Sunday, November 20, 2011

JULUKAN “KURIOS” BAGI YESUS: TUAN ATAU TUHAN? (2)

Bagian Kedua

Dalam bagian pertama tulisan ini, kita telah mengkaji secara kritis bahwa sebutan Kurios atau Adon bagi Yesus selayaknya diterjemahkan dengan Tuan atau Junjungan Agung. Konsekswensi logis dari pemahaman di atas, bahwa “Tuan Yesus dapat mengalami kematian sebagai manusia”, “Tubuh Tuan Yesus yang mati, dapat dikafani”. Artinya, Sang Firman yang telah menjadi manusia itu yang dijuluki “Tuan”, benar-benar logis jika mengalami kematian dan mayatnya dikafani. Namun jika “Tuhan mati” atau “mayat Tuhan dikafani”, maka akan menimbulkan pelecehan terhadap Tuhan Semesta Alam dan merendahkan hakikat-Nya yang kekal dan tidak nampak.

Apakah dengan menyebut Yesus sebagai “Tuan” atau “Junjungan Agung”, kita merendahkan hakikat Yesus yang adalah “Firman Tuhan?” apakah kita menyangkal Ketuhanan-Nya? Sekali-kali tidak! Dengan menyebut Yesus sebagai “Tuan”, kita menegaskan bahwa Dia merupakan pribadi atau sosok yang berkuasa, baik di bumi maupun di Sorga. Dengan menyebut Dia “Tuan”, kita menempatkan secara tepat panggilannya dalam kaidah tata bahasa. Dengan menyebut Yesus “Tuan”, kita menghilangkan skandalon (batu sandungan) terhadap komunitas Islam yang memiliki anggapan bahwa beberapa orang Kristen telah menyamakan begitu saya Isa dengan Allah yang dianggap sebagai Tuhan Pencipta.


Jika kita tidak meluruskan kerancuan penggunaan gelar “Tuhan” bagi Yesus, maka dalam pembacaan teks Kitab Suci, akan menimbulkan kekacauan terminologis an kekacauan teologis. Contoh berikut dapat memberikan gambaran. Lembaga Alkitab Indonesia menerjemah 1 Korintus 8:6 sbb: “Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup”. Di mana letak kerancuan tersebut? Dalam pemikiran seluruh penduduk Indonesia, khususnya komunitas Islam, “Allah” adalah nama diri atau personal name dari Tuhan Pencipta (Qs 20:14). Sementara istilah “Tuhan” adalah salah satu gelar penghormatan yang menekankan sifat kekuasaan Allah (Qs 49:26). Islam membedakan antara istilah “Ilah” dengan “Allah”. Allah adalah nama dari Ilah yang disembah kaum Muslim. Gelar lain yang setara dengan “Ilah” adalah “Rabb” yang diterjemahkan dengan “Tuhan” (Qs 19:36). Maka ketika pembaca Islam membaca teks 1 Korintus 8:6 menjadi binggung. Karena bagi mereka, Allah adalah Tuhan yang berhak menerima penyembahan dari umat-Nya. Penyebutan Yesus secara langsung dengan sebutan “Tuhan” (Rabb) tentu saja menimbulkan sandungan.

Jika kita membaca teks Aramaik dan Yunani 1 Korintus 8:6, maka dibedakan antara frasa, khad hu Elaha - eis Theos dan frasa wekhad Marya Yeshua -eis Kurious Iesous. Perhatikan istilah Aramaik Elaha dan Marya serta istilah Yunani  Theos dan Kurios. Sangat jelas bahwa sebutan Elaha atau Theos ditujukan pada Bapa yang Roh ada-Nya dan sebutan Marya atau Kurios ditujukan kepada wujud manusia Yesus sebagai penjelmaan Firman. Dan sebutan Marya maupun Kurios, seharusnya diterjemahkan “Tuan”, sekalipun sebutan itu dapat ditujukan pada Pencipta maupun ciptaan.

Ada usaha-usaha yang dilakukan oleh beberapa komunitas Kristen, untuk menghilangkan penggunaan nama Allah dalam terjemahan Kitab Suci, dengan sebutan Tuhan. Namun dikarenakan mereka telah memiliki pra paham mengenai sebutan “Tuhan” bagi Yesus, maka ketika menerjemahkan 1 Korintus 8:6 mereka terjebak dalam kerancuan yang luar biasa kacau. Perhatikan terjemahan Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan yang diterbitkan mengatasnamakan Jaringan Pengagung Nama Yahweh  sbb: “namun bagi kita hanya ada satu Tuhan saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup”.

