Monday, December 19, 2022

KHANUKAH DAN KEAJAIBAN

https://stock.adobe.com

Hampir semua orang yang pernah mengenyam pendidikan tentu mengenal nama Alexander Agung, sekalipun belum tentu dapat menceritakan secara kronologis. Aleksander III dari Makedonia, atau lebih dikenal dengan sebutan Aleksander Agung atau Megas Alexandros dalam bahasa Yunani (21 Juli 356 sM – 10 atau 11 Juni 323 sM), adalah anak dari Raja Philip II dari Makedonia.

Aleksander naik tahta sebagai raja pasca mangkatnya sang ayah pada 336 sM dan perlahan namun pasti mulai menaklukan sebagian besar wilayah dunia yang dikenal pada masanya. Gelar “Agung” (Megas) setelah namanya menyatakan pengakuan baik atas kejeniusan militer maupun kecakapan diplomatis Aleksander ketika berhadapan dengan bermacam ragam masyarakat asli dari wilayah yang ditaklukkan.

Alexander belajar filsafat Yunani mulai usia 14 tahun selama tiga tahun dari filsuf terkemuka Aristoteles. Ini turut membentuk karakternya di masa depan. Aleksander memiliki sejumlah prestasi dan reputasi sebagai penyebar budaya, bahasa, serta pemikiran (filosofis) Yunani di sepanjang wilayah Asia Kecil, Mesir, Mesopotomia hingga India, sekaligus sebagai penggerak awal dimulainya era yang disebut sejarah dengan “Dunia Helenis (Hellenistic World)”.

Aleksander Agung menyebarluaskan kebudayaan Yunani - termasuk di dalamnya bahasa Yunani ke semua wilayah yang ditaklukannya. Hasilnya adalah, beberapa unsur yang berasal dari Yunani digabung dalam bentuk yang bervariasi dengan unsur lain dari peradaban daerah yang dikuasai, yang dikenal dengan Helenisme. Pada zaman Helenistik, bangsa Makedonia, sepeninggal Aleksander Agung, melakukan Helenisasi bangsa Syria, Yahudi, Mesir, Persia, Armenia dan sejumlah kelompok etnik lain yang lebih kecil di sepanjang Timur Tengah dan Asia Tengah.

Sepeninggal Raja Alexander Agung, kerajaan Yunani terpecah menjadi 4 bagian dipimpin oleh para penerusnya (Diadochi): Asia Kecil (diperintah oleh wangsa Antigonus), Makedonia (diperintah wangsa Kasander), Mesir (diperintah wangsa Ptolemaus), dan Siria (diperintah wangsa Seleukus).

Pada mulanya Israel (Yehuda) menjadi bagian dari Mesir yang dipimpin Ptolemaus. Raja Ptolemeus memberi toleransi kepada bangsa Yahudi untuk menjalankan ibadah mereka, bahkan memerintahkan agar Kitab Suci TaNaKh diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani yang kelak disebut Septuaginta.

Namun pada tahun 167 sM Raja Antiokhus IV Epifanes dari Siria menyerbu dan menaklukkan Mesir, sehingga Israel (Yehuda) menjadi daerah kekuasaan Siria. Antiokhus IV Epifanes mengampanyekan budaya Yunani sebagai budaya nasional, sehingga semua tradisi, agama, dan budaya lokal dilarang, termasuk budaya dan agama Yahudi. Dimulailah sebuah periode dimana bangsa Yahudi mengalami banyak penindasan, mulai dari larangan beribadah Sabat, mempersembahkan kurban, melaksanakan sunat, dan ketetapan ibadat lainnya. Barangsiapa yang melawan perintah raja akan dihukum mati. Puncak kebuasan Antiokhus Epifanes terjadi ketika dia meletakkan patung Zeus di atas mezbah Bait Suci.

Pada tahun 165 sM bangsa Yahudi memberontak kepada Siria di bawah pimpinan imam Matatias (Matisyahu) beserta kelima puteranya: Yohanes, Simon, Yudas (Yehudah), Eleazar dan Yonatan (Yonason). Setelah Matatias meninggal, Yudas (Yehudah) yang dikenal dengan nama Makabi menggantikan posisi ayahnya sebagai panglima perang. Kata "Maccabaeus" adalah kata Yunani untuk “Makabi” alias palu, namun orang Yahudi mengartikannya sebagai singkatan dari empat huruf pertama dalam Keluaran 15:11 yaitu “mi kamoka baelim YHWH?” yang berarti, "Siapakah yang seperti Engkau diantara para ilah ya YHWH?" — yang diucapkan oleh Musa dan orang-orang setelah orang Mesir tenggelam secara ajaib di Laut Teberau.

