagai bangsa pilihanpun dapat/berpotensi untuk memberontak dan kehilangan kemurahan YHWH sebagaimana dikatakan: “Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata: "YHWH, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?" Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Mesias. Tetapi aku bertanya: Adakah mereka tidak mendengarnya? Memang mereka telah mendengarnya: "Suara mereka sampai ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi."  Tetapi aku bertanya: Adakah Israel menanggapnya? Pertama-tama Musa berkata: "Aku menjadikan kamu cemburu terhadap orang-orang yang bukan umat dan membangkitkan amarahmu terhadap bangsa yang bebal."Dan dengan berani Yesaya mengatakan: "Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak menc ari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku." Tetapi tentang Israel ia berkata: "Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah. (Rm 10:16-21)

Rasul Paul mengingatkan bahwa keselamatan dan kehidupan kekal membutuhkan kondisi tertentu keteguhan pada keyakinan tersebut sebagaimana dikatakan: “Karena kita telah beroleh bagian di dalam Mesias, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula” (Ibr 3:14)

Bahkan sabda Yesus memberikan penegasan perihal orang-orang tertentu yang akan dihapus dari Kitab Kehidupan yaitu mereka yang tidak berjuang mempertahankan iman sampai penghabisan dan murtad dari Tuhan sebagaimana dikatakan: “Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya(Why 3:5).

Apakah Predestinasi bermakna bahwa YHWH telah menetapkan sebagian orang binasa dan sebagian orang memperoleh hidup kekal? Dimanakah letak keadilan YHWH? Pertama, Itu bertentangan dengan karakter Yahweh yang menghendaki pertobatan orang berdosa sebagaimana dikatakan, “Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan YHWH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?” (Yehz 33:11)

Tuesday, November 22, 2011

TAKDIR DALAM PERSPEKTIF KRISTEN

Telinga kita kerap mendengar istilah “Takdir”. Saat kita menonton tayangan film atau sinetron di televisi. Saat laporan berita di televisi mengenai musibah, kriminal dan peristiwa sehari-hari. Apakah Kekristenan mengenal konsep tentang “takdir?” Sebelumnya kita mengkaji terlebih dahulu pengertian tentang “takdir”. Kata “takdir” merupakan terminologi dalam Islam. Kata “takdir” berkaitan dengan kata “nasib”.

Dalam konsep Islam, kata Takdir  terambil dari kata qaddara yang bermakna mengukur, memberi kadar atau ukuran, perhitungan, ketetapan dan keputusan sehingga jika dikatakan, "Tuhan telah menakdirkan demikian," maka itu berarti, "Tuhan telah memberi kadar/ukuran/batas tertentu dalam diri, sifat, atau kemampuan maksimal makhluk-Nya." 

Adapun beberapa ayat Al Quran yang menyinggung mengenai kata “takdir” sbb:

Qs 25: 2 yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya (fa qaddarahu taqdira)

Qs 36:38-39. dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (taqdirul azizil alim). Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua

Bagaimana dengan konsep Kristiani mengenai “takdir?” Kitab TaNaKh dan Perjanjian Baru tidak menggunakan istilah takdir namun menggunakan beberapa istilah Ibrani yaitu “makhasava”, “zamam”, “asha”, “mezima”, “yatsar”, nekhtak”, “khuqot” dan istilah Yunani “keimai”, “diatithemi”, “apodeiknumi”, “proopizo”, “istemi”, “orizo” yang dalam terjemahan LAI biasa diterjemahkan dengan “DITENTUKAN”, “DITETAPKAN”, “RENCANA”, “RANCANGAN”, sebagaimana tabulasi data ayat berikut:

DITENTUKAN

Yesaya 37:26 “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari dan telah merancangnya dari zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu”

Lukas 2:34 “Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak iniditentukan untuk menjatuhkan atau memban
gkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan”