Di mana letak kerancuan yang luar biasa tersebut? Dengan adanya frasa, “satu Tuhan”  yang ditujukan untuk Bapa dan frasa “satu Tuhan” yang ditujukan untuk Yesus, maka dapat menimbulkan persepsi bahwa ada “dua Tuhan” yang setara dalam keyakinan Kekristenan.

Kerancuan yang sama kita dapati ketika membaca Ibrani 7:14, “Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Tuhan kita berasal dari suku Yehuda dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apa pun tentang imam-imam”. Bagaimana mungkin Tuhan (Elohim/Theos) memiliki garis genealogis kesukuan dengan manusia? Terjemahan yang masuk akal dan wajar adalah, “Tuan kita (Adonenu/Kurios) berasal dari suku Yahuda”.

Paham Arianisme dan Nestorianisme muncul dikarenakan kegagalan memahami aspek Keelohiman Sang Firman yang menjadi manusia Yesus. Paham Cyrilisme muncul dikarenakan kegagalan memahami aspek kemanusiaan Yesus sebagai perwujudan Sang Firman YHWH. Paham Marcionisme muncul dikarenakan kegagalan memahami relasi Ontologis antara Yesus Sang Firman dengan YHWH Sang Bapa yang berkarya dalam sejarah Bangsa Israel, maka penyebutan Yesus dengan sebutan “Tuhan” dan bukan “Tuan”, dikarenakan kegagalan memahami konteks istilah Adon, Kurios, Marya, Lord yang ditujukan bagi Yesus Sang Mesias.

JULUKAN “KURIOS” BAGI YESUS: TUAN ATAU TUHAN?

Bagian Pertama

Bagi mayoritas Kekristenan di Indonesia, sebutan “Tuhan Yesus” atau “Tuhan Yesus”, sudah sangat akrab ditelinga. Siapapun yang mengklaim diri sebagai orang Kristen, ditandai dengan pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan.

Persoalannya adalah, ketika telinga orang Muslim mendengar pernyaaan tersebut, menjaadi suatu batu sandungan bagi iman Tauhid atau Keesaan Tuhan. Bagi Islam, tiada Tuhan selain Allah. (Qs 20:14) Konsekwensinya, jika Kekristenan menyatakan keimananya terhadap Yahshua sebagai Tuhan, menimbulkan gesekan teologis yang cukup tajam dengan Islam. Apalagi menurut Qur’an, Isa Al Masih adalah ciptaan Allah yang setara penciptaannya dengan Adam (Qs 3:59).

Dalam penjelasan sebelumnya telah kita pahami bahwa HAKIKAT Yesus adalah Sang Firman YHWH. Firman tidak diciptakan karena Firman yang menciptakan segala sesuatu. Karena Firman tidak diciptakan, berarti Firman juga kekal. Maka firman adalah daya cipta dan ekspresi pikiran dan kehendak YHWH sendiri. Secara ontologis, Yesus adalah Elohim (Tuhan). Sementara secara anthropologis, Dia adalah manusia, karena Dia adalah Sang Firman yang telah menjadi manusia. Seutuhnya manusia.

Sekalipun secara hakikat, Yesus adalah Firman Tuhan dan Firman Tuhan adalah Tuhan itu sendiri (Yoh 1:1), namun penyebutan “Tuhan Yahshua” atau “Tuhan Yesus”, menimbulkan sejumlah persoalan teologis. Sekali lagi, yang dipersoalkan bukan HAKIKAT-NYA melainkan PENYEBUTAN-NYA atau SAPAAN terhadap pribadi-Nya. Apakah Dia lebih tepat disapa “Tuan” atau “Tuhan” saat Dia masih berkarya di bumi dan saat setelah kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke sorga? Pertanyaan ini bukan hendak meragukan “Ketuhanan” atau “Divinitas” Yesus, melainkan mempertanyakan sebutan yang proper bagi Yesus, apakah “Tuan” atau “Tuhan”?

Beberapa persoalan teologis yang dapat kita temukan adalah sbb: Dalam Yohanes 4:11 versi Lembaga Alkitab Indonesia dikatakan, “Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?”. Bagaimana mungkin perempuan Samaria menyapa dengan sebutan “Tuhan”, karena sebutan “Tuhan”, selalu menunjuk pada Sang Pencipta? Persoalan selanjutnya ditemukan dalam 2 Korintus 11:26, “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan” . 


