Beberapa tahun silam, saat saya
mengundang beberapa teman untuk membuat kegiatan gereja di kediaman tokoh Pekabar
Injil Jawa Abad-19 yang terkenal yang tinggal di Kutoarjo yaitu Kiai Sadrach. Di
sebuah pendopo yang cukup luas tempat biasanya menerima tamu yang juga bisa
dipergunakan sebagai tempat kegiatan keagamaan, terdapat beberapa ornamen
gantung berupa kepala rusa. Begitu pula dengan hiasan senjata pusaka milik Wisnu
dan Baladewa yang diwujudkan dalam sebuah pertemuan di atas puncak gereja.
Beberapa orang dengan tatapan khas
nampak melihat dengan nada menyelidik terhadap keseluruhan kompleks bangunan
dan ornamen tersebut layaknya seseorang yang mencoba mengidentifikasi dengan
kategori-kategori yang adalam pikirannya. Saya sudah tidak begiku ingat apa
yang diucapkannya namun salah seorang memberikan penilaian yang negatif dengan
keberadaan sejumlah ornamen yang di pasang di tiang pendopo dan mengaitkannya
dengan sisa-sisa kepercayaan lokal yang tidak harus ada dalam Kekristenan.
Dalam kesempatan lain ketika saya
menghadiri kegiatan budaya lokal di bulan Sura, ada yang bertanya, “Apakah kita
sebagai orang Kristen diperbolehkan mengikuti kegiatan semcam ini?” dan “Bukankah
kita seharusnya sudah meninggalkan semua aktifitas semacam ini karena sudah
menerima Kristus?”
Kita mungkin pernah mendengar
pertanyaan sedemikian dan masih banyak pertanyaan sejenis yang menghubungkan
antara kekristenan dan kebudayaan bukan? Ada baiknya saya mengutip barang
sejenak pandangan H. Richard Niebuhr (1894-1962) seorang teolog Kristen Amerika
yang paling dikenal karena bukunya Christ
and Culture (1951). Niebuhr adalah salah satu tokoh paling berpengaruh
dalam teologi kristen abad ke-20. Dalam bukunya Christ and Culture, Niebuhr menganalisis lima cara berbeda di mana
orang Kristen telah berhubungan dengan budaya sbb, (1) Christ against culture (Kristus melawan budaya) yang secara garis
besar sikap bermusuhan terhadap nilai-nilai dan pencapaian masyarakat (2) Christ of culture (Kristus dalam budaya)
dimana budaya dipandang sebagai ekspresi kehadiran Kristus yang nyata dalam
diri semua orang (3) Christ above culture
(Kristus di atas budaya) hal mana menekankan keunikan Kristus, namun sintesis
dengan budaya (4) Christ in culture of
paradox (Kristus dan budaya dalam paradoks) yaitu hidup dengan ketegangan
antara dua otoritas sampai Kristus kembali untukmeluruskannya, semacam sikap
ganda, tetapi tanpa perpecahan (5) Christ
the transformer of culture (Kristus sang pengubah budaya) , transformasi
universal budaya oleh kuasa Kristus).
Bukan pada tempatnya kita akan
membahas buku ini namun tipologi ini menolong kita dimana posisi kita berdiri
dan dimana kita memilih mengambil posisi sebagai orang Kristiani terhadap
budaya.
Dengan disadari atau tidak disadari,
jenis kekristenan yang kita warisi memiliki latar belakang budaya darimana
kekristenan itu diwartakan. Berbagai denominasi Kristen yang ada di Indonesia
dimulai dari pewartaan negara asing baik yang sudah berjalan sejak era kolonial
di Hindia Belanda dengan aktivitas zending
(pekabaran Injil) maupun di era kontemporer. Masing-masing pewarta tersebut
bukan hanya membawa Kabar Baik bahwa Yesus Sang Mesias (Kristus) adalah Junjungan
Yang Ilahi dan Penebus serta barangsiapa yang percaya kepada-Nya akan
memperoleh hidup kekal namun juga membawa budaya darimana mereka berasal.
Budaya itu terpantul dari bagaimana
mereka berpakaian, bagaimana arsitektur bangunan didirikan, jenis alat musik
yang dimainkan, ornamen apa yang harus dipajang, gaya menyampaikan kotbah,
ekspresi dalam melantunkan pujian. Cara merayakan sebuah perayaan dengan berbagai ornamen dan pernak-perniknya. Kesemua ini adalah produk budaya
masing-masing negara.
Tidak jarang kita memiliki pandangan
bahwa ekspresi budaya yang membungkus pesan Injil tersebut sebagai bentuk
kekristenan sejati, sehingga kita memandang lebih rendah ekspresi dan produk
kebudayaan kita sendiri.