Bandingkan ayat-ayat lainnya dalam Lukas 22:29, Kisah Rasul 2:22, Kisah Rasul 4:28, Kisah Rasul 10:42, Kisah Rasul 13:48, Kisah Rasul 17:26, Roma 3:25, Efesus 1:11, Efesus 1:5

DITETAPKAN

Yeremia 31:35 “Beginilah firman YHWH, yang memberi matahari untuk menerangi siang, yang menetapkan bulan dan bintang-bintang untuk menerangi malam, yang mengharu biru laut, sehingga gelombang-gelombangnya ribut, YHWH semesta alam nama-Nya”

Daniel 9:24 “Tujuh puluh kali tujuh masa telah ditetapkan atas bangsamu dan atas kotamu yang kudus, untuk melenyapkan kefasikan, untuk mengakhiri dosa, untuk menghapuskan kesalahan, untuk mendatangkan keadilan yang kekal, untuk menggenapkan penglihatan dan nabi, dan untuk mengurapi yang maha kudus”

Bandingkan dengan Lukas 22:22; 17:31

RANCANGAN

Yesaya 55:8 “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman YHWH

Yeremia 29:11 “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman YHWH, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan

RENCANA

Ayub 42:2 "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal

1 Petrus 1:2 “yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Tuhan, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Sang Mesias dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu

Bandingkan dengan Yesaya 46:11, Yeremia 51:12

Dari kajian di atas dapat disimpulkan bahwa Kekristenan memiliki konsep tentang Takdir. Namun konsep Kristen tentangTakdir memiliki perbedaan dengan Islam. Konsepsi Kristen tentang Takdir (Ketetapan, Ketentuan, Rencana, Rancangan Tuhan) memiliki dua karakteristik yang berbeda dengan Islam dalam hal sbb:

Pertama, YHWH tidak menetapkan, merencanakan, merencanakan, merancangkan kecelakaan, penderitaan atas diri manusia. Baik kecelakaan dan penderitaan adalah dosa dan pelanggaran manusia atas perintah YHWH (Yer 2:19, Ul 28:1-26). Jika YHWH tidak menetapkan, merencanakan, merencanakan, merancangkan kecelakaan, penderitaan atas diri manusia, bagaimana dengan Yesaya 45:7 yang mengatakan bahwa YHWH menjadikan nasib mujur dan celaka bagi manusia? Bagaimana pula dengan Ulangan 29:2 dimana YHWH menjatuhkan hajaran dan penyakit atas manusia? Mengenai Yesaya 45:7, ayat ini membicarakan kedaulatan dan kekuasaan YHWH untuk mengubah segala sesuatu, menjadikan segala sesuatu baik yang buruk maupun yang baik. Hal buruk yang dijadikan YHWH disiapkan bagi orang-orang yang melanggar titah-titah-Nya. Kenyataan ini bermuara pada Yeremia 2:19 dimana dosa dan pelanggaran seseorang menyebabkan petaka dan keburukan datang dengan seizin YHWH. Hal yang sama terjadi dengan Ulangan 29:2. Ayat ini menegaskan bahwa hukuman YHWH dapat melanda manusia oleh karena suatu sebab bukan oleh karena suatu takdir. Sebab itu adalah pelanggaran manusia terhadap perintah YHWH.

Kedua, YHWH telah menetapkan, merencanakan, merencanakan, merancangkan keselamatan dan kehidupan kekal atas orang-orang pilihan-Nya (1 Ptr 1:2, Ef 1:5). Sebaliknya, Al Qur’an menegaskan bahwa semua umat manusia akan mendatangi neraka sebagaimana dikatakan dalam Qs 19:71, “Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan”. Untuk kemudian orang-orang yang bertakwa akan diselamatkan sebagaimana dikatakan dalam Qs 19:72 sbb: “Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut”.