Bagaimana mungkin sebutan Tuhan yang dikhususkan bagi Sang Pencipta, dapat mengalami kematian dan menjadi mayat? “God is Dead” –ungkapan filsuf Nietzhe- mungkinkah Tuhan mati? Demikian pula dalam Lukas 24:3 dikatakan,”…dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus”. Tuhan menjadi mayat? Sungguh tidak dapat dibayangkan bahwa Kekristenan bertuhankan mayat…

Persoalan-persoalan teologis yang mengemuka ini harus disikapi dengan melakukan analisis teks bahasa, baik Ibrani maupun Aramaik serta Greek sebagai bahasa yang dipergunakan pertama kali untuk mengkomunikasikan kehidupan dan ajaran Yesus Sang Mesias. Tanpa analisis kebahasaan, akan menimbulkan sejumlah persepsi yang spekulatif dan tidak firmaniah.

Saturday, November 19, 2011

YESUS SANG FIRMAN YANG MENJADI MANUSIA

Kajian Yohanes 1:1-18


Akhir-akhir ini marak diterbitkannya buku-buku yang mempertanyakan baik historitas (kesejarahan) maupun divinitas (ketuhanan) Yahshua seperti diurai dalam beberapa buku sensasional al., DA VINCI CODE, GOSPEL OF JUDAS, JESUS DYNASTY, MISQUOTING JESUS, dll. Buku-buku tersebut mengatasnamakan keilmiahan, akademis namun menyembunyikan motifasi yang sebenarnya yaitu menolak essensi Kekristenan yang dilandaskan pada historitas dan divinitas Yesus Sang Mesias (Mat 16:16, 1 Kor 15:1-3).

Siapakah Yesus sebenarnya? Kajian mendasar untuk memahamai hakikat Yesus adalah memulai dari Yohanes 1:1-18 yang memulai uraiannya dengan Sang Firman dan Sang Firman itu telah menjadi manusia.

HAKIKAT SANG FIRMAN

Yohanes 1: 1 dibuka dengan kalimat, en arkhe en ho Logos (Westcott and Hort New Testament) atau bereshit haya ha Davar, (Hebrew New Testament). Apa arti pernyataan tersebut? Logos, dalam arti filsafatnya sudah lama di pakai sebelum penggunaannya di dalam Kitab Yohanes, baik dalam konteks pemikiran Yunani maupun Mesir bahkan pemikir Yahudi bernama Philo1.

Heraklitus (500 SM) mula-mula menggunakan istilah Logos. Menurutnya, dunia selalu mengalami perubahan. daya penggerak perubahan tersebut adalah Logos. Logos adalah pikiran yang benar dan bersifat kekal. Anaxagoras (400 SM) beranggapan bahwa Logos adalah jiwa manusia yang menjadi pengantara antara Tuhan dan manusia. Logos berdiam di dalam dunia. Philo (20 SM-20 Ms) seorang Yahudi Alexandria menyatakan bahwa Logos adalah akal Tuhan yang menjadi pengantara antara Tuhan dan manusia. Logos tidak berkepribadian dan Logos tidak dapat berubah menjadi manusia.

Purnawan Tenibemas mengatakan, Rasul Yohanes telah menyimak suasana pikiran zamannya, mengambil istilah yang umum di pakai dan tumpuan harapan orang sesamanya, serta memberi arti baru yang lebih dalam  sesuai dengan ilham Roh Kudus kepadanya2. Berbeda dengan Tenibemas, Olla Tulluan, Ph.D., mengatakan bahwa penggunaan Logos dalam Injil Yohanes di karenakan istilah itu sudah di kenal dalam lingkungan Yahudi dan Yunani, namun penggunaan Logos harus di mengerti latar belakangnya dalam penyataan Tuhan dalam Perjanjian Lama3. Senada dengan Olla Tullan, DR. David Stern mengulas kata Logos dilihat dari latar belakang Semitik Hebraik kata Davar berdasarkan TaNaKh sbb: “The language echoes the first sentence of Genesis…thus the TaNaKh lays the groundwork for Yochanan’s  statement that the Word was with God and was God’s (bahasa tersebut menggemakan kalimat pertama dari Kitab Kejadian…sehingga TaNaKh meletakkan dasar bagi pernyataan Yohanes bahwa Sang Firman bersama Tuhan dan Firman adalah Tuhan)4.

Apa yang dikatakan Yohanes mengenai Sang Firman?

  1. Dia bersama Tuhan” (ay 1). Artinya, sang Firman berdiam dan sehakikat dengan Tuhan YHWH. Kata yang di terjemahkan “bersama dengan” adalah “pros”. Marcus Doods memberikan komentar mengenai penggunaan kata “pros” sbb : “pros, implies not merely existence alongside with but personal intercourse (kata ‘pros’ bukan hanya menunjukkan keberadaan bersama melainkan hubungan pribadi)5
  2. Dia adalah Tuhan” (ay 1). Artinya, sang Firman adalah manifestasi, ekspresi dari pikiran dan kehendak Tuhan. Dia adalah daya Kreatif, Daya Cipta yang menciptakan sesuatu menjadi ada dan bukan ciptaan.

