Thursday, November 2, 2017

IBADAH PEKANAN GEREJA PERDANA

Yesus Sang Mesias dan Juruslamat kita beribadah pada hari sabat layaknya orang-orang Yahudi penganut Yudaisme pada zamannya, sebagaimana dikatakan, "Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Kitab Suci" (Luk 4:16). Bukan hanya Yesus namun rasul-rasul Yesus mewartakan Injil di sinagog tiap-tiap hari sabat sebagaimana dikatakan, "Dari Perga mereka melanjutkan perjalanan mereka, lalu tiba di Antiokhia di Pisidia. Pada hari Sabat mereka pergi ke rumah ibadat, lalu duduk di situ" (Kis 13:14. Band. Kis 13:27, 42, 44).


Secara gramatikal, Sabat memiliki makna, "ketujuh" dan "berhenti". Dalam Kejadian 2:2 disebutkan, dan Tuhan telah menyelesaikan semua yang diperbuat-Nya, pada hari yang ketujuh (yom ha sheviyi). Dan berhentilah (wayishbot) Dia pada hari yang ketujuh dari semua yang diperbuatnya”. Ada  hubungan antara kata sheviyi (ketujuh) dan yishbot (beristirahat), yang berakar dari kata shin-bet-taw yang bermakna "menghentikan", "mengakhiri", "beristirahat" (Tracey R. Rich, Shabat - http://www.jewfaq.org/shabbat.htm).

Secara essensial, Sabat dihubungkan dengan karya penciptaan YHWH. Ketika YHWH menyelesaikan proses penciptaan langit dan bumi serta isinya, Dia melanjutkan dengan "memberkati" dan "menguduskan" hari ketujuh, dimana Dia mengakhiri proses penciptaan (Kej 2:3). Sabat adalah hari yang diperkenan atau diberkati serta dikuduskan atau dipisahkan secara khusus dari hari-hari yang lain.
  
Yang menarik untuk kita perhatikan, jika pada kata "berhenti", dalam Kejadian 2:2 dan kata "memberkati" serta "menguduskan" dalam Kejadian 2:2 digunakan bentuk kata imperfect (menunjukkan pekerjaan yang belum diselesaikan, sedang berlangsung), maka kata "berhenti" dalam Kejadian 2:3 digunakan bentuk perfect yang bermakna, "menunjuk pada suatu kejadian yang sudah dikerjakan,lengkap"(Prof. Harvey E. Finley, Ph.D. Biblical Hebrew: A Beginner Manual, Beacon Hill Press of Kansas City, 1982, p.75).

Hal ini bermakna bahwa YHWH Sang Pencipta telah menyelesaikan pekerjaan penciptaan tersebut dalam perspektif historis. Hari ini YHWH tidak menciptakan apapun. Hari ini, YHWH bertanggung jawab (mengawasi, mengatur, mengontrol) proses regenerasi (kelahiran) dan bukan kreasi (penciptaan) pada mahluk hidup, baik manusia, hewan maupun tumbuhan.

Pengkajian Kejadian 2:2-3 memberikan petunjuk pada kita bahwa Sabat bukan semata-mata ibadah yang secara ekslusif dihubungkan dengan keberadaan orang Yahudi atau Bangsa Israel kuno. Sabat merupakan pola Sang Pencipta yang ditetapkan sebagai hari peringatan untuk perhentian dan menghormati hari yang diberkati serta dikuduskan oleh-Nya. Kelak, ketika YHWH memilih suatu bangsa untuk menjadi saksi dan terang Firman-Nya, yaitu Israel, maka YHWH berbicara melalui Musa, bahwa Sabat dihubungkan sebagai proses peringatan terhadap pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir (Ul 5:12, 15).

Apakah Yesus Sang Mesias membatalkan Sabat?