Pada tahun 164 sM pasukan Yahudi di bawah pimpinan Yehudah Makabe berhasil merebut kembali Yerusalem dan menahirkan Bait Suci. Benteng Antonius berhasil direbut. Ketika hari sudah gelap menjelang malam, hendak dinyalakan api di menorah. Menurut aturan Torah, api di Bait Suci hanya dapat dinyalakan dengan minyak zaitun murni yang disiapkan secara khusus. Namun minyak yang tersisa hanya cukup untuk dibakar selama satu hari, dan butuh delapan hari untuk menghasilkan minyak murni baru.

Keajaiban terjadi, saat menorah dinyalakan justru tetap menyala selama delapan hari. Peristiwa ini diabadikan menjadikan perayaan Khanukah alias Pentahbisan Bat Suci. Itulah sebabnya Khanukah berlangsung selama delapan malam. Perayaan Khanukah dilaksanakan pada tanggal 25 bulan kesembilan (Kislew) dan berlangsung selama delapan hari lamanya. Kisah kepahlawanan Yehudah Makabi tertulis dalam Kitab II Makabi dan masuk dalam daftar kanon Kitab Suci yang dimiliki umat Katolik.

Yesus Sang Mesias dan Juruslamat kitapun tercatat dalam Yohanes 10:20-23 merayakan Khanukah sebagaimana dikatakan: “Tidak lama kemudian tibalah hari raya Pentahbisan Bait Tuhan di Yerusalem; ketika itu musim dingin. Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Tuhan, di serambi Salomo”. Complete Jewish Bible menerjemahkan Yohanes 10:20-23 sbb, ”Then came Hanukkah in Yerushalayim. It was winter and Yeshua was walking around inside the temple area, in Shlomo’s Colonnade”

Apakah orang Kristen perlu merayakan Khanukah? Jika dilihat dari konteks historisnya, perayaan ini memang lebih dekat secara emosionil dengan bangsa Yahudi. Namun karena Yesus Sang Juruslamat kitapun merayakan dan pada saat itulah beliaupun menegaskan makna kehadiran-Nya sebagai Mesias saat orang-orang meminta kepastian mengenai siapa diri-Nya (Yoh 10:25), maka perayaan ini relevan dirayakan selain Natal 25 Desember.

Dengan merayakan Khanukah, umat Kristiani menegaskan keyakinanya bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan dalam TaNaKh. Dengan merayakan Natal 25 Desember, umat Kristiani mengenang apa yang secara tradisional diyakini sebagai hari kelahiran Yesus Sang Mesias sekalipun dalam teks Injil tidak menuliskan perihal penanggalannya.

Bagi orang Yahudi, perayaan Khanukah disebut juga festival cahaya dan perayaan keajaiban karena minyak yang senyatanya tersedia hanya cukup menyalakan untuk sehari ternyata cukup sampai delapan hari.

Bukankah kita selalu mendambakan keajaiban? Ketika kita mengalami kebangkrutan akut, sakit penyakit yang merusak tubuh, kondisi keuangan yang rendah, tempat pendidikan yang diimpikan dan masih banyak hal lagi yang dapat kita sebutkan

Melalui perayaan Khanukah, kita berbagi sukacita dengan kemenangan sejarah yang dialami bangsa Yahudi yang berhasil mengalahkan penjajah dan sekaligus menegaskan posisi iman Kristiani bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan sekaligus momentum memohonkan keajaiban dan intervensi Ilahi untuk menyentuh kehidupan kita yang mungkin saat ini sedang dalam situasi sulit.

Keajaiban Tuhan tetap tersedia sebagaimana Tuhan tetap ada selamanya. Mazmur 77:14 berkata, אתה האל עשׂה פלא הודעת בעמים עזך - Attah ha El osheh pele, hoda’ta ba’amid uzeka (Engkaulah Tuhan yang melakukan keajaiban; Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa)

No comments:

Post a Comment