  3.     4
    Dia menjadikan segala sesuatu” (ay 3). Artinya, dari segala yang ada dan hidup, Sang Firmanlah yang menyebabkan adanya sesuatu. Dalam Kitab Kejadian 1:3, 6, 9, 11, 14 ,20, 24, 26, 29, di tegaskan bahwa Firman “menjadikan segala sesuatu”, sebagaimana ungkapan “yehi wa yehi” (jadilah ada maka jadilah ada). Ungkapan tersebut sejajar dengan istilah Qur’an, “kun fa yakun”.
  4. Dia kekal” (ay 4). Artinya, Dia tidak akan mengalami kemusnahan atau eksistensi yang temporal. Dia adalah eternal. Pernyataan ini tersirat di balik istilah Yunani “zoe” atau Ibrani “khay” yang bermakna “kehidupan yang berkualitas kekekalan”.

BOLEHKAH PENGIKUT MESIAS DISUNAT?

Rata-rata, setiap Pengikut Mesias yang disebut Kekristenan mempertahankan sebuah pemahaman bahwa sunat tidak diperlukan lagi. Sunat telah digantikan dengan baptisan. Bahkan jika ada seorang anak lelaki dari keluarga Kristen dan ingin disunat, ada gembala sidang yang melarang dan menakut-nakuti, “itu adalah dosa!”

Benarkah melakukan sunat itu dosa? Benarkah sunat telah digantikan dengan baptisan? Benarkah sunat tidak memiliki relevansi dalam kehidupan Pengikut Mesias? Dalam kajian berikut, kita akan melihat beberapa latar belakang peristiwa yang mendasari eksistensi sunat dan pro kontra di kalangan Pengikut Mesias di Abad Pertama berdasarkan kesaksian Kisah Rasul 15:1-41.

Keributan di Anthiokhia perihal pemaksaan sunat sebagai prasyarat keselamatan

Beberapa golongan Yahudi dari Yudea datang ke Anthiokhia dan mengajarkan, “Orang non Yahudi harus disunat dan diwajibkan menuruti Hukum Musa. Paul dan Barnabas menentang pendapat ini.

Ketetapan Sidang Yerusalem

Para rasul bersidang di Yerusalem. Ini adalah konsili yang pertama. Pendapat Petrus : (1) Tuhan mengaruniakan Roh Kudus kepada non Yahudi. (2) Tuhan tidak membeda-bedakan Yahudi-non Yahudi setelah menyucikan melalui iman. (3) Jangan mencobai Tuhan dengan memberikan kuk yang tidak dapat ditanggung nenek moyang Israel dan murid-murid Mesias. (4) Keselamatan adalah melalui Kasih Karunia Yesus Sang Mesias.

Pendapat Paul dan Barnabas : Mereka menceritakan berbagai perbuatan muzizat Tuhan melalui mereka kepada non Yahudi. Dalam hal ini YHWH tidak membedakan anugrah keselamatan ternyata diperuntukan bagi orang non Yahudi pula. Pendapat Yakobus : (1) Membenarkan laporan Petrus dan menunjuk pada penggenapan Nubuat  Amos 9:11-12. (2) Jangan menimbulkan kesulitan bagi non yahudi yang bertobat kepada Yesus. (3) Diberi pengajaran dasar agar non Yahudi : Menjauhi makanan persembahan berhala, menjauhi percabulan, tidak makan daging binatang yang mati dicekik dan tidak makan darah, karena hukum itu diberitakan di Sinagog setiap Sabat, dan mereka akan masuk disana untuk belajar.

Makna Sunat ditinjau dari Aspek Historis dan Teologis

Pertama, Tanda perjanjian (Kej 12:1-3, Kej 15:1-6, Kej 17:1-14, Kej 34:15). Dalam teks Ibrani dijelaskan, unemaltem et besyar arlatkem we haya leot berit beni ubenekem”. Kedua, Lambang dari sunat hati, yaitu pertobatan (Ul 10:16, Ul 30:6). Dalam teks Ibrani dijelaskan, “umaltem et arlat levavkem we arpekem lo taqsu od”.

Jika hakikat sunat adalah “tanda perjanjian” sebagai meterai bahwa Abraham beriman pada janji YHWH, maka menjadikan sunat sebagai syarat masuk Kerajaan Surga adalah tidak tepat. Sunat adalah tanda peneguhan bahwa janji YHWH terhadap Abraham dan keturunannya akan selalu diingat namun sunat kehilangan relavansi tanpa esensi sebenarnya yaitu perjanjian antara YHWH dan Abraham. Bahkan jika hanya mengalami sunat lahiriah namun tidak mengalami mengalami sunat batin yaitu penanggalan tubuh yang berdosa, maka sia-sialah sunat lahir tersebut.

