Thursday, January 27, 2022

APA YANG MENYEBABKAN KEMENANGAN DAUD TERHADAP GOLIAT?

Jika kita membaca perikop 1 Samuel 17:1-58 di mana dikisahkan perihal orang Filistin hendak melakukan penaklukan terhadap Israel, kita mungkin teringat pada kisah pewayangan dengan lakon Bharatayudha yaitu peristiwa perang saudara hebat antara Pandawa dan Kurawa. Dalam peperangan tersebut bukan hanya ada perang tanding secara kanuragan dan kadigdayan serta perang strategi melainkan di dalamnya ada percakapan-percakapan yang terjadi, baik antara kawan dengan kawan ataupun kawan dengan lawan.

Demikianlah dalam kisah pertempuran antara bangsa Israel melawan bangsa Filistin. Petarung (mimahanot) bangsa Filistin adalah seorang raksasa bernama Goliat dari Gat dengan tinggi badan enam hasta sejengkal (1 Sam 17:4). Dengan menyombong Goliat menantang pasukan Israel untuk melawan dirinya duel satu lawan satu.

Daud salah seorang anak Isai dari Efrata, Betlehem Yehuda tiba-tiba muncul mengajukan diri kepada Raja Saul untuk melawan Goliat. Sebelum menghadap Raja Saul, Daud dimarahi kakak-kakaknya yang bertempur di medan perang melawan Filistin karena keberadaannya di medan pertempuran. Ketika Daud mengajukan dirinya untuk maju melawan Goliat tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Raja Saul karena perawakan Daud yang tidak meyakinkan dan ukuran badan Daud yang berbanding terbalik dengan Goliat.

Adegan berakhir dengan pertempuran antara Goliat dengan Daud yang diawali percakapan dan adu mulut diantara keduanya. Kita semua tahu akhir cerita ini bahwa Daud berhasil mengalahkan Goliat sang raksasa dengan perlengkapan perang yang lengkap hanya dengan sebutir batu dan ketapel saja.

Ketika kita membaca teks ini, perhatian kita tentu akan lebih terfokus pada ucapan Daud saat menghadapi Goliat yang berkata, “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama YHWH semesta alam, Tuhan segala barisan Israel yang kautantang  itu” (1 Sam 17:45). Ya, kalimat ini merefleksikan iman Daud kepada Tuhan Yang Hidup dalam menghadapi keperkasaan dan kehebatan Goliat. Dalam setiap kotbah kita akan mendengarkan sebuah refleksi berpijak dari teks ini bahwasanya selama beserta Tuhan kita akan mampu mengalahkan situasi seberat apapun sebagaimana Daud yang kecil mengalahkan Goliat. Bukankah demikian? Refleksi teologis dan kesimpulan demikian memang tidak salah.

Namun apakah kemenangan Daud semata-mata hanya bermodalkan iman kepada Tuhan? Jika kita memperhatikan dengan seksama keseluruhan kisah dalam 1 Samuel 17:1-58 maka sebenarnya keberhasilan Daud mengalahkan Goliat memiliki sejumlah variabel dan bukan satu variabel. Sejumlah variabel ini berkontribusi pada kemenangan Daud mengalahkan Goliat. Apa sajakah itu? Pertama, pengalaman Daud menghadapi bahaya. Apa yang diucapkan Daud saat Raja Saul melarangnya untuk maju ke medan pertempuran? 1 Samuel 17:34-36 menuliskan sbb:

“Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap  janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya.  Bukankah kekuatan dan kecepatan singa dan beruang melebihi manusia?”

Daud sudah menghadapi marabahaya dan maut untuk melindungi kambing domba ayahnya dengan mengambil risiko menghadapi kebuasan hewan-hewan pemangsa tersebut. Dengan demikian Daud telah memiliki pengalaman menghadapi bahaya maut dan selalu mengalami keberhasilan. Keyakinannya pada Tuhan berakar pada situasi kongkrit yaitu menghadapi bahaya dan mengalami kemenangan.

Kedua, Daud memiliki keberanian dan bermentalitas pemenang. 1 Samuel 17:37-38 menuliskan sbb:

“Baik singa  maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Tuhan yang hidup."  Pula kata Daud: "YHWH yang telah melepaskan  aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu”

Jika Daud tidak memiliki mental baja dan keberanian maka dirinya akan lari bersembunyi dari beruang dan singa yang buas. Karena mentalitas pemenang dan keberanian, maka Daud dapat mengendalikan ketakutannya dan situasi yang membahayakan dirinya. Maka pengalaman dan keberanian serta iman Daud menjadi modal keberhasilan dan variabel yang menentukan untuk mengalahkan musuh raksasa bernama Goliat di medan pertempuran.

Bagaimana dengan kita? Berkaca dari Daud maka kita selayaknya bukan sekedar melandaskan setiap pekerjaan dan menghadapi tantangan serta problem kehidupan hanya sekedar beriman dan meminta penyertaan Tuhan untuk membela dan menolong kita. Kitapun harus berani menghadapi setiap problem kehidupan mulai dari yang sederhana hingga pelik agar kita menjadi semakin dewasa dan berpengalaman.

Jika kita takut selalu takut menghadapi kegagalan dan menghindari menghadapi setiap problem kehidupan, maka kita tidak akan mengalami pertumbuhan dan pertambahan wawasan dan pengalaman. Kita akan selalu menjadi kanak-kanak dengan tubuh seperti orang dewasa.

Adakah orang yang belajar bersepeda tidak pernah jatuh? Demikianlah orang yang memulai sebuah pekerjaan harus siap menghadapi sejumlah risiko kegagalan. Demikianlah orang yang hendak mendapatkan keberhasilan harus siap menghadapi kegagalan dan kesalahan. Tidak ada satu orangpun di dunia yang telah mencapai kesuksesan dan keberhasilan dalam hidupnya secara material khususnya adalah orang yang tidak pernah mengalami kegagalan.

Bukankah dikatakan dalam 2 Korintus 4:16-17 sbb: “Sebab itu kami tidak tawar hati,   tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah  kami dibaharui   dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal   yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami”

Bukankah dikatakan dalam 1 Korintus 10:13 sbb: “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Tuhan setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu.  Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya”

Demikian pula dikatakan dalam Roma 5:3-4 sbb: “Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan”

Marilah kita belajar dari Daud untuk memperkaya pengalaman hidup kita dengan menghadapi banyak kesulita dan dan meningkatkan keberanian menghadapi berbagai situasi kehidupan serta menjangkarkan keyakinan kita pada kuasa Tuhan YHWH, Bapa Surgawi dalam Yesus Sang Mesias, Putra-Nya Yang Tunggal, Juruslamat dan Junjungan Agung Yang Ilahi

 

No comments:

Post a Comment