Jika kita membaca teks Kisah Rasul 17:16-34
saat mana Rasul Paulus berada di Athena, nampak kepada kita bahwa Paulus
mewartakan Injil dengan menggunakan bingkai pemahaman dan kebudayaan
orang-orang Athena. Hal ini memberikan teladan kepada kita untuk jeli memahami
latar belakang sejarah dan konsep-konsep keagamaan masyarakat sehingga kita
bisa membangun jembatan kebudayaan untuk mewartakan mengenai kabar keselamatan
tanpa harus mendistorsinya.
Rasul Paulus membangun jembatan
pemahaman dengan menggunakan apa yang tumbuh dalam kepercayaan dan budaya
mereka tentang agnostho Theo (dewa
yang tidak dikenal) dengan berkata, “Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu
dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah
dengan tulisan: Kepada Tuhan yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa
mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu” (Kis 17:23)
Dikisahkan, inskripsi Agnosto Theo dipahatkan atas petunjuk filsuf
Epimenides, ketika bangsa Athena menghadapi bencana wabah yang mematikan.
Rakyat Athena sudah meminta tolong kepada ribuan dewa yang patung-patungnya
dideretkan di sekitar bukit Mars, tetapi hasilnya nihil. Wabah itu tetap
melanda. Epimenides yang seorang Kreta, diminta oleh para tua-tua Athena untuk
mengadakan perdamaian dengan salah satu dewa lagi. Epimenides berkata lantang,
“Kalau ribuan dewa ini tidak mejawab doa-doa kita, kesimpulan logis saya,
pastilah ada satu-satunya Dewa yang Mahakuasa, yang entahlah, kita tidak tahu
siapa nama-Nya. Ya, kita benar-benar tidak mengenal Dia, yang namanya tidak
kita ketahui, dan oleh karena itu tidak ada patung di kota ini yang
mewakilinya. Yang kedua, bahwa Dia cukup berkuasa dan cukup baik hati untuk
meredakan wabah ini, asal kita memohon bantuannya.".
Kemudian sang filsuf mengajak seluruh
rakyat Athena memohon pertolongan dewa yang tidak dikenal itu. Akhir cerita
orang-orang Athena membangun altar di Bukit Mars dengan memahatkan kata-kata Agnosto Theo pada sisi altar sesuai
anjuran Epimenides. Kemudian setiap domba yang "sudah dibaktikan" itu
mereka persembahkan sebagai kurban di atas altar yang menandai tempat hewan itu
berbaring. Malam pun tiba. Pada waktu fajar keesokan harinya, cengkeraman maut
wabah terhadap kota itu mulai melonggar. Dan dalam waktu seminggu orang-orang
yang kena wabah itu berangsur-angsur sembuh. Penduduk Athena tak henti-hentinya
memuji "Tuhan yang tidak dikenal" yang diperkenalkan oleh Epimenides
itu.
Demikianlah kisah mengenai inskripsi
bertuliskan Agnosto Theo yang
dipergunakan Paulus untuk mewartakan Injil. Serentak dengan itu, Rasul Paulus
menghadapkan pendengarnya pada Tuhan yang diwartakan Paulus yaitu, “Tuhan yang
telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan
bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani
oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang
memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang” (Kis 17:24).
Rasul Paulus bukan hanya mewartakan Tuhan
secara umum sebagai pencipta namun Tuhan yang mengutus Putra-Nya, Sang Sabda
yang menjadi manusia yaitu Yesus Sang Mesias (Kristus) dengan berkata, “Dengan
tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Tuhan memberitakan kepada
manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat. Karena Ia telah
menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya,
sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan
membangkitkan Dia dari antara orang mati” (Kis 17:30-31)
Sekalipun ada yang menolak (Kis 17:33)
namun ada pula yang menerima pemberitaan Paulus (Kis 17:34). Dalam bahasa
Teologia Misi, apa yang dilakukan Rasul Paul bisa diistilahkan dengan
kontekstualisasi. Kontekstualisasi bermakna mewartakan pesan Injil sesuai
konteks sosial budaya setempat sehingga dengan mudah diterima dan penerima
tidak merasa menjadi orang yang asing dan tercerabut dari kebudayaannya.
Sekalipun tidak semua ekspresi
kebudayaan dapat dipergunakan dalam memuliakan Kristus, namun tindakkan
memusuhi, mencurigai, merendahkan kebudayaan bangsa sendiri dan menggunakan
kebudayaan bangsa lain serta menyamakanya dengan Injil dan Kekristenan adalah
sebuah kekeliruan buah dari sesat fikir.
Jangan lupakan dan hapuskan akar budaya
darimana kekristenan berasal sebelum menjangkau bangsa-bangsa yaitu dari Yudea,
Yahudi, Yerusalem. Serentak pula
permuliakanlah Kristus dalam bingkai budaya kita sendiri, entahkah kita
beretnis Jawa, Papua, Sulawesi, Aceh, Tionghoa dll.


No comments:
Post a Comment