Thursday, November 17, 2011

MATI SEBELUM MATI

Darimanakah asal muasal kematian? Dalam perspektif Kristiani, kematian bukan sekedar takdir namun akibat dari sebuah sebab. Ketika manusia pertama (Adam dan Hawa) diciptakan, Tuhan tidak menjadikan kematian sebagai bagian dari takdirnya. Ketika manusia pertama telah menerima mandat untuk mengelola bumi, Tuhan memberikan satu larangan yang apabila dilanggar akan menimbulkan kematian sebagaimana dikatakan dalam Kejadian 3:16-17 sbb, “Lalu YHWH, Tuhan memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

Berdasarkan pemahaman di atas, kita mendapatkan pengetahuan bahwa kematian adalah akibat dosa dan pelanggaran manusia. Benih maut itu diturunkan dari Adam dan Hawa sampai kepada kita. Benih maut adalah buah dosa sebagaimana dikatakan Roma 6:23 sbb, “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Tuhan ialah hidup yang kekal dalam Mesias Yesus, Junjungan Agung kita”.

Kita semua akan mengalami kematian. Yang berbeda adalah sebab dan cara kita menemui kematian. Berbicara mengenai kematian, Kitab Suci memberikan keterangan bahwa ada dua fase kematian. Kematian pertama adalah terpisahnya roh/nyawa dari tubuh dan kematian kedua adalah penghukuman di neraka sebagaimana dikatakan dalam Wahyu 21:8 sbb, “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua."

Jika ada kematian pertama dan kematian kedua, lalu apa yang dimaksudkan dengan “mati sebelum mengalami kematian?” Wahyu 3:1 mengatakan sbb, "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Tuhan dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!” Wahyu 3:1 menggambarkan jemaat di Sardis yang dikategorikan “mati sebelum mati”. Mereka adalah orang-orang yang mati imannya, mati perbuatan baiknya, mati pengharapannya, mati hasrat dan kerinduannya pada Tuhan, mati persekutuannya, mati ibadahnya.

Banyak orang yang mengaku Kristen secara formal namun dikategorikan “mati sebelum mengalami kematian”. Menjadi tugas dan tanggungjawab kita pula agar mereka mengalami kehidupan.

Wednesday, November 16, 2011

RELEVANSI KIBLAT

Kata Kiblat dalam bahasa Arab berasal dari kata kablu, yukbilu, kublah yang bermakna “arah”, “menerima”, “mencium”. Jika Yahudi dan Islam memiliki arah kiblat Yerusalem dan Mekkah, berbeda dengan Kekristenan. Dikarenakan penafsiran yang bias atas ucapan Yesus dalam Yohanes 4:23-24 yang mengatakan, “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Tuhan itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.", maka Kekristenan yang telah lepas dari akar Semitik Yudaiknya tidak mengenal arah kiblat. Menghadap kemana saya saat beribadah adalah sah dan benar.

Apakah benar Kiblat sudah tidak memiliki relevansi? Kekeristenan awal sebenarnya adalah kelanjutan dari Yudaisme. Peribadatan Yudaisme yang diteruskan oleh pengikut Mesias awal tetap mengarahkan diri menuju Yerusalem sebagaimana perintah berikut ini:

Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Tuhannya, seperti yang biasa dilakukannya” (Daniel 6:11).

Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar, aku akan masuk ke dalam rumah-Mu, sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau” (Mazmur 5:8) .

Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu” (Mazmur 138:2)

Dalam perkembangannya, Gereja Orthodox mengubah arah Kiblat dari Yerusalem (di Barat) ke arah Timur. Klemen dari Alexandria (150-215 Ms) dalam bukunya Protrepticus dan Stromateis serta Pedagogus menyatakan bahwa Yesus adalah matahari yang sejati. Langkah ini diikuti oleh Origen dan Cyprian[1]. Konsekwensi logisnya peribadatan dengan menghadap arah matahari terbit diadopsi oleh kekristenan di Roma.

F.J. Dolger dalam bukunya Sol Salutis mengutip beberapa tulisan Origen dan Klement yang mendasari peribadatan menghadap ke Timur dengan menggunakan dalil-dalil Kitab Suci yang terlalu dipaksakan dengan cara melakukan alegorisasi atau pemaknaan simbolis atas Mazmur 132:7, Yesaya 9:2, 2 Korintus 4:6, Matius 4:6.

