Tuesday, November 22, 2016

KASIHILAH ATAU BENCILAH MUSUHMU?



Jika kita membaca Torah, maka kata “musuh” dan “perlawanan” serta “binasa” menjadi begitu dominan dituliskan sebagai respon seseorang terhadap mereka yang berlaku jahat terhadap dirinya, keluarganya atau bangsanya, sebagaimana dikatakan, “Lima orang dari antaramu akan mengejar seratus, dan seratus orang dari antaramu akan mengejar selaksa dan semua musuhmu akan tewas di hadapanmu oleh pedang”(Im 26:8 - Band. Kej 24:60, Bil 14:42, 1 Sam 12:1). Bahkan dalam Mazmur banyak tertulis doa-doa Daud yang meminta Tuhan membinasakan musuhnya antara lain, “Yahweh telah mendengar permohonanku, Yahweh menerima doaku. Semua musuhku mendapat malu dan sangat terkejut; mereka mundur dan mendapat malu dalam sekejap mata” (Mzm 6:11). Lantas bagaimana kita menyelaraskan teks perihal musuh dan respon perlawanan terhadap musuh serta doa-doa memohon kebinasaan terhadap musuh dengan sabda Yesus Sang Mesias perihal mengasihi musuh? 

Perlu kita luruskan dan tegaskan terlebih dahulu bahwa Tuhan Yahweh melalui Torah-Nya tidak pernah memerintahkan dendam dan permusuhan sebagaimana dikatakan, “Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah Yahweh” (Im 19:17-18). Oleh karenanya sabda Yesus harus didudukkan dalam konteks hubungan sosial dengan sesama, apabila terjadi perselisihan dan permusuhan dan perencanaan buruk oleh orang lain, janganlah kita kemudian membenci dan melakukan pembalasan dengan menyalahgunakan ayat yang keliru penempatan dan maksud serta tujuannya. Teks-teks yang dikutip sebelumnya perihal “melawan musuh” dan memohon “kebinasaan terhadap musuh”, harus diletakkan dalam konteks peperangan. Dunia Israel kuno sebelum terbentuknya Teokrasi hingga terbentuknya Teokrasi sarat dengan kehidupan peperangan dan perebutan wilayah antar suku dan bangsa. Oleh karenanya wajar jika dalam konteks peperangan harus ada musuh perlawanan terhadap musuh secara fisik serta memohon pertolongan Tuhan agar mengalahkan musuh. 

Adakah saat terjadi Perang Dunia 1 dan 2 atau perang kemerdekaan Indonesia melawan penjajah, seorang prajurit berdoa agar Tuhan mengampuni orang yang akan membunuh dirinya? Doa yang pantas dinaikkan adalah doa agar Tuhan memberi kemenangan dan mengalahkan musuh demi tegaknya kedaulatan negara bukan? Demikianlah konteks doa-doa dalam Mazmur perihal permohonan Daud memberi kebinasaan dan kekalahan terhadap musuh-musuhnya. Dalam konteks peperangan, maka yang berlaku adalah hukum peperangan. Perihal peperangan, Torah mengatur mengenai beberapa perkara sbb:

(1) Kategorisasi yang harus berperang

“Para pengatur pasukan haruslah berbicara kepada tentara, demikian: Siapakah orang yang telah mendirikan rumah baru, tetapi belum menempatinya? Ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain yang menempatinya. Dan siapa telah membuat kebun anggur, tetapi belum mengecap hasilnya? Ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain yang mengecap hasilnya. Dan siapa telah bertunangan dengan seorang perempuan, tetapi belum mengawininya? Ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain yang mengawininya. Lagi para pengatur pasukan itu harus berbicara kepada tentara demikian: Siapa takut dan lemah hati? Ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya hati saudara-saudaranya jangan tawar seperti hatinya. Apabila para pengatur pasukan selesai berbicara kepada tentara, maka haruslah ditunjuk kepala-kepala pasukan untuk mengepalai tentara” (Ul 20:5-9).