Kembali kepada pembacaan teks Mazmur 139:13-16 khususnya ayat 16 yang mengatakan, “mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya”. Dalam teks Ibrani, “golmi ra’u eyneka, we’al sifreka kulam yikatevu yutsaru, we lo ekhad bahem”. Kata golmi dari katagolem yang artinya “an embryo” (bakal anak). Rancangan, rencana, ketetapan, keputusan atau takdir Tuhan atas seorang manusia dimulai sejak dia berstatus golem (bakal anak) bukan yeled (anak).

Oleh karenanya, praktek aborsi adalah pembunuhan karena Tuhan telah memberikan kehidupan dan rencana atas bakal anak yang dikandung seorang wanita. Konsekwensi logis pemahaman ini bahwa kita berharga di mata YHWH. Dia telah melihat dan memberikan sejumlah potensi dalam diri kita sejak kita masih berada dalam kandungan ibu kita. Kita harus bersyukur dan menikmati kehidupan yang YHWH telah berikan bagi kita. Kata yikatevu dari kata katav yang artinya “to write” (menulis). Kehidupan yang sudah kita lewati dan sedang kita jalani serta akan kita datangi adalah sebuah garis kehidupan yang telah dituliskan sebelum kita lahir ke dunia ini. Semua yang terjadi sudah ada takarannya masing-masing. Dan yang tidak boleh kita abaikan, bahwa garis kehidupan yang YHWH berikan semata-mata adalah garis kehidupan yang dirancangkan untuk kebaikan, kedamaian kita (Yer 29:11). Berbagai keburukan yang dialami bisa jadi karena faktor kesalahan kita (Yer 2:19), kuasa gelap (Ayb 2:7), namun semua diijinkan YHWH terjadi untuk kebaikkan kita (Rm 8:28).

Hargailah kehidupan, terimalah kehidupan yang telah Tuhan berikan pada kita dengan ucapan syukur. Optimalkan usaha dan kerja keras kita agar kebaikan-Nya yang telah dijanjikan menghampiri kehidupan kita, Amin.

Sunday, November 20, 2011

AKHLAK AL MASIH – HALIKOT HA MASHIAKH

Suatu ketika saya memberikan sebuah tayangan video di You Tube perihal perilaku seorang hamba Tuhan terkenal yang kerap tampil dalam penginjilan televisi khususnya di bidang kesembuhan Ilahi dan praise and worship (pujian penyembahan ala Kharismatik) kepada beberapa orang ibu yang berkunjung ke kediaman saya untuk belajar. Tayangan video tersebut memperlihatkan seorang hamba Tuhan terjatuh berkali-kali di atas mimbar karena mabuk dan ditolong berulang kali oleh para penatuanya. Jatuh lagi dan jatuh lagi. Dia jatuh diantara derai jemaat yang mendengarkan kotbahnya.

Saya memperhatikan respon dan reaksi wajah, perkataan dan psikis mereka. Banyak yang kecewa, sedih, pusing dll. Respon yang sama saat saya pertama kali menerima video tersebut adalah mual dan prihatin. Tidak ada lagikah suri tauladan dari para pemimpin agama sehingga harus mempermalukan Tuhan dan Firman-Nya dengan perilaku demikian?

Ditengah krisis keteladanan, kita masih berharap ada pemimpin-pemimpin rohani yang masih tetap setia menjalankan tugas kerohanian dan tidak mudah disimpangkan dalam perilaku yang memalukan sebagaimana peristiwa di atas.

Perilaku Yesus adalah teladan sejati bagi pengikutnya. Kata perilaku dalam bahasa Arab adalah Akhlak dan dalam bahasa Ibrani Hatnahgot dan Halikot. Kata Arab Akhlak berasal dari kata Akhlaq yang merupakan jama’ dari Khulqu yang artinya perangai, budi, tabiat dan adab. Akhlak itu terbagi dua yaitu Akhlak yang Mulia atau Akhlak yang Terpuji (Al-Akhlakul Mahmudah) dan Akhlak yang Buruk atau Akhlak yang Tercela (Al-Ahklakul Mazmumah). Dalam padanan bahasa Ibrani adalah Hatnahgot tova (perilaku baik) dan Hatnaghot ra’ah (perilaku buruk).

