Monday, November 20, 2023

YANG TERJADI TERJADILAH


Sumber gambar: picsart.app.link

Barangkali mereka yang menggemari lagu-lagu Barat lama pernah mendengar lagu yang berjudul, Que sera, sera yang artinya “yang terjadi, terjadilah”. Lagu Que Sera Sera dinyanyikan oleh Doris Day (meninggal 13 Mei 2019 dalam usia 97 tahun) dan hadir di tahun 1956  dalam film The Man Who Knew Too Much.

Lagu ini menceritakan perihal kekuatiran seorang anak terhadap masa depannya. Sang ibu yang ditanya oleh putrinya kemudian menjawab bahwa baik dirinya maupun sang anak tak bisa meramal masa depan.

Berikut petikan syair lagunya:

When I was just a little girl

Ketika masih kecil dulu

I asked my mother

Kutanya ibu

What will I be

Kelak ku 'kan jadi apa

Will I be pretty

Akankah aku jadi perempuan cantik

Will I be rich

Akankah aku jadi orang kaya

Here's what she said to me

Beginilah jawabnya

 

Que sera, sera

Whatever will be, will be

Apapun yang kan terjadi, terjadilah

The future's not ours to see

Kita tak tahu yang kan terjadi di masa depan

Que sera, sera

What will be, will be

Apapun yang kan terjadi, terjadilah

Dari petikan syair lagu di atas kita mendapatkan kenyataan bahwa masa depan bukan untuk diketahui saat ini karena kita tidak mengerti apa yang akan terjadi di masa depan. The future's not ours to see (masa depan bukan untuk kita lihat). Yang harus kita lakukan adalah keyakinan dan keberanian untuk menghadapi kehidupan di masa kini untuk memasuki masa depan.

Oleh karena ketakutan pada masa depan, sejumlah orang berusaha bertanya pada para peramal yang meramal dengan sejumlah media, mulai dari bola kristal, kartu tarot, daun-daun teh dalam gelas dan sejumlah media lainnya.

Kita tentu masih ingat mengapa Raja Saul mencari pemanggil arwah di En Dor bukan (1 Samuel 28:1-7)? Dia takut akan masa depan diri dan legacy-nya yang terancam oleh popularitas Daud.

Beberapa hari lalu kita dikejutkan dengan kasus bunuh diri yang menimpa seorang mahasiwi kedokteran sebuah universitas ternama di Surabaya. Perempuan berusia 21 tahun itu pernah mengungkapkan kepada temannya melalui pesan whatsapp dan mengaku bahwa dirinya takut tidak bisa sukses di masa depan hingga takut tidak mempunyai kekasih.

Haruskah kita takut dan kuatir dengan masa depan? Tidak mudah menjawab pertanyaan tersebut. Tidak sesederhana dengan menjawab “ya” atau “tidak”. Bagaimanapun masa depan adalah suatu keadaan yang harus difikirkan sejak sekarang karena apa yang terjadi di masa depan sedikit banyak dipengaruhi oleh apa yang kita kerjakan di sini dan di masa kini.

Namun jika masa depan sedikit banyak dipengaruhi (bukan “ditentukan” lho ya?) apa yang kita kerjakan di sini dan di masa kini, lantas mengapa kita tidak memfokuskan dengan memaksimalkan apa yang bisa kita kerjakan di masa kini?

Ya, kita sebaiknya memfokuskan pada apa yang bisa kita lakukan dengan semaksimal mungkin di masa kini tinimbang terpenjara dan dibayangi ketakutan pada apa yang belum tentu terjadi di masa depan. Bukankah telah disabdakan, “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi YHWH Tuhan  kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini” (Ulangan 29:29)

Jika kita harus memfokuskan energi kita dan memaksimalkan semua potensi dan sumber daya kita untuk menghadapi kehidupan di sini dan di masa kini, lantas kekuatan seperti apa yang kita butuhkan dan seberapa besar yang kita perlukan?

Kekuatan yang kita perlukan hanyalah kerelaan, keikhlasan, keberanian menerima apapun yang terjadi dalam hidup, baik atau buruk, suka atau duka. Kita selalu menjawab “ya” pada seluruh situasi kehidupan.

Kita belajar dari sikap Yesus Sang Mesias dan Juruslamat kita saat berdoa di Taman Getsemani menjelang penangkapan dan penyaliban yang harus dialami-Nya. Dia berdoa demikian, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu  dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39)

Sebagaimana Yesus mempersilahkan kehendak Bapa-Nya yang harus terjadi pada diri-Nya melalui peristiwa yang menyakitkan, demikianlah kita mengembalikan segala sesuatu yang kita jalani hari ini pada Tuhan. Jika Dia berkehendak memberikan kebahagiaan, berkat dan kelimpahan melalui cara yang menyakitkan dan merugikan dalam hidup kita, maka biarlah kita berkata seperti Yesus, “janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki”

Kita tidak perlu tergoda dan merisaukan apa yang akan terjadi di masa depan jika kita telah berupaya semaksimal mungkin memfokuskan energi hidup di sini dan masa kini. Baiklah kita berdoa dan berpengharapan bahwa dibalik semua yang telah kita kerjakan dan apapun yang kita alami saat ini, kehendak Tuhan sedang dinyatakan pada diri kita.

Berkatalah que sera-sera alias yang terjadi terjadilah dalam hidup kita, asalkan itu semua seperti yang Dia kehendaki. Kita berkata que sera-sera bukan karena kita menjalani hidup asal-asalan atau bagaimana nanti namun dengan sebuah pengharapan bahwa yang terjadi biarlah terjadi sesuai kehendak Tuhan.

 


No comments:

Post a Comment