Friday, July 17, 2026

PERIHAL KEKRISTENAN DAN KEBUDAYAAN (BAGIAN PERTAMA)

Sumber foto: https://www.worldatlas.com/

Beberapa tahun silam, saat saya mengundang beberapa teman untuk membuat kegiatan gereja di kediaman tokoh Pekabar Injil Jawa Abad-19 yang terkenal yang tinggal di Kutoarjo yaitu Kiai Sadrach. Di sebuah pendopo yang cukup luas tempat biasanya menerima tamu yang juga bisa dipergunakan sebagai tempat kegiatan keagamaan, terdapat beberapa ornamen gantung berupa kepala rusa. Begitu pula dengan hiasan senjata pusaka milik Wisnu dan Baladewa yang diwujudkan dalam sebuah pertemuan di atas puncak gereja. 

Beberapa orang dengan tatapan khas nampak melihat dengan nada menyelidik terhadap keseluruhan kompleks bangunan dan ornamen tersebut layaknya seseorang yang mencoba mengidentifikasi dengan kategori-kategori yang adalam pikirannya. Saya sudah tidak begiku ingat apa yang diucapkannya namun salah seorang memberikan penilaian yang negatif dengan keberadaan sejumlah ornamen yang di pasang di tiang pendopo dan mengaitkannya dengan sisa-sisa kepercayaan lokal yang tidak harus ada dalam Kekristenan.

Dalam kesempatan lain ketika saya menghadiri kegiatan budaya lokal di bulan Sura, ada yang bertanya, “Apakah kita sebagai orang Kristen diperbolehkan mengikuti kegiatan semcam ini?” dan “Bukankah kita seharusnya sudah meninggalkan semua aktifitas semacam ini karena sudah menerima Kristus?”

Kita mungkin pernah mendengar pertanyaan sedemikian dan masih banyak pertanyaan sejenis yang menghubungkan antara kekristenan dan kebudayaan bukan? Ada baiknya saya mengutip barang sejenak pandangan H. Richard Niebuhr (1894-1962) seorang teolog Kristen Amerika yang paling dikenal karena bukunya Christ and Culture (1951). Niebuhr adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam teologi kristen abad ke-20. Dalam bukunya Christ and Culture, Niebuhr menganalisis lima cara berbeda di mana orang Kristen telah berhubungan dengan budaya sbb, (1) Christ against culture (Kristus melawan budaya) yang secara garis besar sikap bermusuhan terhadap nilai-nilai dan pencapaian masyarakat (2) Christ of culture (Kristus dalam budaya) dimana budaya dipandang sebagai ekspresi kehadiran Kristus yang nyata dalam diri semua orang (3) Christ above culture (Kristus di atas budaya) hal mana menekankan keunikan Kristus, namun sintesis dengan budaya (4) Christ in culture of paradox (Kristus dan budaya dalam paradoks) yaitu hidup dengan ketegangan antara dua otoritas sampai Kristus kembali untukmeluruskannya, semacam sikap ganda, tetapi tanpa perpecahan (5) Christ the transformer of culture (Kristus sang pengubah budaya) , transformasi universal budaya oleh kuasa Kristus).

Bukan pada tempatnya kita akan membahas buku ini namun tipologi ini menolong kita dimana posisi kita berdiri dan dimana kita memilih mengambil posisi sebagai orang Kristiani terhadap budaya.

Dengan disadari atau tidak disadari, jenis kekristenan yang kita warisi memiliki latar belakang budaya darimana kekristenan itu diwartakan. Berbagai denominasi Kristen yang ada di Indonesia dimulai dari pewartaan negara asing baik yang sudah berjalan sejak era kolonial di Hindia Belanda dengan aktivitas zending (pekabaran Injil) maupun di era kontemporer. Masing-masing pewarta tersebut bukan hanya membawa Kabar Baik bahwa Yesus Sang Mesias (Kristus) adalah Junjungan Yang Ilahi dan Penebus serta barangsiapa yang percaya kepada-Nya akan memperoleh hidup kekal namun juga membawa budaya darimana mereka berasal.

Budaya itu terpantul dari bagaimana mereka berpakaian, bagaimana arsitektur bangunan didirikan, jenis alat musik yang dimainkan, ornamen apa yang harus dipajang, gaya menyampaikan kotbah, ekspresi dalam melantunkan pujian. Cara merayakan sebuah perayaan dengan berbagai ornamen dan pernak-perniknya. Kesemua ini adalah produk budaya masing-masing negara.

Tidak jarang kita memiliki pandangan bahwa ekspresi budaya yang membungkus pesan Injil tersebut sebagai bentuk kekristenan sejati, sehingga kita memandang lebih rendah ekspresi dan produk kebudayaan kita sendiri.