Agar kita memiliki akhlak atau hatnihgot atau halikot yang baik, maka teladanilah akhlak Al Masih atau ha Mashiakh. Rasul Petrus menuliskan sbb, “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Mesiaspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. (1Pet 2:21). Kata Yunani untuk Teladan adalah Hupogrammos dan dalam bahasa Ibrani adalah Mofet. Teladan yang ditinggalkan oleh Yesus Sang Mesias terekam dalam perkataan berupa ajaran dan nasihat serta perilaku beliau dalam keseharian.

Setidaknya ada 10 (sepuluh) Akhlak Al Masih yang akan kita telaah dan kita teladani dalam kehidupan sebagai orang Kristen. Kedelapan Ahlak Al Masih tersebut adalah sbb:

Belas Kasih

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala” (Mat 9:36). Kata “belas kasihan” dalam Peshitta Aramaik Perjanjian Baru dituliskan Etrakham yang setara dengan bahasa Ibrani Rakham yang bermakna kemurahan hati. Jika belas kasih menjadi motivasi dalam melayani dan memberikan pertolongan, maka tiada pamrih di dalamnya.

Pengampun

Yesus bukan hanya mengajarkan perihal pengampunan bahkan terhadap musuh (Luk 6:37) namun Yesus memberikan kata-kata pengampunan saat dia disiksa hingga menjelang ajalnya. Yesus berkata dalam rasa sakit yang menyergap sendi dan tulang serta tubuhnya demikian, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Ditengah kondisi masyarakat yang mudah tersulut amarah dan melakukan kekerasan, Akhlak Al Masih yang pengampun menjadi solusi untuk mengubah masyarakat.

Tidak membedakan status sosial

Dalam puisi yang saya buat dengan judul Pemuda Galilea, dalam salah satu penggalan dituliskan, “Dia ada diantara mereka yang papa. Dia pun tidak silau ketika berada diantara yang berkelimpahan harta”. Inilah akhlak Yesus yang mulia. Lukas 15:2 menceritakan, “Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka”. Demikian pula Matius 9:10 menuliskan, “Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya”. Ditengah sikap hidup para pemimpin agama yang bergelimangan harta karena menganut Teologi Kemakmuran dan sukar ditemui karena padatnya jadwal pelayanan, maka akhlak Yesus justru berkebalikan. Dia mudah ditemui dan berada dengan siapa saja serta dimana saja.

Tidak mencari popularitas

Saat orang-orang banyak kagum akan kewibawaan pengajarannya dan kuasa yang dimilikinya, banyak orang meminta Yesus sebagai raja. Namun apa yang dilakukan Yesus Sang Mesias? Yohanes 6:15 mengatakan, “Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri”. Banyak orang mencari popularitas dan tergoda dengan popularitas sekalipun waktu selalu membuktikan bahwa popularitas terkadang memenjarakan hidup kita menjadi budak kemauan banyak orang dan menjerumuskan kita pada kecintan diri sendiri.

Menghargai anak-anak

Yesus mencitai dan peduli pada anak-anak. Matius 19:13-14 melaporkan, “Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." Anak-anak sering menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga baik oleh ayah maupun ibu yang tidak bijaksana dalam mendidik. Dengan meneladani akhlak Yesus yang mencintai anak-anak, kita pun akan semakin menghargai keberadaan anak-anak.

Berbicara yang benar

Ketika Yesus selesai mengucapkan pengajaran yang mengatakan bahwa dirinya adalah Roti Hidup yang turun dari surga, banyak murid-muridnya mengundurkan diri sebagaimana dilaporkan Yohanes 6:60, “Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Dan pada ayat 66 lebih jelas lagi dikatakan, “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia”. Itu semua terjadi karena Yesus mengatakan kebenaran apa adanya. Yesus tidak mengurangi kebenaran dan tidak pula menyembunyikan kebenaran.