Origenes pun melakukan alegorisasi yang sama terhadap Zakharia 6:12 berdasarkan naskah Septuaginta yang menerjemahkan secara keliru kata Ibrani Tsemakh (tunas) dengan kata Anatole (timur). Yustinus Martir mengikuti pola penafsiran tersebut sehingga setiap ada kata Anatole selalu dihubungkan dengan Mesias.

Bahkan Mazmur 72:17 pun dihubungkan dengan Mesias[2]. Ayat-ayat lain yang dipaksakan untuk membenarkan peribadatan menghadap ke Timur al., Kejadian 2:8,Maleakhi 4:2, Matius 24:27, Mazmur 68:34[3]. Dan penulis-penulis Kristen seperti Basilius, Gregorius dari Nyssa, John Chrisostomos, Severus, Cyrill dari Yerusalem, Yohanes Damaskinos, Thomas Aquinas, dll[4].

Apapun dalihnya, pengubahan arah Kiblat tidak memiliki dasar dalam sabda Yesus Sang Mesias dan para rasulnya.

Yang menjadi persoalan, benarkah sabda Yesus dalam Yohanes 4:23-24 membatalkan kiblat umat Kristen yang seharusnya berdoa ke arah Yerusalem? Itu tidak benar. Penyembah benar akan menyembah dengan benar (Yoh 4:23) Menyembah dengan cara yang tidak benar, menunjukkan bahwa seseorang belum mengenal siapa yang di sembah (Yoh 4:22). Menyembah yang benar adalah dengan Roh dan Kebenaran, karena Tuhan Roh adanya. Apa artinya ? Dalam percakapan singkat antara Yesus dan perempuan Samaria, terlihat konsep umum yang berkembang pada waktu itu, bahwa seolah-olah Tuhan berada dan berdiam di wilayah tertentu saja. Bagi orang samaria, Dia ada di gunung Gerizim. Bagi orang Yahudi, Dia ada di Yerusalem. Yesus menyalahkan semua angapan tersebut.

Yesus, bukan mengkritik bentuk dan cara penyembahan (sujud, berlutut, menadahkan tangan, berdiri, dll) bukan pula menyalahkan aturan ibadah (liturgi, doa harian, hafalan doa, dl). Yesus hanya menyalahkan KONSEP wanita Samaria yang keliru. Wanita Samaria ini keliru memahami wujud  dan tempat Tuhan berada. Konsep yang keliru ini mengakibatkan penyembahan yang keliru.

Jika Yesus mengritik Yerusalem sebagai kiblat, maka pernyataan dalam Yohanes 4:21 seharusnya tidak berbunyi demikian, “Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem”. Jika benar Yesus membatalkan arah kiblat Yerusalem dan Gerizim, maka ayatnya akan berbunyi, “saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan ke arah gunung ini dan bukan juga ke arah Yerusalem”. Nyatanya ayat tersebut berbicara perihal menjadi Yerusalem dan Gerizim sebagai tempat yang diklaim sebagai tempat dimana Tuhan hadir, sehingga dipergunakan kata “di” bukan “ke”.

Sunday, November 6, 2011

DZIKIR (ZAKOR): KONTEMPLASI KRISTIANI


Midrash Kitab Yunus 2:1-10

Nats: Yun 2:8


Saat Yunus mengingkari panggilan Tuhan untuk mewartakan kebenaran, sampailah Yunus pada takdirnya ditelan ikan yang besar. Dalam perut ikan dia tidak mati. Di perut ikan, dia berdoa.

Dikatakan dalam Yunus 2:1-10 sbb: “Berdoalah Yonah (Yunus) kepada YHWH Tuhannya dari dalam perut ikan itu, katanya: "Dalam kesusahanku aku berseru kepada YHWH, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku. Telah Kau lemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku. Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus? Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya YHWH, Tuhanku. Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada YHWH, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus. Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia. Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari YHWH!" Lalu berfirmanlah YHWH kepada ikan itu, dan ikan itu pun memuntahkan Yunus ke darat

Doa Yunus mustajab. Atas kuasa Tuhan, ikan besar yang menelan Yunus akhirnya memuntahkan Yunus dari perutnya dan Yunus selamat. Saat kita ditelan persoalan berat dan digempur gelombang penderitaan yang bergulung, berdoalah kepada Tuhan agar kita memperoleh keselamatan dan pertolongan dari Tuhan. Doa Yunus dapat kita jadikan doa kita saat kita tertekan dalam persoalan. Bacalah doa Yunus saat kita berada dalam tekanan persoalan yang mendera dan menghimpit diri kita, maka apa yang akan dialami Yunus akan dialami oleh kita. Kita akan dikeluarkan dari terkaman persoalan yng berat dan memperoleh jalan keluar.

