Friday, August 26, 2016

APA YANG SALAH DENGAN YUDAS ISKARIOT?



Tahun 2006 terbit dalam bahasa Indonesia buku dengan judul The Gospel of Judas Dari Kodeks Tchacos oleh Gramedia Pustaka Tama. Buku tersebut hasil upaya penerjemahan naskah kuno Gnostik oleh Rodolphe Kasser dkk terhadap salah satu isi naskah yang ada dalam Kodeks Tchacos yang ditemukan pada tahun 1970. 

Kodeks ini berisikan al., suatu versi dari Surat Petrus kepada Filipus, sebuah naskah berjudul Yakobus, Injil Yudas, sebuah naskah yang sementara disebut dengan Kitab Allogenes. Sebagaimana dikatakan Marvin Meyer dalam pengantarnya, “Injil Yudas dapat diklasifikasikan sebagai Injil gnostik. Kemungkinan besar disusun pada pertengahan abad kedua, amat mungkinberdasarkan gagasan dan sumber-sumber awal, Injil Yudas mewakili model kerohanian awal yang amat menekankan pentingnya gnosis atau pengetahuan – yaitu pengetahuan mistik rahasia, ilmu gaib, pengetahuan mengenai Tuhan dan kesatuan esensial antara kita dan Tuhan” (2006:xxvi).

Injil Yudas yang diterjemahkan ini merupakan kitab kelompok Bidah yang pernah disinggung oleh Bapa Gereja Irenaeus. Tokoh Yudas dalam Injil Yudas lebih diposisikan positif dan memiliki jasa besar untuk membebaskan Yesus dari belenggu dunia materil melalui kematiannya yang diartikan sebagai keterbebasan dari belenggu. Penemuan Injil Yudas dan terjemahannya sempat menggegerkan dikarenakan Kitab Injil kanonik hanya melaporkan sedikit perihal Yudas yang berakhir dengan pengkhianatannya yang berujung pada penangkapan dan penghukuman mati Yesus di kayu salib.

Yudas Iskariot, nama yang selalu dikenang dan diingat sebagai seorang murid yang mengkhianati gurunya. Bahkan Kitab Injil selalu menambahi dengan istilah “pengkhianat” saat mengisahkan bahwa Yudas pun adalah salah satu dari dua belas murid yang terpilih dan diutus sebagai rasul. Perhatikan kata “pengkhianat” atau “yang mengkhianati Dia” (kata Yunani yang dipergunakan sebenarnya paradidomi yang artinya “menyerahkan” bukan “mengkhianati”) yang ditambahkan dalam laporan Matius 10:4, Markus 3:19, Lukas 6:16.

Lantas apa yang salah dengan Yudas Iskariot, sementara kita ketahui menurut narasi keempat Injil Yudas selalu bersama-sama Yesus dalam berbagai situasi dimana Yesus mengajar dan menyampaikan sabda-sabda yang memberikan pencerahan? Injil Matius, Markus, Lukas tidak melaporkan indikasi apapun perihal perilaku Yudas Narasi Yohanes 12:1-8 memberikan data penting perihal karakter Yudas. 

Sekalipun narasi di atas dilaporkan dalam Matius 26:6-13 dan Markus 14:3-9, namun nama Yudas tidak disebutkan di dalamnya. Hanya Yohanes yang menyebutkan nama Yudas sebagai seorang yang mencela tindakan Maria saudara Marta saat menuangkan minyak narwastu dan dipakai untuk membersihkan kaki Yesus. Kita perhatikan perbandingan ketiga narasi dalam Injil Matius, Markus dan Yohanes sbb:

“Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, datanglah seorang perempuan kepada-Nya membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang mahal. Minyak itu dicurahkannya ke atas kepala Yesus, yang sedang duduk makan. Melihat itu murid-murid gusar dan berkata: ‘Untuk apa pemborosan ini? Sebab minyak itu dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin’. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: ‘Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu. Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku, ia membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia” (Mat 26:6-13).

“Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus. Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain: "Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini? Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin." Lalu mereka memarahi perempuan itu. Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu. Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia” (Mark 14:3-9).

“Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: ‘Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?’ Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Maka kata Yesus: ‘Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu” (Yoh 12:1-8)

Perkataan Yudas yang mencela tindakkan Maria sebagai pemborosan bukan dikarenakan Yudas peduli dengan orang-orang miskin melainkan karena Yudas seorang “pencuri” (kleptes, Yun) karena, “…ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya” (Yoh 12:6). Sumber masalah ada pada Yudas sendiri. Yudas memiliki guru yang bijaksana, pemimpin yang bertanggungjawab, gembala yang melindungi yaitu Yesus. Namun perkataan dan perilaku Yesus sebagai teladan tidak menyentuh hatinya dan mengubah perilakunya sama sekali bahkan cenderung memanfaatkan kepercayaan yang diberikan padanya sebagai pemegang keuangan untuk kepentingan dan agendanya sendiri.

Kegagalan Yudas Iskariot bisa menjadi sebuah rujukkan dan permenungan dalam kehidupan gereja modern masa kini bahwa seseorang bertanggung tanggung jawab atas perbuatannya sendiri dan bukan pendeta, majelis atau orang lain sebagaimana dikatakan dalam Yehezkiel 18:20, “Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya”. Pelajaran berikutnya adalah mengikut Yesus seharusnya mengalami transformasi personal dalam hati, pikiran dan perilaku sebagaimana dikatakan, “…menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya…” (Rm 8:29). 

Sebanyak yang kita telah dengar dan ketahui, demikianlah segarusnya berbanding lurus dengan apa yang seharusnya kita perbuat atau kerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya mereka yang telah mengalami transformasi dalam pikiran dan hati serta perilaku akan dengan sukacita melakukan semua sabda Tuhan yang diperintahkan dan tidak menjadikannya sebagai beban.


No comments:

Post a Comment