Yesus bersabda, “Tetapi karena Aku mengatakan kebenaran kepadamu, kamu tidak percaya kepada-Ku. Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku” (Yoh 8:45-46)

Anti kekerasan

Petrus, seorang murid Yesus yang cukup tegas dan temperamental bereaksi saat Yesus hendak ditangkap oleh prajurit Roma. Petrus menetakkan pedang di telinga salah satu prajurit Roma. Jika saya sebagai Petrus, mungkin akan melakukan langkah yang sama untuk membela kehormatan Sang Guru. Namun Yesus berkata kepada Petrus, "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang” (Yoh 26:52). Yesus bukan melarang perlawanan karena toch jika dia melakukan itu, dia mampu melakukannya sebagaimana dikatakan pada ayat 53, “Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?”. Yesus anti kekerasan demi mencapai tujuannya yaitu penyelamatan melalui pengorbanan dirinya sebagaimana dikatakan pada ayat 54, “Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?"

Jika akhlak Al Masih yang anti kekerasan ini menjadi gaya hidup pengikut Mesias, maka kita telah meminimalisir kecenderungan akhir-akhir ini dalam masyarakat untuk menyelesaikan masalah dengan kekerasan dan anarkisme.

Tegas

Sikap welas asih dan pengampunannya tidak meniadakan ketegasan sikapnya ketika dengan keras dia menegur orang-orang Farisi yang hendak menguji dia  dengan mengatakan, "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?” (Mat 22:18). Kebanyakan orang Kristen menyalahpahami ajaran Yesus. Hanya dikarenakan Yesus mengajarkan kasih dan pengampunan lalu melupakan akhlak lain dari Yesus yaitu ketegasan sikap melawan ketidakbenaran. Kasih tanpa ketegasan menjadi lemah. Ketegasan tanpa kasih menjadi kasar.


Waktu untuk menyendiri bersama Tuhan dalam doa

Markus 1:35 menuliskan, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana”. Beberapa orang Kristen yang dahulunya berlatar belakang agama Islam ada yang bertanya, “dulu saya rajin beribadah dan bangun pagi sekali. Rajin dzikir tengah malam. Namun setelah menjadi Kristen, saya khoq menjadi malas dan tidak memiliki waktu berdoa?”. Kekristenan khususnya Kekristenan kontemporer dan Kekristenan Barat telah kehilangan akar Ibrani imannya. Kekristenan yang berakar pada Yudaisme memiliki ibadah harian di jam tertentu dengan sikap tubuh tertentu. Jika akhlak Al Masih dalam hal doa kita teladani maka kita akan menjadi orang yang memiliki disiplin rohani dan waktu khusus berkomunikasi dengan Tuhan.

Menolong orang

Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut, berkatalah Ia: "Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur." Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu” (Mat 9:23-26). Lebih dari sekedar kisah mukjizat dan kuasa yang dimiliki Yesus, kisah di atas mencerminkan sikap Yesus yang suka menolong tanpa pamrih. Kuasa yang dimilikinya tidak memposisikan dia pada status ekslusif namun status yang inklusif yaitu hadir diantara mereka yang membutuhkan.

Demikianlah kesepuluh Akhlak Al Masih yang harus kita teladani dalam kehidupan iman kita. Marilah kita teladani perilaku Yesus Sang Mesias yang sempurna tersebut agar kita menjadi teladan bagi orang yang tidak beriman sehingga mereka boleh datang dan menerima Yesus Sang Mesias Juruslamat kita.

Tanamkan kesepuluh Akhlak Al Masih tersebut pada anak-anak kita sehingga kelak mereka akan meneladan sikap-sikap Yesus yang terpuji dan menjadi berkat bagi orang lain dan sesama.