Marilah kita perhatikan satu ayat dari doa Yunus yang menarik untuk kita kaji dan dalami. Dalam Yunus 2:8 dikatakan sbb: “Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada YHWH, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus”. Frasa Ibrani בהתעטף עלי נפשׁי (behitateif alay nafshi), menggambarkan bentuk frustasi dan depresi yang menekan jiwa Yunus. Mengapa Yunus frustasi dan depresi? Dia berada dalam perut ikan dan dia tidak tahu bagaimana memperoleh jalan keluar kembali ke dunia normal dimana dia menjalani hidup.

Kitapun kerap mendapatkan tekanan hidup sehingga menciptakan kondisi stress dan depresi. Dalam salah satu ulasan di katakan bahwa 100 Orang Perhari Bunuh Diri di Jepang[1]. Beberapa waktu lalu fenomena klub bunuh diri sempat 'menghangat' di Jepang. Seperti yang pernah dirilis media setempat, fakta di Jepang dalam sehari lebih dari 100 orang bunuh diri. Dari dulu memang Negeri matahari terbit ini memiliki riwayat angka bunuh diri terbesar di dunia. Bahkan pada bulan April 2009 merupakan angka tertinggi bunuh diri,terjadi kenaikkan sebesar 6 % dibandingkan bulan-bulan sebelumnya yang rata-rata per hari 85 orang.

Kondisi krisis global merupakan pemicu utama. Bulan Maret adalah tutup buku setiap perusahaan di Jepang. Pantas saja bulan April yang merupakan puncak PHK untuk sebagian besar orang jepang. Toyota adalah salah satu perusahaan terbesar yang ada di Jepang. Perusahaan ini memecat lebih dari separuh karyawannya. Saat ini pengangguran di negeri maju ini melonjak dratis.

Kalau punya anak dua, istri berapa yang harus di keluarkan untuk sekolah, besin mobil dan kebutuhan lainnya. mungkin itulah salah satu pemicu meningkatnya bunuh diri yang sebelumnya memang sudah menjadi kebiasaan di Negeri sakura ini. Selain itu Jepang salah satu negara yang sekuler mereka kaum muda tidak mempercayai adanya tuhan alias atheis. mereka tidak percaya adanya kehidupan setelah kematian, dogma-dogma agama tidak mereka gubris. Saat perayaan hari besar nasrani memang ramai tetapi itu hanya sebatas ikut-ikutan saja.Islampun hanya kurang dari 1 %, kebanyakkan muslim di negeri ini kebanyakkan dari asing. dan terbesar adalah dari Indonesia.  Dari 120 juta orang Jepang hanya sekitar 10 ribu yang Islam. Walaupun Islam sudah masuk di negeri ini sejak tahun 1877 an.

Jepang tercatat angka kematian karena bunuh diri terbesar di dunia. Walaupun negara maju namun mereka tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas. Dalam 11 tahun terakhir setiap tahunnya terdapat 30.000 orang mati bunuh diri. jadi sudah ada 330.000 orang mati karena bunuh diri dalam 11 tahun di negeri Sakura ini.

Tekanan, depresi berbuah tindakan bunuh diri. Dan fenomena demikan pun sudah merambah Indonesia. Dr Muhammad Idrus MPd, Dosen FIAI UII Yogyakarta dan Tim Ahli pada BSNP Depdiknas Jakarta menuliskan sbb: “Maraknya peristiwa mengakhiri hidup dengan bunuh diri menjadi sebuah fenomena menarik. Bagi bangsa Indonesia, bunuh diri bukanlah sebuah tradisi budaya turun-temurun sebagaimana yang terjadi di Jepang dengan harakirinya.  Namun, pada kondisi empirik kita temukan justru pada akhir-akhir ini fenomena mengambil jalan pintas bunuh diri menjadi sebuah alternatif yang banyak dipilih tak hanya kalangan orang dewasa, tetapi juga oleh remaja, bahkan anak-anak yang masih bersekolah di tingkat dasar” [2].

Jika disimak, antara kurun waktu 2004-2007, banyak peristiwa bunuh diri yang dilakukan oleh anak usia belasan tahun dan masih bersekolah di sekolah dasar atau di sekolah menengah pertama (SMP). Ironisnya, faktor penyebabnya lebih banyak karena ketidakmampuan anak menahan rasa malu.

Dari berbagai informasi di atas kita mendapatkan pelajaran mengenai dampak frustasi dan depresi di negara yang tidak mementingkan nilai religius dan meluasnya gejala tersebut sampai ke Indonesia, negeri yang dikenal sangat religius.