(2) Perdamaian lebih penting dari peperangan

“Apabila engkau mendekati suatu kota untuk berperang melawannya, maka haruslah engkau menawarkan perdamaian kepadanya. Apabila kota itu menerima tawaran perdamaian itu dan dibukanya pintu gerbang bagimu, maka haruslah semua orang yang terdapat di situ melakukan pekerjaan rodi bagimu dan menjadi hamba kepadamu. Tetapi apabila kota itu tidak mau berdamai dengan engkau, melainkan mengadakan pertempuran melawan engkau, maka haruslah engkau mengepungnya; dan setelah YHWH Tuhanmu, menyerahkannya ke dalam tanganmu, maka haruslah engkau membunuh seluruh penduduknya yang laki-laki dengan mata pedang. Hanya perempuan, anak-anak, hewan dan segala yang ada di kota itu, yakni seluruh jarahan itu, boleh kaurampas bagimu sendiri, dan jarahan yang dari musuhmu ini, yang diberikan kepadamu oleh YHWH Tuhanmu, boleh kaupergunakan. Demikianlah harus kaulakukan terhadap segala kota yang sangat jauh letaknya dari tempatmu, yang tidak termasuk kota-kota bangsa-bangsa di sini. Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa itu yang diberikan YHWH Tuhanmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, janganlah kaubiarkan hidup apa pun yang bernafas, melainkan kautumpas sama sekali, yakni orang Het, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh YHWH Tuhanmu, supaya mereka jangan mengajar kamu berbuat sesuai dengan segala kekejian, yang dilakukan mereka bagi elohim mereka, sehingga kamu berbuat dosa kepada YHWH Tuhanmu” (Ul 20:10-18).

(3) Jangan merusak ekosistem alam sekitarnya

“Apabila dalam memerangi suatu kota, engkau lama mengepungnya untuk direbut, maka tidak boleh engkau merusakkan pohon-pohon sekelilingnya dengan mengayunkan kapak kepadanya; buahnya boleh kaumakan, tetapi batangnya janganlah kautebang; sebab, pohon yang di padang itu bukan manusia, jadi tidak patut ikut kaukepung. Hanya pohon-pohon, yang engkau tahu tidak menghasilkan makanan, boleh kaurusakkan dan kautebang untuk mendirikan pagar pengepungan terhadap kota yang berperang melawan engkau, sampai kota itu jatuh" (Ul 20:19-20).

(4) Keadilan dan kebenaran dalam memperlakukan wanita tawanan perang

"Apabila engkau keluar berperang melawan musuhmu, dan YHWH Tuhanmu menyerahkan mereka ke dalam tanganmu dan engkau menjadikan mereka tawanan, dan engkau melihat di antara tawanan itu seorang perempuan yang elok, sehingga hatimu mengingini dia dan engkau mau mengambil dia menjadi isterimu, maka haruslah engkau membawa dia ke dalam rumahmu. Perempuan itu harus mencukur rambutnya, memotong kukunya, menanggalkan pakaian yang dipakainya pada waktu ditawan, dan tinggal di rumahmu untuk menangisi ibu bapanya sebulan lamanya. Sesudah demikian, bolehlah engkau menghampiri dia dan menjadi suaminya, sehingga ia menjadi isterimu. Apabila engkau tidak suka lagi kepadanya, maka haruslah engkau membiarkan dia pergi sesuka hatinya; tidak boleh sekali-kali engkau menjual dia dengan bayaran uang; tidak boleh engkau memperlakukan dia sebagai budak, sebab engkau telah memaksa dia” (Ul 21:10-14)

Sabda Yesus mengajak kita untuk memutus rantai konflik dan bukan memperpanjang konflik dan permusuhan dan tidak bertentangan dengan Torah yang mengatur perihal menghadapi musuh dan lawan dalam peperangan.

No comments:

Post a Comment