Jika Sabat adalah hari mulia dan diberkati dimana Yesus dan para rasul-Nya memelihara hari sabat sebagai hari peribadatan, lalu mengapa kita mendapati dalam Yohanes 5:18 pernyataan, “dia meniadakan hari Sabat?”. Kita lihat secara utuh baik teks maupun konteks perikop agar narasi ini dapat dipahami secara utuh. Narasi Yohanes 5:1-18, mengisahkan bahwa Yeshua menyembuhkan seorang yang lumpuh selama tiga puluh delapan taahun saat berada di kolam Betesda pada hari Sabat (Yoh 5:5-9). Orang Yahudi marah karena Yesus menyembuhkan orang di hari Sabat (Yoh 5:16). 

Namun komentar Yohanes yang disalin dalam teks Greek berbunyi, "...luen ton sabbaton", banyak diartikan, "dia meniadakan Sabat". Kata Luo memiliki beragam makna sbb : “membuka” (Mk 1:7), “dilepaskan” (Lk 13:16), “dipukul” (Kis 27:41), “berakhir” (Kis 13:43), “meniadakan”, “melanggar” (Mt 5:19; Yoh 5:18), “mengikat”, “melepas” (Mt 16:19; 1Yoh 4:3), “melepaskan” (Kis 2:24), “membinasakan” (1Yoh 3:8). 

Kata Luo, dapat juga diartikan "mengijinkan" (permit) dan "melaksanakan kekuasaan" (exercise authority). Dalam Orthodox Jewish Brit Chadasha kalimat, "...luen ton sabbaton", diterjemahkan “he not shomer Shabbos” bermakna, “Dia tidak memelihara Sabat”. DR. James Trimm dalam terjemahan yang bersumber dari naskah Ibrani Aramaik yaitu Hebraic Root New Testament, menerjemahkan sbb,“…because he has loosed the Shabath”. Dalam catatan kaki kata “loosed”, beliau memberi keterangan bahwa kata tersebut merupakan idiom Yahudi yang bermakna “mengijinkan” (Ber. 5b;6b, San. 28a, b.Hag 3b). 

Sejatinya, istilah “mengikat” dan “melepaskan” telah dikenal sebagai ekspresi hukum teknis (technical legal expressions) di dunia Yahudi kuno. “Mengikat” bermakna “membatasi”, “menghalangi” dan dalam pengertian hukum “melarang sesuatu”. Di sisi yang berlawanan kata “melepaskan” bermakna “membebaskan”, “membuka ikatan” yang menurut hukum berarti “mengizinkan sesuatu”. 

Berikut ini contoh dari sejarawan Yahudi Abad I Ms bernama Flavius ​​Josephus. Dia menulis bahwa di bawah pemerintahan Ratu Alexandra dari Yerusalem, orang-orang Farisi "menjadi administrator dari semua urusan publik, diberdayakan untuk mengusir dan mengijinkan siapapun yang mereka sukai, juga untuk melepaskan dan mengikat”. (Jewish War 1: 110). 

Yosefus mengatakan bahwa orang-orang Farisi memiliki wewenang untuk “melepaskan dan mengikat” dan bukan mengenai setan. Ketika Yesus menggunakan terminologi ini di dalam Injil, dia juga tidak sedang berbicara tentang doa atau peperangan rohani. Konteksnya keabsahan dan persyaratannya harus ditafsirkan melalui konteks Yahudi Abad 1 Ms. 

Idiom Ibrani yang merupakan istilah khas dalam diskusi rabinik tersebut muncul kembali dalam Injil Matius saat Yesus berkata kepada muridnya Petrus, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” (Mat 16:19). Pada rangkaian pasal berikutnya dia mengucapkan kata-kata yang sangat mirip dengan murid-muridnya yang lain, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” (Mat 18:18). 

