Thursday, October 27, 2022

MENIKMATI HIDUP

https://someonewise.blog

Kitab Pengkotbah, dalam bahasa Ibrani disebut Qohelet. Sebagaimana pada Pasal 1:1 kitab ini memperkenalkan sbb: דברי קהלת בן־דוד מלך בירושׁלם Divre Qohelet ben Dawid melek birushaim (Inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem). Dalam Kitab Septuaginta yaitu Torah, Neviim, Ketuvim (TaNaKh) dalam bahasa Yunani diterjemahkan Ecclesiastes yang artinya “orang yang berkumpul” dari akar kata “memanggil”.

Kata Qohelet sendiri memiliki sejumlah makna yaitu: (1) orang yang mengumpulkan pendengar, sehingga disebut sebagai guru, pengkhotbah, pendebat, dll. (2) kiasan untuk orang yang mengumpulkan kebenaran, seorang filsuf atau orang bijak (3) orang yang mengumpulkan pendapat berbeda dan memutuskan mana yang lebih akurat

Kitab Pengkhotbah, seperti Kitab Ayub, harus ditafsirkan secara keseluruhan. Ini adalah fokus berkelanjutan pada ketegangan eksistensi manusia. Pengkotbah selalu menggunakan frasa תחת השׁמשׁtakhat hashemesh (di bawah matahari) untuk menggambarkan persoalan-persoalan eksistensial yang dihadapi manusia dalam keseharian seperti penderitaan, pekerjaan, harapan, kematian, hikmat Tuhan.

Demikian pula saat kita membaca Pengkotbah 9:1-12, kita diajak untuk memahami kehidupan keseharian dengan penuh hikmat. Salah satunya adalah mengenai kesamaan nasib manusia (מקרה אחד -miqreh ekhad). Entahkah orang benar orang fasik atau orang najis dan orang tahir serta orang jujur orang pendusta semua bernasib sama. Lho? Jika nasib manusia sama lantas untuk apa menjadi saleh dan benar serta kudus? Untuk apa menjadi orang jujur dan berdedikasi jika nasib manusia ternyata sama?

Pernyataan bahwa nasib manusia sama (Pengk 9:2-3) bukan hendak mengajarkan bahwa tidak perlu menjadi orang saleh dan jujur namun ayat ini sebenarnya hendak menghadapmukakan setiap orang pada sebuah kenyataan hidup yang tidak bisa dihindari entahkan dia saleh atau fasik, jujur atau dusta yaitu bahwa manusia itu berpotensi menerima kenyataan yang pahit dan bukan hanya kenyataan yang manis belaka. Itulah sebabnya dikatakan dalam Pengkotbah 9:12 sbb, “Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba”

Apa yang dimaksudkan dengan לעת רעה - le’et ra’ah (waktu malang)? Itu bisa berarti sakit penyakit, kehilangan pekerjaan, menjadi korban fitnah, menjadi korban penipuan, mengalami kecelakaan bahkan kematian. Siapakah yang dapat menghindari semua itu dan memilih hanya satu bentuk kehidupan yaitu keberuntungan? Bahkan kita sebagai orang Kristen atau anak-anak Tuhanpun tidak pernah dijanjikan untuk hanya menjalani satu model kehidupan yaitu keberhasilan dan keberuntungan saja

Ingatlah sabda Tuhan dalam Yesaya 45:6-7 yang berkata: “Supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya,   bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah YHWH dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap,  yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah YHWH yang membuat semuanya ini"

Ingatlah sabda Tuhan melalui rasul Paulus dalam Roma 8:28 yang berkata: “Kita tahu sekarang, bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil  sesuai dengan rencana  Tuhan”

Dari penjelasan inilah kita sekarang dapat memahami bahwa nasib manusia itu sama, tidak bisa menghindari “waktu kemalangan” dan sewaktu-waktu dapat menghampiri kehidupan kita dan mengganggu kenyamanan perjalanan iman kita.

Jika nasib manusia sama – entah orang benar atau orang fasik – yaitu berpotensi mengalami “waktu kemalangan” lantas apa yang membedakan antara orang benar dan orang tidak benar dalam menyikapi situasi tersebut? Pertama, ראה חיים - Reeh khayim alias menikmati kehidupan yang diberikan kepada kita sebagaimana dikatakan, “Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia, yang dikaruniakan YHWH kepadamu di bawah matahari, karena itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang engkau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari” (Pengk 9:9). Nikmatilah kehidupan yang ada dihadapan kita dan yang saat ini kita jalani, entah suka atau duka, entah menyenangkan atau menyedihkan. Jalani dan hadapi serta nikmati saja karena inipun adalah karunia YHWH kepada kita

Jangan sampai tersandera oleh rutinitas hidup, baik itu pekerjaan ataupun permasalahan. Kita harus bisa menikmati hidup sekalipun kita mungkin disibukkan oleh rutinitas pekerjaan ataupun dihantam persoalan yang membebani.

Kedua, כל אשׁר תמצא ידך לעשׂות בכחך  -  Kol asher timtsa yadka la’asyot bekokhaka (Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga –Pengk 9:10). Sekalipun kita diperhadapkan pada kenyataan yang sama yaitu sama-sama tidak bisa menghindari “waktu kemalangan” yang tidak pernah kita tahu kapan kita hadapi, namun janganlah membuat kita menyerah pada nasib begitu saja. Kita harus aktif berkarya dan bekerja untuk memperbaiki kehidupan selain untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan keseharian kita

Dua perkara inilah yaitu “menikmati hidup” dan “mengerjakan apapun yang bisa dikerjakan” yang harus dilakukan oleh anak-anak Tuhan “dibawah matahari”, sekalipun suatu saat “waktu kemalangan” akan menghadang. Menatap kehidupan dan menghadapinya dengan sukacita, penuh penyerahan pada kuasa surgawi serta keberanian.

No comments:

Post a Comment