Ucapan Yunus saat dia mengalami stress dan depresi tidak hanya berhenti pada kalimat בהתעטף עלי נפשׁי (behitateif alay nafshi) - Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku namun dia melanjutkan demikian: את־יהוה זכרתי ותבוא אליך תפלתי אל־היכל קדשׁך (et Yahweh zakarti watavo tefilati eleyka el heikal qodsheka) - teringatlah aku kepada YHWH, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus . Ayat ini mengajarkan pada kita untuk mengingat Yahweh saat kita mengalami keputusasaan. Di saat tekanan muncul, kita harus berpaling pada kekuatan yang lebih besar dari tekanan yang menekan diri kita. Dan Dialah Yahweh Bapa kita di dalam Yesus Sang Mesias. 

Amsal 18:10 mengatakan sbb: “Migdal oz shem Yahweh, bo yarutz wenishgav” (Nama Yahweh adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat). Dan dikatakan dalam Ibrani 12:3 sbb: “Ingatlah selalu akan Dia (Yesus), yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa”.

Apa arti “mengingat” dalam ayat ini? Orang Jawa memiliki filosofi untuk menjaga kesadaran manusia akan Tuhan, sekalipun konsep orang Jawa Kuno mengenai Tuhan begitu abstrak dan transedental (jauh di sana) yaitu dengan istilah “eling” yang artinya “ingat” atau “sadar”. Dalam bahasa Ibrani digunakan kata zakor yang setara dengan bahasa Arab dzikir

Dalam Arabic Bible kalimat et Yahweh zakarti diterjemahkan dzakartur Rabba. Yunus nampaknya bukan sekedar berusaha mengingat dan menemukan Tuhan dimana namun Yunus mengucapkan nama Tuhan Yahweh sebagai ekspresi dan bentuk nyata mengingat Yahweh. Hal ini dikuatkan jika kita membaca ucapan Yunus dalam ayat 9 sbb: ישׁועתה ליהוה (yeshuata la Yahweh) – “Keselamatan dari Yahweh”. Berarti kata “mengingat” (zakor) dalam ayat ini bukan sikap yang pasif melainkan aktif mengembangkan kesadaran roh dan batin kita untuk berhubungan dan berkontak dengan Tuhan.

Jika kita menggali ayat-ayat dalam Kitab TaNaKh (Torah, Neviim, Kethuvim) dapat kita jumpai petunjuk yang kurang lebh sama sebagaimana dikatakan dalam Yunus 2:8. Dikatakan dalam Mazmur 119:55 sbb: זכרתי בלילה שׁמך יהוה ואשׁמרה תורתך (zakarti balaylia shimka Yahweh wa esmera Torateka) – “Pada waktu malam aku ingat kepada nama-Mu, ya Yahweh; aku hendak berpegang pada Torah-Mu”. Dalam Arabic Bible diterjemahkan: “Dzakartu fii al lail smuka yaa Rabbu wa hafizhtu syariiataka”. 

Demikian pula dalam Yesaya 26:8 dikatakan sbb:” “Ya Yahweh, kami juga menanti-nantikan saatnya Engkau menjalankan penghakiman; kesukaan kami ialah menyebut nama-Mu dan mengingat Engkau”. Frasa Ibrani לשׁמך ולזכרך תאות־נפשׁ (leshimka ulezikreka taawat nafhes) dalam Arabic Bible diterjemahkan sbb: “smika wa ila dzikrika syahwatun nafsi”.

Berpijak dari ayat ini, saya mengembangkan dan mendalilkan sebuah metode untuk menjaga kesadaran batin dan roh kita terhadap Tuhan dengan mengucapkan nama Tuhan dengan tertib tertentu. Saya menciptakan sebuah alat sebagai sarana mengingat dan menyebut nama Yahweh  dengan sebutan “Akedah ha Shlishim” (ikatan 30) dengan filosofi yang digali berdasarkan ayat-ayat dalam Kitab Suci termasuk Yunus 2:8.

Metode yang saya kembangkan merujuk pada praktek tulisan-tulisan Bapa Gereja mengenai penajaman batin dalam  dan juga praktek devosi meditatif dalam Gereja Orthodox yang disebut dengan “Puja Yesus” dengan alat bernama Komboskini. Praktek serupa dapat ditemui dalam Gereja Katholik dengan menggunakan Rosario namun diarahkan pada Maria ibu Yesus saat mengucapkan “Doa Novena”. Dalam hal ini saya tidak sepakat. Praktek serupa dapat ditemui dalam Agama Islam dengan menggunakan “Tasbih”. Namun metode yang saya kembangkan ini lebih berfokus pada nama Yahweh dan bertujuan untuk menciptakan “kavanah” atau kondisi khusyuk dan konsentrasi.