Sama seperti orang-orang Farisi dalam kutipan Yosefus, para murid diberi hak untuk membuat ketetapan hukum yaitu hak untuk membuat peraturan dan norma, “mengijinkan” atau “melarang” berbagai persoalan di komunitas mereka sendiri. Demikianlah istilah "...luen ton sabbaton",(Yoh 5:18) harus dipahami dalam konteks pemahaman Yudaisme yaitu “melanggar aturan di seputar Sabat” bukan “membatalkan Sabat” sebagaimana terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)

Konteks kalimat dalam Yohanes 5:18 bukan dalam pengertian bahwa Yeshua membatalkan atau meniadakan Sabat, namun Yesus mengijinkan terjadinya terapeutik (penyembuhan) dihari Sabat, sehingga membawa konsekwensi melanggar aturan diseputar Sabat. Segolongan para rabbi memandang peristiwa terapeutik tersebut telah melanggar Sabat namun bagi Yesus, menolong orang (menyembuhkan) tidaklah melanggar Sabat dikarenakan tidak masuk dalam kategori melaka atau avad maupun asha atau pekerjaan yang menghasilkan profit. Bahkan terapeutik tidak masuk dalam kategori yang disebutkan sebagai pelanggaran Sabat yang tertulis dalam Misnah Sabat 7:2 sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Apa yang dilakukan Yesus menggemakan apa yang disabdakannya dalam Lukas 13:15.

Apakah Jemaat Perdana Menggantikan Sabat Menjadi Minggu?

Kalimat, "Pada hari pertama minggu itu,..."(Kis 20:17). mengesankan bahwa sakramen Perjamuan Kudus dilaksanakan tiap-tiap hari minggu sebagaimana lazim dilakukan di beberapa denominasi gereja tertentu. Mari kita baca secara utuh teks dan kontek narasi Kisah Rasul 20 dengan seksama agar kita mendapatkan gambaran apa yang sebenarnya dilakukan oleh Rasul Paul pada saat itu. 

Dalam naskah Yunani dituliskan, "en de te mia ton sabbaton sunegmenon hemon klasai arton Paulos dielegeto hautois". Menariknya, dalam naskah Yunani tertulisn kata sabat, namun hilang dalam terjemahan LAI. Frasa "en de te mia ton sabbaton..” selayaknya diterjemahkan “Pada hari pertama usai Sabat itu…”. Frasa "en de te mia ton sabbaton..”  menurut DR. David Stern, menunjuk pada “motsaei shabat” atau “Departure of the Shabat” (Sabat yang sebentar hendak berlalu - Jewish New Testament Commentary, JNTP, 1992, p.299)

Dalam Ortodox Jewish Brit Chadasha, diterjemahkan: “And on Yom Rishon, when we met for a firen tish (it was Motzoei Shabbos when there was a Melaveh Malkeh communal meal), Rav Sha'ul was saying a shiur to them, since he would have to depart early the next day and was having to extend the message until chatzot halailah”. Maka pertemuan yang diadakan Paul sebenarnya dalam rangka penutupan Sabat  yang diakhiri pukul 19.00. Sebelumnya telah dimulai suatu pertemuan. Lalu dilanjutkan sampai malam. Ini bukan pertemuan istimewa yang menggantikan Sabat sebagaimana anggapan Kekristenan pada umumnya. DR. David Stern melanjutkan memberi komentar: "Pertemuan Sabtu malam akan melanjutkan semangat sabat yang berorientasi pada Tuhan, daripada membirkan orang-orang beriman mengalihkan perhatian mereka dari berbagai hal mengenai kerja, seperti yang akan terjadi pada Minggu malam”(Ibid)

Konteks Kisah Rasul 20:7 membicarakan mengenai persinggahan Paul dari kegiatan pelayanan di Makedonia, Siria, Filipi dan Troas (Kis 20:1-6). Usai ibadah Sabat di Troas, Paul berbincang-bincang sampai larut malam, sebelum keesokkan harinya berangkat ke Asos, Metilene, Khios, Miletus, Efesus, sebelum kembali ke Yerusalem (Kis 20:13-16). Kata dielegeto yang dihubungkan dengan ucapan Paul bukan berkategori kotbah namun setara dengan “berdiskusi”, “berdebat”, “berbicara” (Mrk 9:34, Kis 17:2, Kis 17:17).

No comments:

Post a Comment