Jika kita membaca teks Kisah Rasul 17:16-34 saat mana Rasul Paulus berada di Athena, nampak kepada kita bahwa Paulus mewartakan Injil dengan menggunakan bingkai pemahaman dan kebudayaan orang-orang Athena. Hal ini memberikan teladan kepada kita untuk jeli memahami latar belakang sejarah dan konsep-konsep keagamaan masyarakat sehingga kita bisa membangun jembatan kebudayaan untuk mewartakan mengenai kabar keselamatan tanpa harus mendistorsinya.

Rasul Paulus membangun jembatan pemahaman dengan menggunakan apa yang tumbuh dalam kepercayaan dan budaya mereka tentang agnostho Theo (dewa yang tidak dikenal) dengan berkata, “Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Tuhan yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu” (Kis 17:23)

Dikisahkan, inskripsi Agnosto Theo dipahatkan atas petunjuk filsuf Epimenides, ketika bangsa Athena menghadapi bencana wabah yang mematikan. Rakyat Athena sudah meminta tolong kepada ribuan dewa yang patung-patungnya dideretkan di sekitar bukit Mars, tetapi hasilnya nihil. Wabah itu tetap melanda. Epimenides yang seorang Kreta, diminta oleh para tua-tua Athena untuk mengadakan perdamaian dengan salah satu dewa lagi. Epimenides berkata lantang, “Kalau ribuan dewa ini tidak mejawab doa-doa kita, kesimpulan logis saya, pastilah ada satu-satunya Dewa yang Mahakuasa, yang entahlah, kita tidak tahu siapa nama-Nya. Ya, kita benar-benar tidak mengenal Dia, yang namanya tidak kita ketahui, dan oleh karena itu tidak ada patung di kota ini yang mewakilinya. Yang kedua, bahwa Dia cukup berkuasa dan cukup baik hati untuk meredakan wabah ini, asal kita memohon bantuannya.".

Kemudian sang filsuf mengajak seluruh rakyat Athena memohon pertolongan dewa yang tidak dikenal itu. Akhir cerita orang-orang Athena membangun altar di Bukit Mars dengan memahatkan kata-kata Agnosto Theo pada sisi altar sesuai anjuran Epimenides. Kemudian setiap domba yang "sudah dibaktikan" itu mereka persembahkan sebagai kurban di atas altar yang menandai tempat hewan itu berbaring. Malam pun tiba. Pada waktu fajar keesokan harinya, cengkeraman maut wabah terhadap kota itu mulai melonggar. Dan dalam waktu seminggu orang-orang yang kena wabah itu berangsur-angsur sembuh. Penduduk Athena tak henti-hentinya memuji "Tuhan yang tidak dikenal" yang diperkenalkan oleh Epimenides itu.

Demikianlah kisah mengenai inskripsi bertuliskan Agnosto Theo yang dipergunakan Paulus untuk mewartakan Injil. Serentak dengan itu, Rasul Paulus menghadapkan pendengarnya pada Tuhan yang diwartakan Paulus yaitu, “Tuhan yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang” (Kis 17:24).

Rasul Paulus bukan hanya mewartakan Tuhan secara umum sebagai pencipta namun Tuhan yang mengutus Putra-Nya, Sang Sabda yang menjadi manusia yaitu Yesus Sang Mesias (Kristus) dengan berkata, “Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Tuhan memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat. Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi  dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati” (Kis 17:30-31)

Sekalipun ada yang menolak (Kis 17:33) namun ada pula yang menerima pemberitaan Paulus (Kis 17:34). Dalam bahasa Teologia Misi, apa yang dilakukan Rasul Paul bisa diistilahkan dengan kontekstualisasi. Kontekstualisasi bermakna mewartakan pesan Injil sesuai konteks sosial budaya setempat sehingga dengan mudah diterima dan penerima tidak merasa menjadi orang yang asing dan tercerabut dari kebudayaannya.

Sekalipun tidak semua ekspresi kebudayaan dapat dipergunakan dalam memuliakan Kristus, namun tindakkan memusuhi, mencurigai, merendahkan kebudayaan bangsa sendiri dan menggunakan kebudayaan bangsa lain serta menyamakanya dengan Injil dan Kekristenan adalah sebuah kekeliruan buah dari sesat fikir.

Jangan lupakan dan hapuskan akar budaya darimana kekristenan berasal sebelum menjangkau bangsa-bangsa yaitu dari Yudea, Yahudi, Yerusalem. Serentak  pula permuliakanlah Kristus dalam bingkai budaya kita sendiri, entahkah kita beretnis Jawa, Papua, Sulawesi, Aceh, Tionghoa dll.

No comments:

Post a Comment