Wednesday, February 9, 2022

PERKATAAN YANG MENGHIDUPKAN DAN PERKATAAN YANG MEMATIKAN

www.media-diversity.org/

Suatu hari istri saya bercerita tentang seorang temannya yang pada suatu malam menelepon dengan cukup lama. Selain berbincang-bincang ringan juga menyampaikan rasa terimakasihnya pada istri karena atas nasihatnya mulai bisa menikmati hidup ditengah sejumlah penyakit yang menempeli tubuhnya.

Istri saya kemudian menceritakan isi percakapannya jika beberapa tahun ke belakang temannya ini pernah divonis dokter yang mengobati penyakitnya bahwa umurnya tidak akan lama lagi dikarenakan ginjalnya sudah mengecil. Teman istri saya tersebut terus menerus memikirkan perkataan dan vonis dokter sehingga menganggap dirinya tidak akan berumur lama lagi dan kehilangan pengharapan.

Namun ketika dirinya beberapa tahun silam menceritakan pada istri saya persoalannya tersebut, maka istri saya memberikan perkataan penghiburan untuk tidak memfokuskan pada vonis – yang entah atas dasar apa harus disampaikan secara vulgar – melainkan memfokuskan pada kesembuhan dan kesehatan dengan senantiasa menjalani kehidupan dengan sukacita serta bersyukur.

Alhasil, teman istri yang non Kristen tersebut tetap hidup sampai hari ini dan menikahkan anaknya beberapa tahun silam. Apa yang dapat kita dapatkan dari kisah ini?

Sebuah perkataan dapat menimbulkan sebuah dampak bagi diri sendiri maupun orang lain. Baik dampak yang positif maupun dampak yang negatif. Dampak positif sebuah perkataan adalah menimbulkan harapan, keberanian, kepercayaan diri, ketenangan, dsj. Hasilnya bukan hanya dalam kejiwaan dan kesadaran melainkan badan dan kesehatan seseorang Sementara dampak negatif sebuah perkataan adalah menimbulkan kecemasan, ketakutan, ketidakpercayaan diri dsj.

Saya pun mendapatkan cerita lain dari istri saya ketika seorang temannya yang non Kristen juga pada suatu hari mengalami sakit di bagian belakang tubuhnya yang sangat menggangu dan menyakitkan. Dokter menyarankan untuk dilakukan sebuah tindakan operasi. Namun teman istri saya ini ketakutan dan enggan mengoperasikan penyakitnya karena takut gagal dan mengalami kematian. Ketika kami menyambangi, wajahnya terlihat lelah dan pucat serta terlihat lebih tua.

Istri saya memberikan nasihat dan penguatan bahwa tidak ada kasus operasi kecil demikian berakhir dengan kematian dan sayapun turut hadir memberikan dorongan untuk tenang dan berani menjalani operasi demi kesembuhan.

Akhirnya teman istri saya tersebut berani menjalani operasi dan sembuh dari penyakitnya. Pada suatu hari teman istri saya berterimakasih karena berkat mendapatkan kata-kata penghiburan dan dorongan maka dirinya berhasil menjalani operasi dan mengalami kesembuhan.

Jika sebuah perkataan yang kita sampaikan kepada seseorang membawa sebuah dampak – baik dampak positif maupun negatif – bukankah selayaknya kita menyampaiakan perkataan yang membangun, menimbulkan harapan, melihat segala sesuatu dengan lebih optimis, menimbulkan ketenangan dan keberanian?

Kita bisa menyampaikan perkataan yang membawa dampak positif jika kita sendiri telah menjadi orang yang senantiasa mendapatkan sentuhan perkataan yang positif. Darimanakah sumber perkataan positif itu? Tentu saja beragam sumber bisa kita dapatkan namun yang terutama sebagai orang beriman kita mempercayai bahwa Firman Tuhan dalam Kitab Suci adalah sumber kebaikan, kekuatan, penghiburan, keberanian, perlindungan.

Bukankah dikatakan, Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh (Mzm 119:130). Demikian pula dikatakan, Torah YHWH itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan YHWH itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman (Mzm 19:8). Oleh karena itu dengan kita melekatkan mata dan telinga kita kepada sabda-sabda Tuhan maka kita akan memancarkan ketenangan, keberanian, hikmat, kepercayaan diri. Pada gilirannya kitapun bisa membagikan kehidupan yang ada dalam diri kita kepada orang lain bukan?

Kembali kepada dampak sebuah perkataan. Di masa kini kita dapat melihat dan mendengar bagaimana orang-orang dengan mudahnya mengeluarkan perkataan negatif berupa hujatan, bullyng, tuduhan tidak berdasar, fitnah, hoax alias berita palsu, kemarahan dan ketersinggungan berujung saling melaporkan ke pihak berwajib bukan? Ruang publik dan ruang kesadaran kita dipenuhi dengan berita negatif akibat perkataan-perkataan negatif yang membawa aura kemarahan, kebohongan serta kecurigaan.

Marilah kita menjaga jarak dari kenyataan keseharian sekalipun tidak meninggalkan kehidupan keseharian berupa kewajiban yang harus dikerjakan. Yang dimaksudkan menjaga jarak dari kenyataan keseharian adalah menghindari terlibat dalam arus masa yang mudah tersinggung dan mengeluarkan perkataan hujat, perkataan dusta, perkataan jahat, perkataan kemarahan dsj.

Mari kita menebarkan pengaruh dan dampak yang baik melalui perkataan yang kita sampaikan kepada orang lain. Menjadi sumber kekuatan bagi mereka yang berputus asa. Menjadi inspirasi bagi mereka yang mengalami kebuntuan. Menjadi pendorong melakukan perubahan.

Kehidupan diperoleh dari menjalankan dua hal ini yaitu, נצר לשׁונך מרע - netsor leshonka mera’ (Jagalah lidahmu terhadap yang jahat) dan ושׂפתיך מדבר מרמה - usyefateka midaber mirmah (menjaga bibirmu terhadap ucapan-capan yang menipu), seperti dikatakan Mazmur 34:13-15 sbb, Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik? Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;  jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya!

Kiranya Kuasa Roh Kudus yang diberikan Sang Bapa melalui Sang Putra memampukan kita menabur dan menebar perkataan yang menghidupkan

 

No comments:

Post a Comment